NovelToon NovelToon
PEDANG ABADI:NAM LING

PEDANG ABADI:NAM LING

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Keiro_ganteng

Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.

Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.

Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 – PERJALANAN PULANG DAN PERINGATAN DARI KENINGAN

Nam Ling memasuki hutan batang tinggi yang menjadi jalur utama pulang menuju markas Sekte Liya. Perjalanan dari Sekte Valerius telah memakan waktu tiga hari lebih lama dari perjalanan pergi – bukan karena jalanan lebih sulit, melainkan karena ia menggunakan setiap kesempatan untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Di setiap lereng bukit, di setiap sungai yang harus dilintasi, ia mencoba menyambungkan diri dengan energi bumi menggunakan Inti Bumi yang diberikan Tetua Orion, merasakan bagaimana aliran kekuatan bekerja di setiap wilayah yang berbeda.

Manik kristal kecil di dalam kantongnya terkadang bersinar lembut, seolah memberi tahu ia tentang titik-titik energi tersembunyi di sekitarnya. Ada kalanya ia menemukan reruntuhan kecil yang tidak tercatat di peta apa pun, atau menyadari bahwa beberapa pohon tua di hutan itu adalah penjaga energi kuno yang telah berdiri selama ribuan tahun. Ia tidak mengganggu mereka, hanya berhenti sejenak untuk memberi hormat sebelum melanjutkan perjalanannya.

Pada malam hari yang keempat perjalanan pulang, ia berhenti di sebuah desa kecil yang terletak di tepi danau yang tenang. Desa itu tidak terlalu besar, hanya terdiri dari puluhan rumah kayu yang tersebar di sepanjang bibir danau. Udara di sini segar dengan aroma rumput basah dan ikan segar. Saat ia hendak mencari tempat untuk beristirahat dan membeli bekal, ia melihat sekelompok warga berkumpul dengan wajah penuh kekhawatiran di halaman sebuah rumah besar di tengah desa.

Curiga akan sesuatu yang tidak beres, Nam Ling mendekat dengan hati-hati. Saat mendekat, ia mendengar suara seorang wanita tua yang sedang menangis sambil memegang tangan seorang anak perempuan yang terbaring lemah di atas tikar. “Dia tiba-tiba seperti ini sejak tiga hari yang lalu,” ucap wanita tua itu dengan suara serak. “Kulitnya jadi dingin seperti es, dan dia selalu mengucapkan nama yang tidak kita kenal dalam tidurnya.”

Nam Ling melihat anak perempuan itu. Tubuhnya memang tampak sangat lemah, dan ada aura energi gelap yang sangat tipis mengelilinginya – tidak cukup kuat untuk dianggap sebagai serangan iblis, namun cukup untuk membuat tubuhnya tidak bisa berfungsi dengan normal. Tanpa berpikir panjang, ia mendekat dan berkata, “Izinkan aku melihatnya. Mungkin aku bisa membantu.”

Warga desa melihatnya dengan waspada, namun melihat sosoknya yang tidak mengancam dan membawa senjata yang terawat dengan baik, mereka akhirnya mengizinkannya. Nam Ling duduk di sisi anak perempuan, lalu mengeluarkan Inti Bumi dari kantongnya. Dengan hati-hati, ia menyentuhkan ujung manik kristal ke dahi anak perempuan sambil mencoba merasakan aliran energi di dalam tubuhnya.

Segera ia merasakan sesuatu yang aneh. Energi di dalam tubuh anak perempuan tidak terganggu oleh kekuatan luar yang menyerang, melainkan oleh kenangan yang terkurung dan penuh dengan kesedihan. Seolah ada sebuah pesan atau gambar yang terjebak di dalam benaknya, membuat energi alaminya tidak bisa mengalir dengan lancar. Menggunakan teknik yang diajarkan di Sekte Valerius, ia tidak mencoba memaksakan energi untuk membersihkannya, melainkan membuka saluran kecil agar kenangan itu bisa muncul dengan sendirinya.

Lama kelamaan, anak perempuan itu mulai berbicara dalam tidurnya dengan suara pelan: “Ibu… jangan pergi… hutan itu berbahaya… ada sosok dengan mata merah yang berkata akan datang lagi…”

Nam Ling mengerti sekarang. Anak perempuan itu menyaksikan sesuatu yang mengerikan di hutan beberapa hari yang lalu – mungkin kedatangan pengikut Raja Iblis yang sedang mencari sumber energi baru. Kekhawatiran dan ketakutannya yang terpendam menyebabkan energi di tubuhnya terjebak. Dengan lembut, ia mulai mengayunkan tangan dengan gerakan yang diajarkan Elara, membantu mengalirkan energi sedemikian rupa hingga kenangan itu bisa keluar dengan aman.

Setelah beberapa saat, anak perempuan itu mendengus dan membuka mata dengan perlahan. Wajahnya yang dulu pucat mulai kembali merah muda. “Aku merasa baik sekarang,” ucapnya dengan suara lembut. “Aku ingat… aku melihat seseorang berpakaian hitam sedang berbicara dengan seseorang di dalam hutan. Mereka bilang akan datang ke desa ini setelah mendapatkan apa yang mereka cari dari gunung jauh di sana.”

Nam Ling mengangguk perlahan. Ia menoleh ke arah warga desa dan berkata, “Desa ini mungkin akan menjadi target mereka. Aku akan memberi kamu beberapa mantra dan cara untuk membangun pelindung energi sederhana agar bisa melindungi diri kalian sementara aku mencari tahu lebih jauh tentang apa yang mereka cari.”

Selama satu malam penuh, ia mengajarkan warga desa cara dasar untuk merasakan energi di sekitar mereka, cara membuat simbol pelindung di pintu rumah, dan cara mengumpulkan kekuatan bersama jika ada bahaya yang datang. Warga desa dengan senang hati belajar, karena mereka tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri mereka sendiri. Saat matahari mulai muncul di ufuk timur, Nam Ling memberi mereka beberapa pil obat yang dibuat dari ramuan di Sekte Valerius untuk meningkatkan daya tahan tubuh, lalu melanjutkan perjalanannya.

Setelah dua hari lagi berjalan, ia akhirnya melihat puncak pegunungan yang menjadi penanda dekatnya dengan markas Sekte Liya. Namun sebelum sampai, ia merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari arah lereng gunung yang lebih tinggi – ada sumber energi yang sangat kuat namun tidak stabil, seolah sedang diperdebatkan atau diperjuangkan. Tanpa ragu, ia mengubah arah perjalanan untuk menuju sumber energi itu.

Setelah mendaki selama hampir satu jam, ia tiba di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi oleh batu besar berbentuk lingkaran. Di tengah lembah itu, dua sosok sedang berhadapan: satu adalah anggota Sekte Liya yang ia kenal bernama Chen, dan yang lain adalah sosok berpakaian hitam dengan topeng yang menutupi wajahnya. Di antara mereka ada sebuah batu permata besar yang menyala dengan cahaya ungu muda – jelas merupakan salah satu sumber energi kuno yang dicari pengikut Raja Iblis.

“Chen! Apa yang terjadi di sini?” teriak Nam Ling dengan cepat, mengeluarkan Pedang Abadi yang kini tidak lagi menyala dengan cahaya merah saja, namun ada campuran cahaya kebiruan dari teknik yang ia pelajari.

Chen melihatnya dengan wajah penuh lega. “Nam Ling! Kau sudah kembali! Ini adalah salah satu pengikut Raja Iblis yang mencoba mencuri Batu Energi Bintang yang baru saja kita temukan. Aku mencoba menghalangnya tapi dia terlalu kuat!”

Musuh itu hanya tertawa sinis. “Oh, pemburu iblis yang terkenal kembali dari perjalanannya. Baiklah, mari kita lihat apakah kamu benar-benar lebih kuat seperti yang aku dengar.”

Tanpa berlama-lama, musuh itu menyerang dengan cepat. Serangannya berbeda dengan yang pernah Nam Ling hadapi sebelumnya – ia menggunakan kombinasi energi gelap dan teknik bertarung yang sangat mirip dengan yang diajarkan di Sekte Valerius. Ternyata musuh ini juga telah belajar dari berbagai sekte untuk meningkatkan kekuatannya.

Nam Ling tidak langsung menyerang balik. Ia mengingat apa yang diajarkan Elara tentang mengalir seperti sungai dan menuntun kekuatan lawan. Setiap kali musuh itu menyerang dengan cepat, Nam Ling hanya bergerak sedikit untuk menghindarinya, lalu menggunakan momentum serangan itu untuk membuat musuh kehilangan keseimbangan. Chen melihatnya dengan kagum – gaya bertarung Nam Ling sekarang jauh lebih halus dan efektif dibanding sebelum pergi.

Pada saat yang tepat, musuh itu melihat celah dan mencoba mengambil Batu Energi Bintang dengan cepat. Namun sebelum tangannya menyentuh batu itu, Nam Ling sudah berada di sana terlebih dahulu. Ia tidak menggunakan kekuatan untuk menghalangnya, melainkan menyentuh batu itu dengan Inti Bumi yang dibawanya. Dalam sekejap, cahaya ungu dari batu menyatu dengan cahaya kebiruan dari manik kristal, membentuk perisai yang kuat mengelilingi batu itu.

“Kekuatan ini bukan untuk kamu yang hanya ingin menguasainya!” ucap Nam Ling dengan suara tegas. Bersama dengan Chen, mereka menyerang secara bersamaan – Chen menggunakan teknik dari Sekte Liya, sedangkan Nam Ling menggunakan kombinasi teknik dari kedua sekte yang diajarkan padanya. Musuh itu tertekan dan akhirnya terpaksa melarikan diri dengan cepat ke arah hutan, namun tidak sebelum meninggalkan pesan yang mengerikan: “Ini belum selesai! Raja Iblis akan segera datang dan mengambil semua kekuatan yang seharusnya menjadi miliknya!”

Setelah musuh pergi, Chen melihat Nam Ling dengan rasa kagum yang besar. “Kau benar-benar berubah, Nam Ling. Gaya bertarungmu sekarang sangat berbeda dan jauh lebih kuat.”

Nam Ling tersenyum sambil memeriksa Batu Energi Bintang yang kini aman. “Aku belajar banyak hal dari sekte lain. Kita tidak bisa hanya mengandalkan cara kita sendiri untuk melindungi apa yang kita miliki. Kita harus belajar dari yang lain agar bisa menjadi lebih kuat.”

Mereka berdua membawa batu itu pulang ke markas sekte. Saat memasuki gerbang markas, mereka disambut dengan sorakan kegembiraan dari semua anggota sekte yang telah menunggu kedatangannya. Master Liya berdiri di depan dengan wajah cantik yang penuh senyum bangga.

“Kau telah kembali dengan aman, Nam Ling,” ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh perhatian. “Aku merasakan bahwa kamu telah membawa pulang sesuatu yang berharga bukan hanya untukmu sendiri, tapi untuk seluruh sekte kita.”

Nam Ling mengangguk, lalu menunjukkan Inti Bumi dan gulungan perkamen yang diberikan Sekte Valerius. Ia mulai menceritakan semua yang terjadi selama perjalanannya – mulai dari pelajaran di Sekte Valerius, pertempuran dengan penyusup, hingga kejadian di desa kecil dan pertemuan dengan pengikut Raja Iblis di lembah tersembunyi. Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, terutama ketika ia menjelaskan tentang teknik baru yang bisa mereka pelajari dan tentang persetujuan dari Sekte Valerius untuk bekerja sama.

Setelah cerita selesai, Master Liya berdiri dan berbicara dengan suara yang jelas terdengar di seluruh halaman: “Kita telah hidup terisolasi terlalu lama, berpikir bahwa cara kita adalah satu-satunya cara yang benar. Namun perjalanan Nam Ling telah membuktikan bahwa persatuan dan kerja sama antar sekte adalah kunci untuk menghadapi ancaman yang semakin besar. Mulai hari ini, kita akan membuka pintu kita untuk menerima tamu dari sekte lain, belajar satu sama lain, dan bersama-sama membangun benteng pertahanan yang lebih kuat untuk melindungi semua wilayah yang kita jagakan.”

Semua orang bersorak meriah mendengar kata-kata itu. Nam Ling melihat sekeliling dan merasa lega. Perjalanan panjang yang ia tempuh tidak sia-sia – ia tidak hanya mendapatkan ilmu baru dan kekuatan yang lebih besar, tapi juga membawa harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi semua sekte dan desa di sekitarnya.

Malam itu, mereka berkumpul untuk makan malam bersama. Ada makanan lezat yang dibuat dari hasil panen desa dan ramuan dari sekte. Nam Ling duduk di samping Master Liya dan Chen, berbagi cerita dan rencana untuk masa depan. Saat matahari benar-benar tenggelam dan bulan mulai bersinar terang di atas langit, Master Liya menyerahkan kepadanya sebuah cincin perak dengan ukiran naga kecil di atasnya.

“Ini adalah simbol bahwa kamu kini bukan hanya anggota sekte kita, tapi juga duta persahabatan antara kita dengan sekte lain,” ucapnya dengan senyum hangat. “Gunakan kekuatan dan ilmu yang kamu miliki dengan bijak, karena banyak orang yang akan bergantung padamu.”

Nam Ling menerima cincin itu dengan kedua tangan dan rasa hormat yang mendalam. Ia tahu bahwa perjuangan belum selesai – ancaman dari Raja Iblis masih ada dan semakin dekat. Namun dengan ilmu yang baru diperoleh, dukungan dari sekte lain, dan persatuan yang semakin kuat di antara mereka, ia merasa siap menghadapi apa pun yang akan datang. Esok hari akan menjadi hari baru, hari di mana mereka mulai membangun jembatan

1
Kaisar Abadi
bagus bagus
Kaisar Abadi
mampir bree😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!