Sebelum lanjut membaca, boleh mampir di season 1 nya "Membawa Lari Benih Sang Mafia"
***
Malika, gadis polos berusia 19 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Dijual oleh pamannya demi sejumlah uang, ia terpaksa memasuki kamar hotel milik mafia paling menakutkan di kota itu.
“Temukan gadis gila yang sudah berani menendang asetku!” perintah Alexander pada tangan kanannya.
Sejak malam itu, Alexander yang sudah memiliki tunangan justru terobsesi. Ia bersumpah akan mendapatkan Malika, meski harus menentang keluarganya dan bahkan seluruh dunia.
Akankah Alexander berhasil menemukan gadis itu ataukah justru gadis itu adalah kelemahan yang akan menghancurkan dirinya sendiri?
Dan sanggupkah Malika bertahan ketika ia menjadi incaran pria paling berbahaya di Milan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Jika ada satu hal yang tidak pernah terjadi dalam hidup Alexander, maka hal memalukan itu adalah ditendang di tempat paling vital oleh seorang gadis aneh dengan dandanan mencolok.
Dan kimi, pria itu berdiri dengan wajah memerah, menahan nyeri yang tak tertahankan. Sementara matanya menajam, seperti seekor serigala yang kehilangan mangsa.
“Mau ke mana kau!” geram Alex. Rasa sakit itu membuat otaknya yang masih dipengaruhi wine bekerja sedikit lambat.
Tidak dengan gadis yang beberapa menit lalu duduk gemetar di pangkuannya. Dia justru berlari kabur.
Mendadak Malika jadi sangat gesit, seperti atlet lari yang baru saja mengikuti lomba maraton.
“Pengawal!” teriak Alex.
“Y-ya, Tuan Muda!” pengawal yang tadi mengizinkan Malika masuk muncul dari balik pintu. Wajah mereka nampak tegang, seolah baru saja dipanggil malaikat pencabut nyawa.
Alex mendongak dengan rahang mengeras. Rasa sakit di antara kedua kakinya membuat napasnya sedikit tersengal.
“Di mana gadis jadi-jadian tadi?” tanyanya.
“Dia berlari keluar dengan terburu-buru, Tuan. Kami pikir, anda sudah selesai dengannya,” jawab salah satu pengawal dengan sedikit gemetar.
Alex menatap mereka bergantian. Ingin rasanya ia melempar keduanya ke luar jendela hotel.
“Dasar bodoh!!” hardiknya tajam. “Aku bahkan belum menyentuhnya! Bagaimana bisa kalian bilang aku sudah selesai dengannya?!”
Kedua pengawal itu langsung menunduk, seolah ingin segera menghilang dari sana. Mereka tahu satu hal, jika Alex sedang marah, kematian mungkin lebih baik daripada membuat alasan.
“Temukan gadis gila yang sudah berani menendang asetku!” titahnya.
“B-baik Tuan!” tanpa berpikir panjang, mereka langsung bergegas pergi.
“Makhluk jadi-jadian, kau sengaja cari masalah denganku, ya,” gumam Alex dengan tangan terkepal erat. “Bersembunyi lah sesukamu, bahkan sampai lubang semut pun, kau tak akan pernah bisa lari dariku!”
*
*
Malika terus berlari menjauh dari klub. Napas gadis itu terengah dan paru-parunya seperti terbakar. Sementara dress mencolok itu membuat hampir tersandung.
Tetapi, Malika tetap tak peduli.
Sialnya, ingatan samar di kepalanya memutar ulang kejadian belum lama tadi. Dimana tubuh atletis tanpa busana, suara berat yang mengancam, tatapan tajam menusuk, juga ancaman gila seorang pria terus terngiang.
“Tidak! Tidak! Lika tidak mau bertemu dia lagi!” gumamnya sambil menahan bulir bening yang hampir menetes keluar.
Gadis itu berbelok ke gang sempit yang berada cukup jauh dari tempat itu.
Seketika, dadanya berdebar kala melihat sosok yang dikenalnya berdiri di bawah lampu temaram di sudut gang.
“Paman Jhon!” teriaknya sambil berlari sekuat tenaga menghampiri pria paruh baya itu.
Jhon sedang santai sembari menyulut rokok. Baru saja, ia selesai menghitung keuntungan dari uang yang sudah ditransfer oleh Angelo.
“Paman, akhirnya Lika bertemu Paman!”
Jhon menoleh. Seorang gadis dengan dandanan menor dan pakaian seksi tiba-tiba menarik tangannya.
“Hei! Kau siapa, hah?! Pergi sana! Jangan ganggu aku!” hardik Jhon, menepis tangan gadis itu.
“Ini Lika, Paman! Lika!” seru Malika sambil terengah-engah, lalu memeluk pamannya dengan gemetar.
Jhon berkedip beberapa kali. Matanya menyipit sembari memegang dagu gadis itu dan mengamatinya dalam-dalam.
“Kau Malika?!” pekik Jhon tak percaya.
“Ya, Paman! Ayo pulang! Lika tidak mau di sini lagi!” Malika memohon sambil sesekali menoleh ke belakang. Ia takut tiba-tiba Alex muncul seperti hantu.
Jhon menatap gadis ini dengan ekspresi aneh. Bagaimana mungkin gadis yang biasanya berpenampilan kusam dan kampungan, kini berubah menjadi selebriti malam? Wajahnya benar-benar berbeda. Bahkan Jhon sendiri sempat mengira Malika adalah salah satu wanita penghibur di klub.
Saat bersamanya tadi, Malika memang sudah berdandan. Hanya saja tak mencolok begini. Sepertinya, seseorang menambah riasan wajah Malika lagi.
“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Jhon.
“Sudah, Paman,” jawab Malika dengan anggukan cepat.
Tentu saja itu bohong. Malika tidak ingin bercerita bahwa pekerjaannya tadi berakhir dengan menendang aset pribadi seorang pria. Toh, Malika juga tidak tahu apa yang ia tendang tadi dan tidak mau tahu!
Jhon tersenyum lega. “Baiklah. Karena uangnya sudah ditransfer, ayo pulang!”
Malika masuk ke mobil Jhon. Berulah kali ia bersyukur karena bisa terlepas dari pria itu.
“Akhirnya, Lika bisa terbebas dari om roti sobek em… maksudnya om galak itu!” gumamnya pelan sembari menghapus riasan wajahnya.
*
*
Alexander berdiri di balkon. Angin malam menerpa tubuhnya yang masih setengah terbuka.
“Baru kali ini ada yang berani menendangku,” gumam dengan rahang mengeras. Matanya menatap ke arah jalanan gelap tempat Malika melarikan diri. “Kau pikir bisa kabur begitu saja, makhluk aneh?”
Bertepatan dengan itu, Jimmy melangkah masuk dengan tergesa.
“Alex, ada apa?” tanya Jimmy dengan wajah cemas. Apalagi melihat wajah tuan mudanya yang nampak murka itu.
Alex melirik Jimmy sekilas dan mendengus. Sebenarnya, Alex masih kesal karena wine murahan yang dibawa Jimmy membuatnya hampir linglung. Tapi, karena ia sedang membutuhkannya, ia menyimpan dulu kemarahannnya.
“Catat, Paman. Dia punya tanda hitam di punggung kirinya, kecil, seperti kupu-kupu yang baru menetas,” ucap Alex.
“Hah? Kupu-kupu baru menetas?” gumam Jimmy, bingung. Ia baru saja datang dan Alex sudah memberi perintah.
“Ya! Berikan semua data tentang gadis muda berdandan aneh dan mencolok. Tingginya sekitar segini.” Ia mengukur dengan tangan. “Dia punya wajah paling jelek dari banyak gadis yang pernah kulihat.”
Jimmy menelan ludah. Anak Diego yang satu ini benar-benar di luar nalar.
“Untuk apa kau menyuruhku mencari seorang gadis aneh?” tanya Jimmy.
“Dia sudah berani menyentuh aset yang paling berharga milikku!”
Aset berharga? Apa maksud ucapan Alex? Pikir Jimmy.