Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: DI ATAS SAJADAH DAN DEBU
Fajar menyingsing di ufuk timur Jakarta, membawa semburat warna jingga yang perlahan mengusir sisa-sisa kegelapan badai semalam. Namun, bagi Aaliyah Humaira, cahaya matahari itu tak lantas membawa kehangatan. Di kamar sempitnya yang pengap, ia sudah terjaga jauh sebelum azan berkumandang. Suara rintik hujan yang tersisa di dedaunan luar jendela menjadi musik latar saat ia melipat sajadah tipisnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah kain itu adalah satu-satunya harga diri yang masih ia miliki.
Setiap pagi di pesantren dulu, ia biasanya terbangun oleh suara lantunan pujian kepada Sang Pencipta yang menggema di seluruh koridor. Ia akan dikelilingi oleh santri-santri kecil yang berebut mencium tangannya, meminta berkah doa darinya. Namun kini, yang menyambutnya hanyalah kesunyian tembok beton dan bau apek dari lemari kayu tua yang catnya sudah mengelupas.
Aaliyah—atau kini Maryam—memandang pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di sudut meja. Ia mengenakan gamis hitam yang sudah pudar warnanya, lalu dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menyematkan niqabnya kembali. Selembar kain hitam itu kini bukan sekadar simbol ketaatan, melainkan perisai. Di balik kain itu, tersimpan wajah yang dicari oleh ribuan pasang mata penuh kebencian di luar sana. Wajah yang dianggap noda bagi sebuah keluarga besar.
"Sabar, wahai jiwa. Allah bersamamu," bisiknya pelan, mencoba menguatkan hatinya yang kembali terasa goyah saat mengingat tatapan dingin Zayn semalam.
Ia keluar dari kamar tepat saat Bi Inah sedang sibuk menyiapkan air hangat di dapur. Area belakang rumah keluarga Al-Ghifari ini sangat kontras dengan kemegahan di depan. Di sini, segalanya fungsional dan kaku.
"Sudah bangun, Maryam?" tanya Bi Inah dengan suara rendah, hampir berbisik. Matanya yang sudah mulai berkerut menatap Aaliyah dengan rasa iba yang mendalam. "Tidurnya nyenyak? Maaf, kamarnya tidak senyaman di... tempat dulu."
Aaliyah tersenyum di balik niqabnya. "Alhamdulillah, Bi. Sangat nyaman. Apa yang bisa saya bantu sekarang?"
Bi Inah menghela napas, memberikan sebuah nampan kayu yang berisi segelas air putih dan beberapa butir obat. "Hari ini tugas utamamu adalah mengurus Nyonya Sarah, ibunya Tuan Zayn. Beliau sedang sakit saraf dan sering merasa gelisah. Tuan Zayn sangat menyayangi ibunya, tapi beliau juga sangat protektif. Kamu harus sangat hati-hati, ya. Jangan banyak bicara kecuali ditanya, dan jangan pernah melepas cadarmu di depan Tuan Zayn."
Aaliyah mengangguk patuh. Ia melangkah menuju lantai atas—wilayah yang sebenarnya dilarang oleh Zayn semalam, namun dikecualikan untuk urusan Nyonya Sarah. Setiap langkahnya di atas tangga kayu jati yang dipoles mengkilap itu terasa seperti melangkah di atas bara api. Ia merasa seperti penyusup di istana pria yang sangat membencinya.
Kamar Nyonya Sarah luasnya mungkin hampir sama dengan seluruh bangunan rumah dinas guru di pesantren Aaliyah. Harum bunga melati dan aroma obat-obatan bercampur menjadi satu. Di atas ranjang besar berkelambu, seorang wanita paruh baya tampak terbaring lemah. Wajahnya yang pucat tetap menyiratkan sisa-sisa kecantikan masa muda, namun matanya yang terbuka tampak kosong, menatap langit-langit kamar dengan kegelisahan yang nyata.
Aaliyah mendekat dengan langkah yang sangat ringan, nyaris tanpa suara. Ia meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan lembut ia menyentuh tangan Nyonya Sarah yang terasa dingin.
"Assalamu’alaikum, Nyonya. Saya Maryam, yang akan membantu Nyonya hari ini," suara Aaliyah keluar lembut bagaikan usapan sutra.
Nyonya Sarah menoleh perlahan. Matanya yang tadinya tampak liar dan gelisah, tiba-tiba terpaku pada sosok Maryam yang tertutup rapat. "Siapa... kamu?" suaranya parau, hampir hilang.
"Saya Maryam, Nyonya." Aaliyah mulai memijat lembut jemari wanita itu. Secara naluriah, ia mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan nada yang sangat rendah, murattal yang menenangkan jiwa, seperti yang biasa ia lakukan pada ayahnya jika sedang jatuh sakit.
"Alaa bidzikrillahi tathma'innul quluub..." (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram).
Keajaiban seolah terjadi. Otot-otot wajah Nyonya Sarah yang tadinya tegang perlahan mulai mengendur. Napasnya yang pendek-pendek berubah menjadi teratur. Ia menutup matanya, seolah-olah suara Aaliyah adalah obat bius alami yang sangat ia butuhkan. Namun, momen kedamaian itu pecah seketika saat pintu kamar terbuka dengan dentuman kasar.
Zayn Al-Fatih berdiri di sana. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam, namun rambutnya tampak sedikit berantakan, menandakan ia tidak tidur sepanjang malam. Matanya yang merah menatap tajam ke arah tangan Aaliyah yang masih memijat jemari ibunya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" suaranya menggelegar, dingin dan penuh ancaman.
Aaliyah tersentak, segera menarik tangannya dan menunduk dalam. "Saya... saya sedang menenangkan Nyonya Sarah, Tuan Muda."
Zayn melangkah masuk dengan langkah besar yang mengintimidasi. Ia berdiri di hadapan Aaliyah, menciptakan bayangan besar yang menelan sosok wanita itu. "Siapa yang mengizinkanmu bersuara? Aku sudah bilang semalam, kerjakan tugasmu, jangan berakting seolah kau adalah tabib atau pemuka agama di sini!"
Ia menatap ibunya yang kini tampak tertidur pulas. Ada secercah kelegaan di mata Zayn, namun itu segera tertutup oleh kabut prasangka saat ia kembali menatap Aaliyah.
"Ibuku sedang sensitif. Aku tidak ingin kau mencuci otaknya dengan mantra-mantramu itu. Jika aku mendengarmu berkomat-kamit lagi di depan beliau, kau akan tahu akibatnya," bisik Zayn tepat di hadapan niqab Aaliyah. Ia bisa mencium aroma sisa air wudu dari sosok di depannya, sesuatu yang entah mengapa membuat dadanya terasa sesak oleh kemarahan yang tidak berdasar.
"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya menjalankan tugas," jawab Aaliyah datar, meski hatinya terasa seperti dihujam ribuan jarum. Ia harus bersabar. Sabar adalah senjatanya.
Zayn mendengus, lalu berbalik menuju jendela besar yang menghadap ke halaman rumah. "Turunlah. Bi Inah menunggumu di meja makan. Dan pastikan kau tidak menyentuh makanan di piringku. Aku tidak sudi berbagi alat makan dengan orang asing sepertimu."
Aaliyah turun ke dapur dengan perasaan yang campur aduk. Di meja makan yang besar dan mewah, ia melihat Bi Inah sedang menata sarapan untuk Zayn. Menu sarapan yang sangat kebarat-baratan: roti panggang, telur setengah matang, dan kopi hitam pekat.
Namun, perhatian Aaliyah teralih pada sebuah tablet yang tergeletak di ujung meja makan. Layarnya masih menyala, menampilkan dasbor keamanan perusahaan Zayn yang ia masuki semalam. Dari kejauhan, Aaliyah bisa melihat tanda merah yang berkedip—serangan siber yang ia tangkis semalam ternyata masih meninggalkan jejak. Peretas itu sedang mencoba mencari celah baru.
Aaliyah merasa jemarinya gatal. Ia ingin sekali mengambil tablet itu dan menutup celah keamanannya secara permanen. Namun, langkah kaki Zayn yang turun dari tangga membuatnya segera memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk mengelap meja dapur.
Zayn duduk dengan angkuh, meraih kopinya dan menyesapnya pelan. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia mengangkatnya dengan kasar.
"Ya? Bagaimana dengan masalah di peladen semalam?" tanya Zayn pada peneleponnya.
Hening sejenak. Wajah Zayn perlahan berubah dari dingin menjadi bingung. "Maksudmu, serangannya berhenti sendiri? Tidak mungkin. Siapa yang menangkisnya? Tim keamanan kita?"
Zayn terdiam lagi, mendengarkan penjelasan dari seberang sana. Matanya sesekali melirik ke arah dapur, tempat Aaliyah berdiri membelakanginya. "Dinding bayangan? Apa itu? Siapa yang membangunnya? Aku membayar kalian mahal untuk menjaga sistem, bukan untuk diberitahu bahwa ada 'malaikat' anonim yang menyelamatkan data kita!"
Zayn membanting ponselnya ke atas meja. Napasnya memburu. Ia tampak sangat terganggu dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang lebih pintar dari tim keamanannya, dan orang itu tidak terdeteksi.
"Maryam!" panggilnya tiba-tiba dengan suara keras.
Aaliyah berbalik pelan, menunduk. "Iya, Tuan Muda?"
Zayn menatapnya dengan tatapan menyelidik, seolah-olah ingin menembus kain hitam yang menutupi wajah wanita itu. "Kau... semalam kau bilang kau mencari nafkah yang halal, kan?"
"Benar, Tuan Muda."
"Lalu apa yang kau lakukan di kamarmu sepanjang malam? Bi Inah bilang kau tidak keluar sama sekali."
Aaliyah merasakan jantungnya berdegup kencang. Apakah Zayn curiga? "Saya beribadah, Tuan Muda. Dan beristirahat."
"Beribadah?" Zayn tertawa sinis, bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Aaliyah. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja dapur, sangat dekat dengan posisi Aaliyah berdiri. "Kau tahu, Maryam? Aku benci orang yang terlalu banyak beribadah namun tidak memberikan kontribusi nyata. Bagiku, doa hanyalah pelarian orang malas. Jika kau ingin bertahan di rumah ini, pastikan tenagamu lebih banyak terpakai untuk bekerja daripada untuk memutar tasbih."
Zayn meraih tabletnya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Aaliyah. "Lihat ini. Ini adalah dunia nyata. Angka, data, kekuasaan. Bukan mantra-mantra yang kau rapalkan. Kamu mengerti?"
Aaliyah menatap layar tablet itu sekilas. Di sana, ia melihat kode yang sangat familiar—kode yang ia tulis sendiri semalam. Ia ingin sekali berteriak bahwa "mantra" yang ia buatlah yang saat ini sedang menyelamatkan kekayaan pria sombong ini. Namun, ia hanya diam, menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Saya mengerti, Tuan Muda," jawabnya singkat.
Zayn menatap Aaliyah sejenak, ada keraguan yang melintas di matanya sebelum ia menarik kembali tabletnya. "Bersihkan ruang kerjaku setelah ini. Ingat, jangan sentuh komputerku. Jika ada satu kabel saja yang bergeser, kau akan segera angkat kaki dari sini."
Setelah Zayn pergi ke kantornya di lantai atas, Aaliyah menghela napas panjang. Ia merasa lemas, lututnya hampir tak sanggup menopang berat tubuhnya. Bi Inah segera mendekat, memegang lengannya.
"Sabar, Nak. Tuan Zayn memang seperti itu sejak... peristiwa itu," bisik Bi Inah.
"Peristiwa apa, Bi?" tanya Aaliyah penasaran.
Bi Inah menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan keadaan aman. "Tuan Zayn dulu memiliki seorang tunangan. Wanita yang sangat salihah, setidaknya begitulah kelihatannya. Namun, tepat di hari pernikahan, wanita itu lari membawa sebagian besar rahasia perusahaan keluarga Al-Ghifari dan memberikannya kepada musuh bisnis Tuan Zayn. Ayah Tuan Zayn serangan jantung karena dikhianati dan perusahaan hampir hancur. Sejak saat itu, Tuan Zayn menganggap semua orang yang tampak religius adalah penipu."
Mata Aaliyah membelalak di balik niqabnya. Jadi, itulah alasannya. Luka masa lalu yang belum sembuh. Sebuah pengkhianatan yang berkedok kesalehan. Ironis sekali, pikir Aaliyah. Dirinya hancur karena fitnah yang mencoreng kesalehannya, sementara Zayn hancur karena kesalehan palsu orang lain. Mereka adalah dua kutub yang sama-sama terluka oleh topeng yang sama.
Siang harinya, saat Zayn sudah berangkat ke kantor pusat, Aaliyah mulai membersihkan ruang kerja pria itu. Ruangan itu didominasi oleh warna gelap dan kayu mahoni yang berat. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja besar dengan tiga monitor raksasa yang masih menyala, menampilkan grafik-grafik yang rumit.
Aaliyah menyeka debu di sekitar meja dengan sangat hati-hati. Namun, matanya tak sengaja menangkap sebuah amplop cokelat di bawah tumpukan berkas. Di sana tertulis nama: "Investigasi Yayasan Al-Azhar".
Jantung Aaliyah seolah berhenti berdetak. Ia gemetar. Itu adalah nama yayasan milik ayahnya. Mengapa Zayn menyelidiki yayasannya? Apakah Zayn terlibat dalam fitnah yang menimpanya? Ataukah Zayn adalah salah satu orang yang sedang berusaha membeli aset ayahnya di saat mereka sedang jatuh?
Ia ingin sekali membuka amplop itu, namun bayangan wajah Zayn dan ancamannya semalam membuatnya ragu. Di saat yang bersamaan, suara monitor di meja Zayn berbunyi "bip" yang sangat nyaring. Sebuah peringatan merah muncul di layar: “Critical System Failure – Intrusion Detected”.
Peretas itu kembali. Dan kali ini, mereka masuk melalui jalur yang lebih dalam, melewati dinding bayangan yang dibuat Aaliyah semalam karena mereka menggunakan akun administrator internal. Seseorang di dalam perusahaan Zayn sedang membantu para peretas itu.
Aaliyah menatap pintu yang tertutup. Ia menatap monitor. Jika ia diam saja, perusahaan Zayn akan hancur hari ini. Jika ia membantu, ia melanggar janji untuk tidak menyentuh komputer Zayn.
"Ya Allah, tuntun jemariku," bisiknya.
Ia meletakkan kain lapnya, menarik kursi kerja Zayn yang empuk, dan dengan cepat ia mulai mengetik di keyboard mekanik yang berbunyi klik-klik dengan irama yang sangat cepat. Ia harus bertindak sebagai "H_Zero" sekarang. Ia masuk ke dalam inti sistem, melacak asal serangan.
“Gotcha!” gumamnya dalam hati. Serangan itu berasal dari sebuah alamat IP di Singapura, namun dialihkan melalui server lokal di Jakarta. Aaliyah dengan cepat memutus koneksi tersebut dan mengunci akun administrator yang disusupi. Ia kemudian menulis sebuah program kecil untuk melacak siapa pemilik akun asli tersebut—sebuah nama muncul di layar: "Rian - Head of IT".
Ternyata kepala IT Zayn sendiri adalah pengkhianatnya.
Aaliyah sedang sibuk mengenkripsi ulang data-data penting tersebut saat ia mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat di lorong menuju ruangan itu. Suara sepatu pantofel yang menghantam lantai dengan keras. Itu suara Zayn.
Aaliyah panik. Ia tidak sempat mematikan monitor atau menutup programnya. Dengan gerakan secepat kilat, ia berdiri, mendorong kursi ke posisi semula, dan kembali memegang kain lapnya tepat saat pintu terbuka.
Zayn berdiri di sana, napasnya tersengal. Ia baru saja kembali dari kantor karena mendapat laporan sistemnya sedang kritis. Matanya langsung tertuju pada Aaliyah yang sedang berdiri mematung di samping mejanya.
"Apa yang kau lakukan?!" Zayn berteriak, suaranya dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Ia berlari ke arah mejanya, melihat monitornya yang masih menampilkan barisan kode hijau yang bergerak cepat—kode yang ditinggalkan Maryam untuk mengunci sistem.
"Kau... kau menyentuh komputerku?!" Zayn mencengkeram bahu Aaliyah dengan keras, memaksanya berhadapan langsung. "Apa yang kau lakukan, hah?! Apa kau juga bagian dari mereka? Apa kau dikirim untuk menghancurkanku?!"
Cengkeraman Zayn sangat kuat hingga Aaliyah meringis kesakitan di balik niqabnya. "Tuan Muda, saya bisa jelaskan..."
"Diam! Aku tidak butuh penjelasan dari penipu sepertimu!" Zayn menghempaskan tubuh Aaliyah hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Zayn menatap layar komputernya dengan frustrasi, namun ia tertegun saat melihat pesan yang muncul di layar: “System Restored. Intruder Blocked. Data Secure.”
Zayn terdiam. Ia menatap layar, lalu menatap Aaliyah yang masih terduduk di lantai, memegang bahunya yang sakit. Di mata Zayn, ada kebingungan yang sangat besar. Antara kemarahan yang meluap dan kenyataan yang tak masuk akal.
"Siapa... siapa kau sebenarnya, Maryam?" tanya Zayn dengan suara yang tiba-tiba merendah, namun tetap terasa dingin.
Aaliyah menatap Zayn dari bawah. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak, namun ia tahu ini bukan saatnya mengungkap siapa dirinya. "Saya hanyalah pelayan yang ingin menjaga tempat saya bekerja, Tuan Muda. Jika Anda menganggap saya musuh, silakan usir saya. Tapi ketahuilah, musuh Anda yang sebenarnya berada di dalam perusahaan Anda sendiri."
Zayn tertegun mendengar keberanian dalam suara Maryam. Keberanian yang sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal di masa lalu, namun dengan aura yang jauh lebih tulus. Ia ingin marah, namun ia tidak bisa membantah bahwa sistemnya memang selamat.
"Keluar," ucap Zayn pendek, memalingkan wajahnya. "Keluar dari ruangan ini sekarang juga!"
Aaliyah bangkit dengan sisa kekuatannya, merapikan gamisnya, dan berjalan keluar tanpa sepatah kata pun. Ia meninggalkan Zayn yang masih mematung di depan komputernya, bergelut dengan kecurigaan yang mulai merambat ke dasar hatinya.
Malam itu, di kamar pembantunya, Aaliyah kembali bersujud. Ia menangis sejadi-jadinya. Bukan karena hinaan Zayn, tapi karena rasa takut yang mulai menjalar—Zayn sedang menyelidiki yayasan ayahnya. Apakah Zayn adalah kawan yang terluka, atau lawan yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menghabisi apa yang tersisa dari keluarganya?
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Dan di rumah itu, di bawah atap yang megah, kebenaran mulai perlahan-lahan menyelinap keluar dari balik bayangan niqab hitam yang misterius.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji