Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak digital Yang bersih
Rumah yang biasanya terasa seperti pelukan hangat, kini terasa seperti kotak beton yang dingin dan asing. Rania berdiri di tengah ruang tamu, menatap jam dinding yang terus berdetak. Pukul delapan pagi. Tepat dua puluh empat jam sejak Damar memberikan kecupan terakhirnya di dahi Rania. Sinar matahari yang masuk melalui jendela tampak mengejeknya—dunia tetap berputar, burung-burung tetap berkicau, sementara dunianya sendiri telah hancur berkeping-keping.
Rania berjalan menuju kamar kerja Damar. Ini adalah ruangan kecil di sudut rumah yang jarang ia masuki kecuali untuk mengantarkan kopi. Damar selalu mengatakan bahwa ruangan itu berantakan dengan cetakan biru dan perhitungan struktur yang membosankan. Namun sekarang, ruangan itu adalah satu-satunya harapan Rania.
Ia menyalakan komputer desktop milik Damar. Dengan tangan bergetar, ia mulai menelusuri folder demi folder. Ia mencari apa pun—kontrak yang mencurigakan, korespondensi dengan klien yang tidak dikenal, atau mungkin catatan utang. Namun, apa yang ia temukan justru membuatnya lebih merinding daripada jika ia menemukan ancaman pembunuhan.
Bersih.
Semua folder tertata rapi. Riwayat pencarian di peramban hanya berisi situs-situs konstruksi, toko material, dan beberapa artikel tentang desain interior minimalis. Email kantornya penuh dengan komunikasi profesional yang membosankan. Tidak ada pesan rahasia, tidak ada akun media sosial tersembunyi, tidak ada foto-foto yang tidak seharusnya ada di sana.
"Kenapa begitu bersih?" bisik Rania pada keheningan ruangan itu.
Seorang pria yang merencanakan penarikan uang tunai dalam jumlah besar di Bogor seharusnya memiliki jejak pencarian tentang rute, penginapan, atau mungkin seseorang yang ditemui di sana. Tapi di komputer ini, Damar seolah-olah tidak pernah berniat pergi ke mana pun selain ke Cikarang.
Rania beralih ke laci meja kerja. Ia membongkar tumpukan kertas. Tagihan listrik, asuransi mobil, kartu garansi kulkas—semuanya ada di sana. Namun, ia menyadari satu hal yang hilang. Paspor Damar tidak ada di tempat biasanya. Rania mencari di laci lemari pakaian, di dalam tas-tas lama, hingga di bawah tumpukan sprei. Paspor itu lenyap. Begitu pula dengan satu set pakaian olahraga dan beberapa pakaian dalam yang paling sering Damar gunakan.
"Dia benar-benar pergi," Rania terduduk di lantai, memegangi kepalanya. "Dia tidak hilang... dia pergi meninggalkan aku."
Guncangan itu terasa lebih hebat daripada berita kecelakaan. Jika Damar kecelakaan, itu adalah nasib. Tapi jika Damar pergi dengan perencanaan yang begitu matang hingga membersihkan jejak digitalnya, itu adalah pilihan. Dan pilihan itu membunuh Rania perlahan-lahan.
Suara bel rumah mengejutkannya. Rania berlari menuju pintu, berharap melihat SUV perak itu di halaman. Namun, yang berdiri di sana adalah Aris. Sahabat masa kecilnya itu masih mengenakan jaket kulit yang sama dengan semalam, namun kini ia membawa dua cup kopi dan kantong plastik berisi roti.
"Kau harus makan, Ran. Sebagai dokter, kau tahu tubuhmu akan ambruk jika terus begini," kata Aris tanpa menunggu dipersilakan masuk.
Aris adalah sosok yang kontras dengan Damar. Jika Damar adalah ketenangan yang menghanyutkan, Aris adalah badai yang jujur. Sebagai perwira menengah di Divisi Kriminal, Aris terbiasa melihat sisi tergelap manusia. Ia telah melihat suami yang membunuh istrinya demi asuransi, atau istri yang menghilang demi lelaki lain. Namun melihat Rania—gadis yang ia lindungi sejak zaman sekolah dasar—hancur seperti ini, Aris merasakan kemarahan yang tertahan.
Mereka duduk di ruang makan. Rania menceritakan tentang komputer Damar yang terlalu bersih dan paspor yang hilang.
"Itu gaya profesional, Ran," Aris menyesap kopinya, matanya menatap tajam ke arah laptop Damar yang dibawa Rania ke ruang makan. "Orang yang ingin menghilang biasanya meninggalkan jejak karena mereka ceroboh atau emosional. Tapi kalau semuanya bersih seperti ini, berarti dia sudah menyiapkan ini berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun."
"Tapi kenapa, Ris? Kami tidak punya masalah!" Rania memukul meja dengan kepalan tangannya.
"Aku sudah meminta tim IT di divisi untuk melakukan deep-dive ke log seluler dan transaksi perbankannya yang lain. Rekening bersama kalian memang hanya menunjukkan tarikan di Bogor. Tapi, aku menemukan sesuatu yang lain semalam setelah mengantar kamu pulang." Aris mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
"Apa itu?"
"Damar punya rekening lain. Atas namanya sendiri, tapi alamat penagihannya bukan ke rumah ini, melainkan ke sebuah P.O. Box di Jakarta Pusat. Selama setahun terakhir, ada aliran dana kecil namun rutin ke sebuah perusahaan jasa yang bergerak di bidang... kosmetik dan perawatan estetika tingkat lanjut."
Rania mengernyit. "Estetika? Damar? Dia bahkan malas memakai pelembap wajah kalau tidak kupaksa."
"Itu dia masalahnya. Ada yang tidak beron di sini. Dan satu lagi, Ran. Aku memeriksa daftar manifest penumpang bus dan travel di area Bogor-Sukabumi untuk jam-jam setelah ponselnya mati. Tidak ada nama Damar Mahendra. Tapi ada satu orang yang memesan tiket travel menuju Jawa Tengah dengan identitas yang terindikasi palsu, dan ciri-cirinya... yah, agak buram di CCTV, tapi perawakannya mirip Damar."
Rania merasa kepalanya berdenyut. "Jawa Tengah? Dia mau ke mana sebenarnya?"
"Aku akan mencari tahu. Aku punya beberapa informan di Divisi Kriminal yang biasa menangani kasus orang hilang dengan motif pelarian identitas. Ini bukan lagi sekadar orang hilang biasa, Ran. Ini adalah kasus pelarian yang sangat rapi."
Rania melihat jam. Sudah pukul sepuluh pagi. Ia seharusnya sudah berada di rumah sakit, memimpin visit pasien pasca-operasi. Namun, tangannya gemetar hebat setiap kali ia mencoba membayangkan memegang pisau bedah. Dalam kondisinya saat ini, ia bukan lagi seorang penyelamat; ia adalah bahaya bagi pasiennya.
"Aku harus ke rumah sakit," kata Rania tiba-tiba.
"Kau tidak bisa bekerja, Ran," potong Aris cepat.
"Aku tahu. Aku harus menyerahkan tugas-tugasku. Aku tidak bisa menghilang begitu saja seperti dia. Aku punya tanggung jawab."
Aris menghela napas, lalu bangkit. "Ayo, aku antar."
Rumah sakit tempat Rania bekerja tampak sama seperti biasanya—sibuk, berbau antiseptik, dan penuh dengan orang-orang yang berjuang demi hidup. Rania merasa seperti hantu yang berjalan di koridor. Beberapa perawat menyapanya, namun ia hanya membalas dengan anggukan lemah.
Ia menuju ruangan Direktur Pelayanan Medik, dr. Gunawan, seorang pria senior yang sudah dianggap Rania sebagai mentornya sendiri.
"Masuk, Rania," dr. Gunawan menatapnya dengan pandangan prihatin dari balik kacamatanya. Berita tentang hilangnya suami dr. Rania sudah menyebar di kalangan staf rumah sakit lewat grup percakapan. "Kamu terlihat sangat buruk, Nak."
Rania duduk, mencoba menahan air mata yang kembali mendesak keluar. "Dokter... saya mohon maaf. Saya tidak bisa melanjutkan jadwal operasi saya untuk minggu ini, mungkin untuk beberapa minggu ke depan. Saya... saya tidak bisa fokus."
Dr. Gunawan mengangguk pelan, ia meletakkan pulpennya dan menatap Rania dengan lembut. "Aku sudah mendengarnya. Jangan minta maaf. Dalam profesi kita, kejujuran terhadap kondisi mental sendiri adalah bentuk profesionalisme tertinggi. Jika kamu memaksakan diri, itu adalah malpraktik."
"Saya sudah berbicara dengan dr. Baskoro dan dr. Linda. Mereka bersedia mengambil alih pasien-pasien saya. Saya sudah menyiapkan catatan medis lengkap untuk semua kasus yang sedang berjalan di meja saya," Rania menyerahkan sebuah map tebal berisi dokumen pasien.
"Bagus. Fokuslah pada urusanmu, Rania. Ambillah cuti di luar tanggungan. Jika kau butuh bantuan medis atau psikiater dari rumah sakit ini, katakan saja. Pintu kami selalu terbuka," dr. Gunawan memberikan senyum penguatan.
Keluar dari ruangan itu, Rania merasa satu beban sedikit terangkat, namun beban yang lebih besar masih menghimpit dadanya. Ia berjalan menuju ruang lokernya untuk mengambil beberapa barang pribadi. Di sana, ia bertemu dengan dr. Linda.
"Ran... aku turut prihatin," Linda memegang bahu Rania. "Kalau ada yang bisa kubantu, jangan ragu ya?"
"Terima kasih, Lin. Tolong jaga pasien-pasienku. Terutama Ibu Siska di kamar 402, dia baru saja melewati masa kritisnya."
"Pasti. Jangan pikirkan rumah sakit dulu. Temukan dia, Ran. Temukan jawaban yang kamu butuhkan."
Rania mengangguk pelan. Saat ia berjalan keluar menuju lobi, ia melihat Aris sedang bersandar di mobil polisinya, sibuk dengan ponsel di telinganya. Aris tampak sedang memberikan instruksi dengan suara rendah namun tegas. Itulah Aris—sahabat yang akan mengerahkan seluruh kekuatannya di kepolisian untuk membantu Rania.
"Sudah selesai?" tanya Aris saat melihat Rania mendekat.
"Sudah. Aku sudah bebas tugas untuk sementara," jawab Rania. Matanya kini menatap lurus ke depan. Kesedihan yang tadinya melumpuhkannya, kini mulai berubah menjadi semacam tekad yang dingin. "Ris, aku tidak mau hanya menunggu laporanmu di rumah."
Aris mengerutkan kening. "Lalu?"
"Tadi malam, sebelum aku pingsan, aku sempat melihat sebuah bangunan tua di dekat titik koordinat itu. Memang tidak ada mobil Damar di sana, tapi aku merasa ada yang tertinggal. Dan satu lagi... aku ingat Damar punya sebuah kantor lama di daerah Jakarta Barat sebelum dia pindah ke kantor yang sekarang. Dia bilang kantor itu sudah disewakan, tapi aku tidak pernah melihat penyewanya."
Mata Aris menyipit, insting detektifnya bekerja. "Kantor lama? Kenapa kau baru bilang sekarang?"
"Aku baru ingat tadi saat melihat foto lama kami. Dia selalu membawa kunci yang berbeda di gantungan kuncinya, kunci yang tidak pernah ia gunakan untuk rumah atau kantor barunya. Dan kunci itu masih ada di gantungan kunci cadangan di rumah."
Aris mengangguk mantap. Ia membukakan pintu mobil untuk Rania. "Kalau begitu, kita tidak pulang ke rumahmu. Kita ke kantor lama itu sekarang. Dan Rania... siapkan mentalmu. Seringkali, apa yang kita temukan di balik pintu yang terkunci bukanlah apa yang ingin kita lihat."
Rania menarik napas dalam, memejamkan matanya sejenak. Bayangan Damar yang tersenyum kembali muncul, namun kali ini Rania tidak lagi membalas senyuman itu. Ia sedang bersiap untuk menghadapi kenyataan bahwa pria yang ia cintai mungkin adalah orang asing yang selama ini tidur di sampingnya.
Mobil Aris melesat meninggalkan area rumah sakit, membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah rahasia yang telah disimpan rapat oleh seorang suami bernama Damar. Di dalam tasnya, Rania menggenggam erat gantungan kunci cadangan itu. Kunci menuju kebenaran yang mungkin akan menghancurkan hatinya lebih hancur dari sebelumnya.