NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDAK AKAN BERTEMU LAGI

BAB 4 — TIDAK AKAN BERTEMU LAGI

Pagi di kota Jakarta terasa sama sibuknya seperti biasa.

Jalanan sudah padat merayap oleh kendaraan, suara klakson bersahutan tanpa henti, dan matahari mulai meninggi menyengat kulit saat taksi online yang ditumpangi Keisha perlahan melaju meninggalkan area hotel mewah itu.

Namun di dalam kabin mobil yang tertutup rapat itu, dunia Keisha terasa begitu hening dan sunyi.

Ia duduk memeluk tas kecilnya erat-erat di pangkuan, pandangannya menatap kosong menembus kaca jendela. Pemandangan kota yang lewat begitu saja seakan tak tersentuh oleh indranya.

Semalam... rasanya benar-benar seperti mimpi.

Mimpi yang terasa begitu nyata, begitu indah, namun di saat yang sama juga terasa begitu salah dan berbahaya.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Arsen langsung muncul. Tatapan mata gelapnya, sentuhan tangannya yang hangat namun kokoh, hingga suara bisikan rendah dan beratnya yang terdengar begitu seksi di telinga... semuanya membuat jantung Keisha kembali berdebar kencang tak karuan.

Tapi bersamaan dengan rasa itu, rasa malu dan sesal datang menghantam keras dadanya.

Apa yang sudah ia perbuat?

Ia bahkan tidak tahu nama lengkap pria itu.

Tidak tahu apa pekerjaannya yang sebenarnya.

Tidak tahu di mana ia tinggal, atau bagaimana cara menghubunginya.

Dan yang paling membuatnya merasa bodoh... ia terlalu menikmati setiap detik yang berlalu malam itu.

Keisha memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menepis bayangan itu.

Tidak.

Ini harus berhenti di sini saja.

Semalam hanyalah sebuah kesalahan. Sebuah kegilaan sesaat yang terjadi karena ia terlalu ingin bebas. Hal ini tidak akan pernah terulang lagi. Ia harus melupakan pria bernama Arsen itu.

Harus.

 

Setibanya di rumah, Keisha masuk dengan hati-hati, berjalan jinjit layaknya pencuri yang baru saja melakukan kejahatan.

Untunglah suasana rumah masih sunyi. Kedua orang tuanya sepertinya masih tidur nyenyak di kamar mereka.

Keisha langsung berlari kecil menuju kamarnya, mengunci pintu dengan cepat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu.

Ia menarik bantal besar dan langsung memeluknya menutupi seluruh wajah, mencoba meredam rasa malu yang memuncak.

“Astaga... apa yang udah gue lakuin,” gumamnya pelan pada diri sendiri.

Belum lama ia berbaring, getaran ponsel di atas nakas membuatnya tersentak. Nama Rina terpampang jelas di layar.

Dengan ragu dan napas yang masih belum teratur, Keisha menggeser tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya.

“KEISHAAAAAAA!!”

Suara teriak Rina langsung meledak keras dari seberang sana, membuat Keisha buru-buru menjauhkan HP sedikit dari telinganya.

“Kamu di mana sih?! Aku cariin dari semalam! HP mati terus!” seru Rina panik sekaligus heboh.

“Aku... aku udah di rumah,” jawab Keisha pelan.

“Di rumah? Terus kamu pulangnya sama siapa?!”

Keisha terdiam. Mulutnya terkunci rapat, tidak tahu harus menjawab apa.

“Sha...” nada suara Rina berubah curiga, terdengar lebih rendah. “Jangan bilang... kamu pulang sama cowok ganteng yang pakai baju hitam itu? Arsen kan?”

Keisha semakin mengeratkan pelukan pada bantal, wajahnya memanas luar biasa.

“Ya Tuhan... BENERAN?!” pekik Rina tak percaya.

“Jangan teriak-teriak ah!” protes Keisha.

“KAMU GILA YA?!”

“AKU TAU!” balas Keisha akhirnya, suaranya hampir pecah.

Di seberang sana, Rina tertawa kecil bercampur rasa tak percaya. “Wah, hebat juga ya. Gadis paling alim, paling sopan, dan paling pintar satu sekolah akhirnya bikin ulah juga ternyata.”

Keisha mendesah panjang, napanya terdengar frustrasi.

“Aku nyesel, Rin. Aku beneran nyesel.”

“Nyesel?” goda Rina dengan nada menggoda. “Atau malah kebayang-bayang terus sampai susah tidur?”

Keisha kembali terdiam.

Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup jelas bagi Rina.

“YA AMPUN! KAMU SUKA SAMA DIA!” teriak Rina lagi.

“Enggak!”

“Terus kenapa diam aja? Hah? Mukamu pasti merah banget kan sekarang? Aku bisa lihat lho walau lewat telepon!”

“Rina, tutup teleponnya sekarang! Aku mau tidur!” seru Keisha kesal, lalu langsung memutus sambungan dengan kasar.

Namun setelah ponsel diletakkan, Keisha justru menarik selimut dan memeluk lututnya sendiri di atas ranjang.

Ia benci mengakui kenyataan ini.

Tapi sungguh... bayangan pria bernama Arsen itu tidak mau pergi dari kepalanya.

 

Hari-hari berikutnya, Keisha berusaha mati-matian untuk kembali ke rutinitas normalnya.

Masa orientasi pengenalan kampus atau Maba telah dimulai. Kesibukan baru, kelas-kelas baru, teman-teman baru, serta lingkungan yang sama sekali berbeda dari masa SMA seharusnya bisa mengalihkan seluruh perhatiannya.

Seharusnya semuanya terasa menyenangkan dan penuh semangat.

Namun kenyataannya... tidak.

Setiap kali ia melihat seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan tegap dari kejauhan...

Setiap kali ia mencium aroma parfum wangi kayu cendana yang samar di koridor mall atau di kantin kampus...

Setiap kali ia mendengar suara pria yang berat dan dalam di sekitarnya...

Pikirannya langsung melayang entah ke mana, terlempar kembali ke malam itu, mengingatkan pada sosok Arsen.

Sangat menyebalkan.

Ia bahkan tidak yakin apakah pria itu masih mengingat namanya atau tidak.

Mungkin tidak. Bagi pria sekeren, sekaya, dan seberkelas Arsen, wanita pasti datang dan pergi seenaknya, seperti angin yang lalu lalang. Semalam bersamanya mungkin hanyalah angka statistik biasa, atau sekadar hiburan singkat untuk mengisi waktu luang.

Tapi bagi Keisha...

Satu malam itu terasa begitu besar, dan terus menempel kuat di ingatannya.

 

Seminggu berlalu begitu saja. Suatu sore, Rina datang berkunjung ke kamar kos kecil yang disewa Keisha tidak jauh dari area kampus.

“Aku punya ide bagus nih,” ujar Rina sambil bersandar santai di kursi belajar, membuka obrolan tiba-tiba.

“Ide apa?” tanya Keisha tanpa menoleh, sibuk merapikan buku-bukunya.

“Kita cari dia.”

Tangan Keisha yang sedang memegang buku terhenti mendadak. Ia hampir tersedak ludahnya sendiri.

“Siapa?” pura-puranya tidak tahu.

“Jangan deh pura-pura bodoh, Sha. Arsen,” jawab Rina mantap.

“Enggak usah. Gak penting,” tolak Keisha cepat, berusaha terdengar cuek.

“Kenapa emangnya?”

Keisha berhenti bergerak, lalu memalingkan wajah ke arah jendela, menatap jalanan di luar.

“Karena... dia pasti enggak peduli. Buang-buang waktu aja.”

Rina menatap punggung sahabatnya itu lama, lalu berdiri dan berjalan mendekat.

“Atau... sebenarnya kamu takut? Takut kalau ketemu atau dicariin, ternyata beneran dia emang enggak peduli sama sekali sama kamu?”

Kalimat itu tepat sekali, bagaikan panah yang menusuk tepat di jantung Keisha.

Keisha menggigit bibir bawahnya keras, menahan perasaan yang tiba-tiba meluap.

Rina menggenggam tangan sahabatnya itu lembut.

“Dengerin aku, Sha. Kalau kamu emang penasaran, ya cari aja jawabannya. Jangan nyiksa diri sendiri kayak gini terus. Nanti kamu yang sakit sendiri.”

Malam itu juga, untuk pertama kalinya sejak kejadian di hotel, Keisha membuka dompet kulitnya.

Di sana, terselip sebuah kartu akses elektronik hotel yang tanpa sengaja ia bawa pulang dan lupa kembalikan.

Nama hotel itu tercetak jelas dan megah di permukaan kartu tersebut.

Jantung Keisha berdegup kencang, entah karena harap atau takut.

 

Keesokan sore harinya, Keisha berdiri mematung di depan gedung hotel yang sama.

Gedung tinggi dan megah itu tampak sama gagahnya seperti saat ia datang bersama Arsen malam itu. Namun suasana hatinya kini jauh berbeda. Kali ini ia datang sendirian, dengan jantung yang berdebar tak karuan dan telapak tangan yang dingin karena keringat dingin.

Dengan langkah ragu, ia melangkah masuk ke dalam lobi yang luas dan mewah itu.

Petugas resepsionis menyambutnya dengan senyum ramah dan sopan.

“Selamat sore, Nona. Ada yang bisa kami bantu?”

Keisha menelan ludah yang terasa berat di tenggorokannya.

“Saya... ingin bertemu seseorang,” ucapnya pelan.

“Boleh tahu nama tamunya, Nona?”

Bibir Keisha terasa kering dan kaku.

“Arsen.”

Petugas itu mengangguk, lalu jari-jarinya mulai mengetik cepat di atas keyboard komputer di hadapannya. Namun setelah beberapa saat, wajahnya kembali ke ekspresi profesional dan datar.

“Maaf, Nona. Maaf sekali, kami tidak bisa memberikan informasi mengenai data pribadi atau keberadaan tamu kami demi alasan privasi dan keamanan.”

“Kalau... kalau saya mau menitip pesan saja boleh?” tanya Keisha berharap.

“Bisa, Nona. Boleh saya tahu nama lengkapnya?”

Keisha membeku.

Nama lengkap.

Ia bahkan tidak tahu.

Ia tidak tahu apa nama belakang pria itu. Ia tidak tahu apa-apa tentang dia.

Yang ia tahu hanyalah satu kata.

Arsen.

Itu saja.

Rasa malu dan rasa bodoh menghantamnya begitu keras hingga rasanya ingin langsung menghilang ditelan bumi.

Ia menundukkan kepala dalam-dalam.

“Maaf... saya lupa. Tidak apa-apa, terima kasih.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Keisha berbalik badan dan berjalan cepat keluar dari lobi itu, seolah ada yang mengejarnya.

Begitu kakinya menginjak trotoar di luar gedung, air matanya tiba-tiba jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Menetes di pipi, lalu membasahi bajunya.

Betapa bodohnya dirinya.

Mencari-cari pria yang bahkan tidak pernah ia kenal secara benar. Pria yang mungkin sama sekali tidak pernah menganggapnya ada lebih dari sekadar satu malam.

Mungkin dari awal memang sudah begini takdirnya. Arsen memang tak pernah berniat meninggalkan jejak sedikit pun dalam hidup Keisha.

Dan mungkin...

Malam itu hanya memiliki arti yang besar dan berharga bagi dirinya seorang saja.

 

Dua minggu kemudian, tubuh Keisha mulai merasakan keanehan yang tak biasa.

Ia merasa lebih cepat lelah dan mengantuk meski tidak melakukan aktivitas berat.

Sering merasa pusing dan pandangan sedikit gelap jika berdiri terlalu cepat.

Dan yang paling mengganggu... setiap pagi hari, perutnya selalu terasa mual dan ingin muntah.

Awalnya ia beranggapan ini hanya karena kelelahan mengerjakan tugas kampus.

Kurang tidur.

Atau mungkin karena stres memikirkan banyak hal.

Namun malam itu, saat ia sedang bersantai dan membuka aplikasi kalender di ponselnya untuk mengecek jadwal kuliah, tubuhnya seketika menegang kaku.

Tangannya berhenti bergerak.

Tanggal yang seharusnya sudah datang dan lewat jauh hari... ternyata sampai saat ini belum kunjung tiba.

Jantung Keisha serasa jatuh ke dasar perut, dingin dan mencekam.

“Enggak mungkin... enggak mungkin,” bisiknya lirih, suaranya bergetar.

Ia menghitung ulang tanggalnya dengan teliti.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hasilnya tetap sama.

Ia terlambat. Hampir dua minggu.

Tangannya mulai gemetar hebat, ponsel hampir terlepas dari genggaman.

Bayangan-bayangan kejadian di kamar hotel itu berputar cepat di kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Keisha benar-benar merasa ketakutan setengah mati.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!