Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam tahun 80 kelabu
3 tahun lalu...
Malam tahun 80 kelabu. Langit Jakarta bukan hitam, tapi kelabu. Kelabu asap, kelabu debu, kelabu darah.
Api berkobar di beberapa tempat. Toko di Pecinan, gardu listrik di Senen, markas polisi di Jatinegara. Teriakan, tangisan, tembakan — semua nyampur jadi orkestra neraka. Radio pemerintah mati. Yang nyala cuma desas-desus: kudeta gagal, pemberontak nyusup ke ibu kota.
Seperti yang kita tahu, tahun ini kuasa adalah segalanya. Kalo tidak ada bakti dan jasa, maka pembunuhan adalah jalan ninja. Hukum rimba, tapi pake seragam.
Dan di tengah rimba itu, ada satu nama yang jadi buruan utama: *Marsekal Besar Nyai Ageng Kurniasari.*
Kurniasari udah nggak pagi muda. Umur 67, rambut putih semua, tapi langkahnya masih berani. Malam itu markas Marsekal diserang. Bukan demo. Pemberontak. Belasan orang berpakaian hitam, wajah ketutup, bawa senjata laras panjang. Mereka nggak minta tanda tangan. Mereka minta kepala.
Kurniasari adalah komando tertinggi. Punya banyak kuasa, banyak pasukan, tapi justru itu: banyak musuh. Jabatan bintang lima itu kursinya panas. Sekali jatuh, yang nungguin bukan ambulans. Peti mati.
Sirene mati. Listrik padam. Anak buahnya kocar-kacir nahan di gerbang depan. Dia? Milih muter lewat gang belakang. Bukan lari. Taktik. Harimau tua nggak pernah lari. Dia ngumpan.
Langkahnya masih cepat di usia tua. Masih selincah citah, masih segarang harimau. Sepatu boot-nya ngehajar aspal, ngehajar genangan, ngehajar puing. Napasnya satu-dua, teratur. Tangan kanan megang pistol dinas, tinggal 3 peluru.
Masuk ke gang sempit Pasar Baru. Pelataran toko tutup semua. Roll door digembok. Dia terpojok di sudut bangunan — tembok bata tinggi, jalan buntu.
Bukan karena nggak ada orang. Di balik jendela, banyak mata ngintip. Tapi nggak ada yang berani buka pintu. Mereka takut malah jadi sasaran. Mereka milih sembunyi di rumah biarpun langkah-langkah cepat terdengar keras di halaman. Suara Kurniasari dikejar penjahat udah kayak kentongan tanda mara bahaya.
Punggungnya nyentuh tembok dingin. Di depannya, 12 bayangan hitam nutup gang. Moncong senjata ngarah ke dia semua.
Kurniasari nggak nunduk. Nggak minta ampun. Nggak minta tolong.
Dia malah nyengir. Nyengir nantang.
“Suruhan siapa kalian?” Suaranya berat, nggak goyah. Wibawa 40 tahun perang nggak luntur kena umur. “Kaisar? Atau tikus got yang ngaku jenderal?”
Hening nggak ada jawaban. Cuma napas. Napas 12 orang lawan napas 1 nenek. Saling memburu, seolah bilang: kami makan kamu atau kamu yang makan kami.
DOR!
Peluru pertama nancep di betis kiri. Kurniasari nggak jerit. Cuma dengus. Lututnya nekuk, tapi punggung tetep tegak. Darah langsung ngerembes, baunya amis nyampur sama bau asap.
Satu orang maju. Yang paling depan. Bawa pisau komando, bukan pistol. Mau nikmatin. Mau nikam Kurniasari dari deket, biar berasa.
Pisau keangkat. Mantel hitam berkibar. Mata pembunuh itu kosong.
Satu jengkal lagi nyampe kulit keriput Kurniasari.
Tapi sebelum pisau itu nyium daging—
_SUT. SUT. SUT._
Jarum perak terbang dari kegelapan. Nggak ada suara tembakan. Nggak ada cahaya. Kayak dilempar setan.
Jarum pertama nancep di leher si pembawa pisau. Dia nggak sempet teriak. Langsung kejang, rubuh. Jarum kedua, ketiga, keempat — nyari batang leher, nyari pelipis. Lima orang tumbang dalam 2 detik. Nggak ada yang tau dari mana asalnya. Kayak dilempar ngasal, nggak terlatih.
Tapi hasilnya? Presisi neraka.
Yang masih selamat panik. “PENEMBAK RUNDUK!” teriak satu. Langsung kocar-kacir, nembak-nembak buta ke ruko kosong. Peluru nyasar ke genteng, ke bakso, ke poster film.
Kurniasari yang udah setengah hilang kesadaran, pake sisa tenaga buat natap ke arah datangnya jarum.
Gang di seberang. Gelap.
Di sana berdiri siluet. Kecil. Gemeter.
Gadis. Rambut sebahu, berantakan. Pake cadar hitam nutup hidung ke bawah. Pake jaket klinik kebesaran, nametag-nya udah copot. Kakinya gemeter takut, lututnya adu biji. Tangannya lemes, jarum-jarum perak masih ngejuntai di sela jari. Keliatan jelas: bukan pembunuh. Bukan tentara. Mungkin bahkan belum pernah tampar orang.
Tapi matanya.
Di balik cadar itu, mata hazelnya nyala. Bukan nyala takut. Nyala nekat. Nyala orang yang udah nentuin: gue bisa mati malam ini, tapi nenek ini nggak.
Langkahnya anggun walau buru-buru. Kayak jalan di karpet merah, padahal nginjek pecahan kaca. Pas deket, baunya kecium: teh melati campur kayu putih. Bau khas. Bau nenek-nenek. Bau rumah.
Nggak banyak omong. Tangan kecil itu langsung nyelip ke ketiak Kurniasari. Narik. “Bisa jalan, Nek?” bisiknya. Suaranya gemeter, tapi tangannya nggak.
Kurniasari nggak jawab. Cuma ngangguk. Harga diri nolak dibopong, tapi peluru di betis nggak bisa diajak debat.
Mereka nyusup. Masuk ke klinik bobrok di ujung gang. Plangnya udah copot satu: “Klinik Rembu... Malam”. Lampu mati. Bau alkohol sama karat.
“Duduk.” Perintah gadis itu. Nadanya lembut tapi nggak bisa dibantah.
Kurniasari nurut. Baru kali ini. Dia duduk di kursi pasien yang busanya udah keluar.
Tanpa ragu, tangan bercadar itu gunting celana dinas Kurniasari sampe paha. Belek luka tembak kayak orang ahli. Pinset karatan, tapi tangannya stabil. Sekali cungkil, _TING_. Peluru buletan baja jatuh ke nampan seng. Klotak.
Kurniasari nggak ngerang. Matanya malah nggak berpaling dari gadis itu. Dari mata hazel yang keliatan tulus biarpun wajahnya ketutup cadar. Mata yang barusan bunuh 5 orang buat nolong nenek asing.
Jahit. 4 jahitan. Rapi. Terus balut pake perban. Cepat. Efisien. Kayak udah seribu kali ngelakuin ini di medan perang, padahal tangannya tadi gemeter.
“Selesai,” ucapnya sambil berdiri. Napasnya baru keambil sekarang. Bahunya turun.
Sementara Kurniasari masih duduk lemes, tapi matanya tajam. Mata Marsekal Besar yang lagi naksir bakat. Atau naksir orang.
“Siapa namamu?” tanyanya. Pelan. Nggak ada nada perintah. Ada nada... pengen tau.
Gadis itu ragu sedetik. Tangannya naik, nurunin cadar itemnya perlahan.
Kain turun.
Nampilin wajah cantiknya. Muda. Mungkin 20-an. Hidung mancung, tulang pipi tinggi. Dan pas dia coba senyum kecut, ada lesung pipi di kiri. Satu aja. Dalam.
“Anindya,” jawabnya. Suaranya jelas sekarang. Nggak gemeter lagi. “Nama saya Anindya.”
Kurniasari diem. Nama itu dia kunyah pelan-pelan di kepala. Anindya. Yang tak ternilai.
Di luar, tembakan masih saut-sautan. Di dalam, cuma ada bau teh melati, darah, sama dua pasang mata yang nggak sengaja ketemu takdir.
Kurniasari senyum. Pertama kalinya malam itu.
“Anindya...” katanya. “Malam ini kamu udah nyelametin nyawa Marsekal Besar. Kaisar pun nggak bakal percaya.”
Anindya nunduk. “Saya cuma... nggak tega, Nek.”
“Nek?” Kurniasari ketawa. Kecil. Renyah. “Panggil aku Kurniasari aja. Atau... guru, kalau kamu mau.”
BRAK!
Pintu klinik kebanting dari luar. Anak buah Kurniasari akhirnya nemuin dia. “JENDRAL! JENDRAL SELAMAT!”
Anindya kaget. Refleks pake cadarnya lagi. Nutup wajah. Mundur selangkah. “Saya... saya permisi.”
“Jangan.” Kurniasari nahan pergelangan tangannya. Genggamannya kuat buat nenek habis ketembak. “Kamu ikut aku. Orang kayak kamu nggak pantes busuk di klinik bobrok.”
Anindya ngangkat muka. Mata hazel itu ketemu mata elang Kurniasari.
Dan di luar, tahun 80 terus kelabu.
lnjut thor