NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Kebohongan

Keheningan yang mencekam seketika mencengkeram seluruh sudut ruang kerja mewah itu setelah kalimat provokatif Rendy Surya bergema. Kata-kata itu bagai belati tak kasat mata yang menusuk tepat ke jantung pertahanan mental Alana, menghentikan pasokan udara di sekitarnya.

Pandangan Alana mendadak kabur, dan dunianya seolah berputar hebat didera rasa mual yang mendesak dari ulu hati. Monolog batinnya berteriak histeris, menolak mentah-mentah premis menjijikkan yang baru saja dilontarkan oleh pria dari masa lalunya itu.

Adik satu ayah? Tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi! Rendy pasti berbohong untuk menghancurkan sisa kewarasanku dan membalas dendam pada Devano! batin Alana menjerit panik, sementara debar jantungnya berdentum brutal menembus rongga dadanya.

Rendy Surya melangkah maju dua langkah dari ambang pintu lift privat, memutar pemantik api perak di jemarinya dengan ritme yang konstan. Senyuman sinis di wajahnya semakin lebar, memancarkan kepuasan melodrama yang pekat saat melihat tubuh Alana yang mendadak lemas tak berdaya.

Namun, reaksi yang diharapkan Rendy dari sang tirani sama sekali tidak terjadi. Devano Adhitama tidak melepaskan cengkeramannya pada pinggang ramping Alana; sebaliknya, lengan kekarnya justru semakin merapat, mengunci tubuh wanita itu ke sisinya dengan kehangatan tirani yang posesif mutlak.

Sepasang mata elang Devano menyipit pekat, menatap Rendy dengan ketenangan dingin yang jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah. Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan, hanya ada tatapan intimidatif yang menguliti keberanian Rendy secara perlahan.

"Hanya segini kemampuan terakhir dari silsilah Keluarga Surya yang sudah membusuk di tempat pembuangan?" kata Devano dengan suara serak yang sangat rendah, namun sanggup menggetarkan udara di dalam ruangan.

Devano perlahan beralih menatap Alana, mengabaikan keberadaan Rendy seolah pria itu hanya seonggok sampah yang tak berarti. Tangan besarnya bergerak naik, menangkup rahang Alana dengan cengkeraman tangan dominan yang kuat namun tidak menyakiti, memaksa wanita itu untuk mendongak mutlak menatap langsung ke dalam manik mata obsidiannya.

"Tatap aku, Alana. Jangan biarkan gonggongan anjing kelaparan mengacaukan pikiranmu," perintah Devano dengan nada suara yang sarat akan otoritas tunggal, mengunci seluruh kesadaran Alana agar hanya terpusat padanya.

Alana mendongak dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Sentuhan psikologis dari telapak tangan Devano yang hangat entah mengapa memberikan efek dilema yang rumit di dalam jiwanya; ia takut pria ini akan membencinya jika rumor itu benar, namun di saat yang sama, ia merasa dekapan Devano adalah satu-satunya jangkar waras yang tersisa.

"T-Tuan Devano... saya bersumpah demi nyawa saya, saya tidak tahu apa-apa tentang ini," kata Alana dengan suara yang parau dan gemetar hebat.

Devano menggunakan ibu jarinya untuk menyeka air mata di sudut mata Alana dengan gerakan posesif yang sangat halus, sebuah tindakan kontras yang penuh klaim kepemilikan. "Aku tahu, Istriku. Kau terlalu polos untuk memahami betapa kotornya trik yang dimainkan oleh pecundang ini."

Rendy Surya yang merasa diabaikan seketika menghentikan putaran pemantik apinya, gurat wajahnya berubah mengeras didera amarah karena provokasinya tidak berhasil mengguncang mental Devano. "Jangan berlagak sombong, Devano! Dokumen medis yang kukirimkan itu asli! Sarah adalah ibu kandung Alana, dan semua orang tua di kota ini tahu siapa pria yang menghamili Sarah sebelum wanita itu menghilang!"

Rendy melangkah maju lagi, menunjuk ke arah dokumen kuning yang sempat dilipat Devano di atas meja kerja. "Kau sedang meniduri anak dari wanita yang menghancurkan mental ibumu sendiri, Devano! Apakah kau begitu buta oleh obsesi hingga rela melanggar batas paling tabu dalam silsilah keluargamu?!"

Devano melepaskan pandangannya dari Alana, lalu perlahan memutar kursi roda elektriknya menghadap Rendy sepenuhnya. Sebuah seringai tipis yang sangat kejam terukir di sudut bibir tampannya, memancarkan kilat kegilaan penguasa yang siap melakukan eksekusi mati.

"Kau mengira aku tidak memeriksa asal-usul wanita yang masuk ke dalam ranjangku, Rendy?" ucap Devano, nadanya mengalun lambat namun sarat akan tekanan psikologis yang menyesakkan dada.

Devano meraih amplop hitam di atas meja, lalu melemparkannya tepat ke bawah kaki Rendy Surya dengan pandangan penuh penghinaan. "Sertifikat medis itu memang asli, tapi analisis DNA yang kau bawa adalah hasil manipulasi murahan yang sengaja disiapkan oleh mendiang ayahmu lima tahun lalu untuk memeras Adhitama Group."

"Ibu Alana memang bernama Sarah, tapi dia bukan Sarah yang sama dengan wanita masa lalu ayahku. Kau melupakan satu fakta komersial penting, Rendy... aku menguasai seluruh jaringan data rumah sakit pusat, dan aku sudah memegang dokumen pembanding yang asli bahkan sebelum Herman Wijaya menjual Alana kepadaku," lanjut Devano dengan tawa rendah yang terdengar sangat dingin.

Mendengar hal itu, seluruh otot di wajah Rendy Surya seketika kaku sempurna, matanya membelalak tak percaya saat menyadari bahwa seluruh rencana sabotase yang ia susun selama bertahun-tahun di pelabuhan lama ternyata sudah dibaca oleh Devano sejak awal.

Alana merasakan beban berat yang menghimpit dadanya mendadak runtuh, menyisakan kelegaan luar biasa yang membuatnya hampir jatuh terduduk jika saja lengan kekar Devano tidak menahan pinggangnya dengan erat.

Bukan... aku bukan adiknya. Terima kasih Tuhan, batin Alana menangis lega, menenggelamkan wajahnya pada bahu tegap suaminya untuk mencari perlindungan.

Devano mencondongkan tubuh besarnya ke depan, mengunci tatapannya pada Rendy yang kini mulai melangkah mundur dengan peluh dingin yang bercucuran di pelipisnya.

"Kau sudah masuk ke dalam jebakanku secara sukarela, Rendy Surya. Keamanan Jefri sengaja kulonggarkan agar kau berani menunjukkan wajah tikusmu di lantai tertinggi gedung ini," kata Devano penuh nada kemenangan absolut.

Sebelum Rendy sempat memutar tubuhnya untuk melarikan diri kembali ke arah lift privat, pintu ganda ruang kerja mendadak hancur terbuka dari luar. Jefri masuk bersama belasan pengawal berseragam hitam lengkap dengan senjata laras pendek, mengunci seluruh jalur keluar dan menodongkan senjata mereka tepat ke arah kepala Rendy Surya.

Namun, di tengah kepungan yang mematikan itu, Rendy Surya tiba-tiba tertawa histeris seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Ia mengangkat tangan kirinya yang sejak tadi tersembunyi di balik saku jas, memperlihatkan sebuah ponsel pintar yang layarnya menampilkan sebuah grafik siaran langsung yang sedang berjalan.

"Kau mungkin menangkapku di sini, Devano! Tapi kau terlambat satu menit!" teriak Rendy dengan kilat kegilaan yang tak kalah pekat di matanya. "Salinan dokumen manipulasi ini sudah otomatis terkirim dan disiarkan langsung ke hadapan seluruh Dewan Direksi Adhitama Group yang sedang mengadakan rapat pleno di lantai bawah! Detik ini juga, seluruh pemegang saham mengira kau sedang melakukan skandal tabu, dan saham perusahaanmu sedang terjun bebas menuju kehancuran!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!