Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 18
Beberapa hari berlalu sejak pagi di taman. Dan tanpa disadari, sesuatu dalam hidup Dipta mulai bergeser. Awalnya hanya pesan singkat.
"Lagi apa?"
"Udah makan?"
Sederhana. Ringan. Tidak berarti apa-apa, setidaknya begitu yang Dipta pikirkan.
Akan tetapi, hari demi hari, percakapan singkat itu menjadi sebuah kebiasaan. Bahkan Laras selalu hadir di sela waktu kosong. Di antara rapat, di perjalanan pulang, bahkan sampai malam mulai larut.
Ada tawa kecil yang kembali ia rasakan. Bahkan Dipta menyadarinya jika ada suatu bagian dirinya yang hilang kini kembali datang.
Sesekali, Dipta datang kembali ke toko buku yang dulu sering ia kunjungi. Berlama-lama disana, duduk di sudut yang sama, membuka jurnalnya, menulis hal-hal yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Pria itu bahkan mulai memotret lagi, walau hanya dengan ponsel. Cahaya sore, jalanan basah, secangkir kopi di atas meja kayu.
Hal-hal kecil. Hal-hal dunia yang ia cintai. Dan di tengah itu semua, ia tetap pulang kerumah. Masih menyapa anak-anak, masih menjalani statusnya sebagai suami.
~
Sore itu, Rana tengah menyiram tanaman di depan halaman rumahnya. Bunga-bunga yang ia rawat, ada Mawar, Hydrangea, Anggrek, dan masih banyak bunga lainnya.
"Permisi, paket..."
Suara laki-laki dari luar gerbang rumahnya terdengar nyaring. Rana gegas mematikan keran lalu berjalan membukakan gerbang. Seorang kurir berdiri di depannya sembari memeluk sebuah kotak berukuran sedang.
"Pak...Dipta?" tanyanya seraya menatap tulisan di paket tersebut.
"Ya, dari siapa ya?" tanya Rana.
Kurir itu menyodorkan kotak kepada Rana, "disini gak ditulis pengirimnya, Bu. Tapi ada tulisan untuk Adhikara Pradipta Mahendra."
Rana menerimanya, "oh, gitu. Udah di bayar belum, Mas?" tanya Rana seraya menatap paket tersebut.
"Sudah, Bu. Kalau begitu...saya permisi." Pamitnya.
"Iya.., terima kasih." Jawab Rana santai.
Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, Rana tengah duduk di atas sofa ruang keluarga sembari menyisir rambut putrinya.
Klik.
Terdengar suara kunci rumah, Rana menoleh sebentar dan melihat Dipta yang baru saja membuka sepatunya dan memakai sandal rumah.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Rana perhatian.
"Iya," jawabnya singkat.
Rana menyelesaikan ikatan rambut putrinya. Lalu mendekati Dipta, pria itu menyerahkan tas kerjanya, membuka jas yang ia pakai.
"Banyak banget kerjaannya ya, Mas?" tanya Rana.
"Hmmm...begitulah," jawabnya seraya menggeloyor ke arah kamar mandi.
"Ran, tolong nanti ambilin handuk." Pintanya.
"Iya, Mas."
Saat makan malam selesai, seperti biasa mereka duduk-duduk di ruang keluarga. Alaric masih asyik dengan buku gambarnya, sedangkan Masayu sedang asyik dengan boneka beruang pemberian Omanya.
"Mas," panggil Rana seraya duduk mendekat.
Dipta menoleh. "Iya?"
"Ada paket buat Mas."
Rana menunjuk sebuah kotak berukuran sedang yang tergeletak di atas meja.
Alis Dipta berkerut. "Paket? Dari siapa?"
"Nggak tahu. Nggak ada nama pengirimnya," jawab Rana santai sembari meraih buah apel dan pisau, lalu mengupasnya.
Dipta bangkit dari duduknya, lalu membawa kotak tersebut dan kembali duduk di samping Rana. Perlahan Dipta membukanya. Lapisan kardus itu perlahan terbuka. Dan saat isi dalamnya terlihat... gerakannya terhenti.
Sebuah kamera.
Bukan kamera biasa. Desainnya klasik, elegan, dengan detail yang tampak mahal. Benda itu seperti membawa kembali seluruh kenangan yang pernah ia tinggalkan.
Mata Dipta berubah.
Ada sesuatu disana- kilatan kebahagiaan yang jujur, yang bahkan tidak bisa ia sembunyikan. Tangannya mengangkat kamera itu perlahan, seolah benda itu takut menghilang.
"Mas suka?"
Rana menatap suaminya dan menangkap perubahan wajah Dipta. Baru kali ini ia melihat Dipta se-ekspresif itu. Biasanya Rana hanya dapat melihat wajah datar dari suaminya.
Dipta menoleh sedikit, masih memegang kamera itu. "Iya."
Jawaban dari suaminya sangat jelas, pelan. Dan ada wajah sumringah yang ia hadirkan. Dipta kembali fokus pada kamera tersebut, lalu mencobanya, menangkap gambar kedua anaknya.
Rana memperhatikan, tangannya masih membelah buah apel. Saking fokusnya kepada Dipta, Rana tak sengaja menggores telunjuknya dengan pisau itu hingga mengeluarkan darah.
"Aw!" pekiknya seraya menjatuhkan apel dan pisau dari tangannya.
"Bunda kenapa?" tanya Alaric mendekat.
"Bunda...beldalah...." sahut Masayu khawatir.
Rana tersenyum, gegas perempuan itu meraih tissue. "Nggak apa-apa kok," ucap Rana lembut.
Rana melirik suaminya, tidak ada ekspresi terkejut pada suaminya. Dipta masih fokus dengan kameranya itu.
"Mas...suka photography?"
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Dipta mengangguk kecil. "Dulu...iya."
"Sekarang?"
Dipta terdiam sejenak, lalu pandangnya jatuh pada telunjuk Rana yang berdarah.
"Masih."
...****************...
Bersambung...