NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Ujian Kesabaran di Pasar Sapi

Pagi hari yang cerah, Arjuna memutuskan untuk pergi ke pasar sapi di kecamatan sebelah. Ia tidak membawa mobil atau motor, melainkan hanya menuntun seekor kambing kurusnya yang paling kecil. Arjuna tetap setia dengan penampilan nyelenehnya, yaitu mengenakan sarung yang ditali di bahu dan sandal jepit yang berbeda warna antara kiri dan kanan.

.

Ning Siti Khumairoh dan Ning Aminah Az-Zahra melepas keberangkatan suaminya dengan perasaan was-was. Mereka tahu kalau Arjuna ke pasar dengan penampilan seperti itu, pasti akan menjadi sasaran ejekan orang-orang pasar yang merasa lebih kaya.

.

"Kang, niki saestu ajeng mendoaken wedhus kurune sampeyan? Nopo mboten isin mangke dikiro pengemis malih?" (Kang, ini sungguhan mau mendoakan/menjual kambing kurus Anda? Apa tidak malu nanti dikira pengemis lagi?) tanya Ning Siti sambil merapikan sarung suaminya yang miring.

.

Arjuna tertawa cengengesan sambil mengelus janggut kambingnya. "Isin iku nek awake dhewe nyolong, Ning. Nek mung didelok mlarat, niku mboten nopo-nopo. Wong pasar butuh hiburan, dadi kulo mrene nggo ngekei hiburan," (Malu itu kalau kita mencuri, Ning. Kalau cuma dilihat miskin, itu tidak apa-apa. Orang pasar butuh hiburan, jadi saya ke sini buat kasih hiburan,) jawab Arjuna enteng.

.

Sesampainya di pasar sapi, suasana sangat ramai dan bising. Begitu Arjuna masuk menuntun kambingnya, semua mata tertuju padanya. Seorang bandar sapi kaya bernama Juragan Karsa yang sedang memegang tumpukan uang tunai langsung tertawa terbahak-bahak melihat Arjuna.

.

"Heh, wong edan! Wedhus koyo balung dibungkus kulit ngono mbok gowo mrene? Iki pasar sapi karo wedhus apik, dudu panggonan loak kewan!" (Heh, orang gila! Kambing seperti tulang dibungkus kulit begitu kamu bawa ke sini? Ini pasar sapi dan kambing bagus, bukan tempat loak hewan!) ejek Juragan Karsa sambil meludah ke tanah.

.

Arjuna hanya tersenyum polos tanpa rasa marah sedikit pun. "Niki sanes wedhus sembarangan, Juragan. Niki wedhus sing saged milih sing pundi majikan sing atine resik," (Ini bukan kambing sembarangan, Juragan. Ini kambing yang bisa memilih mana majikan yang hatinya bersih,) balas Arjuna dengan suara tenang.

.

Mendengar ucapan Arjuna, para pedagang lain ikut mengerumuni dan tertawa mengejek. Mereka mulai melempari kambing Arjuna dengan kulit pisang dan sisa-sisa kotoran. Namun, anehnya, setiap kali kotoran atau sampah itu mengenai tubuh si kambing kurus, sampah tersebut mendadak jatuh ke tanah dan berubah menjadi harum wangi melati.

.

Juragan Karsa yang merasa tertantang kemudian berteriak sombong. "Nek wedhusmu emang sekti, coba tandingno karo wedhus aduanku sing paling gedhe! Nek wedhusmu kalah, kowe kudu dadi jongosku saklawase!" (Kalau kambingmu memang sakti, coba tandingkan dengan kambing aduanku yang paling besar! Kalau kambingmu kalah, kamu harus jadi pembantuku selamanya!)

.

Arjuna hanya mengangguk pelan. "Nggih, Juragan. Tapi nek wedhus kulo sing menang, sampeyan kudu maringi kabeh sapi-sapimu nggo wong mlarat neng desa niki," (Iya, Juragan. Tapi kalau kambing saya yang menang, Anda harus memberikan semua sapi-sapimu buat orang miskin di desa ini,) tantang Arjuna balik.

.

Pertarungan tidak seimbang pun terjadi. Kambing aduan Juragan Karsa yang badannya sebesar anak sapi lari menyeruduk kambing kurus Arjuna dengan kecepatan tinggi. Namun, begitu kepala kambing besar itu hampir menyentuh tubuh kambing kurus Arjuna, kambing besar itu tiba-tiba berhenti kaku dan langsung bersujud di depan kaki si kambing kurus.

.

Seluruh pasar mendadak hening. Juragan Karsa gemetar hebat sampai uang di tangannya berjatuhan ke tanah yang becek. Ia melihat kambing aduannya yang ganas itu sekarang justru merintih ketakutan seolah melihat sosok raksasa di depan si kambing kurus milik Arjuna.

.

"Nyelenah tenan nasibmu, Juragan. Sapi-sapimu saiki dudu nggonmu meneh, nanging nggone wong mlarat sing sering mbok nggo dolanan," (Nyeleneh beneran nasibmu, Juragan. Sapi-sapimu sekarang bukan milikmu lagi, tapi milik orang miskin yang sering kamu buat mainan,) ucap Arjuna sambil menuntun kambingnya pergi meninggalkan pasar.

.

Hari itu, pasar sapi berubah menjadi pesta besar bagi kaum dhuafa karena Juragan Karsa mendadak kehilangan keberaniannya dan terpaksa membagikan semua ternaknya. Arjuna kembali pulang ke gubuk dengan tangan kosong, namun dengan hati yang sangat puas karena telah menunaikan keadilan Tuhan.

Suasana di pasar sapi yang tadinya bising mendadak senyap seperti kuburan. Juragan Karsa mencoba menendang kambing aduannya yang bernama Si Raja Tanduk agar segera berdiri dan menyerang kambing kurus Arjuna. Namun, kambing besar itu justru semakin merapatkan kepalanya ke tanah, badannya bergetar hebat seolah sedang berhadapan dengan singa yang sangat lapar.

.

"Ayo tangi! Kewan goblog! Masak kowe wedi karo wedhus cilik sing mung balung karo kulit ngeneki?!" (Ayo bangun! Hewan bodoh! Masak kamu takut sama kambing kecil yang cuma tulang sama kulit begini?!) teriak Juragan Karsa sambil mukanya merah padam karena malu ditonton orang sedesa.

.

Arjuna hanya berdiri santai sambil mengupil pelan, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. "Walah Juragan, niku kewane sampeyan mboten goblog. Kewan niku mripate luwih tulus tinimbang menungso, dadi ngerti sing pundi asline sing kudu dikurmati," (Walah Juragan, itu hewan Anda tidak bodoh. Hewan itu matanya lebih tulus daripada manusia, jadi tahu mana aslinya yang harus dihormati,) celetuk Arjuna dengan nada polosnya yang menyebalkan.

.

Mendengar ucapan Arjuna, para pedagang yang tadi menyoraki sekarang mulai mundur perlahan. Mereka merasa ada hawa dingin yang menusuk tulang keluar dari tubuh Arjuna yang hanya memakai kaos oblong bolong-bolong itu.

.

Tiba-tiba, Si Raja Tanduk mengeluarkan suara mengembik yang sangat panjang dan memilukan, lalu hewan itu pingsan di tempat. Juragan Karsa jatuh terduduk di tanah yang becek karena lemas. Ia sadar taruhannya bukan main-main, seluruh kekayaannya hari ini dipertaruhkan di depan mata banyak orang.

.

"Gus... kulo nyuwun sewu. Kulo khilaf, kulo mboten ngerti nek Panjenengan niku tiyang sepuh sing nyamar," (Gus... saya minta maaf. Saya khilaf, saya tidak tahu kalau Anda itu orang mulia yang menyamar,) ucap Juragan Karsa dengan suara gemetar, mulai memanggil Arjuna dengan sebutan Gus.

.

Arjuna tertawa pendek lalu mendekati Juragan Karsa, ia menepuk bahu juragan kaya itu dengan tangannya yang masih kotor. "Nyamar niku nopo, Pak? Kulo niki nggih ngeten niki, wong gendheng sing kepingin ningali sapi-sapine sampeyan pindah neng omahe wong mlarat," (Nyamar itu apa, Pak? Saya ini ya begini ini, orang gila yang kepingin melihat sapi-sapi Anda pindah ke rumahnya orang miskin,) jawab Arjuna sambil nyengir.

.

Arjuna kemudian menoleh ke arah kerumunan warga miskin yang biasanya cuma bisa melihat dari pinggir pasar. "Ayo Pak, Bu, niku sapi-sapine Juragan Karsa sampun dadi nggone sampeyan kabeh. Gek ndang digowo bali nggo ngrumat anak bojo!" (Ayo Pak, Bu, itu sapi-sapinya Juragan Karsa sudah jadi milik kalian semua. Cepat dibawa pulang buat merawat anak istri!) teriak Arjuna lantang.

.

Pasar sapi itu mendadak jadi lautan tangis haru. Orang-orang dhuafa itu berebut menyalami tangan Arjuna, tapi Arjuna malah lari menghindar dan bersembunyi di balik punggung kambing kurusnya.

.

"Nyelenah temenan nasibe wong sombong, Kang. Juragan Karsa saiki malah dadi wong sing mlarat dhewe neng pasar iki," (Nyeleneh beneran nasibnya orang sombong, Kang. Juragan Karsa sekarang malah jadi orang yang paling miskin sendiri di pasar ini,) ucap Ning Siti yang tiba-tiba muncul menyusul suaminya bersama Ning Aminah.

.

Ning Aminah Az-Zahra tersenyum sambil mengusap sisa air mata harunya. "Leres Ning Siti, Gusti Allah mboten sare. Sing ngeroso dhuwur bakal digawe asor karo sing ngeroso asor," (Benar Ning Siti, Gusti Allah tidak tidur. Yang merasa tinggi bakal dibuat rendah oleh yang merasa rendah,) tambahnya lembut.

.

Arjuna hanya mengajak kedua istrinya pulang dengan langkah riang, seolah-olah ia tidak baru saja meruntuhkan kekayaan seorang juragan besar hanya dengan seekor kambing kurus. "Wis ayo bali, Ning. Aku wis luwe, pengen mangan sambel korek gaweane sampeyan." (Sudah ayo pulang, Ning. Aku sudah lapar, ingin makan sambal korek buatan kalian.)

.

Matahari mulai condong ke barat, mengiringi langkah sang musafir rahasia itu kembali ke gubuk bambunya yang tenang, meninggalkan pasar sapi yang hari itu mencatat sejarah tentang keadilan langit.

Perjalanan pulang dari pasar sapi terasa lebih singkat. Meski Arjuna tidak membawa pulang uang atau barang mewah, wajahnya tampak sangat berseri-seri. Ning Siti dan Ning Aminah berjalan di sisi kanan dan kirinya, sesekali mereka melirik ke arah kambing kurus yang berjalan dengan tenang di depan mereka seolah-olah hewan itu baru saja memenangkan peperangan besar.

.

"Kang, kulo tesih gumun. Kok saged kewan ageng kados Raja Tanduk niku sujud? Padahal sampeyan mboten moco jopo montro nopo-nopo," (Kang, saya masih heran. Kok bisa hewan besar seperti Raja Tanduk itu sujud? Padahal Anda tidak baca doa atau mantra apa-apa,) tanya Ning Aminah sambil menatap wajah suaminya yang terlihat konyol namun berwibawa.

.

Arjuna tertawa pelan, suaranya menyatu dengan semilir angin sore. "Ning Aminah, kewan iku mripate mboten ditutupi duso koyo mripate menungso. Dheweke mboten ndelok aku nganggo kolor, nanging ndelok Nur sing diparingake Gusti Allah," (Ning Aminah, hewan itu matanya tidak ditutupi dosa seperti mata manusia. Dia tidak melihat aku memakai kolor, tapi melihat Cahaya/Nur yang diberikan Gusti Allah,) jawab Arjuna sambil menunjuk ke arah langit.

.

Siti Khumairoh hanya bisa menghela napas panjang. Ia teringat bagaimana tadi Juragan Karsa yang sombong itu sampai menangis tersedu-sedu. "Nyuwun sewu Kang, tapi nopo mboten mesakake Juragan Karsa? Sapi-sapine entek kabeh nggo wong mlarat," (Mohon maaf Kang, tapi apa tidak kasihan pada Juragan Karsa? Sapi-sapinya habis semua buat orang miskin,) tanya Ning Siti dengan rasa iba yang tersisa.

.

Arjuna berhenti melangkah, ia menatap Ning Siti dengan lembut. "Ning, niku dudu ngentekake bandane, nanging nylametake nyawane. Nek Juragan Karsa tetep sombong karo bandane sing haram, sesuk neng akhirat sing nyuduk dheweke dudu tanduk sapi, nanging genine neroko. Iki carane Gusti Allah ngresiki dheweke," (Ning, itu bukan menghabiskan hartanya, tapi menyelamatkan nyawanya. Kalau Juragan Karsa tetap sombong dengan hartanya yang haram, besok di akhirat yang menusuk dia bukan tanduk sapi, tapi apinya neraka. Ini caranya Gusti Allah membersihkan dia,) jelas Arjuna.

.

Kedua istrinya terdiam, menyadari betapa dalam ilmu yang dimiliki suami mereka. Arjuna mungkin terlihat seperti orang gila di mata dunia, tapi tindakannya selalu punya maksud yang menyelamatkan jiwa orang lain.

.

Sesampainya di depan gubuk, mereka melihat ada beberapa bungkus nasi dan lauk pauk yang diletakkan orang misterius di depan pintu. Sepertinya ada warga yang diam-diam menaruh makanan sebagai rasa terima kasih atas kejadian di pasar tadi.

.

"Walah! Niki rejeki nopo malih, Kang? Nembe wae sedekah sapi, saiki diparingi sego bungkus," (Walah! Ini rezeki apa lagi, Kang? Baru saja sedekah sapi, sekarang dikasih nasi bungkus,) seru Ning Aminah dengan wajah ceria.

.

Arjuna langsung duduk di tanah dan membuka satu bungkus nasi. "Iki jenenge balesan kontan soko Langit, Ning. Awake dhewe ngekei sapi, Gusti Allah ngekei sego. Sing penting weteng wareg, ati ayem, lan lathi tetep zikir," (Ini namanya balasan kontan dari Langit, Ning. Kita kasih sapi, Gusti Allah kasih nasi. Yang penting perut kenyang, hati tenang, dan lisan tetap zikir,) ucap Arjuna sambil mulai makan dengan lahapnya.

.

Sore itu, di gubuk bambu yang reyot, mereka bertiga makan bersama dengan penuh nikmat. Tidak ada kemewahan, tidak ada emas di tangan, namun kedamaian yang mereka rasakan jauh melebihi para raja di istana.

.

Arjuna melirik kambing kurusnya yang sedang tidur pulas di pojok kandang. "Turuo sing jenak, Le. Tugasmu dadi tentarane Gusti Allah wis bar nggo dino iki," (Tidurlah yang nyenyak, Nak. Tugasmu jadi tentaranya Gusti Allah sudah selesai untuk hari ini,) bisiknya pelan sambil tersenyum misterius.

.

Malam pun jatuh di desa itu, membawa sejuta rahasia tentang sang musafir yang tetap memilih menjadi "gila" demi menjaga kewarasan iman di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!