NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. Perjamuan lidah teraniaya

Pukul sepuluh pagi, dan Nala sudah merasa seperti pejuang yang siap maju ke medan laga—lengkap dengan senjata andalannya: sebotol air mineral besar dan mental yang sudah ia asah sejak semalam. Hari ini adalah jadwal food tasting dengan katering pilihan Mama di sebuah aula pertemuan di Jakarta Selatan.

Saga duduk di balik kemudi, penampilannya tetap rapi dengan kemeja slim-fit warna abu-abu, sangat kontras dengan Nala yang hanya mengenakan kemeja kebesaran dan celana jeans.

"Ingat, Nala," Saga membuka suara saat mereka sedang mengantre di lampu merah.

"Mama sangat membanggakan menu Western-Asian Fusion katering ini. Tugas kamu adalah mencari celah paling tidak masuk akal untuk menolaknya."

Nala menyeringai, ia mengeluarkan sebuah wadah plastik kecil dari tasnya. "Mas lihat ini?"

Saga melirik sekilas. "Apa itu? Serbuk mesiu?"

"Bukan. Ini bubuk cabai level tiga puluh yang aku bawa dari rumah. Kalau makanannya terlalu enak dan kita nggak punya alasan buat komplain, aku tinggal tabur ini diam-diam ke piring kita. Terus kita akting kepedesan sampai nangis-nangis dan bilang kateringnya 'tidak punya rasa kemanusiaan'."

Saga menghela napas panjang, namun sudut bibirnya berkedut. "Saya tidak akan ikut-ikutan makan bubuk cabai itu, Nala. Saya masih butuh lambung saya untuk bekerja besok."

"Ck, lemah! Ya sudah, Mas bagian argumen logis, aku bagian atraksi fisik," balas Nala santai.

Di dalam aula, suasana sudah tertata sangat cantik. Mama sudah menunggu bersama pihak vendor katering. Ada lima set menu yang siap dicicipi, mulai dari Appetizer hingga Dessert.

"Saga, Nala, ayo sini!" panggil Mama ceria.

"Ini Ibu Ratna dari katering Delish. Mereka sudah siapkan menu andalan: Salmon Mentai Croquette dan Zuppa Soup truffle."

Nala dan Saga duduk berdampingan. Ibu Ratna menyajikan kroket salmon yang baunya sangat menggoda iman Nala. Perut Nala berbunyi, dan ia hampir saja khilaf menyantapnya dengan lahap kalau saja Saga tidak menyenggol kakinya di bawah meja.

Nala berdehem, memasang wajah sangat kritis. Ia memotong kroket itu dengan sangat lambat, mencicipi secuil kecil, lalu tiba-tiba meletakkan garpunya dengan suara denting yang dramatis.

"Maaf, Ibu Ratna," ujar Nala dengan nada prihatin. "Tapi kroket ini... terlalu 'ikan' buat saya."

Ibu Ratna mengerjap. "Lho, mbak... ini memang kroket salmon."

"Justru itu," Nala menggeleng sedih. "Saya mau salmonnya punya aroma... hutan. Mas Saga, bukannya kemarin kamu bilang kamu bosan sama rasa laut?"

Saga langsung masuk ke mode operandi.

"Benar, Ma," ujar Saga sambil menatap ibunya dengan tatapan tulus yang mematikan.

"Aku rasa lidah Nala benar. Salmon ini terlalu mainstream. Aku ingin sesuatu yang lebih... berani. Menu yang mencerminkan keberanian

kami untuk menikah."

Mama mulai curiga. "Keberanian apa lagi, Ga? Ini salmon mahal, lho."

"Ma, aku kepikiran satu ide," lanjut Saga dengan wajah datar tanpa dosa.

"Gimana kalau menu utamanya diganti saja? Aku ingin menu yang lebih 'merakyat' namun eksentrik. Nala kemarin mengusulkan... seblak ceker pedas level sepuluh sebagai main course."

Mama hampir saja tersedak air putihnya.

"Seblak? Di pernikahan hotel bintang lima?"

"Bukan seblak biasa, Tante!" Nala menimpali dengan semangat 45.

"Seblak Deconstructed. Jadi nanti cekernya kita gantung di langit-langit pakai benang tipis, terus tamu-tamu harus lompat buat ngambilnya. Biar ada interaksinya gitu, Tante. Biar pernikahannya nggak garing."

I

bu Ratna dari katering tampak seperti ingin mengundurkan diri saat itu juga. "Maaf Mbak Nala, ceker gantung?"

"Iya, Bu. Dan untuk minumannya," Nala melirik Saga, memberi kode.

"Untuk minumannya," Saga melanjutkan dengan tenang, "aku rasa welcome drink berupa jus pare dingin akan sangat filosofis. Melambangkan bahwa hidup pernikahan itu pahit di awal, namun menyehatkan bagi jiwa yang sabar."

Mama Saga memijat pelipisnya kuat-kuat.

"Saga... Nala... kalian ini beneran mau nikah atau mau bikin acara Benteng Takeshi?"

"Ma, aku cuma ingin tamu-tamu kita pulang membawa kenangan yang tidak terlupakan," jawab Saga mantap. "Aku tidak mau mereka cuma makan makanan enak lalu pulang dan lupa. Aku mau mereka pulang dengan trauma... maksud aku, dengan kesan yang mendalam."

Drama berlanjut saat hidangan penutup disajikan. Sebuah Chocolate Lava Cake yang terlihat sempurna di atas piring. Nala diam-diam merogoh tasnya, berniat mengeluarkan bubuk cabai, namun sialnya wadahnya justru terbuka di dalam tas.

"Aduh!" Nala memekik pelan.

"Kenapa, Nala?" tanya Mama panik.

"Nggak apa-apa, Tante. Ini... ini cuma... rasa haru!" Nala buru-buru menutup tasnya, tapi debu cabai itu terbang ke udara.

Dalam hitungan detik, Nala mulai bersin-bersin hebat.

"Hatsyi! Hatsyi! Aduh, Mas... kayaknya kuenya... hatsyi! Kuenya bikin aku alergi cokelat!"

Saga, yang tahu persis apa yang terjadi, mencoba menahan tawa sampai bahunya bergetar. Ia menoleh ke arah ibunya dengan wajah pura-pura panik.

"Ma, lihat! Ini yang aku takutkan! Nala bahkan tidak bisa berdekatan dengan cokelat premium ini tanpa bersin-bersin. Ini pertanda alam kalau katering ini tidak cocok untuk kami."

"A-alergi cokelat?" Mama menatap Nala yang wajahnya mulai memerah karena menahan bersin (dan menahan pedas cabai yang terkena jarinya). "Tapi kemarin kamu makan martabak cokelat habis dua kotak, Nala?"

"Itu... itu cokelat palsu, Tante! Hatsyi! Tubuh aku cuma bereaksi sama cokelat mahal!" Nala beralasan asal-asalan sambil terus mengelap hidungnya yang meler.

Ibu Ratna akhirnya menutup buku catatannya dengan pasrah. "Sepertinya... kami harus meriset ulang menu 'Ceker Gantung' dan 'Jus Pare' ini, Bu," ujarnya pada Mama Saga dengan nada ragu yang sangat besar.

Setelah sesi katering yang berantakan itu selesai, Saga dan Nala berjalan menuju parkiran.

Begitu masuk ke mobil, Nala langsung menyambar air mineral dan meminumnya seperti orang yang baru keluar dari gurun pasir.

"Mas! Gila! Bubuk cabainya tumpah semua di tas aku! Pedes banget idung aku!" keluh Nala sambil mengipasi wajahnya pakai tangan.

Saga akhirnya meledakkan tawa yang sejak tadi ia tahan. Tawa yang cukup keras hingga membuat Nala terpaku sejenak. Pria ini jarang tertawa, dan ternyata suaranya sangat... enak didengar.

"Saya sudah bilang, jangan main-main dengan bubuk itu, Nala. Kamu sendiri yang kena batunya," ujar Saga sambil masih menyisakan senyum di wajahnya.

"Tapi berhasil kan? Mamamu tadi mukanya udah kayak mau pensiun jadi orang kaya," Nala nyengir di sela-sela hidungnya yang masih gatal.

Saga menoleh ke arah Nala, menatap wajah gadis itu yang berantakan dengan hidung merah. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sehelai sapu tangan bersih, lalu memberikannya pada Nala.

"Pakai ini. Bersihkan hidung kamu. Kamu terlihat seperti badut katering kalau seperti itu."

Nala menerima sapu tangan itu, mencium aroma parfum Saga yang maskulin dan menenangkan. "Makasih, Mas."

"Jangan terlalu senang. Besok kita punya misi terakhir sebelum H-15," ujar Saga kembali serius, meski tatapannya sedikit melunak.

"Target kita: Vendor Foto Pre-wedding. Dan saya harap, kali ini kamu tidak membawa bubuk cabai lagi."

Nala tertawa kecil. "Tenang, Mas. Buat besok, aku sudah punya ide yang lebih... artistik."

Saga menyalakan mesin mobil, menggelengkan kepala.

Dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya, apakah ia benar-benar ingin mengakhiri kekacauan ini, atau ia justru mulai menikmati setiap detik "perang" bersama gadis di sampingnya ini.

1
Calisa
alurnya berubah drastis banget ya untuk bab ini. tiba2 muncul papanya saga yg dari awal bab nggak pernah dibahas. ibu Sofia sama eyang Utari malah hilang
Calisa
sweet banget sagaaa 🤧♥️
Calisa
agak aneh ya. tadi kan Nala udah ngobrol sama saga di dapur, kenapa jadi baru keluar kamar
Calisa: oohh gitu ya kak. pantes ceritanya agak2 gak sinkron antara 1 adegan sama yg lain..
semangat ya kaa. aku suka sama tulisanmu, gaya bahasanya. sayang banget cerita ini belum banyak yg baca. padahal dari segi penulisan, beda sama yg lain.
total 2 replies
Calisa
loh bukannya eyang Utari udah pernah ketemu Nala ya pas makan di rumah saga?
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.
Senja_Puan: terima kasih banyak kakak sayang... Auto langsung revisi
total 1 replies
Calisa
wkwkwk.. pengangguran nya harus elit dong mas 🤣🤣
Calisa
nah bener ini. jadi diri sendiri aja.. good Nala
Calisa
kalau bohongnya totalitas begini pas ketahuan malu banget
Calisa
walah walaah.. jangan2 ibunya saga nih
Calisa
😂😂😂
Calisa
wkwk.. pertemuan pertamanya epic banget ya 🤣
Calisa
bisa langsung switch mode 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!