NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Tiri / Slice of Life / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.

Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 . Memilih pergi

Pagi ketujuh setelah pengkhianatan itu, Erna sudah sibuk di dapur seperti biasa. Rumah itu masih berdiri utuh, tetapi kenyamanan di dalamnya sudah lama roboh. Hanya ketika bersama kedua anaknya, ia merasa seperti masih punya tempat pulang.

“Ayah tumben berangkat kerja, Bu. Bukannya libur kalau hari Minggu?” tanya Zaskia sambil duduk di dekat ibunya.

“Ayah kan bukan pekerja kantoran yang bisa libur tiap Minggu, Nak.”

Zaskia mengangguk, lalu mulai menyuap nasi goreng buatan ibunya. Erna keluar sebentar, mengambil sesuatu. Saat kembali, langkahnya melambat—wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia tampak ragu sejenak, seperti ingin memeluk Zaskia tapi menahan diri.

Erna berjongkok di depan Zaskia dan menangkup kedua pipinya. Matanya berkaca, tapi ia memaksa tersenyum.

“Nak...dengerin Ibu, ya. Kia janji sama Ibu, harus jadi anak yang baik dan jujur. Bisa?”

Zaskia mengangguk kecil, meskipun kebingungan jelas terlihat.

“Kia harus jadi contoh buat Rania. Kalau Kia baik, adik pasti ikut. Nanti... Kia harus jaga Rania, ya? seperti Ibu jaga kalian.”

Erna memalingkan wajah saat air matanya akhirnya lolos. Cepat-cepat ia usap sebelum Zaskia sempat melihat.

“Ibu mau ke mana?” suara Zaskia bergetar begitu ia melihat koper di tangan ibunya.

“Ibu akan pergi jauh,” lidahnya keluh, tangisnya akhirnya pecah. “Kamu jangan cari ibu ya, Nak. Ibu akan kembali.”

Mata polos itu menatap ibunya dengan tatapan bingung, satu tetes air mata jatuh dari pelupuknya. “Tapi kenapa ibu pergi, ibu dimarahin ayah?”

Erna menggeleng pelan, berat, ia benar-benar bingung harus mengatakan apa. Kejujurannya hanya akan membuat anaknya membenci ayah kandungnya. Ia menarik napas dalam, berusaha tegar, tapi tangan yang menangkup pipi Zaskia sedikit gemetar.

“Ibu menangis, apa bener ayah marahin ibu? atau ada tetangga yang nyakitin Ibu? kan ada Kia, Kia bakal membela ibu, ibu tidak perlu takut,” ucapnya lagi, sangat polos seraya mengusap air mata ibunya.

“Maafkan, ibu Nak, jangan membenci ibu ya. Ibu harus pergi,” Erna mengusap lembut pipi Zaskia, tangan satunya menyeka air mata yang sudah lolos. Lalu melangkah keluar dapur membawa koper.

Sementara Zaskia masih tercengang, belum mengerti, tapi yang jelas ibunya benar-benar pergi.

Seketika ia turun dari kursi dan lari menyusul ibunya, ia teriak. “Ibu...”

Namun Erna hanya menoleh, dengan berat hati ia segera menaiki ojek yang sudah menunggunya. Saat Zaskia sudah di depan rumah, Erna sudah menjauh. “Ibu... Ibu!” teriaknya keras dan meraung. Membuat Rania yang masih tidur pulas di kamar terbangun dan mendekat ke sumber suara itu.

“Kak Kia... kakak kenapa?” Rania langsung memeluk Zaskia yang tengah menangis sambil jongkok, tangannya masih menunjuk ke arah ibunya pergi. Rania pun ikut menangis.

Tangisan dua bocah di pagi itu membuat para tetangga berlari mendekati mereka. “Nak, kalian kenapa, ya Allah,” ucap salah satu tetangga seraya mengusap rambut keduanya dengan iba.

Zaskia tak bisa bicara karena isak tangisnya sesenggukan, sedangkan Rania hanya bisa menggeleng tidak mengerti.

“Aku tadi lihat Bu Erna naik ojek dan bawa koper besar, Bu,” jelas ibu tetangga yang lain.

“Astaghfirullah, sebenarnya ada apa ini, Bu, tolong panggil Pak Alim, dia pasti di tempat kerjanya.”

Salah satu tetangga itu mengangguk dan pergi. Sementara yang lain mengajak Zaskia dan Rania masuk rumah.

Tak lama, tibalah Alim di rumah dengan gugup. “Ada apa ini, Bu?” Alim menoleh ke ibu-ibu yang menjaga putrinya. “Nak, kenapa kalian menangis?” lalu mengusap kedua pipi mereka.

“Ayah...” akhirnya Zaskia bersuara dan langsung memeluk ayahnya. “Ibu pergi, katanya Ibu mau pergi jauh...” tangisnya pecah lagi.

Alim terkejut mendengarnya. Tubuhnya lunglai memangku putrinya, napasnya berat. Ia tidak menyangka jalan ini yang Erna pilih, meninggalkan mereka semua.

Sedangkan para tetangga saling pandang. “Maaf Pak Alim, bukannya mau ikut campur, tapi kenapa Bu Erna pergi? apa kalian bertengkar?” ucap tetangga itu penasaran.

Alim hanya menggeleng pelan, dan mengusap lembut punggung kedua putrinya yang masih di pangku.

“Kok tega bener Bu Erna ninggalin kalian, apalagi anak-anak masih kecil. Kalau ada masalah harusnya diselesaikan dengan baik, bukan pergi seperti ini.”

“Apa nggak kasihan sama anak-anaknya, Ibu macam apa begitu.”

“Kalau begini jatuhnya dia ibu yang jahat dan istri durhaka kan ya?”

Para tetangga itu saling beradu pandang, komentar demi komentar bersahut menyudutkan Erna.

“Maaf, ibu-ibu. Terima kasih sudah membantu, bisa tolong tinggalkan kami dulu?” titah Alim, nadanya lembut namun tegas.

Mereka semua mengangguk dan pergi pamit. “Sabar ya Pak Alim,” ucap salah satu sebelum akhirnya keluar rumah.

Alim tetap diam membeku, sementara Zaskia tetap memaksa ayahnya mencari ibunya. Di dalam hatinya, Zaskia mulai menanam satu pelajaran pahit: kadang orang dewasa punya pilihan yang tidak bisa dimengerti anak-anak.

...----------------...

SEBULAN KEMUDIAN

Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tanpa Erna, Alim kewalahan mengurus dua anaknya. Ia belum bisa bekerja—Rania tidak mau ditinggal sedikit pun, selalu takut Ayahnya pergi seperti Ibu. Zaskia semakin pendiam, sering pulang sekolah dengan mata sembap karena diejek teman-temannya.

Gosip desa tentang Erna yang dianggap ibu durhaka terus menyebar. Setiap hari hidup mereka seperti malam yang panjang, meski matahari bersinar.

Malam itu, Ratna datang menjenguk Alim di rumah. Mereka duduk di ruang tamu. Teh dan kopi mengepul di atas meja.

“Mas...” Ratna menarik napas. “Kalau kamu ingin ada yang ngurus kamu dan anak-anak... menikahlah denganku.”

Alim tersedak kopi. “Mana mungkin? Statusku masih suami Erna.”

Ratna menatapnya, ada luka sekaligus keinginan. “Aku cuma kasih opsi. Mas, kamu butuh bantuan. Zaskia baru kelas satu, Rania sebentar lagi masuk sekolah. Kamu butuh biaya. Aku mau bantu... asal kamu menikah sama aku. Aku cinta Mas Alim.”

Ruangan itu hening cukup lama. Alim menunduk, memikirkan banyak hal—Rania yang tidak mau lepas darinya, Zaskia yang makin kehilangan cahaya, dan kenyataan bahwa Erna tak memberi kabar apa pun.

Akhirnya, dengan suara lirih namun mantap ia berkata,

“Baiklah... aku akan menikahimu.”

Namun suara kecil memotong udara.

“Tidak, Ayah...”

Zaskia berdiri di ambang pintu kamarnya, Rania di sampingnya. Keduanya menatap dengan ketakutan.

Alim dan Ratna kaget.

“Ayah harusnya nyari Ibu... bukan nikah sama Tante Ratna. Kia nggak mau punya ibu baru. Ibu Kia cuma Ibu Erna...”

Alim mengusap kepala putrinya. “Nak... Ayah butuh bantuan buat ngurus kalian. Ibu... tidak akan kembali. Mama Ratna siap gantiin Ibu.”

Zaskia menggeleng keras. Air matanya mengalir lagi. Di hatinya, ia mulai belajar: kadang, menjaga adik berarti menerima kenyataan yang pahit.

Rania, yang diberi cokelat oleh Ratna, memeluk perempuan itu. “Aku mau Mama baru... ibu sudah jahat ninggalin kita, Kak. Biar ajah Ayah nikah sama Tante Ratna.”

Hati Zaskia makin retak.

Seminggu setelah tawaran itu, akhirnya Alim dan Ratna menikah. Mereka pindah ke rumah Ratna yang lebih mewah—tempat baru yang terasa asing bagi dua anak yang masih berharap ibunya pergi akan kembali.

Kehidupan baru Zaskia dan Rania mulai tercipta di rumah itu.

Setahun kemudian... Rania pun sudah memasuki usia sekolah. Semua fasilitas mereka terpenuhi. Hanya Zaskia yang tidak bisa menerima hidupnya, aktivitasnya cuma sekolah dan di kamar.

Di rumah Zaskia tidak nyaman, ingin sekali ia kembali ke rumahnya sendiri. Tapi dirinya yang masih kecil belum bisa menghidupi diri sendiri. Setiap uang saku yang diberikan padanya selalu ditabung. Keinginannya cuma satu: mencari ibu, sebab ayahnya tidak pernah berusaha mencarinya. Kalau dia punya uang, pasti akan lebih mudah.

Hingga sampai usia Zaskia dua belas tahun.

“Kakak mau kemana? Kenapa barang-barangnya diberesin?” tanya Rania saat melihat Zaskia menyiapkan koper di atas kasur.

“Kakak mau pulang,” jawabnya datar seraya sibuk memasukkan baju dan yang lain.

Rania mengernyit bingung. “Pulang kemana?”

“Pulang ke rumah kita.”

“Yang benar saja, Kak. Nanti Ayah marah kalau kakak pergi.”

“Kakak nggak betah di sini, dulu kakak bertahan karena masih kecil. Kamu juga beresin barang-barangmu. Kakak punya tabungan buat kita hidup, dan nanti kakak juga bakal jualan kue biar ada pemasukan,” tegas Zaskia.

Rania menggeleng cepat. “Nggak mau, aku nggak mau hidup susah, kita di sini sudah enak Kak. Ngapain pergi. Kakak aja yang pergi, aku nggak.” Tolaknya keras.

Zaskia menoleh ke arah Rania yang duduk di sampingnya. “Please ikut, Ran. Ibu sudah memberi aku amanah untuk jagain kamu, dan kamu harus selalu di samping kakak. Kakak akan berusaha buat hidup kita, kamu tenang saja.” Sebuah refleksi kecil muncul di hatinya: aku harus bisa melindungi adik, walau berarti harus kuat sendiri.

Rania pun menggeleng lagi.

Tanpa mereka sadari, Ratna mendengar obrolan itu, ia sudah berdiri di ambang pintu. Lalu mendekat. “Kalau kamu kekeh mau pergi, ya sudah sana. Tapi mama sama ayah kamu sepeserpun nggak bakalan kasih kamu uang dan biayain sekolah kamu,” nada Ratna sarkastik. “Mama yakin, kamu pasti kembali lagi, kamu pikir cari uang itu gampang? Sekarang pilih saja.”

Zaskia menarik napas panjang mencoba menenangkan diri. Tak lama, ia memutuskan pilihan hidupnya. “Aku tetep akan pergi, Ma. Terimakasih mama sudah merawat aku enam tahun ini, nanti kalau Kia sudah dewasa dan dapat pekerjaan, akan Kia ganti semuanya.”

“Jangan sombong dulu, Zaskia. Terserah kamu saja. Mama pastikan ayahmu tidak akan peduli lagi sama kamu.”

Setelah mengatakan ucapan pahit itu, Ratna menggandeng Rania seolah menunjukkan bahwa hanya Rania lah putrinya.

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!