NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — MALAM PERTAMA

Sore itu, senja turun di Desa Wanasari dengan warna yang tidak wajar. Bukan jingga keemasan seperti di kota, melainkan merah tembaga yang keruh, seolah matahari sedang berdarah di ufuk barat sebelum mati ditelan hutan.

​Di dalam kamar laki-laki yang pengap, Bima terbaring di atas kasur tipis. Tubuhnya yang biasanya kokoh dan penuh otot kini meringkuk seperti janin. Wajahnya pucat pasi, namun bibirnya merah merekah seakan baru saja memakan buah delima—atau meminum darah.

​"Gimana, Bim? Masih mual?" tanya Dion sambil mengganti kompres di dahi temannya. Kain itu panas dalam hitungan detik, menyerap demam tinggi yang membakar tubuh Bima.

​Bima tidak menjawab. Matanya terbuka setengah, menatap kosong ke sudut ruangan tempat sarang laba-laba bergoyang pelan tertiup angin celah dinding. Napasnya berat dan berbunyi grok-grok, seperti ada lendir tebal yang menyumbat tenggorokan.

​"Rambut tadi..." Bima berbisik, suaranya parau dan asing. "Rasanya... panjang. Nggak putus-putus pas gue tarik dari tenggorokan."

​Dion merinding. Ia bertukar pandang dengan Raka yang duduk di kusen jendela sambil merokok gelisah. Asap rokok Raka mengepul tebal, tidak langsung hilang, melainkan menggantung rendah di udara kamar.

​"Keracunan makanan kali," ujar Raka, mencoba terdengar rasional, meski tangannya yang memegang rokok sedikit gemetar. "Atau reaksi alergi sama jamu si Ibu itu."

​"Alergi nggak bikin orang muntah rambut segepok, Rak," sanggah Dion tajam. Ia menutup buku jurnalnya dengan keras. "Dan lo liat nggak tatapan warga pas kita gotong Bima balik? Mereka nggak kaget. Mereka kayak... lega."

​Suasana hening kembali. Hanya suara jangkrik yang mulai mengerik di luar, satu per satu, bersahutan dengan suara gesekan daun bambu yang saling beradu ditiup angin malam.

​Di ruang tengah, Nara sedang berdebat pelan dengan Siska.

​"Kita harus lapor Pak Kades, Nar. Atau cari bidan desa. Bima butuh medis," desak Siska. Wajah gadis itu tegang di balik mukenanya. Ia baru saja selesai sholat Maghrib, tapi ketenangannya tak bertahan lama.

​"Pak Wiryo bilang dokter puskesmas cuma dateng seminggu sekali, Sis. Itu pun hari Kamis. Sekarang baru Senin," Nara memijat pelipisnya. Pening di kepalanya belum hilang sejak pagi. "Dan jujur, gue ngerasa nggak aman kalau kita minta tolong sama mereka sekarang. Lo liat sendiri reaksi Bu Kanti tadi."

​"Terus kita diem aja nunggu Bima mati?"

​"Nggak ada yang bakal mati," potong Nara tegas, meski hatinya mencelos ragu. "Besok pagi kita coba cari sinyal lagi di bukit belakang. Kita panggil bantuan dari luar. Malam ini... kita bertahan dulu. Kunci semua pintu."

​Malam merambat naik. Pukul sembilan malam, suasana desa sudah mati total. Tidak ada suara televisi dari rumah tetangga, tidak ada suara motor. Hanya kegelapan pekat yang menelan segalanya di luar radius cahaya lampu 5 watt di teras joglo.

​Lala keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk melilit di leher. Ia memakai daster tipis selutut. Kulitnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu kuning yang redup.

​"Gerah banget gila," keluh Lala, mengibaskan ujung dasternya. "Air di sumur belakang dingin banget, tapi pas dipake mandi malah bikin badan anget. Aneh nggak sih?"

​Raka, yang baru keluar dari kamar untuk mengambil minum, terpaku sejenak. Matanya menyusuri leher jenjang Lala, turun ke tulang selangka yang terekspos, lalu ke lekuk tubuh yang samar di balik kain tipis.

​Biasanya, Raka akan melontarkan joke genit. Tapi malam ini, hasrat yang muncul di perutnya terasa berbeda. Bukan sekadar ketertarikan fisik biasa. Rasanya seperti lapar. Ada dorongan impulsif untuk mendekat, untuk menyentuh kulit itu, untuk memastikan apakah teksturnya sehalus kelihatannya.

​"Lo... nggak takut mandi malem-malem di belakang sendirian?" tanya Raka, suaranya serak.

​Lala menoleh, tersenyum. Matanya yang bulat tampak lebih gelap dari biasanya. "Tadinya takut. Tapi pas udah di deket sumur... rasanya tenang, Rak. Airnya kayak manggil."

​Lala melangkah mendekat. Aroma sabun mandi bercampur bau tanah basah menguar dari tubuhnya. Ia berhenti tepat di depan Raka, jarak wajah mereka hanya sejengkal. "Lo mau coba mandi juga? Seger lho."

​Napas Raka tertahan. Jantungnya memalu rongga dada. Logikanya berteriak mundur, tapi kakinya seperti dipaku ke lantai.

​"Ehem."

​Dehaman keras dari Nara memecahkan gelembung ketegangan aneh itu. Nara berdiri di ambang pintu kamar perempuan, menatap mereka tajam.

​"Lala, masuk kamar. Udah malem. Pakai baju yang bener," perintah Nara dingin. "Raka, abisin minum lo, terus tidur. Inget aturan jam dua belas."

​Lala mengerjap, seolah baru sadar dari lamunan. Senyum aneh itu hilang, berganti dengan ekspresi bingung sesaat. "Iya, Nar. Galak amat."

​Gadis itu berlalu masuk kamar, meninggalkan Raka yang berdiri mematung dengan keringat dingin mengalir di punggung. Raka menatap gelas di tangannya. Tangannya gemetar begitu hebat hingga air di dalamnya tumpah sedikit.

​Apa-apaan barusan? batin Raka. Kenapa gue pengen banget nyekik dia... sambil nyium dia?

​Pukul 23.55.

​Nara memastikan semua pintu sudah terkunci. Pintu depan, pintu samping, pintu belakang. Jendela-jendela kayu tebal sudah dipalang.

​Rumah joglo itu terasa seperti benteng—atau peti mati raksasa.

​Di kamar perempuan, Siska sudah tidur meringkuk menghadap tembok, memeluk tasbihnya. Lala tidur telentang, napasnya teratur namun berat. Nara berbaring di sisi paling luar, matanya menatap jam dinding tua yang tergantung miring di dinding kayu.

​Jarum detik berdetak nyaring. Tek... tek... tek...

​Suara itu seperti hitungan mundur.

​Nara teringat aturan Pak Wiryo. Tidak keluar setelah kentongan berbunyi dua belas kali.

​Tepat saat jarum panjang dan jarum pendek bertemu di angka dua belas, suara mesin genset di kejauhan mati mendadak. Bukan pelan-pelan meredup, tapi putus seketika.

​Kegelapan total menghantam.

​Nara menahan napas. Matanya berusaha beradaptasi, tapi nihil. Gelap di desa ini berbeda. Gelapnya pekat, padat, dan menekan bola mata.

​Lalu, suara itu datang.

​Teng... teng... teng...

​Suara kentongan bambu dipukul dari pos ronda. Iramanya lambat, bergaung di lembah, memantul di antara pepohonan hutan.

​Satu... Dua... Tiga...

​Nara menghitung dalam hati. Jantungnya berpacu seirama dengan pukulan kentongan.

​Sepuluh... Sebelas... Dua belas.

​Hening.

​Dan di detik keheningan itu pecah, Nara mendengar suara gesekan kain di sebelahnya.

​Lala bangun.

​"La?" bisik Nara. "Lo mau ke mana?"

​Tidak ada jawaban.

​Dalam kegelapan, Nara bisa merasakan pergerakan Lala. Gadis itu tidak meraba-raba mencari jalan seperti orang buta. Ia bergerak luwes, turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara per di kasur tua itu.

​Nara menyalakan layar ponselnya. Cahaya biru redup menyinari ruangan sekilas.

​Darah Nara berdesir hebat.

​Lala berdiri di tengah kamar. Matanya terbuka lebar, tapi tidak ada pupil maupun iris. Semuanya putih. Bibirnya tersenyum lebar, senyum yang menarik otot wajahnya terlalu kencang hingga terlihat menyakitkan.

​Lala tidak melihat ke arah Nara. Ia melihat ke arah sudut kamar yang kosong di atas lemari.

​"Udah siap..." bisik Lala. Suaranya bukan suara cempreng khas Lala. Suaranya rendah, berat, dan basah.

​Nara ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Tubuhnya kaku, terjangkit kelumpuhan tidur (sleep paralysis) meski ia sadar sepenuhnya.

​Lala mulai berjalan. Bukan ke pintu, tapi ke arah tembok kayu. Ia menempelkan wajahnya ke papan kayu yang kasar, lalu mengelusnya pelan, sensual, seolah papan kayu itu adalah kulit kekasih.

​"Sabar..." desis Lala lagi. "Satu per satu..."

​Nara memejamkan mata rapat-rapat, berdoa dalam hati, mengabaikan logika rasionalnya yang runtuh malam itu.

​Di kamar sebelah, Raka tidak mendengar suara kentongan. Ia sudah jatuh dalam tidur yang tak wajar segera setelah lampu padam.

​Dalam tidurnya, Raka tidak berada di kasur kapuk yang keras.

​Ia berdiri di halaman belakang joglo. Bulan purnama bersinar terang di atas kepala, cahayanya perak menyilaukan, membuat bayangan pohon pisang terlihat seperti tangan-tangan raksasa di tanah.

​Di hadapannya, ada sumur tua itu.

​Sumur yang seharusnya ditutup papan kayu, kini terbuka menganga.

​Tidak ada suara angin. Tidak ada suara serangga. Sepi yang mutlak.

​Raka melangkah mendekat. Ia tidak ingin, tapi kakinya bergerak sendiri. Ada tali yang tak kasat mata melilit pinggangnya, menariknya ke bibir sumur.

​Aroma itu tercium lagi. Bau anyir besi, bercampur harum melati yang sangat manis hingga membuat pusing.

​Raka mencondongkan tubuh, melihat ke dalam lubang hitam itu.

​Di kedalaman sana, air sumur tidak hitam. Airnya bercahaya redup dari dalam. Dan perlahan, permukaan air itu pecah.

​Sebuah kepala muncul. Rambut hitam panjang mengambang seperti rumput laut. Kulit pucat seputih porselen.

​Sosok itu mendongak.

​Itu seorang wanita. Wajahnya cantik luar biasa, kecantikan klasik yang menyakitkan untuk dilihat. Namun saat ia membuka mata, Raka tersentak.

​Matanya hitam legam. Tidak ada bagian putih sama sekali. Seperti lubang tanpa dasar yang menyedot jiwa.

​Wanita itu tersenyum. Giginya hitam, seperti orang yang mengunyah sirih, tapi Raka melihat ada noda merah di sana.

​"Mas Raka..." panggil wanita itu. Suaranya tidak bergema di sumur, tapi langsung terdengar di dalam kepala Raka. Jernih. Menggoda. "Sini... turun. Di sini hangat."

​"Siapa kamu?" Raka mencoba bertanya, tapi mulutnya bisu.

​Wanita itu mengangkat tangan dari dalam air. Tangannya basah, kurus, dan panjang. Jari-jarinya meraih bibir sumur, mencengkeram batu berlumut itu. Ia mulai memanjat naik.

​Gerakannya patah-patah, seperti laba-laba. Bahunya yang telanjang muncul, lalu dadanya yang tertutup kemben basah yang mencetak segalanya.

​Hasrat meledak di selangkangan Raka, panas dan menyiksa, bertabrakan dengan teror dingin yang membekukan darahnya. Ia ereksi, tapi ia juga ingin menangis ketakutan.

​Wanita itu kini duduk di bibir sumur. Kakinya menjuntai ke dalam. Ia mengulurkan tangan ke arah Raka.

​"Kau mau, kan?" bisiknya. "Kau mau mencicipi...?"

​Raka mengulurkan tangan. Ia tidak bisa menahan diri. Ia ingin menyentuh kulit pucat yang basah itu. Ia ingin tahu rasanya.

​Jari mereka bersentuhan.

​DINGIN.

​Raka tersentak bangun.

​"HAH!"

​Ia duduk tegak di kasurnya, napasnya memburu seperti orang yang baru lari maraton. Jantungnya serasa mau meledak.

​Gelap. Kamar itu gelap gulita. Bima masih mendengkur kasar di kasur sebelah. Dion bernapas teratur.

​Raka meraba wajahnya. Basah oleh keringat. Ia meraba dadanya, mencoba menenangkan diri.

​Cuma mimpi, batinnya. Cuma mimpi gila gara-gara cerita setan warga desa.

​Raka hendak kembali berbaring ketika ia merasakan sesuatu di tangannya.

​Tangan kanannya—tangan yang dalam mimpi tadi bersentuhan dengan wanita sumur—terasa basah dan lengket. Dan dinginnya... dingin itu bukan dari AC atau udara malam. Dingin itu menusuk sampai ke tulang.

​Raka merogoh saku celananya, menyalakan pemantik api rokoknya dengan tangan gemetar. Ctrek.

​Api kecil menyala, menerangi telapak tangannya.

​Mata Raka membelalak.

​Di telapak tangannya, ada gumpalan lumpur basah yang berbau amis. Dan melilit di jari telunjuknya, ada sehelai rambut panjang. Sangat panjang, hitam, dan basah.

​Raka menoleh cepat ke arah pintu kamar yang terkunci rapat.

​Di lantai, ada jejak kaki basah. Jejak kaki kecil, telanjang, dan berlumpur. Jejak itu masuk menembus pintu kayu yang tertutup, berjalan melintasi lantai, dan berhenti tepat di samping kasur Raka.

​Jejak itu tidak kembali keluar. Jejak itu berhenti di situ.

​Raka perlahan mendongak, menatap kegelapan di atas lemari kayu tua di sudut kamar.

​Di sana, dalam remang cahaya api pemantik yang bergoyang, ia melihat sepasang mata hitam sedang menatapnya dari langit-langit.

​Api pemantik padam.

​Dan di kegelapan itu, tepat di samping telinga Raka, terdengar bisikan lembut yang membuat kewarasannya retak.

​"Sudah dipegang... tidak boleh dilepas..."

​Raka menjerit. Jeritan itu memecah kesunyian malam di Desa Wanasari, membangunkan burung-burung gagak di hutan, dan menandai bahwa malam pertama pengabdian mereka telah resmi meminta bayaran.

​Di kamar sebelah, Nara mendengar jeritan itu. Tapi ia tidak bisa bergerak. Lala, yang masih berdiri menghadap tembok, tertawa pelan. Tawanya cekikikan, lirih, tapi penuh kemenangan.

​Malam itu, jam dinding di ruang tengah tidak pernah beranjak dari angka 00.00, seolah waktu sendiri menolak untuk melewati kengerian yang sedang terjadi di Joglo tua itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!