"Katanya, sebelum semua ilmu nya lepas.. nenek nggak akan bisa mati."
"Jadi sekarang nenek dimana?"
"Nenekmu sedang menjalani semua hukuman sebelum akhir nya dia mati. Selama 40 hari, dia akan dalam pengaruh Iblis."
"Tapi kan nenek udah meninggal!?"
Sebuah ilmu tua membuat seorang nenek mengalami hal di luar nalar ketika akan mendapatkan ajalnya.
Elma, gadis biasa yang baru saja datang dari Jakarta itu harus menelan bulat - bulat atas semua rentetan kejadian tak masuk akal yang dia alami selama mencari jasad nenek nya, dalam waktu 40 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.14. Kenapa harus ada sesajen
Elma masuk ke dalam rumah sambil membawa sesajen yang dia lihat di ruang genset tadi, saat dia masuk mbak Er.. ART yang satu nya lagi terkejut melihat Elma membawa masuk sesajen itu.
"Mbak, dapat dari mana iki?" Tanya nya, Elma meletakan sesajen itu di atas meja.
"Ruang genset." Jawab Elma dingin.
"Mbak Elma, iki ndak boleh di bawa keluar mbak, nanti penunggu Genset nya marah." Ucap mbak Er.
"Sekarang aku yang marah. Siapa yang nyiapin ini, terus buat apaan naro gini - ginian?" Ucap Elma, mbak Er yang melihat Elma kembali pada mode dingin sedikit menciut.
"Mbak, iki semua rutinitas setiap malam selasa kliwon. Nenek yang mengajari kami supaya terus menyiapkan sesajen iki untuk semua para penunggu di sini." Ucap mbak Er.
Elma sedikit kaget saat mendengar bahwa nenek nya sendiri- lah yang sudah memerintah dua ART nya itu untuk menyiapkan sesajen, padahal sejauh yang Elma tau.. Nenek nya adalah orang yang berwibawa.
"Tujuan nya?" Tanya Elma, dia mencecar.
"Kalo itu saya ndak tau mbak, saya cuma menjalankan perintah nenek." Jawab mbak Er, Elma masih diam menatap mbak Er untuk mencari tau apakah dia bohong atau tidak.
Tapi jika di lihat dari ekspresi mbak Er, tampak nya dia tidak sedang berbohong. Kemungkinan memang mereka hanya di suruh menyiapkan sesajen tanpa tau tujuan nya untuk apa.
"Terus, dimana aja nenek nyuruh naro sesajen?" Tanya Elma akhir nya, mbak Er tersenyum.
"Banyak mbak, ada di.."
Mbak Er lalu menyebutkan dimana saja titik - titik yang di letaki sajen, Elma agak syok karena hampir semua sudut di kediaman nenek nya itu di letaki sajen tanpa dia tahu sama sekali.
'Nenek sebener nya punya tujuan apa, kenapa sampe naro - naro sajen segala di rumah.' Batin Elma..
Setelah mendapat jawaban dari mbak Er, akhir nya Elma mengambil sesajen itu lagi lalu dia membuang nya ke tempat sampah sampai mbak Er terkejut dengan tindakan Elma.
"Lho mbak, kok di buang toh!?" Ucap mbak Er, sambil dia juga menghampiri tong sampah.
"Mulai sekarang nggak usah ada sesajen lagi, itu sama aja kayak sirik." Ucap Elma, lalu pergi.
Mbak Er yang melihat itu hanya bisa diam, sedangkan Elma.. Dia pergi keluar dan ternyata ada abah Surip yang sudah Tian infokan akan datang. Mbah Surip sedang bersama ibunya Elma di teras depan.
Saat Elma berjalan mendekat ke arah mereka, lagi dan lagi abah Surip berbicara menggunakan bahasa yang tidak Elma mengerti, dan ketika Elma sampai di teras barulah mereka menatap Elma.
"Kak, sini ceritakan apa yang kamu liat semalam saat sebelum pakde meninggal, ke abah." Ucap ibunya, Elma mengangguk.
"Nak, tadi kamu dari mana?" Tiba - tiba abah Surip bertanya.
"Nemuin tukang genset, di ruang genset bah." Jawab Elma, dia lalu duduk.
"Ada banyak hal yang nggak aku ngerti, ma. Nenek naro sajen - sajen di banyak tempat, tadi aku baru nemuin satu." Ucap Elma, ibu dan abah Surip diam mendengarkan.
"Kejadian semalam.. ada kaitan nya sama hal mistis kan, ma?" Ucap Elma langsung, ibunya terdiam.
"Apa si ma, ada apa sebenernya? Mama tau sesuatu?!" Cecar Elma, ibunya sampai sedikit berkedip bingung.
"Kamu.. siap denger nya, kak?" Tanya ibunya, Elma malah mengernyitkan kening nya.
"Denger apa? Bilang aja, aku dengerin." Ucap Elma, keras kepala dia muncul.
"Gini, kak.. Seperti yang udah kamu tau tentang nenek yang ngelmu, dulu papa kamu pernah cerita ke mama." Ucap ibunya.. Elma dengan serius mendengarkan.
"Dulu.."
Dulu.. Nenek nya Elma memang sudah kaya sejak dia kecil, bukan kaya tapi lebih ke berkecukupan. Ibunya merupakan dukun beranak atau paraji yang sukses di desa nya, sementara ayah nya nenek merupakan orang pintar (dukun).
Dari garis keturunan dari ayah nya nenek Tri, lebih tepat nya kakek nya nenek Tri dulunya memang mendalami ilmu hitam, sehingga ilmu itu lantas di turunkan pada anak dan cucu nya..
Sebenar nya nenek Tri juga tidak menginginkan sama sekali bisa menuruni ilmu ayah nya, tetapi karena dia adalah keturunan yang di tunjuk, jadi mau tidak mau dia harus melanjutkan apa yang di tinggalkan oleh kakek moyang nya.
"Jadi maksud mama, sebener nya nenek nggak ngelmu?" Tanya Elma, ibunya mengangguk.
"Nenek kamu terpaksa kak, dia hanya meneruskan saja." Jawab ibunya, Elma lalu mengernyit bingung.
"Lho, kan tinggal tolak aja sih.. Nggak usah lanjutin ritual nya kan bisa." Ucap Elma, ibunya menggeleng.
"Nggak semudah itu, kak.. Sesuatu yang udah kakek buyutmu sembah itu akan berbalik menyerang kalau nggak di teruskan." Ucap ibunya Elma, Elma diam sejenak.
Elma kemudian menyambungkan korelasinya, itu berarti..
"Itu berarti sebelum nenek mati, ilmunya harus punya tuan baru?" Tanya Elma, barulah ibunya mengangguk.
"Pakdemu.. Sebenar nya adalah orang yang di pilih, tapi pakde selalu menolak, pakde taat dengan agamanya. Sebaliknya, papa kamu malah tertarik dengan sesuatu yang magis." Ibunya Elma mulai membuka cerita.
Papa nya Elma selalu merasa penasaran dan dia yang malah diam - diam selalu meminta pada ibunya untuk di ajari, tapi jelas ibunya tidak bisa karena papa nya Elma bukan orang yang di pilih. Tapi, papa nya Elma diam - diam juga melakukan ritual.. Dan yang ada itu malah berbalik menyerang nya.
Pakde nya Elma tentu tidak membiarkan itu terjadi, dia kemudian mengusahakan agar adiknya itu lepas, tapi ternyata sudah tidak bisa tertolong dan ayah Elma kemudian meninggal dunia. Lalu.. Apakah akhir nya itu selesai??
"Itu semua belum selesai karena nenek nggak akan bisa meninggal dengan tenang sebelum semua ilmu di tubuh nya itu lepas." Ucap ibunya Elma.
"Terus, kenapa pakde di bunuh? Kan pakde orang yang di pilih?" Tanya Elma lagi.
"Pakdemu.. meninggal karena dia berusaha memutus itu, kak. Dan sosok itu menyerang balik.." Ibunya Elma berucap dengan sedih.
"Sekarang anak - anak nya nenek udah nggak ada, itu berarti ini semua udah selesai, kan?" Ucap Elma, dia sempat merasa lega.
"Belum, nduk. Karena.. Sekarang sosok itu sudah memilih inang yang baru." Ucap abah Surip, Elma tertegun.
"Ayahmu, pakdemu memang sudah meninggal.. Tapi dari mereka berdua lahir Tian, kamu, dan adikmu. Sekarang, diantara kalian bertiga inilah yang akan menjadi kandidat nya." Ucap abah Surip, Elma makin tertegun.
"Dan di antara kalian bertiga.. yang paling mungkin menjadi inang sosok itu.. Adalah adikmu." Imbuh abah Surip.
"DEG!!"
"Mama.." Elma menatap ibunya, ibunya menangis sambil mengangguk.
"Kalau nanti saat bulan purnama adikmu masih di sini, kemungkinan adikmu akan di jadikan inang." Ucap abah Surip, Elma syok mendengarnya..
"Nggak, nggak boleh!"
...BERSAMBUNG!...