NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STRATEGI MELARIKAN DIRI DAN KENCAN YANG CANGGUNG

Malam setelah pertemuan dengan Clarissa adalah malam terpanjang dalam hidup Kira. Ia menghabiskan tiga jam hanya untuk menatap langit-langit apartemennya, sementara sisa-sisa aroma parfum Clarissa yang elegan seolah masih tertinggal di indra penciumannya—mengingatkannya akan standar yang tidak akan pernah bisa ia capai.

​"Cukup, Kira. Kamu bukan pecundang," bisiknya pada kegelapan.

​Pagi harinya, Kira bangun dengan tekad baru. Jika Arlan bisa bergerak maju dengan "si sempurna"

Clarissa, maka Kira juga harus bisa. Ia tidak boleh lagi menjadi satelit yang hanya berputar-putar di orbit Arlan. Ia harus menemukan dunianya sendiri.

​Langkah pertama: Jarak.

​Ia mulai dengan hal-hal kecil. Ia tidak lagi mengirimkan pesan "Sudah bangun?" atau "Jangan lupa sarapan" kepada Arlan. Ia juga menolak panggilan telepon Arlan di jam makan siang dengan alasan "rapat mendadak". Ia sengaja menyibukkan diri dengan proyek desain terbaru di kantornya, tenggelam dalam warna-warna dan tipografi hingga matanya perih.

​Langkah kedua: Orang Baru.

​Kira akhirnya mengunduh kembali aplikasi kencan yang sudah ia hapus setahun lalu. Setelah melewati puluhan profil yang membosankan, ia berhenti pada satu nama: Raka. Seorang fotografer lepas dengan senyum ramah dan hobi yang sama dengannya—menjelajahi kedai kopi tersembunyi.

​"Ayo kita coba," gumam Kira, jarinya menggeser ke kanan. Match.

​Sabtu malam tiba. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Sabtu malam Kira tidak dihabiskan dengan menonton film di apartemen Arlan sambil berebut popcorn. Kali ini, ia berdiri di depan sebuah kafe kecil di kawasan Kemang, menunggu Raka.

​Kira mengenakan celana jeans tinggi dan atasan sabrina berwarna biru muda. Ia ingin terlihat santai, berbeda dengan gaya formal yang ia paksakan saat bertemu Clarissa.

​"Kira?" sebuah suara ramah memanggilnya.

​Seorang pria dengan kamera yang melingkar di lehernya mendekat. Raka tampak lebih manis daripada di foto. Ia sopan, bicaranya teratur, dan yang terpenting: ia bukan Arlan.

​"Hai, Raka. Sudah lama?" tanya Kira sambil tersenyum tulus.

​"Baru lima menit. Ayo masuk, aku sudah pesan meja di luar agar kita bisa melihat langit," ajak Raka.

​Kencan itu sebenarnya berjalan sangat lancar.

Raka adalah pendengar yang baik. Ia menertawakan lelucon Kira dan bercerita tentang petualangannya memotret satwa liar di Kalimantan. Kira merasa dihargai sebagai seorang wanita, bukan sekadar "sahabat yang ceroboh".

​Namun, ada sebuah mekanisme di otak Kira yang tidak bisa berhenti bekerja. Setiap kali Raka tertawa, ia tanpa sadar membandingkannya dengan tawa rendah Arlan. Saat Raka menawarinya tisu, ia ingat bagaimana Arlan biasanya langsung mengusap noda di pipinya tanpa bertanya.

​"Kira? Kamu melamun?" tanya Raka lembut.

​"Eh, maaf. Aku cuma... terpukau sama cerita kamu," bohong Kira.

​Tepat saat itu, ponsel Kira di atas meja bergetar hebat. Nama Arlan muncul di layar. Satu panggilan, dua panggilan, hingga pesan singkat menyusul.

​Arlan: Kamu di mana? Aku di depan apartemen kamu bawa martabak manis kesukaanmu. Kok nggak ada?

​Kira menarik napas panjang. Jarinya gemetar saat mengetik balasan.

​Kira: Aku lagi keluar, Lan. Ada janji sama orang. Jangan nungguin.

​Hanya dalam hitungan detik, ponselnya kembali bergetar.

​Arlan: Sama siapa? Jam segini belum pulang? Pulang jam berapa? Aku tunggu.

​Kira memutar bola matanya. Sifat protektif Arlan yang biasanya terasa manis, malam ini terasa seperti belenggu. Ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.

​"Ada masalah?" Raka bertanya penuh perhatian.

​"Enggak, cuma teman yang agak... cerewet," jawab Kira singkat.

​Kencan berakhir pukul sepuluh malam. Raka mengantarnya pulang hingga ke lobi apartemen.

​"Terima kasih untuk malam ini, Kira. Aku harap kita bisa jalan lagi kapan-kapan," ucap Raka sebelum pamit.

​Kira mengangguk. "Terima kasih juga, Raka."

​Saat pintu lobi terbuka, Kira berharap bisa langsung naik ke kamarnya dan tidur. Namun, harapannya pupus saat ia melihat sosok pria jangkung sedang bersandar di pilar beton dekat parkiran, dengan sebuah kotak martabak yang sudah mendingin di tangannya. Wajah Arlan tampak gelap, lebih dingin dari udara malam itu.

​"Siapa dia?" tanya Arlan tanpa basa-basi begitu Kira mendekat.

​"Astaga, Arlan! Kamu masih di sini? Aku kan sudah bilang jangan nunggu," seru Kira kesal.

​"Aku tanya, siapa pria tadi? Kenapa kamu mematikan ponsel?" Arlan melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Tatapannya tajam, menginterogasi setiap inci wajah Kira.

​"Dia Raka. Teman kencanku. Dan aku matikan ponsel karena aku lagi kencan, Lan! Nggak sopan kalau main HP terus," balas Kira, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

​Arlan mendengus sinis. "Teman kencan? Sejak kapan kamu cari pacar lewat aplikasi sampah seperti itu? Kamu bahkan nggak kenal dia, Ra. Bagaimana kalau dia orang jahat?"

​"Dia orang baik, Lan! Dan kenapa kamu jadi emosi begini? Kamu sendiri punya Clarissa, kan? Kamu jalan sama dia, makan malam sama dia, bahkan mungkin sebentar lagi kamu bakal jadian sama dia. Kenapa aku nggak boleh?"

​Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kira. Semua rasa sesak yang ia simpan selama berhari-hari meledak di depan wajah Arlan.

​Arlan terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap kotak martabak di tangannya, lalu menatap Kira kembali dengan tatapan yang sulit diartikan—antara marah, cemburu, dan sesuatu yang menyerupai rasa takut.

​"Ini beda, Ra," ucap Arlan rendah.

​"Bedanya di mana? Kamu boleh bahagia, tapi aku harus tetap tinggal di sini nungguin kamu setiap kali kamu butuh? Aku bukan boneka kamu, Lan. Aku juga mau dicintai sebagai wanita, bukan cuma dianggap sebagai adik atau sahabat yang butuh dipantau terus!"

​Air mata mulai menggenang di mata Kira. Ia tidak ingin menangis di depan Arlan, tapi rasa sakit itu sudah tidak terbendung.

​"Kira, aku cuma nggak mau kamu salah pilih orang..." suara Arlan melunak, tangannya terulur ingin menyentuh bahu Kira, namun Kira mundur satu langkah.

​"Cukup, Lan. Pulanglah. Clarissa pasti nunggu kabar kamu," ucap Kira lirih. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju lift tanpa menoleh lagi.

​Arlan berdiri mematung di parkiran yang sepi. Ia menatap punggung Kira yang menghilang di balik pintu lift. Kotak martabak di tangannya kini terasa sangat berat, seberat perasaan asing yang mulai menggerogoti hatinya. Selama sebelas tahun, ia selalu merasa memiliki Kira. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasa jarak di antara mereka jauh lebih lebar daripada jarak Jakarta ke London.

​Ia menyadari satu hal: ia membenci Raka. Dan ia lebih membenci dirinya sendiri karena tidak tahu mengapa ia merasa sefrustrasi ini melihat Kira tersenyum pada pria lain.

​Di dalam lift, Kira menyeka air matanya. Ia tahu, mulai malam ini, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi. Perang dingin telah dimulai, dan ia harus siap untuk itu.

1
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!