"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pedang di Balik Sutra
"Arnold, ajari aku cara membunuh. Atau setidaknya, ajari aku bagaimana caranya agar aku tidak mati konyol saat kamu tidak ada di sampingku."
Suara Airine memecah keheningan di dalam mobil SUV yang sedang melaju menuju kediaman Rubyjane. Arnold yang sedang fokus menyetir hampir saja menginjak pedal rem secara mendadak. Ia menoleh sekilas, menatap istrinya yang duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan. Map cokelat berisi rahasia Edward Jane masih didekapnya erat, seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya yang tersisa.
"Apa yang kamu katakan, Airine? Kamu seorang dokter. Tanganmu diciptakan untuk menyambung nyawa, bukan mencabutnya," sahut Arnold, suaranya berat dan penuh penekanan.
Airine menoleh, matanya berkilat dengan amarah yang dingin—jenis amarah yang jauh lebih menakutkan daripada tangisan histeris tadi siang. "Jangan beri aku ceramah moral, Komandan! Kamu lihat sendiri tadi di laboratorium. Kakekku... Edward Jane, pria yang kupuja seumur hidupku, ternyata adalah arsitek di balik racun yang sekarang diperebutkan monster seperti Tuan Shen. Aku menyadari satu hal sekarang: bahkan darahku sendiri adalah ancaman bagiku."
Arnold menghela napas panjang, ia memutar kemudi memasuki gerbang rumah utama yang kini dijaga ketat oleh tim Shadow Guard. "Dunia intelijen itu kotor, Airine. Aku tidak ingin kamu masuk ke dalamnya lebih dalam lagi."
"Aku sudah di dalam, Arnold! Sejak aku menandatangani buku nikah denganmu, aku sudah menjadi target!" Airine mencondongkan tubuhnya ke arah Arnold begitu mobil berhenti di lobi. "Pekerjaanmu... identitasmu... itu semua menjadikanku kelemahan terbesarmu. Tuan Shen membuktikannya hari ini. Dia menggunakanku untuk memerasmu. Aku tidak mau menjadi beban! Aku tidak mau menjadi sandera yang membuatmu ragu menarik pelatuk!"
Arnold mematikan mesin. Ia menatap Airine dengan pandangan yang sangat dalam, penuh luka namun juga kekaguman. "Kamu tahu apa artinya berlatih denganku? Aku tidak akan menganggapmu sebagai istri saat kita berada di ruang latihan. Aku akan menganggapmu sebagai rekrutan yang harus siap menghadapi maut."
"Bagus. Itu yang kumau," jawab Airine tanpa ragu sedikit pun. "Mulai besok pagi, jam empat. Jangan terlambat menjemputku di kamar."
...****************...
Keesokan paginya, di sasana pribadi milik keluarga Rubyjane yang luas, suasana terasa sangat mencekam. Lampu-lampu sorot menyala terang, memantul pada lantai kayu yang dipoles licin. Arnold sudah berdiri di tengah ruangan, mengenakan kaos taktis hitam dan celana kargo. Ia tampak seperti predator yang sedang menunggu mangsanya.
Airine masuk dengan mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna hitam, rambutnya diikat ekor kuda yang sangat rapi. Wajahnya pucat, tapi matanya menunjukkan tekad baja.
"Serang aku," ucap Arnold datar, tangannya berada di belakang punggung.
"Apa? Begitu saja? Kamu belum memberiku instruksi," Airine mengerutkan dahi.
"Musuh tidak akan memberimu instruksi, Airine. Mereka tidak akan menunggumu siap. Serang aku sekarang dengan apa pun yang ada di kepalamu!" bentak Arnold, suaranya menggelegar di dalam ruangan.
Airine tersentak, lalu dengan nekat ia berlari dan mencoba memukul wajah Arnold. Dengan satu gerakan tangan yang sangat halus, Arnold menangkap pergelangan tangan Airine, memutarnya, dan dalam sekejap Airine sudah jatuh tersungkur di lantai dengan posisi terkunci.
"Argh! Itu sakit, Arnold!" rintih Airine.
"Di jalanan, itu artinya tanganmu sudah patah," Arnold melepaskan kunciannya dan berdiri tegak lagi. "Bangun. Jangan mengeluh. Kamu bilang ingin belajar bela diri, bukan belajar yoga."
Airine berdiri dengan susah payah, menyeka keringat yang mulai muncul di pelipisnya. "Sekali lagi."
"Dengarkan aku, Airine," Arnold mendekat, suaranya kini merendah namun tetap tajam. "Kamu adalah seorang dokter. Kamu tahu anatomi manusia lebih baik dari siapa pun di unitku. Gunakan itu. Jangan bertarung menggunakan tenaga kasar melawan pria yang beratnya dua kali lipat darimu. Cari titik saraf, cari sendi yang rapuh, cari jalur napas. Satu serangan tepat sasaran lebih berharga daripada seribu pukulan liar."
"Titik saraf..." gumam Airine. Ia mulai mengatur napasnya, mencoba mengingat letak arteri karotis dan plexus solaris.
"Sekali lagi. Serang aku seolah aku adalah pria yang membunuh ibumu," tantang Arnold.
Kali ini Airine bergerak lebih tenang. Ia tidak langsung memukul. Ia menunggu Arnold bergerak, lalu saat Arnold mencoba meraih bahunya, Airine merunduk dan menggunakan siku tangannya untuk menghantam ulu hati Arnold dengan presisi medis.
Arnold terkesiap sedikit, mundur satu langkah. Ia menatap Airine dengan senyum miring yang langka. "Lumayan. Itu bisa membuat pria biasa pingsan selama sepuluh menit."
"Tapi kamu bukan pria biasa," sahut Airine, napasnya tersengal.
"Benar. Dan musuhmu selanjutnya mungkin adalah orang yang mengirim pria ke balkon kita semalam," Arnold berjalan ke pinggir sasana, mengambil dua bilah pisau latihan berbahan karet. Ia melemparkan satu ke arah Airine. "Pegang ini. Pisau adalah perpanjangan dari jarimu. Jangan pernah lepaskan, meski tanganmu berdarah."
Mereka berlatih selama tiga jam tanpa henti. Airine jatuh bangun berkali-kali, tubuhnya mulai dipenuhi memar biru, namun ia menolak untuk berhenti. Di akhir sesi, Arnold menyudutkan Airine ke tembok, pisau karetnya berada tepat di leher Airine.
"Jika ini pisau sungguhan, kamu sudah mati," bisik Arnold. Jarak mereka sangat dekat, hingga Airine bisa merasakan panas tubuh Arnold dan aroma maskulin yang bercampur keringat.
Airine menatap mata Arnold tanpa rasa takut. "Tapi setidaknya sebelum aku mati, aku sudah menusuk pahamu. Lihat ke bawah."
Arnold melirik ke bawah. Ujung pisau karet Airine menekan kuat di area arteri femoralis di paha Arnold. Arnold terkekeh pelan, lalu melepaskan tekanannya.
"Cerdas. Kamu benar-benar cepat belajar," Arnold mengusap keringat di dahi Airine dengan tangannya yang besar. "Tapi Airine... berjanjilah padaku. Teknik ini hanya untuk pertahanan terakhir. Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkanmu menggunakan pisau ini pada siapa pun."
Airine menyandarkan kepalanya di dada Arnold yang bidang. "Aku tahu kamu ingin melindungiku, Arnold. Tapi identitasmu sebagai Komandan... itu membuatmu punya banyak musuh. Aku tidak mau suatu hari nanti kamu kalah dalam pertempuran hanya karena memikirkan keselamatanku. Aku ingin menjadi pedangmu, bukan hanya perisaimu."
Arnold memeluk Airine erat, mencium puncak kepalanya. Di dalam hatinya, ia merasa bangga sekaligus ngeri. Ia telah menciptakan seorang prajurit dari seorang penyembuh. Namun di sisi lain, ia tahu bahwa dunia yang akan mereka hadapi selanjutnya tidak akan cukup hanya dilawan dengan bela diri.
"Istirahatlah," ucap Arnold pelan. "Sore ini kita ada pertemuan dengan tim audit. Kita harus membedah isi brankas kakekmu lebih dalam sebelum Tuan Shen mengirimkan gelombang serangan berikutnya."
Airine mengangguk, namun saat ia berbalik menuju ruang ganti, ia sempat melihat ponsel Arnold yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan singkat muncul di layar: "Interogasi Shen selesai. Dia menyebut satu nama lagi: Kakek Edward masih hidup."
Langkah Airine terhenti. Ia merasakan dingin menjalar di punggungnya. Kakek masih hidup? Lalu siapa yang kami kuburkan lima tahun lalu?
...****************...