NovelToon NovelToon
Duke, Tolong Minggir

Duke, Tolong Minggir

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Menjadi NPC / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.

Sialnya, itulah nasib Vivienne.

Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.

Persetan dengan alur asli!

Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.

"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."

Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duke, Ayam itu Buat Saya Aja

Masuk ke ruang makan Hartfield rasanya seperti masuk ke ruang sidang pengadilan di mana vonisnya adalah hukuman mati.

Ruangan itu panjang. Sangat panjang. Di tengah-tengahnya ada meja makan kayu eboni yang mengkilap, cukup panjang untuk dipakai main pingpong. Di ujung meja yang paling jauh—di dekat jendela besar—duduk seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul kaku.

Grand Duchess Victoria. Nenek Damian. Sang Grand Duchess.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa Bianca sambil melakukan curtsy (membungkuk hormat sambil menekuk lutut) dengan sempurna. Gerakannya begitu mulus seolah dia punya engsel tambahan di lutut.

Nenek Victoria hanya mengangguk kecil, hampir tak terlihat. Wajahnya keras, penuh kerutan yang sepertinya dipahat oleh rasa tidak puas selama puluhan tahun. Dia menatapku. Tatapannya seperti mesin pemindai bandara yang sedang mencari narkoba di koper penumpang.

"Vivienne," katanya dingin. "Kau terlambat dua menit."

Aku menelan ludah. "Maaf, Nyonya. Saya tersesat di koridor. Rumah ini terlalu luas, saya hampir terdampar di sayap barat dan diangkat anak oleh patung singa."

Bianca melirikku dengan tatapan 'Tutup mulutmu atau kujejelin garpu'.

Nenek Victoria menyipitkan mata, tapi tidak berkomentar lebih lanjut. "Duduk."

Aku duduk di sebelah Bianca. Di seberang kami, kursi utama di ujung meja masih kosong. Piring emas dengan ukiran rumit sudah tertata rapi, menunggu tuannya.

"Duke akan segera turun," kata seorang pelayan tua yang berdiri di sudut seperti patung lilin.

Dan benar saja. Tiga detik kemudian, pintu terbuka lagi.

Suhu ruangan rasanya turun sepuluh derajat.

Damian von Hart melangkah masuk.

Oke, aku harus jujur. Di novel, deskripsinya adalah "pria paling tampan di kekaisaran dengan aura yang mematikan". Dan sialnya, penulisnya tidak bohong.

Damian tinggi, dengan postur tegap militer yang sempurna. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi yang tegas. Wajahnya... well, wajahnya memang tipe yang bikin cewek-cewek rela jadi penjahat demi dikejar dia. Hidung mancung, rahang tajam, dan mata biru gelap yang begitu dingin sampai rasanya bisa membekukan air cuma dengan lirikan.

Dia berjalan pelan, tanpa suara, seolah dia melayang di atas karpet. Dia tidak menatap siapa pun. Tidak menatap Neneknya, tidak menatap Bianca yang sudah memasang senyum manis, dan jelas tidak menatapku.

Dia seperti karakter anime yang terlalu overpowered dan bosan dengan kehidupan.

"Selamat pagi, Damian," sapa Bianca lembut.

Damian hanya mengangguk singkat sambil duduk di kursi utama. Pelayan segera menuangkan kopi ke cangkirnya dan membuka tudung saji di piringnya.

Hening.

Benar-benar hening. Tidak ada suara obrolan, tidak ada suara tawa, tidak ada suara TV berita pagi. Hanya suara denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

Ting. Krat. Ting.

Aku mulai memotong sosis di piringku. Rasanya enak, tapi suasana ini bikin sosisnya serasa terbuat dari karet ban. Aku melirik Damian.

Dia tidak makan.

Dia hanya memegang pisau dan garpu, menatap piringnya dengan tatapan kosong. Di piringnya ada sepotong dada ayam panggang dengan saus rosemary yang terlihat sangat menggoda, masih mengepulkan uap hangat. Tapi dia tidak menyentuhnya. Dia cuma mengiris ujungnya sedikit, lalu diam lagi.

Mungkin dia lagi mikirin Freya. 'Ah, burung kecilku, apakah kau sudah makan cacing hari ini?' atau apalah isi pikiran psikopatnya.

Masalahnya adalah: Aku lapar. Dan porsiku kecil. Standar porsi lady bangsawan itu ternyata cuma dua potong sosis dan selembar roti bakar. Perutku yang terbiasa sarapan nasi uduk + gorengan 3 biji jelas berontak.

Aku menatap dada ayam di piring Damian. Ayam itu memanggilku.

Makan aku, Vivienne... aku juicy dan penuh protein... jangan biarkan aku dingin dan berakhir di tempat sampah...

"Vivienne," bisik Bianca tanpa menggerakkan bibir, menyadari aku melotot ke arah Duke. "Berhenti menatap."

Tapi aku tidak bisa berhenti. Itu mubazir! Ayam itu mati sia-sia kalau cuma dipandangin doang!

Damian meletakkan pisau dan garpunya. Dia menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. Dia jelas tidak berniat makan. Dia mau pergi.

Jiwaku, jiwa anak kos yang pantang melihat makanan sisa, langsung mengambil alih kendali tubuhku.

"Permisi," suaraku memecah keheningan yang lebih sunyi dari kuburan.

Semua gerakan berhenti. Nenek Victoria membeku dengan cangkir teh di bibir. Bianca melotot horor. Pelayan tua di pojok menahan napas.

Damian perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan matanya yang dingin bertemu dengan mataku. Biru, dalam, dan kosong. Tipe tatapan yang biasanya bikin orang pipis di celana.

Tapi aku? Aku cuma liat paha ayam di piringnya.

"Duke," kataku sambil menunjuk piringnya dengan garpu sosisku. "Itu ayamnya... kalau cuma mau dipandangin doang dan gak dimakan, boleh buat saya?"

Hening.

Kali ini heningnya bukan mencekam, tapi hening shock.

Mulut Bianca sedikit terbuka. Mata Nenek Victoria hampir keluar.

"Di kampung saya," lanjutku santai, mengabaikan ketegangan yang merambat di udara, "pamali nolak rezeki. Nanti ayamnya nangis di akhirat lho. Sayang kan, itu kayaknya dimasak pakai butter mahal."

Damian tidak bergerak. Dia menatapku. Lalu menatap ayam di piringnya. Lalu menatapku lagi.

Ada kerutan sangat tipis muncul di dahinya yang sempurna. Ekspresi yang, kalau diterjemahkan, mungkin berbunyi: 'Makhluk apa ini? Apakah dia baru saja minta sisa makanku?'

"Vivienne!" desis Nenek Victoria tajam. "Jaga sopan santunmu!"

"Saya sopan kok, Nek. Saya nanya dulu, nggak langsung nyomot," belaku. "Lagipula Duke kelihatannya lagi diet, atau lagi galau. Daripada mubazir?"

Damian terdiam selama lima detik yang terasa seperti lima tahun. Lalu, hal yang paling tidak terduga terjadi.

Dia mendorong piringnya pelan ke tengah meja. Ke arahku.

"Ambil," katanya. Suaranya rendah, berat, dan... baritone. Jenis suara yang bisa bikin orang hamil lewat telinga.

Aku tersenyum lebar, senyum tulus pertamaku di dunia ini. "Terima kasih, Mas Duke! Anda memang dermawan."

Tanpa babibu, aku menusuk ayam itu dengan garpu dan memindahkannya ke piringku. Bianca menutupi wajahnya dengan tangan, seolah dia ingin menghilang dari muka bumi karena malu punya sepupu sepertiku.

Sementara Damian? Dia masih menatapku. Tapi kali ini, tatapan kosongnya sedikit berubah. Ada kilatan aneh di sana. Kilatan kebingungan.

Seolah dia baru saja melihat seekor zebra nyasar masuk ke kandang singa dan bukannya lari, zebra itu malah minta rokok.

Selamat makan, Vivienne, batinku sambil mengunyah ayam rampasan itu dengan nikmat. Persetan dengan plot. Perut kenyang, hati senang.

1
dunia isekai
lucuuu
dunia isekai
halo kak! ceritanya lucu banget! Mau saling mampir like dan komen di cerita masing masing? Mampir di ceritaku The Legend Of Roseanne ya!
takeru lukcy
lanjut thorrrrrr kl gak lanjut aku samper nihh kerumah🤭🤭bagusss 👍
takeru lukcy
baguss cokk bacaa ajaa dehh dijamin gak bakal nyesel
takeru lukcy
thorrr lanjutin gak bagus lohhh😍😍gak bosen aku bacanyaaa
Leel K: aaaa makasih bangetttt 😆😍
total 1 replies
takeru lukcy
lanjut thor
takeru lukcy
anjayy otw bacaa sampe habis nihh😍
takeru lukcy
thorrr bagusss lanjutinn ahh 😍😍😍
Puch🍒❄
astaga akhirnya aku mendapatkan novel yg kusukaaaaaaaaaaaaa yg konyol2 gini nih yg kusuka tp sisi romantisnya jg harus ada pokoknya seru deh bikin gk bosen😌
takeru lukcy: pliss ini novel ke4 yang gue suka suka bangett😍😍
total 1 replies
Puch🍒❄
anjg lucu lg bangke😂🤣😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!