NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghianatan Dibalik Jubah Perak

Episode 15

Malam itu, lilin di kamar asrama Reno sudah hampir habis, menyisakan lelehan lilin yang membeku di atas meja kayu. Reno masih terjaga, menatap secarik kertas kecil yang kini sudah menjadi abu setelah ia bakar di atas api lilin. Pesan dari wanita tua itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak “Jangan percaya pada siapa pun yang mengenakan jubah perak.”

Di akademi ini, jubah perak bukan sekadar pakaian. Itu adalah simbol kehormatan. Hanya instruktur senior dengan kualifikasi tinggi yang diizinkan mengenakannya. Instruktur Raka, orang yang selama ini mengawasi perkembangan Reno, adalah salah satunya.

"Nidhogg," bisik Reno pelan. "Apakah kau merasakan sesuatu yang aneh dari Instruktur Raka saat kita di hutan tadi?"

Nidhogg merayap keluar dari balik baju Reno, sisik hitamnya berkilau memantulkan cahaya bulan yang masuk dari jendela. "Aura manusia itu sangat dalam, Reno. Sulit untuk ditembus. Tapi... ada satu hal. Saat pria berjubah hitam itu mati, aku merasakan sedikit riak energi dari arah belakang, tempat di mana para instruktur seharusnya berada. Riak itu bukan kemarahan atau kekhawatiran, melainkan... kekecewaan."

Reno menyipitkan mata. "Kekecewaan? Seolah olah mereka kecewa karena pria berjubah hitam itu gagal menangkap mu?"

"Mungkin saja. Ingatlah, fragmen jiwaku adalah sesuatu yang sangat berharga bagi siapa pun yang menginginkan kekuatan absolut. Bahkan bagi mereka yang mengaku sebagai pelindung akademi," Nidhogg memperingatkan dengan nada yang lebih serius dari biasanya.

Reno bersandar pada dinding yang dingin. Di kehidupan lamanya sebagai Arka, ia pernah dikhianati oleh tangan kanannya sendiri demi jabatan CEO. Ia tahu bahwa pengkhianat yang paling berbahaya bukanlah orang yang menyerang dari depan, melainkan orang yang memberikanmu pedang tapi diam-diam merusak pelindung dadamu.

"Jika instruktur senior terlibat dengan Gerhana Hitam, maka tempat ini adalah jebakan maut," gumam Reno.

Keesokan paginya, suasana akademi masih sangat tegang. Upacara penghormatan terakhir untuk para murid yang tewas dilakukan di lapangan utama. Bendera akademi dikibarkan setengah tiang. Ratusan murid berdiri dalam diam, banyak di antara mereka yang masih terisak.

Reno berdiri di barisan tengah bersama Dito. Di depannya, berdiri barisan instruktur dengan jubah perak mereka yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Instruktur Raka berdiri paling depan, memimpin doa dengan wajah yang sangat tenang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan banyak muridnya.

Lihatlah wajah itu, batin Reno sambil mengamati Raka dari kejauhan. Tidak ada emosi. Tidak ada rasa bersalah. Dia seperti patung batu yang hanya menjalankan peran.

Selesai upacara, Raka memberikan pengumuman mengejutkan. "Karena serangan mendadak kemarin, kurikulum akan diubah. Semua murid baru dilarang keluar dari area asrama setelah jam enam sore. Selain itu, mulai besok, setiap murid akan mendapatkan 'pelatihan khusus' secara individu dengan instruktur senior untuk memperkuat pertahanan mental kalian."

Bisik-bisik ketakutan berubah menjadi gumaman antusias bagi sebagian murid. Mereka menganggap ini sebagai kesempatan langka. Namun bagi Reno, ini terdengar seperti cara untuk mengisolasi setiap murid dan mencari tahu siapa yang memiliki fragmen jiwa itu tanpa gangguan.

"Reno, kau dengar itu? Kita akan dilatih langsung oleh instruktur senior!" Dito tampak sedikit bersemangat, meski matanya masih sembap. "Mungkin ini cara akademi melindungi kita."

"Mungkin, Dito. Atau mungkin ini cara mereka mengawasi kita lebih dekat," jawab Reno pendek, membuat Dito menatapnya dengan bingung.

"Maksudmu apa, Reno?"

"Lupakan saja. Ayo kita ke kantin, aku butuh kopi," Reno mengalihkan pembicaraan.

Saat mereka berjalan menuju kantin, langkah Reno terhenti ketika Bagas menghadang jalannya. Tapi kali ini, Bagas tidak terlihat sombong. Wajahnya pucat, matanya gelisah, dan ia tampak seperti orang yang tidak tidur berhari hari.

"Reno... bisa kita bicara? Sendirian," bisik Bagas. Suaranya gemetar.

Dito menatap Bagas dengan curiga, tapi Reno mengangguk. "Dito, pergi duluan saja. Aku akan menyusul."

Setelah Dito pergi, Reno membawa Bagas ke sudut koridor yang sepi. "Apa yang mau kau bicarakan, Bagas? Mau mengejek cacing ku lagi?"

Bagas menggeleng cepat. Ia mencengkeram lengan Reno dengan kuat. "Pria itu... pria berjubah hitam yang tewas kemarin. Aku mengenalnya, Reno."

Reno tertegun. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Maksudmu apa?"

"Dia... dia adalah mantan pengawal keluargaku di desa. Namanya Bram. Dia menghilang dua tahun lalu," ucap Bagas dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar. "Ayahku bilang dia pergi untuk tugas rahasia dari kota. Tapi kemarin... dia mencoba membunuh kita."

Bagas menelan ludah, air mata mulai menggenang di matanya. "Dan yang lebih menakutkan... sebelum ujian kemarin, Instruktur Raka memanggilku secara pribadi. Dia memberikan sebuah peta dan menyuruhku membawa timku ke sektor selatan, tempat di mana kita diserang. Dia bilang itu area dengan binatang paling lemah agar aku bisa lulus dengan mudah."

Reno merasa seperti tersambar petir. Semuanya masuk akal sekarang. Raka sengaja mengirim Bagas (yang kemungkinan besar dipantau oleh organisasi) ke lokasi tersebut agar pria berjubah hitam bisa menyergap mereka tanpa gangguan dari kelompok lain.

"Kau menceritakan ini pada orang lain?" tanya Reno dengan nada mendesak.

"Tidak! Aku takut, Reno! Kalau Instruktur Raka tahu aku bicara padamu, aku pasti akan tewas seperti Rian!" Bagas mulai terisak. "Tolong aku, Reno... aku tahu kau kuat. Kau bisa menghadapi mereka..."

Reno melihat Bagas dengan tatapan yang berbeda. Musuh yang tadinya ia benci, kini hanyalah pion yang ketakutan di tengah permainan besar. "Dengar, Bagas. Jangan katakan ini pada siapa pun. Bertingkah lah seolah olah kau tidak tahu apa-apa. Tetaplah sombong seperti biasanya agar Raka tidak curiga. Paham?"

Bagas mengangguk pelan, menyeka air matanya. "Baiklah..."

"Dan satu lagi," Reno menatap mata Bagas dalam-dalam. "Mulai sekarang, jangan pernah pergi sendirian. Selalu berada di tempat ramai."

Setelah Bagas pergi, Reno berdiri sendirian di koridor. Tekanan di bahunya terasa semakin berat. Ia tidak hanya harus melindungi Nidhogg dan fragmen jiwanya, tapi sekarang ia harus berhadapan dengan salah satu orang terkuat di akademi ini.

"Reno, anak itu benar," Nidhogg muncul di bahu Reno. "Instruktur itu adalah musuh dalam selimut. Kau harus mempercepat latihan Arus Bumi mu. Jika dia memutuskan untuk menyerang mu saat 'pelatihan khusus' besok, tubuhmu yang sekarang tidak akan cukup untuk bertahan."

"Aku tahu," jawab Reno. "Kita butuh tempat latihan yang tidak bisa dipantau oleh siapa pun."

Sore harinya, Reno menyelinap kembali ke perpustakaan. Ia tidak mencari buku tentang cacing kali ini. Ia mencari peta lama tentang struktur bangunan akademi. Sebagai mantan arsitek amatir yang sering mengurus pembangunan gedung kantornya dulu, Reno tahu bahwa bangunan kuno seperti ini selalu memiliki ruang bawah tanah atau saluran udara yang tersembunyi.

Setelah mencari selama satu jam, ia menemukan sebuah arsip berdebu tentang sistem drainase akademi yang dibangun seratus tahun lalu.

"Di sini," Reno menunjuk sebuah titik di peta. "Di bawah aula latihan, ada sebuah ruang pendingin lama yang sudah tidak digunakan. Aksesnya ada di gudang peralatan belakang."

Reno segera bergerak menuju gudang tersebut. Dengan kemampuan menyelinap yang semakin terasah, ia berhasil masuk tanpa diketahui penjaga. Di sana, di balik tumpukan matras latihan yang sudah berjamur, ia menemukan sebuah pintu besi kecil di lantai.

Begitu dibuka, aroma udara yang lembap dan dingin keluar. Reno turun menggunakan tangga besi yang sudah berkarat.

Di bawah sana adalah sebuah ruangan luas dengan pilar-pilar batu besar. Tempat ini sangat sunyi, hanya ada suara tetesan air dari atap. Cahaya matahari hanya masuk sedikit dari celah-celah ventilasi di atas.

"Tempat ini sempurna," gumam Reno.

"Benar. Di sini energi buminya sangat murni karena dekat dengan fondasi tanah yang dalam," Nidhogg merayap turun dan mulai mengeluarkan aura hitamnya. "Mari kita mulai, Reno. Aku akan mengalirkan energi dari fragmen jiwa yang baru aku serap ke tubuhmu. Proses ini akan sepuluh kali lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tapi jika kau berhasil, tulangmu akan sekeras besi hitam."

Reno melepas seragamnya, menyisakan celana kainnya. Ia duduk bersila di atas lantai batu yang dingin. "Lakukan. Aku tidak datang ke dunia ini untuk mati sebagai petani kedua kalinya."

Nidhogg menempelkan tubuhnya ke punggung Reno. Tiba-tiba, tato naga di tangan Reno bercahaya merah darah.

"ARGGHHHHH!"

Reno mengerang tertahan. Ia merasa seperti ribuan jarum panas sedang ditusukkan ke setiap sendi di tubuhnya. Tulang tulangnya terdengar berderak, seolah sedang dihancurkan dan disusun kembali. Pembuluh darah di lehernya menonjol keluar.

Di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, pikiran Reno tetap jernih. Ia menggunakan teknik pernapasan Arus Bumi untuk menyerap rasa sakit itu dan mengubahnya menjadi kekuatan. Ia membayangkan dirinya adalah sebuah gunung yang tidak akan goyah meski dihantam badai api.

Satu jam... dua jam...

Keringat membanjiri lantai batu di bawahnya. Namun, Reno tidak menyerah. Di dalam kegelapan ruang bawah tanah itu, tubuh Reno mulai mengeluarkan cahaya hitam yang samar, serupa dengan sisik Nidhogg.

Ketika ia akhirnya membuka mata, tatapan Reno tidak lagi seperti remaja lima belas tahun. Matanya tajam, dingin, dan penuh dengan aura kekuatan yang terpendam. Ia mengepalkan tangannya, dan suara udara yang pecah terdengar.

"Satu langkah lagi menuju puncak," bisik Reno.

Namun, saat ia hendak bangkit, ia mendengar suara langkah kaki dari tangga besi di atas.

Srak... srak...

Reno segera menyembunyikan auranya dan bersembunyi di balik pilar besar. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang tahu tentang tempat ini?

Dari kegelapan, muncul sesosok pria dengan jubah perak yang berkilau meski di tempat gelap. Itu adalah Instruktur Raka. Ia memegang sebuah obor sihir, wajahnya tampak penuh dengan kecurigaan.

"Aku tahu kau di sini, Reno," ucap Raka dengan suara tenang yang membuat bulu kuduk berdiri. "Jangan coba-menerjang bayang-bayang di depan seorang ahli energi mental."

Reno terdiam. Pengkhianatan itu datang lebih cepat dari yang ia duga.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!