NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Main

Cahaya matahari yang pucat berusaha menembus kaca jendela mansion yang tebal, namun hanya mampu menciptakan garis-garis redup di atas lantai marmer. Shabiya terbangun dengan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia menoleh ke samping, sisi tempat tidur itu sudah kosong, namun bekas lekukan tubuh dan aroma alkohol yang tertinggal menjadi bukti bisu bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi buruk biasa.

Ia bangkit dengan tubuh yang terasa remuk, berjalan menuju kamar mandi yang luasnya hampir menyamai luas apartemen kecilnya dulu. Di sana, di atas meja wastafel, sebuah amplop hitam dengan stempel lilin perak berlogo keluarga Gemilar telah menunggu.

Shabiya membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat selembar kertas linen tebal berisi tulisan tangan yang rapi, tajam, dan penuh otoritas. Itu bukan surat cinta, melainkan daftar protokol operasional bagi kehidupannya yang baru.

Shabiya membaca baris demi baris aturan itu dengan air mata yang mulai membendung di pelupuk mata. Setiap poin terasa seperti paku yang memaku kebebasannya ke dinding mansion ini.

Penampilan Fisik : Rambut tidak boleh dipotong lebih pendek dari garis pinggang. Penataan rambut harus dilakukan oleh penata rias pribadi setiap pagi pukul 07.00.

Aroma Tubuh : Penggunaan parfum selain varian 'Jasmine Absolute' yang telah disediakan di meja rias adalah pelanggaran berat.

Akses Ruang : Seluruh area lantai tiga adalah zona terlarang. Terutama ruang kerja utama Galen Abraar Gemilar.

Komunikasi : Perangkat seluler hanya boleh digunakan di bawah pengawasan Arsen. Tidak ada unggahan ke media sosial dalam bentuk apa pun.

Interaksi Sosial : Setiap kunjungan dari pihak keluarga atau teman harus melalui persetujuan tertulis 48 jam sebelumnya.

Shabiya meremas kertas itu hingga lecek. "Aku bukan istrimu, Galen... aku tahananmu," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin yang kini tampak asing dengan gaun tidur sutra berwarna putih pucat.

Setelah menetralkan emosinya, Shabiya turun ke ruang makan dengan langkah ragu. Ruangan itu begitu luas hingga suara gesekan kursinya saat ditarik menimbulkan gema yang tidak nyaman. Galen sudah duduk di ujung meja, sedang membaca laporan pasar saham di tabletnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.

Ia tampak sangat segar, seolah-olah depresi dan kegilaan yang ia tunjukkan semalam hanyalah halusinasi Shabiya. Jas abu-abu gelapnya terpasang sempurna, tanpa ada satu pun kerutan.

"Duduklah," ucap Galen tanpa mengangkat wajah. "Kau terlambat tujuh menit dari jadwal sarapan."

"Aku tidak terbiasa dengan jadwal militer, Galen," balas Shabiya, mencoba menunjukkan keberanian yang tersisa.

Galen meletakkan tabletnya perlahan. Ia menatap Shabiya, matanya menyapu wajah gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia sedikit mengernyit saat melihat rambut Shabiya yang agak berantakan.

"Arsen," panggil Galen pelan.

Arsen yang berdiri di sudut ruangan segera mendekat. "Ya, Tuan?"

"Pastikan penata rias datang sepuluh menit lebih awal besok. Aku tidak suka melihatnya tampak seperti baru saja keluar dari badai."

Shabiya menggebrak meja dengan pelan. "Aku bisa mengurus rambutku sendiri! Dan parfum itu... aku benci baunya. Itu membuatku pusing."

Galen berdiri, berjalan perlahan mengitari meja panjang itu hingga ia berada tepat di belakang kursi Shabiya. Ia membungkuk, menempelkan hidungnya ke rambut Shabiya, menghirup aroma yang seharusnya adalah melati namun masih bercampur dengan aroma sampo asli Shabiya.

"Aku tidak bertanya apakah kau suka atau tidak, Shabiya," bisik Galen tepat di telinganya. Tangannya yang dingin mengusap helai rambut Shabiya yang panjang. "Aku memberikanmu kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang di seluruh dunia. Sebagai gantinya, aku hanya meminta satu hal, patutlah atas segala hal yang aku tetapkan."

"Kenapa kau begitu terobsesi dengan penampilanku?" Shabiya berbalik, menatap langsung ke mata Galen yang sedingin es. "Kenapa aku tidak boleh memotong rambutku? Kenapa harus parfum itu?"

Galen mencengkeram bahu Shabiya, tidak cukup kuat untuk menyakiti, tapi cukup tegas untuk mengintimidasi. "Karena kecantikan adalah tentang simetri dan memori. Jika kau merusak simetri itu, kau merusak memori yang sedang aku jaga. Dan aku benci jika ada sesuatu yang rusak di rumahku."

Galen melepaskan cengkeramannya dan kembali ke posisinya. "Arsen akan menemanimu berkeliling taman hari ini. Jangan mencoba mendekati sayap utara lantai tiga. Jika kau melanggar, ada konsekuensi yang tidak akan disukai oleh ayahmu."

Penyebutan kata 'ayah' membuat Shabiya terbungkam. Ia tahu Galen tidak sedang menggertak. Percakapan itu berhenti begitu saja dengan tatapan sinis dari Shabiya.

Taman Labirin.

Siang harinya, Arsen mengawal Shabiya berjalan di taman belakang yang menyerupai labirin Inggris. Pohon-pohon tinggi yang dipangkas rapi menghalangi pandangan ke luar tembok mansion. Shabiya merasa seperti tikus di dalam percobaan laboratorium.

"Kenapa dia melakukan ini, Arsen?" tanya Shabiya saat mereka berjalan di antara mawar-mawar putih yang pucat. "Kau sudah lama bersamanya. Kau pasti tahu siapa wanita di dalam foto-foto yang ia sembunyikan."

Arsen tetap menatap lurus ke depan. "Tuan Galen adalah pria yang sulit melepaskan sesuatu yang ia anggap berharga, Nona."

"Dia menganggapku berharga? Tidak, dia menganggap wajahku berharga. Dia hanya sedang mencoba menghapus diriku dan menggantinya dengan orang lain." Shabiya berhenti melangkah, menatap Arsen dengan tatapan memohon. "Siapa Thana? Kenapa namanya begitu disegani di sini?"

Langkah Arsen terhenti sejenak. Ada kilatan keraguan di matanya, sebuah retakan kecil pada topeng profesionalitasnya. "Nona Thana adalah... segalanya bagi Tuan Galen. Sebelum dia pergi, Tuan adalah pria yang berbeda. Sekarang, dia hanya seorang yang mencoba membangun kembali reruntuhan yang sudah hancur."

"Dengan caraku?"

"Tugas saya hanya memastikan Anda aman dan mengikuti aturan, Nona. Saya sarankan Anda jangan terlalu banyak bertanya. Di rumah ini, keingintahuan adalah mata uang yang sangat mahal harganya."

Meski masih penasaran, Shabiya memilih untuk diam. Tapi semesta selalu membawa dia mencapai keinginannya.

Malam harinya, saat Galen pergi untuk urusan bisnis yang mendesak, rasa penasaran Shabiya mencapai puncaknya. Ia berdiri di kaki tangga menuju lantai tiga. Arsen sedang berada di ruang monitor di lantai bawah, dan para pelayan sedang sibuk di dapur.

Dengan langkah yang hampir tidak bersuara, Shabiya menaiki anak tangga satu per satu. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia sedang melakukan kejahatan besar. Lantai tiga berbeda dengan lantai lainnya. Di sini, udara terasa lebih dingin dan pencahayaannya menggunakan lampu dinding bergaya klasik yang memberikan rona kemerahan yang mistis.

Hanya ada satu pintu besar di ujung koridor. Pintu kayu jati dengan ukiran yang sangat rumit. Shabiya mendekat, tangannya sudah memegang gagang pintu yang terasa membeku.

*Jangan masuk ke ruang kerja Galen.* Aturan nomor tiga terngiang di kepalanya.

Namun, sebelum jemarinya memutar gagang pintu, sebuah suara dingin memecah keheningan koridor.

"Keingintahuanmu akan menjadi kehancuranmu, Shabiya."

Shabiya tersentak hebat dan berbalik. Seorang pria bertubuh jangkung mengagetkannya. Dan jiga Shabiya tidak salah ingat, dia adalah sepupu suaminya dan namanya adalah Rigel. Rigel Akhtar Saharsa. Pria itu berdiri di sana, bersandar di dinding dengan tangan terlipat. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja putih dengan kancing atas terbuka. Senyumnya tipis, tidak sedingin Galen, tapi tetap menyimpan aura misteri.

"Rigel... aku hanya..."

"Kau hanya ingin tahu apa yang disembunyikan kakak sepupuku di dalam sana?" Rigel berjalan mendekat, langkahnya santai. "Saran dariku ... jangan buka pintu itu. Di dalam sana bukan hanya ada dokumen bisnis. Di dalam sana ada hantu yang belum siap kau hadapi."

"Kenapa kalian semua memperlakukanku seperti anak kecil? Aku istrisnya!" seru Shabiya frustrasi.

Rigel tertawa, suara yang sedikit lebih hangat daripada suasana mansion ini. "Istri? Shabiya, kau adalah karya seni terbaru dalam koleksi Galen. Dan karya seni tidak butuh penjelasan, mereka hanya butuh dipajang."

Rigel menarik tangan Shabiya menjauh dari pintu itu. "Ayo turun sebelum Arsen melihatmu di sini. Galen bisa menghancurkan bisnis ayahmu dalam semalam, tapi jika dia tahu kau menyentuh ruang kerjanya, dia bisa melakukan hal yang jauh lebih buruk daripada sekadar kebangkrutan."

Shabiya membiarkan dirinya dituntun turun, namun matanya tetap melirik ke arah pintu jati itu. Ia menyadari satu hal, aturan-aturan yang dibuat oleh Galen bukan untuk melindunginya, melainkan untuk menjaga delusi pria itu.

Malam itu, Shabiya tidur dengan aroma melati yang dipaksakan melekat di kulitnya. Ia menyadari bahwa di rumah ini, ia bukan lagi seorang manusia dengan kehendak bebas. Ia adalah bagian dari dekorasi, sebuah manekin yang harus selalu tampil sempurna, tidak boleh bicara tanpa izin, dan tidak boleh memiliki masa lalu.

Galen telah menetapkan aturan mainnya. Dan Shabiya baru saja menyadari bahwa dalam permainan ini, ia sudah kalah sejak langkah pertama dimulai. Di luar, angin malam menderu, seolah-olah berbisik memperingatkan bahwa sang pemilik kegelapan tidak akan membiarkan bayang-bayangnya melarikan diri dari sangkar emas yang telah ia bangun dengan begitu sempurna.

1
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!