NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Keesokan harinya suasana di rumah besar itu mulai sedikit membaik setelah badai kemarin mereda. Aluna sudah lebih tenang karena tahu bahwa rencana pengobatan ibunya sudah berjalan dan akan segera dilaksanakan. Ia berusaha menjaga kesehatan dan pikirannya agar tidak memancing kemarahan Nyonya Soraya lagi.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Siang itu sebuah mobil sport mewah melaju kencang memasuki halaman rumah. Turunlah seorang pemuda tampan dengan gaya yang santai namun sangat berkelas.

Dia adalah Raka, adik laki laki tunggal Arka yang baru saja pulang dari menyelesaikan studi S2 nya di luar negeri. Pemuda itu memiliki wajah yang mirip dengan Arka namun auranya jauh lebih hangat, ramah, dan penuh senyum.

"Assalamualaikum! Aku pulanggg!" teriak Raka ceria saat masuk ke dalam rumah.

Nyonya Soraya yang sedang duduk santai langsung melompat berdiri dan memeluk anak bungsunya itu dengan penuh kasih sayang. "Aduh Raka sayang! Akhirnya kamu pulang juga ke kampung halaman. Ibu kangen sekali sama kamu tahu!"

"Iya juga Bu. Raka juga kangen sama Ibu sama Ayah sama Kak Arka," jawab Raka manis lalu menyalami ayahnya dan kakaknya satu per satu dengan penuh hormat.

Saat matanya berkeliling mencari sosok lain tiba tiba pandangannya tertumbuk pada Aluna yang sedang duduk diam di pojok sofa sambil memeluk perutnya.

Wajah Raka seketika berubah terbelalak kaget. Matanya membelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berdiri mematung di tempat menatap Aluna lekat lekat dengan mulut sedikit terbuka.

"Kau..." gumam Raka pelan hampir tak terdengar. "Bukan kah itu... Non Aluna?"

Aluna yang dipanggil langsung menoleh dan ikut terkejut. Ia mengerjap mengerjap mencoba mengingat ingat dari mana wajah tampan itu berasal.

"Maaf... kita pernah bertemu sebelumnya ya Mas?" tanya Aluna ragu ragu.

Raka tersenyum lebar sangat lebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih. Ia langsung berjalan mendekat dan duduk di dekat Aluna tanpa peduli tatapan heran seluruh keluarga besarnya.

"Wah benar benar kamu Non! Gak nyangka banget bisa ketemu di sini dalam kondisi seperti ini," ucap Raka antusias sekali. "Dulu kan aku sering banget beli gorengan sama minuman di warung kecil depan gang tempat Ibu kamu jualan lho!"

"Aku sering lihat kamu bantuin Ibu kamu jaga kas dan melayani pembeli. Waktu itu aku masih SMA dan sering pulang cepet makanya sering lewat situ," cerita Raka dengan bersemangat.

"Oh iyaaaa! Sekarang Aluna ingat!" seru Aluna terharu. "Yang sering beli tempe goreng sama es teh manis kan? Yang selalu kasih uang lebih dan gak minta kembalian itu kan Mas?"

"Iya bener! Itu aku!" Raka tertawa renyah, sangat bahagia bisa bertemu kenalan lama di situasi yang tak terduga ini.

Suasana yang tadinya hangat dan akrab antara mereka berdua tiba tiba terasa membeku dan aneh saat menyadari bahwa ada banyak pasang mata yang memperhatikan dengan tatapan sulit diartikan.

Khususnya Arka yang duduk di sofa utama menatap adiknya dan Aluna bergantian dengan wajah yang datar namun matanya menyimpan banyak rahasia dan pertanyaan besar.

"Jadi kalian sudah saling kenal sejak lama?" tanya Tuan Mahendra memecah keheningan.

"Iya Yah. Dulu kita sering ketemu di warung," jawab Raka jujur. "Dan jujur waktu kecil dulu Aluna itu orangnya baik banget, ramah, dan senyumnya manis sekali. Aku sampai heran kok bisa ada gadis sebaik dan sebersih itu hidup di lingkungan yang sederhana."

Mendengar pujian itu wajah Aluna langsung memerah menahan malu. Namun di sisi lain wajah Nyonya Soraya justru tampak tidak suka dan mendengus kesal, tatapannya bahkan terlihat semakin sinis.

"Halah masa lalu biarlah berlalu," potong Nyonya Soraya ketus. "Sekarang kan posisinya sudah beda jauh. Yang penting kamu tahu Raka kalau gadis ini sedang mengandung cucu pertama Ibu dan calon pewaris keluarga kita."

Raka menatap perut Aluna yang membuncit dengan mata berbinar lalu menatap kakaknya. Tiba tiba wajahnya berubah serius dan kaget.

"Wah... tapi tunggu dulu... Kok rasanya sangat familiar sekali ya wajah Aluna ini?" gumam Raka pelan. Ia mengerutkan kening mencoba mencocokkan ingatannya.

Tiba tiba mata Raka terbelalak lebar dan ia menoleh tajam ke arah Arka.

"Kak Arka... Bukan kah... bukan kah Aluna ini sangat sangat mirip sekali sama Almarhumah Aira? Mirip banget sama adik perempuan kita yang sudah meninggal itu?" ucap Raka pelan namun terdengar jelas di seluruh ruangan.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja namun dampaknya bagai petir yang menyambar di siang bolong. Seluruh ruangan seketika menjadi hening total sangat hening dan mencekam.

Napas Nyonya Soraya seakan berhenti sejenak. Tubuh wanita itu terlihat menegang kaku dan tangannya mencengkeram ujung bajunya kuat kuat. Wajah Tuan Mahendra pun berubah menjadi sangat sedih dan mengenang.

Arka sendiri diam terpaku menatap lurus ke depan dengan gigi yang menggertak pelan. Ia tidak menjawab pertanyaan adiknya namun keheningan itu sudah menjawab segalanya.

Aluna menatap mereka bergantian dengan bingung dan takut. "Ma... maksud Mas Raka apa? Siapa Aira? Kenapa Aluna mirip sama dia?"

Raka menoleh menatap Aluna lalu berkata dengan nada yang sangat pelan dan serius.

"Aira itu adik bungsu kita Aluna. Dia itu adik perempuan yang paling kami sayangi di keluarga ini. Tapi sayangnya dia sudah meninggal dunia sejak lima tahun yang lalu karena sakit keras," ucap Raka.

"Dan wajah kamu... tingkah kamu... bahkan senyum kamu itu sangat sangat mirip sekali sama Aira. Hampir tidak ada bedanya. Itu sebabnya tadi aku kaget bukan main saat melihatmu," lanjutnya.

Aluna menutup mulutnya kaget. Ia menoleh kembali menatap Arka yang masih diam mematung. Dan di saat itulah kepingan puzzle di kepala gadis itu mulai tersusun rapi.

Jadi ini alasannya? Jadi ini alasan kenapa Arka memilih aku yang miskin dan tidak tahu apa apa ini?

Bukan karena aku istimewa... tapi karena aku cuma kembaran atau pengganti dari orang yang sudah mati?

Hati Aluna terasa perih luar biasa. "Jadi... Tuan Arka memilih Aluna... semata mata karena Aluna mirip sama mendiang Aira kan?" tanya Aluna dengan suara bergetar hebat.

"Tuan pakai Aluna buat ngelahirin anak karena Tuan pengen punya keturunan yang wajahnya mirip sama orang yang Tuan sayangi itu kan?"

Arka akhirnya menghela napas panjang sangat panjang lalu menatap mata Aluna dalam dalam. Tatapan itu campur aduk antara rasa rindu yang mendalam rasa sakit kehilangan dan juga rasa tanggung jawab.

"Ya..." jawab Arka pelan namun tegas mengakui semuanya. "Itu adalah salah satu alasan utama kenapa aku memilihmu di antara ribuan wanita yang melamar."

"Aira itu segalanya bagiku. Dia malaikat kecil keluarga ini yang pergi terlalu cepat. Sejak dia tiada, rasanya hidupku dan keluarga ini hampa," lanjut Arka dengan suara yang terdengar berat dan sedih.

"Saat pertama kali melihat fotomu dan melihat wajahmu secara langsung aku merasa seolah Aira hidup kembali di hadapanku. Aku merasa Tuhan mengirimkan kamu sebagai pengganti dia untuk menyempurnakan hidup kami lagi."

"Aku ingin anakku lahir dengan wajah yang sebersih dan seindah Aira. Aku ingin melihat senyum itu kembali tumbuh di dalam rumah ini melalui anakku nanti."

Pengakuan jujur itu membuat Aluna jatuh terduduk lemas di sofa. Ia merasa dunia seakan runtuh menimpanya.

Namun, reaksi Nyonya Soraya justru sangat berbeda dari dugaan Aluna. Wanita itu tidak melunak justru ia mendengus keras dengan wajah yang penuh kebencian dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.

"Cukup! Jangan dibahas lagi soal itu!" serang Nyonya Soraya tiba tiba dengan suara tinggi dan emosi yang meluap luap.

Semua orang terkejut melihat ledakan emosi wanita itu.

"Ibu benci! Ibu sangat benci melihat kemiripan itu! Melihat wajahmu yang persis sama dengan Aira membuat hati Ibu perih dan sakit sekali!" teriak Nyonya Soraya sambil menunjuk wajah Aluna dengan tangan yang gemetar.

"Justru karena kamu mirip sama dia Ibu makin tidak terima dan makin tidak suka ada kamu di sini! "Kehadiranmu cuma mengingatkan Ibu betapa hancurnya hati Ibu kehilangan anakku! Kamu itu cuma bayangan menyakitkan! Bukan pengganti!" cetus wanita itu pedas.

"Jadi jangan harap Ibu bakal suka atau sayang sama kamu cuma karena wajahmu mirip! Itu malah jadi dosa dan kesalahan terbesarmu di mata Ibu!" lanjutnya.

Aluna ternganga kaget mendengar alasan itu. Jadi selama ini ibu mertuanya membenci dan ketus padanya bukan karena dia miskin semata, tapi karena melihat wajahnya yang mirip Aira membuat wanita itu tersiksa dan sakit hati mengingat masa lalu.

Itu alasan yang sangat masuk akal dan menyakitkan.

"Ibu..." Raka mencoba menenangkan. "Tidak seharusnya Ibu berkata begitu. Aluna kan tidak tahu apa apa..."

"Kau diam saja Raka! Belum tentu kamu mengerti rasa sakit kehilangan anak sebaik Aira!" bentak Nyonya Soraya lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan dengan air mata yang menetes karena emosi yang tak terbendung.

Suasana kembali hening dan canggung. Arka menatap punggung ibunya yang pergi lalu menatap Aluna yang kini tampak syok dan bingung.

"Jangan ambil hati ucapan Ibu," ucap Arka pelan namun tegas. "Dia memang seperti itu. Dia terluka parah dan melihatmu membuat lukanya terbuka kembali. Butuh waktu untuk dia bisa menerimanya."

"Jadi... Tuan juga sama kan? Tuan baik sama Aluna semua karena Aluna mirip sama Aira dan Tuan ingin anak Tuan mirip sama dia kan?" tanya Aluna memastikan lagi.

"Ya. Itu benar," jawab Arka jujur tanpa menipu. "Aku ingin anakku memiliki ciri wajah dan kesucian hati seperti Aira. Dan kamu adalah wadah terbaik untuk itu."

"Dan meskipun Ibu membencimu karena alasan itu... aku tidak peduli. Aku sudah memilihmu dan keputusanku tidak akan berubah," lanjut Arka tegas. "Kamu akan tetap di sini melahirkan anakku dan menjadi bagian dari rencana besar ini."

Aluna menunduk dalam mencoba mencerna semua informasi berat yang baru saja ia terima hari ini.

Rahasia besar akhirnya terbongkar. Ia adalah replika dari orang yang sudah mati. Ia dipilih karena wajahnya yang menjadi kenangan termahal bagi keluarga ini. Dan ironisnya, justru karena kemiripan itulah ia dibenci oleh sang ibu mertua yang trauma.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!