NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cakrawala yang Terkoyak

Gema pesan dari Ouroboros masih menggantung di udara Lembah Saraswati seperti kabut yang enggan pergi. Kata-kata "apa yang akan datang dari luar cakrawala" menjadi teka-teki yang menghantui setiap diskusi di ruang komando. Kenzo tidak lagi hanya melatih pengawal; ia mulai membangun sebuah jaringan pertahanan global yang ia sebut "Project Aegis".

Namun, ancaman kali ini tidak datang dalam bentuk tentara atau mesin. Ancaman itu datang dari langit, dalam bentuk yang paling murni: **Data**.

Satu minggu setelah insiden Svalbard, sistem pemantau bintang milik Saraswati mendeteksi sesuatu yang tidak biasa. Bukan meteor, bukan pula satelit mata-mata. Ada distorsi frekuensi di lapisan ionosfer yang bergerak secara berpola, seolah-olah ada seseorang yang sedang "mengetuk" pintu atmosfer bumi menggunakan kode biner.

"Leo, kau bisa menerjemahkan ini?" tanya Aara, matanya terpaku pada aliran kode yang mengalir deras di layar hologram.

"Ini bukan bahasa manusia, Nyonya," suara Leo terdengar gemetar dari Zurich. "Ini adalah algoritma otonom yang bisa mereplikasi diri. Sinyal ini tidak berasal dari bumi. Ini dikirim melalui satelit komunikasi komersial yang telah dibajak dari luar angkasa."

Aara merasakan dingin menjalar di punggungnya. "Ouroboros benar. Sesuatu sedang datang."

Di taman meditasi, Adrian tiba-tiba berhenti bernapas sejenak. Ia berdiri, menatap langit biru yang cerah di atas Gunung Lawu. Matanya berkilat perak, namun kali ini ada semburat warna ungu yang aneh di tepian pupilnya.

"Papa," panggil Adrian tanpa menoleh.

Kenzo, yang sedang memeriksa instalasi meriam frekuensi di dekat sana, segera menghampiri. "Ada apa, Adrian?"

"Langitnya... berisik sekali," bisik Adrian. "Ada ribuan suara yang berteriak secara bersamaan. Mereka tidak marah, mereka hanya... lapar."

Kenzo mengerutkan kening. "Lapar?"

"Mereka ingin memakan semua listrik kita, Papa. Semua cahaya kita."

Belum sempat Kenzo menjawab, seluruh sistem kelistrikan di Saraswati tiba-tiba padam. Bukan karena serangan fisik, melainkan karena seluruh daya seolah-olah "dihisap" keluar.

Dalam hitungan detik, laporan masuk dari Baskara melalui jalur radio analog manual. "Tuan! Seluruh Jakarta gelap total! Singapura, Tokyo, New York... semuanya! Dunia sedang mengalami Total Blackout!"

Ini adalah serangan yang belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Seseorang atau sesuatu telah melepaskan virus digital berbasis frekuensi yang mematikan seluruh jaringan listrik dunia. Dunia kembali ke zaman kegelapan dalam sekejap.

"Aara! Aktifkan generator kinetik manual!" teriak Kenzo.

Saraswati beruntung memiliki sistem energi berbasis gravitasi dan kinetik yang tidak bergantung pada jaringan listrik eksternal. Perlahan, lampu-lampu di ruang komando kembali menyala redup.

"Ini adalah 'The Devourer'," ucap Aara sambil menunjuk pada grafik energi yang tersisa. "Virus ini mengubah kabel listrik menjadi antena yang mengirimkan energi bumi kembali ke satelit-satelit yang dibajak di luar angkasa. Mereka sedang mengisi daya sesuatu yang sangat besar di orbit."

Hanya ada satu cara untuk menghentikannya: memutus transmisi dari satelit induk yang menjadi pusat kendali virus tersebut. Masalahnya, satelit itu berada di orbit rendah dan dilindungi oleh perisai frekuensi yang tidak bisa ditembus oleh rudal konvensional.

"Aku bisa menghentikannya," ucap Adrian. Ia masuk ke ruangan dengan wajah yang sangat serius. "Aku bisa mengirim frekuensiku melalui pemancar Saraswati langsung ke satelit itu. Tapi aku butuh bantuan."

"Bantuan apa, Nak?" tanya Aara cemas.

"Aku butuh frekuensi Mama untuk navigasi, dan kekuatan Papa untuk perlindungan," jawab Adrian. "Kita harus melakukannya bertiga. Sebagai satu simfoni."

Mereka bergerak ke puncak tertinggi di kompleks Saraswati, di mana sebuah pemancar parabola raksasa berbentuk stupa berdiri. Di sana, Adrian duduk di tengah, diapit oleh Kenzo dan Aara.

Kenzo meletakkan tangannya di bahu Adrian, memberikan stabilitas fisik dan mentalnya. Aara memegang tangan Adrian yang lain, menghubungkan pikirannya dengan sistem navigasi satelit melalui perangkat neural-link.

"Mulai," bisik Adrian.

Energi perak meledak dari tubuh Adrian, namun kali ini energi itu terarah sempurna. Melalui piringan parabola, gelombang frekuensi murni meluncur ke atas, membelah langit malam yang gelap menuju ruang hampa udara.

Di dalam pikirannya, Adrian bertarung dengan entitas digital yang luar biasa dingin. Entitas itu tidak memiliki emosi, hanya rasa lapar yang tak terbatas.

"Kau tidak akan mengambil rumah kami," gumam Adrian.

Tiba-tiba, terjadi benturan energi yang luar biasa di atmosfer. Langit di atas Gunung Lawu berubah warna menjadi ungu terang. Tekanan udara di sekitar mereka meningkat drastis, membuat Kenzo dan Aara sesak napas. Namun, mereka tidak melepaskan tangan mereka. Mereka adalah jangkar bagi Adrian.

Dengan satu teriakan yang bergema di seluruh lembah, Adrian melepaskan seluruh cadangan energinya. Di luar angkasa, satelit induk Ouroboros meledak dalam keheningan, hancur menjadi debu kosmik.

Seketika, aliran energi yang tadinya tersedot ke atas berhenti. Di seluruh dunia, lampu-lampu mulai berkedip kembali. Jakarta kembali menyala. New York kembali bercahaya.

Adrian jatuh pingsan di pelukan Kenzo. Napasnya pendek, namun denyut jantungnya stabil.

"Dia berhasil," bisik Aara sambil menangis lega.

Setelah dunia kembali normal, sebuah transmisi terakhir masuk ke Saraswati. Kali ini, tidak ada teks, hanya sebuah koordinat di dasar Samudra Pasifik, di titik yang paling dalam: Palung Mariana.

"Mereka tidak di luar angkasa, Kenzo," ucap Aara setelah menganalisis koordinat tersebut. "Satelit itu hanya pengalih perhatian. Pusat komando sejati Ouroboros... atau apapun itu... ada di bawah sana."

Kenzo menatap Adrian yang sedang beristirahat dengan tenang. Ia tahu bahwa kemenangan ini hanyalah satu babak lagi. Ancaman yang sebenarnya baru saja menunjukkan ujung jarinya.

"Kita sudah menguasai es, hutan, dan langit," Kenzo berkata dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Sekarang, saatnya kita menyelam ke dalam kegelapan yang paling dalam."

Aara menggenggam tangan suaminya. "Apa pun yang ada di bawah sana, kita akan menghadapinya bersama."

Fajar kembali menyingsing di Gunung Lawu. Dunia mungkin merasa aman karena listrik sudah kembali, namun keluarga Arkana tahu bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di kedalaman samudra yang tak tersentuh cahaya, sesuatu yang lebih tua dari sejarah manusia sedang menunggu mereka. Dan sang Alpha, sang Raja, serta sang Ratu, siap untuk turun ke dasar neraka demi menjaga surga yang mereka bangun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!