NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 : Malam yang menegangkan

Kini Malam telah larut. Suasana siang tadi penuh ketegangan… kini berubah menjadi hening yang menenangkan.

Di dalam kamar, Nayra sudah berbaring diranjang tapi matanya belum benar-benar terpejam. Napasnya pelan, tidak teratur. Pikirannya masih berputar tentang kejadian tadi.

Beberapa saat kemudian, Nayra membuka mata. Lalu perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Nayra bergerak dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan Alea dan Raya yang masih tertidur di sampingnya.

Ia meraih cardigan tipis, lalu berjalan keluar kamar. Lorong malam itu terasa berbeda. Sepi… tapi tidak mencekam. Hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar pelan.

Pintu tertutup perlahan tanpa meninggalkan bunyi. Lampu di dalam sudah dimatikan. Nayra mulai melangkah kearah dapur.

Lampunya masih menyala. Dari kejauhan… terdengar suara pelan. Seperti sesuatu yang dipotong. Nayra sedikit mengernyit, ia melangkah lebih dekat.

Begitu sampai di ambang pintu dapur, aroma manis langsung menyambutnya, Hangat seperti mentega yang dilelehkan.

Di dalam, terlihat seseorang berdiri membelakanginya. Seorang wanita paruh baya mengenakan celemek. Tangannya sibuk mengaduk adonan di atas meja.

“Malam-malam begini masih masak?”

Suara Nayra terdengar pelan, tapi cukup membuat wanita itu menoleh.

“Nona Nayra…” ucapnya sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. “Belum tidur?”

Nayra menggeleng kecil sambil melangkah masuk. “Aku haus,” jawabnya singkat. Tangannya meraih gelas di atas rak, lalu mengisi air lalu meneguknya pelan.

Sementara itu, Martha kembali melanjutkan kegiatannya.

“Kamu sedang membuat apa Martha?” tanya Nayra, kini memperhatikan.

Martha tersenyum kecil. “Cupcake, Nona,” jawabnya.

Nayra mengangguk pelan. Matanya memperhatikan gerakan tangan wanita itu.

"Kenapa buatnya tengah malam begini?" tanya Nayra, sambil terus memperhatikan Martha.

Martha menoleh ke arah Nayra sambil tersenyum. “Apa Nona lupa, besok hari pernikahan Nona dan Tuan. Jadi kue-kue ini harus sudah jadi malam ini,” ucapnya lembut.

Langkah Nayra seolah berhenti di tempat. Gelas di tangannya masih terangkat, tapi tidak lagi ia minum.

“Besok…” gumamnya pelan.

Kata itu terasa asing di telinganya sendiri. Secepat itu. Ia menunduk sedikit, napasnya tertahan. Besok hari pernikahannya seharusnya ia bahagia. Seharusnya ini jadi awal yang lebih baik. Tapi kenapa hatinya justru terasa berat?

“Besok hari pernikahan ku…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. “Harusnya aku bahagia, tapi kenapa hati ini ingin menolak.”

Martha memperhatikan sekilas, tapi tidak langsung menyela. Tangannya tetap bergerak, menuang adonan dengan tenang.

“Nona Nayra… bagaimana keadaan Nona Raya?”

Pertanyaan itu memecah lamunan. Nayra sedikit tersentak, ia mengangkat wajahnya.

“Oh… Raya,” ucapnya pelan, seolah baru kembali ke dunia nyata. “Dia sudah tidur, meskipun tadi sempat demam karena rasa sakit di kakinya.”

Martha mengangguk kecil. “Syukurlah…” ucapnya tulus. Lalu ia menambahkan dengan senyum tipis, “untung saja ada Tuan Arsen yang sangat cekatan membantu Nona Raya.”

Kalimat itu membuat Nayra kembali diam. Jemarinya mengencang di sekitar gelas. Bayangan itu muncul lagi, tangan Arsen yang sigap, tatapannya tenang dan sepertinya sangat melindungi Raya.

Nayra menarik napas pelan. “Dia memang…” ucapnya, lalu berhenti.

Seolah tidak tahu harus melanjutkan dengan kata apa.

Martha melirik sekilas. “Baik?” tebaknya ringan.

Nayra tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong ke arah meja dapur.

“Bukan cuma baik…” bisiknya. “Dia… berbeda.”

Martha tersenyum kecil, seolah sudah memahami tanpa perlu penjelasan panjang.

“Kadang,” ucap Martha pelan, “yang kita butuhkan bukan orang yang sempurna, Nona…” Tangannya berhenti sejenak. “Cukup orang yang tahu kapan harus berdiri di depan kita.”

Nayra terdiam. Dadanya kembali terasa hangat. Ia menunduk, menatap air di dalam gelasnya. Permukaannya tenang, tapi di dalam dirinya tidak.

“Kalau begitu,” ucap Nayra pelan, lebih pada dirinya sendiri, “kenapa aku masih ragu.”

Tidak ada jawaban. Hanya suara oven yang mulai menyala. Martha memasukkan loyang ke dalamnya, lalu menutup pintu perlahan.

“Ragu itu wajar, Nona,” katanya tanpa menoleh. “Apalagi kalau semuanya terjadi terlalu cepat.” Ia berbalik, menatap Nayra dengan lembut. “Tapi kadang, hati kita sudah tahu jawabannya. Hanya saja… kita belum berani mengakuinya.”

Nayra mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, beberapa detik. Lalu Nayra menunduk lagi,

Beberapa menit kemudian, Nayra meletakkan gelasnya.

“Terima kasih, Martha,” ucapnya pelan.

Martha tersenyum. “Istirahatlah, Nona. Besok hari yang panjang.”

Nayra mengangguk kecil. Langkahnya pelan saat keluar dari dapur. Langkah Nayra pelan saat keluar dari dapur.

Udara lorong terasa lebih dingin dibandingkan di dalam. Ia menarik cardigan-nya sedikit lebih rapat.

Satu, dua langkah, tiba-tiba...

BRUK

Tubuhnya menabrak seseorang. Nayra sedikit terhuyung, lalu buru-buru mengangkat wajah.

“Maaf, saya...”

Kalimatnya terhenti, di hadapannya seorang wanita berdiri tegak. Tatapannya tajam dan dingin dan itu ternyata Ibu Ambar.

Nayra langsung menegakkan tubuhnya. “Mom...” suaranya pelan, menahan diri. “Maaf, saya tidak melihat...”

Ibu Ambar tidak menjawab. Matanya menyapu Nayra dari atas hingga bawah, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum, lebih seperti sindiran yang ditahan.

“Sedang apa kau malam begini masih diluar?” tanyanya dengan nada tidak suka.

Nayra menelan pelan. “Saya… hanya ke dapur,” jawabnya singkat.

“Hmm.”

Ibu Ambar melangkah sedikit mendekat. Aroma parfumnya lembut dan mahal tercium begitu menyengat di hidung Nayra.

“Besok hari penting,” lanjutnya pelan. “Seharusnya calon pengantin wanita tidak berkeliaran tengah malam seperti ini.”

Nayra terdiam. Tangannya perlahan mengencang di sisi cardigan.

“Saya hanya...”

“Kau tentu tahu,” potong Ibu Ambar tiba-tiba. Tatapannya langsung mengunci Nayra. “Tentang posisi seperti apa yang akan kau tempati.”

Hanya detak jantung Nayra yang terasa semakin jelas.

“Aku tidak suka kejutan,” lanjutnya. “Terutama dari orang yang datang tiba-tiba.” Kata tiba-tiba ditekan sedikit.

Nayra mengerti dan sangat mengerti. Ia menunduk tipis. “Jika saya membuat Mom tidak nyaman, saya...”

“Kau tahu apa yang paling tidak aku sukai?” Potongan kalimat itu kembali menghentikannya.

Nayra mengangkat wajah perlahan.

Ibu Ambar tersenyum tipis, “orang yang berpura-pura tidak punya ambisi, padahal mengincar segalanya.”

Dada Nayra terasa sesak, namun ia tidak mundur. Tidak juga membela diri, ia hanya berdiri diam.

“Anakku,” lanjut Ibu Ambar, suaranya lebih rendah, “bukan sesuatu yang bisa dimiliki sembarangan.” Ibu Ambar kini mendekat dan sekarang jarak mereka sangat dekat. “Apalagi… semua yang Arsen miliki.”

Nayra menarik napas pelan. Lalu, ia mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi. Tatapannya bertemu langsung dengan Ibu Ambar.

“Kalau saya memang mengincar itu semua,” ucapnya pelan, tapi tegas, “saya tidak akan berdiri di sini dengan cara seperti ini.”

Beberapa detik, tatapan Ibu Ambar menyipit sedikit. Seolah tidak menyangka jawaban itu. Namun ekspresinya cepat kembali datar.

“Percaya diri sekali ternyata kau,” gumamnya pelan.

Nayra tidak menjawab. Ia hanya menggenggam cardigan-nya lebih erat.

“Semoga saja,” lanjut Ibu Ambar dingin, “kau bisa membuktikan itu… bukan hanya kata-kata.”

Ia melangkah melewati Nayra. Tanpa menoleh lagi, suara langkahnya perlahan menjauh di lorong. Meninggalkan Nayra yang masih berdiri di tempat.

Beberapa detik kemudian, Nayra menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Tangannya sedikit gemetar. Namun perlahan, ia menenangkan dirinya. Tatapannya lurus ke depan.

“Besok… Aku akan menikah dengan Arsen, sementara Ibunya tidak menyukai keberadaanku disini” bisiknya pelan.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!