NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kata Kata Yang Memberi Luka

POV Aluna

Aku tidak tahu pasti sejak kapan aku mulai merasa sedikit… nyaman.

Mungkin sejak Arga mulai bicara dengan cara yang ringan.

Mungkin sejak ia membuat semua orang di ruangan ini terasa seperti “tidak penting”.

Atau mungkin… sejak aku berhenti merasa seperti orang asing yang tersesat.

Untuk beberapa menit, aku lupa.

Lupa bahwa aku tidak seharusnya ada di sini.

Lupa bahwa setiap langkahku tadi terasa seperti kesalahan.

Lupa… bahwa aku datang bersama Zayn.

“Pelan-pelan,” suara Arga terdengar, sedikit menahan tawa. “Kamu seperti belum makan setahun.”

Aku spontan menutup mulut, merasa malu.

“Aku… lapar,” gumamku pelan.

“Ya, itu terlihat,” jawabnya santai.

Aku mengambil napas kecil, mencoba makan lebih rapi. Tapi mungkin karena gugup, atau memang aku tidak terbiasa makan di tempat seperti ini

Aku tidak sadar saat saus di sudut bibirku tertinggal.

“Eh—tunggu,” ucap Arga tiba-tiba.

Aku belum sempat bereaksi saat ia sedikit mendekat. Tangannya terangkat, membawa tisu

Dan dengan gerakan alami, tanpa ragu, ia mengusap sudut bibirku.

“Belepotan,” katanya ringan.

Aku membeku.

Untuk sesaat, dunia seperti berhenti.

Bukan karena sentuhannya.

Tapi karena aku tidak pernah terbiasa… diperlakukan selembut itu.

Namun,,,tiba tiba teriakan terdengar

“Arga!”

Suara itu menghantam keras.

Tajam. Dingin. Dan penuh tekanan.

Jantungku langsung berdegup kencang.

Aku menoleh.

Zayn.

Dia berdiri tidak jauh dari kami. Rahangnya mengeras, tatapannya menusuk lurus ke arah Arga.

Aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.

Bukan sekadar dingin.

Tapi… marah.

Arga terlihat terkejut sesaat, tapi kemudian menghela napas santai.

“Whoa, santai saja kawan” katanya,

"berani kau menyentuhnya"ucap Zayn

Arga mengangkat kedua tangan. “saya sedang membantunya, tidak sedang melecehkannya.”

Zayn tidak menjawab.

Tatapannya beralih padaku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu

Aku merasa benar-benar kecil di hadapannya.

“Kamu” suaranya rendah, tapi penuh tekanan. “Tidak tahu menjaga diri?”

Aku terdiam.

Apa?

“Apa maksudmu?” tanyaku pelan, masih mencoba memahami.

“Kamu duduk dengan orang asing. Tertawa. Membiarkan dia menyentuhmu seolah itu hal biasa.”

Setiap kata yang keluar dari mulutnya… seperti pisau.

Aku menatapnya tak percaya.

“Dia tidak,,,”

“Diam.”

Satu kata.

Tapi cukup untuk menghentikan suaraku.

Dadaku mulai terasa sesak.

“Ini bukan tempat untukmu, Aluna.”

Nada itu.

Dingin. Tegas. Tanpa ruang untuk bantahan.

“Ini bukan dunia mu. Jadi tolong,,,” ia menatapku tajam, “jaga sikapmu.”

Hening.

Semuanya terasa hening.

Padahal aku tahu, di sekitar kami masih ada suara. Masih ada orang-orang. Masih ada musik.

Tapi di kepalaku

Hanya kata-katanya yang bergema.

Ini bukan dunia mu.

Aku menunduk sesaat.

Mencoba menahan sesuatu yang mulai naik ke tenggorokan.

Sakit.

Bukan karena dia marah.

Tapi karena cara dia memandangku.

Seolah aku memang… tidak pantas ada di sini.

Seolah aku… kesalahan.

“Kalau ini bukan duniaku…”

Suaraku keluar pelan.

Bergetar.

Tapi aku memaksanya tetap terdengar.

Zayn terdiam.

Aku mengangkat kepala, menatapnya langsung.

Untuk pertama kalinya… tanpa menghindar.

“Kenapa kamu membawaku ke sini?”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa filter.

Tanpa takut.

Dan mungkin… tanpa bisa aku tarik kembali.

Zayn tidak langsung menjawab.

Tatapannya berubah sedikit.

Bukan melembut.

Tapi… seperti tidak menyangka.

“Kalau aku salah bersikap,” lanjutku, suaraku semakin lirih tapi tetap tegas, “kalau aku tidak tahu cara berbicara… kalau aku terlihat memalukan di matamu…”

Aku menelan ludah.

Menahan air mata yang mulai menggenang.

“karena aku memang bukan bagian dari dunia ini?”

Dadaku terasa sesak.

Tapi aku tidak ingin berhenti.

Tidak kali ini.

“Aku tidak pernah minta dibawa ke sini, Zayn.”

Suaraku pecah di akhir kalimat.

Aku membencinya.

Aku benci terdengar lemah seperti ini.

Tapi aku tidak bisa menahannya.

“Dari awal… aku sudah bilang aku tidak nyaman.”

Mataku mulai panas.

“Yang memaksaku datang ke sini itu kamu dan Tuan Misra”

Hening lagi.

Tapi kali ini

Lebih berat.

Lebih menyakitkan.

Aku bisa melihat beberapa orang mulai melirik.

Mungkin kami terlalu mencolok.

Mungkin aku terlalu keras.

Atau mungkin… aku memang tidak pantas ada di tengah mereka.

“Aku hanya mencoba… menyesuaikan diri,” bisikku.

Air mata akhirnya jatuh.

Satu.

Tanpa bisa aku cegah.

“Aku hanya mencoba tidak mempermalukan mu sesuai yang kamu inginkan”

Tanganku mengepal.

“Dan kalau aku tertawa… itu bukan karena aku lupa diri.”

Aku menatapnya lagi.

Dengan sisa keberanian yang kupunya.

“Itu karena untuk pertama kalinya malam ini… aku tidak merasa sendirian.”

Kalimat itu menggantung.

Dan aku tahu…

Dia mengerti maksudnya.

Arga terdiam di sampingku.

Tidak lagi menyela.

Tidak lagi bercanda.

Dan untuk sekali ini… aku bersyukur dia tidak bicara apa pun.

Karena ini

Bukan lagi tentang dia.

Ini tentang aku.

Dan Zayn.

“Aku memang tidak pantas ada di sini,” lanjutku pelan.

“Tapi bukan berarti aku tidak punya harga diri.”

Dadaku naik turun.

Napas terasa berat.

“Tolong… jangan bicara padaku seperti aku ini tidak tahu apa-apa.”

Zayn masih diam.

Terlalu diam.

Dan itu justru lebih menyakitkan daripada kata-katanya tadi.

Aku menghapus air mata dengan cepat.

Malas terlihat lebih lemah di depannya.

“Kalau kamu tidak suka aku di sini…”

Suaraku kembali pelan.

Tapi lebih dingin sekarang.

Lebih… menyerah.

“Aku bisa pergi.”

Kalimat itu keluar tanpa ragu.

Padahal

Di dalam hatiku

Semuanya terasa hancur.

Karena ternyata…

Yang paling menyakitkan bukanlah saat orang lain merendahkanmu

Tapi saat orang yang membawamu masuk ke dunianya

Adalah orang pertama yang membuatmu merasa tidak layak berada di sana.

Dan malam ini…

Zayn melakukan itu padaku.

Tanpa ragu.

Tanpa penyesalan.

Dan aku…

Menahan luka yang bahkan tidak pernah aku minta.

Menurut kamu melihat Zayn yang dingin dan memiliki ego tinggi akan meminta maaf??

komentar ya❤️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!