Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Waktu seolah berjalan semakin cepat dan tak kenal ampun, menggerus hari demi hari dalam hitungan jam dan menit. Tujuh hari yang diberikan Arsya Abrisam terasa begitu singkat untuk menyelesaikan tugas raksasa yang nyaris mustahil itu.
Namun bagi Sherina Mutiara, batas waktu yang sempit itu justru menjadi api yang semakin membakar semangatnya hingga berkobar hebat. Ia bertekad melampaui segala batas kemampuan yang pernah ia ketahui, mendorong dirinya sejauh mungkin, hingga ke titik paling ujung ketahanan fisik dan batinnya.
Bagi gadis itu, tugas ini bukan sekedar pekerjaan kantor biasa. Ini adalah medan pertempuran di mana harga dirinya, jati dirinya, dan segala perjuangannya dipertaruhkan. Ia harus menang, bukan hanya untuk membungkam Arsya, tetapi juga untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu berdiri tegap di atas kakinya sendiri, terlepas dari nama besar ayahnya.
Maka, sejak hari itu, pola hidup Sherina berubah total. Gedung tinggi Mutiara Group menjadi rumah keduanya. Ia datang jauh sebelum pintu kantor terbuka secara resmi, saat mentari baru saja mengintip malu-malu di ufuk timur dan kota masih terbungkus keheningan pagi. Di saat para karyawan lain baru mulai berdatangan dengan wajah yang masih mengantuk, Sherina sudah duduk di mejanya, di tengah tumpukan berkas yang menjulang tinggi, mata beningnya sudah menatap lekat-lekat deretan angka, peta wilayah, dan catatan-catatan rumit hasil riset tahun-tahun sebelumnya.
Dan saat malam tiba, saat langit telah berubah menjadi kelabu pekat dan lampu-lampu jalan di luar sudah berbaris menyala, Sherina masih tetap duduk di sana. Ia adalah orang terakhir yang meninggalkan ruangan itu, orang terakhir yang mematikan lampu, dan orang terakhir yang menutup pintu. Kantor yang luas dan sunyi itu menjadi saksi bisu perjuangannya, mendengar suara ketikan keyboard yang berirama, suara halaman kertas yang berputar, dan sesekali suara helaan napas panjang saat kelelahan mulai merayap masuk ke tulang-tulangnya.
Lembur menjadi makanan sehari-harinya. Sering kali ia hanya sempat menyantap makan malam sederhana di meja kerjanya, sekedar untuk mengisi perut agar tenaga tetap terjaga, tanpa rasa nikmat atau selera. Matanya yang biasanya berbinar cerah kini tampak sayu, dikelilingi lingkaran gelap tanda kurang tidur, namun sorot ketajaman dan ketegasan di sana tidak pernah redup sedikit pun.
Ia menekuni setiap rincian dengan teliti luar biasa. Tidak ada satu data pun yang ia lewatkan tanpa diperiksa ulang, tidak ada satu kesimpulan pun yang ia ambil tanpa dasar yang kuat.
Sherina menyadari bahwa tantangan terbesar dalam proyek pengembangan produk untuk kawasan Timur Nusantara adalah pemahaman mendalam akan karakteristik wilayah, kondisi geografis, dan kebiasaan budaya masyarakat setempat yang sangat beragam dan unik. Hal yang sering dianggap rumit dan sulit oleh orang lain, justru ia gali lebih dalam.
Ia tidak hanya mengandalkan data tertulis yang ada di dalam berkas tebal itu. Sherina berusaha mencari informasi baru yang lebih segar dan nyata. Ia menghubungi rekan-rekan di divisi lain, berbicara dengan staf lapangan yang pernah bertugas di sana, hingga mencari literatur tambahan dan berita terkini mengenai perkembangan ekonomi daerah itu.
Ia belajar hal-hal baru yang sama sekali belum pernah ia pelajari di bangku kuliah, tentang pola distribusi barang di daerah terpencil, tentang daya beli masyarakat yang dipengaruhi hasil bumi dan laut, hingga tentang kebiasaan dan selera yang sangat berbeda dengan masyarakat di kota-kota besar barat Indonesia. Ia menyerap semua pengetahuan itu laksana spons kering yang menyedot air, memprosesnya dalam pikirannya yang cerdas, dan menyusunnya kembali menjadi gagasan-gagasan baru yang brilian.
Usaha keras yang luar biasa itu tentu saja tidak luput dari perhatian rekan-rekan kerjanya. Di ruangan itu, terdapat beragam pandangan dan perasaan yang ditujukan kepadanya. Ada sekelompok rekan kerja, terutama mereka yang berhati tulus dan pernah merasakan beratnya perjuangan hidup, yang mulai melihat sisi lain dari diri Sherina. Mereka yang awalnya hanya menganggap gadis itu sebagai anak bos yang sekadar numpang lewat, kini perlahan berubah pandangan.
Lina, rekan kerja yang paling dekat dengannya, sering kali tetap tinggal sedikit lebih lama hanya untuk menemaninya atau sekedar membawakan secangkir teh hangat di tengah pekerjaan yang terlihat dingin. Wanita muda itu menatap Sherina dengan rasa kagum yang semakin hari semakin mendalam. Ia melihat sendiri bagaimana Sherina berjuang, bagaimana gadis itu menahan kantuk dan rasa lelahnya, bagaimana ia bertanya dengan rendah hati kepada siapa saja yang dianggapnya lebih tahu, tanpa sedikit pun ada sifat sombong atau merasa lebih tinggi.
"Dulu aku berpikir kau hanya kebetulan berada di sini karena nama ayahmu," ucap Lina pelan suatu sore, saat mereka berdua menjadi satu-satunya orang yang masih ada di ruangan itu.
"Tapi sekarang... aku melihat ketulusanmu, Sherina. Kau bekerja lebih keras daripada kami semua. Kau tidak malu bertanya hal-hal dasar, kau tidak takut mengotori tanganmu dengan pekerjaan yang rumit dan membosankan. Maafkan aku jika sempat berpikir buruk tentangmu."
Sherina hanya tersenyum lemah namun tulus, menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, Lina. Aku mengerti. Memang begitulah pandangan banyak orang padaku. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku pantas ada di sini, sama seperti kalian."
Selain Lina, ada pula beberapa staf senior yang mulai mengangguk hormat saat melihat cara kerja Sherina. Mereka melihat ketelitian gadis itu, keingintahuannya yang besar, dan kemampuannya memahami masalah rumit dengan cepat. Di mata mereka, perlahan mulai terukir penghargaan yang nyata. Mereka menyadari bahwa di balik wajah lembut dan penampilan sederhana itu, tersimpan otak yang cerdas dan semangat baja yang luar biasa.
Namun, di sisi lain, tidak semua orang memiliki pandangan yang sama. Masih ada sekelompok karyawan lain yang justru semakin memandang sinis dan penuh prasangka. Di mata mereka, kerja keras Sherina hanyalah sandiwara belaka. Mereka menganggap semua usaha itu hanya akting yang disusun rapi demi mencari perhatian, atau sekedar cara untuk memoles citra diri di mata pimpinan.
"Lihat lah dia," bisik salah satu staf dengan nada mencemooh saat melewati meja Sherina di waktu istirahat.
"Pura-pura lembur, pura-pura sibuk, pura-pura susah payah. Padahal apa yang dia kerjakan? Kalau sampai hasilnya bagus, nanti dikira dia hebat, padahal pasti ada bantuan dari sana-sini. Lagipula, apa susahnya baginya? Kalau salah, kalau gagal, dia tetap aman. Ayahnya pemilik perusahaan ini. Kita yang kalau salah bisa kena pecat. Dia cuma main-main dengan kerjaan kita."
"Benar," sahut rekannya.
"Besar kemungkinan Pak Arsya benar. Dia cuma anak orang kaya yang sedang mencoba sensasi hidup susah. Nanti kalau sudah bosan atau lelah, dia akan pergi sendiri dengan santai. Kerja keras begini cuma gaya-gayaan saja, biar kelihatan hebat."
Kata-kata pedas dan pandangan buruk itu sering kali menyebar sampai ke telinga Sherina. Setiap kali mendengar bisikan-bisikan itu, hatinya terasa perih dan sesak. Ada rasa ingin menangis, rasa ingin berteriak dan berkata bahwa mereka semua salah menilai dirinya.
Namun, Sherina selalu berhasil menahan dirinya. Ia menelan ludah yang terasa pahit, mengusap pelan dadanya yang sesak, dan kembali menunduk menatap berkas-berkas di hadapannya. Ia sadar, berdebat atau menjelaskan diri tidak akan mengubah pandangan mereka. Satu-satunya cara untuk membungkam semua cemoohan itu adalah dengan hasil kerja nyata yang sempurna.
Biarlah mereka berbicara apa saja, batin Sherina. Biarlah mereka mengira aku sedang berakting. Yang terpenting bagiku adalah apa yang ada di dalam hatiku, dan apa yang akan kuberikan sebagai hasil nanti. Kerja kerasku adalah bukti nyata, dan waktu akan menjawab semuanya.
Lelah fisiknya semakin menjadi-jadi. Kadang kepalanya terasa berdenyut hebat, matanya kabur karena terlalu lama menatap layar komputer dan tumpukan kertas, dan kakinya terasa berat seolah terikat beban bebatuan.
Namun, setiap kali ia merasa hampir menyerah, setiap kali rasa lelah itu ingin menaklukkannya, bayangan wajah Arsya Abrisam dan kata-kata penghinaannya selalu kembali terlintas. Ingatan akan tatapan meremehkan dan asumsi bahwa ia hanyalah anak manja yang tak berguna, kembali membangkitkan kekuatan baru dalam dirinya.
Ia teringat juga pesan ayahnya: "Nilai seseorang diukur dari seberapa kuat ia bangkit saat jatuh, dan seberapa besar usahanya saat menghadapi kesulitan."
Hari-hari berlalu dengan perjuangan yang menguras seluruh tenaga dan pikiran. Di ruangan itu, tergambar dua sisi pandangan yang berbeda, satu sisi mulai perlahan membuka hati dan memberikan penghargaan atas ketulusan Sherina, sementara sisi lain tetap tertutup dalam prasangka dan sinisme.
Namun, di tengah segala pandangan itu, Sherina terus berjuang dengan jalannya sendiri. Ia melampaui batas kemampuannya, belajar tanpa henti, dan bekerja sekuat tenaga, membiarkan keringat dan lelah menjadi saksi kebenaran dirinya. Ia tahu, saat hari penyerahan tugas tiba nanti, semua pandangan itu akan menemukan jawabannya.
Dan saat itu pula, ia akan berdiri di hadapan Arsya, membawa hasil karya yang ia susun dengan darah, keringat, dan air mata, untuk menuntut haknya diakui sebagai manusia yang bernilai atas kemampuannya sendiri.