Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat
Aku menoleh ke asal suara. Seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun, dia juga tengah menatapku dengan netra berbinar.
“Jadi ini pacarnya bang Aydan?” tanya gadis yang menggandeng lengan Kim Taehyung kw.
Lah?
Sontak Aku kembali menoleh gadis cantik itu dengan alis mengerut, Aku melihat mereka secara bergantian. Ketiganya menatap ke arahku dengan senyum sumringah, kecuali manusia masker. Aku tidak tahu sedang ekspresi apa wajahnya dalam masker hitam itu.
Gadis kecil yang tadinya berdiri di ambang pintu, tiba-tiba menggandeng lenganku. “Kakak pacarnya bang Aydan ‘kan?” tanyanya lagi.
Mataku kontan membola.
Maksudnya?
“Bukan!” sahut datar manusia masker.
“Ah pasti pacarnya! Abang ngaku aja deh!” ujar gadis kecil itu tidak mau kalah.
“Aisyah!” tegur Aydan tegas tapi lembut.
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.
“Hm— masih calon.” cicitku.
“Tuh ‘kan!”
Gadis cantik yang menggandeng lengan Aydan pun mendekatiku, lalu mengulurkan tangan kanannya, “Kak, kenalin namaku Aaliyah!”
Aku langsung menyambut jabatan tangannya. Calon adik ipar nih. Ups!
“Aku adik perempuan pertama bang Aydan, tapi anak ketiganya Ummi.” lanjutnya lagi, membuatku tiba-tiba berpikir keras.
Sedangkan manusia masker sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu meninggalkan kami yang masih sedang berkenalan.
“Kalo Aku adik perempuan kedua bang Aydan, anak keempatnya Ummi.” kata gadis yang lebih kecil.
Aku yang sudah bingung sejak Aaliyah mengenalkan diri, ditambah bingung setelah Aisyah ikut mengenalkan dirinya.
Mereka pun tertawa kecil melihat wajahku yang tengah kebingungan.
“Kakak jangan bingung,” kata Aaliyah seolah tahu isi kepalaku. “Anak kedua Ummi tuh cowok. Tapi dia sudah pulang lima tahun yang lalu, makanya Aku jadi adik perempuan pertamanya bang Aydan dan anak ketiganya Ummi.”
“Pulang?” spontan Aku membeo.
“Kata Ummi pulang ke Syurga.” bisik Aisyah.
Aku terdiam cukup lama, ternyata itu arti dari ucapan Ummi Lailatul tadi pagi.
“Kakak lucu banget sih,” ungkap Aaliyah, “Nama Kakak siapa?”
“Namaku Kim Dinda.”
“Apa?” tanya keduanya serempak.
“Ah maksudnya, namaku Adinda.” ulangku.
Sengaja Aku tambah A di depan namaku, biar samaan kayak nama anak-anak Ummi Lailatul.
“Tapi panggil aja Dinda.” Aku menambahi.
Keduanya mengangguk seraya ber-Oh ria.
“Ayo Kak Dinda, kita masuk sekarang.” ajak Aisyah.
Kedua gadis cantik itu menggandeng kedua lenganku. Sebelah kanan Aisyah, sebelah kiri Aaliyah.
‘Oh begini rasanya punya saudara perempuan?’ Aku membatin. Seru juga!
Saat memasuki rumah mewah itu, mataku terbelalak. Ternyata suasananya tidak seseram dalam bayanganku. Bahkan terasa nyaman dan hangat juga seperti rumah mewah yang sering Aku lihat di internet.
Aku menangkap sosok manusia masker yang tidak memakai masker lagi tapi kini dia memakai kacamata baca, ish kenapa jadi tambah ganteng sih? lelaki itu duduk di ayunan sembari membaca buku di pojok ruangan dan di sampingnya berjejer berbagai jenis buku-buku.
“Kakak mau deketin bang Aydan?” kata Aisyah, sontak Aku menelan salivaku. Pasti dia menyadari Aku memandangi Abangnya terlalu lama. Aku memejamkan mataku dan melipat bibirku ke dalam.
Aku menggeleng cepat. “Kakak mau lihat Ibu—”
“Sudah Kakak jangan malu-malu.” kata Aaliyah, keduanya menyeretku mendekati Abangnya.
“Abang, Kak Dinda mau bicara.” kata Aisyah.
Mataku membola. Matilah Aku!
“Aku sibuk.” jawab lelaki itu dingin.
“Ya nggak papa, nanti Kak Dinda temenin.” ujar Aaliyah dan mengambilkan kursi untukku. “Ayo Kak, silahkan duduk.”
Aku hanya bergeming, tapi kedua gadis itu memaksaku sampai bokongku terjatuh di kursi empuk itu.
“Kak Dinda, mau minum apa?”
Aku kembali berdiri, namun keduanya menekan pundakku pelan tapi berhasil membuatku terduduk lagi.
“Kakak jangan sungkan, Kak Dinda tamu pertama cewek yang bang Aydan kenalin di keluarga kita. Jadi kita tuh seneng banget bang Aydan bawa pacarnya ke rumah.” cerocos Aisyah.
Buk!
Kim Taehyung kw menutup buku tebalnya dengan kasar.
“Berisik!” ucapnya dan pergi membawa bukunya.
Aku juga kedua gadis itu terdiam, dan hanya menatap manusia kulkas itu sampai menaiki tangga hingga masuk ke dalam salah satu kamar.
Dih! Sok banget! Kalau bukan karena tiket konser BTS, ogah Aku deketin lelaki macam dia.
“Sabar-sabar ya Kak, sama Bang Aydan. Dia memang selalu banyak pikiran.” kata Aaliyah dengan wajah khas tidak enakkan.
Aku memberikan jempolku, “Santai aja. Aman kok, aman.”
Kami bertiga kembali mengobrol tanpa manusia kulkas. Ternyata adik-adiknya asyik juga, satu frekuensi nih kita, sangat berbanding terbalik dengan Abangnya.
Huh!
“Loh, ada Dinda?” suara halus dan lembut itu menyapa indera pendengaranku.
Aku berdiri dan mencium punggung tangan Ummi Lailatul.
“Sudah lama?” tanya wanita paruh baya itu.
“Baru aja, Ummi.” jawabku singkat.
Ummi Lailatul mengelus punggung tanganku yang belum dilepaskannya saat kami bersalaman tadi, “Maaf ya jadi merepotkan ibu El, tadinya Ummi mau pesan catering untuk acara nanti malam, tapi Ibu kamu bilang, masak sendiri aja dan dibantu sama ibu-ibu di sini sambil kenalan katanya.”
Aku hanya manggut-manggut, memang seperti itulah watak Ibu Elyana. “Iya nggak papa, Ummi.”
Ummi Lailatul hanya membalas dengan senyum manis.
“Oh iya,” kini atensi Ummi Lailatul jatuh kepada kedua putrinya, “Al, Cha, mana Abang kalian?”
“Di kamarnya Ummi.” jawab Aisyah cepat.
“Suruh Abang beli gula, Nak. Bilang pakai motor aja soalnya butuh cepat.” titah Ummi Lailatul.
Aaliyah langsung menghubungi manusia kulkas melalui ponselnya. Hanya dalam waktu dua menit, lelaki itu sudah menuruni anak tangga. Tentu dengan masker hitamnya.
“Ayo Al, ikut!” katanya saat sudah mendekat.
“Nggak mau, Abang! Kata Ummi perginya pakai motor.”
“Yaudah Aisyah aja.” katanya lagi.
“Icha juga nggak mau, Abang. Icha juga takut naik motor.” Aisyah pun menolak.
Ummi Lailatul menatapku, “Dinda, bisa temenin Mas Aydanmu beli gula?”
Aku menoleh ke arah manusia masker yang tengah membuang wajahnya saat tahu Aku melihat ke arahnya.
“Aaliyah sama Aisyah trauma naik motor, kamu bisa bantu Ummi ‘kan, Dinda? Dan juga mungkin Aydan belum terlalu tahu dengan jalan warung daerah sini.” pinta Ummi Lailatul yang sulit kutolak.
Dan...
Di sinilah Aku sekarang. Di belakang pemilik bahu lebar, siapa lagi kalau bukan Kim Taehyung kw. Aku sengaja menunjukkan warung paling jauh dan kami juga hanya berputar-putar daerah luar komplek perumahan, hanya saja Aku menunjukkan jalan yang beda.
“Belok mana?” tanyanya saat dipersimpangan jalan.
“Belok kanan.”
Sesekali Aku mendengar helaan napas lelaki itu. Sontak Aku tertawa jahat.
Sudah cukup lama dan cuaca sudah mulai panas, pun tanganku lumayan capek berpegangan dengan behel motor, jadi Aku sudahi dulu kebersamaan kami.
“Dekat pom bensin mini itu, belok kiri.” ucapku.
Dia langsung memarkirkan motornya di samping warung yang sudah kami lewati tiga kali.
“Kamu mengerjaiku?” ucapnya dingin saat turun dari motor.
Aku menegang, ternyata dia sadar?
“Oh, benarkah?” Aku menjawab meski dia sudah berjalan lebih dulu mendekati warung.
“Mau beli apa, Mas?” tanya ibu warung.
“Beli gula, Bu.” jawabnya.
“Gula apa?”
Aku yang hanya menunggu di motor pun hanya menyimak. Dan kulihat manusia masker itu menggaruk dahinya.
“Memangnya ada gula apa aja, Bu?”
“Ada gula pasir, gula aren, gula batu, ada juga gula halus.” jawab Ibu warung.
“Gula pasir aja, Bu.”
“Beneran?”
“Sebentar ya, Bu.” katanya sopan.
Aku lihat manusia masker itu menghubungi seseorang dari ponselnya. Namun sepertinya tidak diangkat.
“Ya udah beli semuanya aja, Bu.” putus manusia masker.
Kontan Aku tertawa mendengarnya.
Dasar!
Aku mendekat untuk membantu. Kalau salah beli Aku juga yang jadi sasaran karena kesalahan dia. Untung tadi Aku sempat bertanya dengan Ummi Lailatul. Berbeda dengan manusia masker yang tanpa bertanya langsung berjalan menuju motornya dengan wajah datarnya itu.
“Eh Dinda, mau beli apa?” tanya ibu warung saat melihatku.
“Mau beli gula aren satu kilo, Bu.”
“Dinda belanja bareng Mas ini ya?”
“Iya.”
“Oh pacarnya?” tanya ibu itu lagi sembari menimbang gula pesanan kami.
“Bukan, Bu. Orang ini tetangga baru samping rumah.”
“Oh yang rumah gedong itu? Iya iya, Ibu juga dapet undangan untuk ntar malem.”
“Jadi berapa, Bu?” tanyaku saat ibu warung mengulurkan plastik putih berisi gula aren.
“Empat puluh lima ribu aja, Din.”
AJA katanya?
“Kok mahal banget, Bu. Kurangin ya? Dua puluh ribu aja gimana?” Aku menawar.
“Dinda!” tegur manusia masker.
Aku terkejut, pertama kali lelaki itu memanggil namaku, lantas Aku menoleh. “Ya, Kakanda?”
***
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍