NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embun Kota Batu

Zaki lahir dua menit lebih muda dari Vito. Percaya atau tidak, hubungan keduanya paling erat dibandingkan dengan saudara lainnya. Mereka selalu kompak, meskipun sering membuat satu sama lain marah.

Keduanya adalah saudara kembar. Sama-sama keras kepala, mudah tersulut emosi, dan tidak suka dilarang. Namun, kesamaan itu hanya sampai di situ.

Saat masa remaja, mereka pernah bertengkar hebat hingga saling memukul. Keduanya pulang dengan mata bengkak, bibir terluka, dan Zaki kehilangan satu gigi. Anehnya, Papa mereka malah mendaftarkan keduanya ke kelas kickboxing. Menurut ayahnya, tempat itu merupakan sarana yang aman untuk melampiaskan kemarahan sekaligus melatih kedisiplinan.

Kini usia mereka hampir tiga puluh tahun, dan mereka masih saling bertinju di tempat latihan sebagai cara melepas lelah. Ayah mereka menyebut kegiatan itu sebagai aktivitas yang terkontrol. Apa pun sebutannya, cara itu terbukti efektif bagi mereka.

Menjadi anak tertua dari lima bersaudara bukanlah hal yang mudah, apalagi empat di antaranya bekerja di usaha keluarga.

Zaki adalah orang kepercayaannya di lingkungan kerja, dan mereka hampir bertengkar setiap hari. Dulu, karena status sebagai anak kembar, banyak orang bertanya siapa yang akan memimpin usaha ini kelak.

Padahal, tidak ada persaingan di antara mereka. Zaki telah menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak mau memikul tanggung jawab seberat itu, meskipun selama enam bulan terakhir ia kerap menolak keputusan yang diambil Vito.

Rowan bertugas menjaga kualitas hasil produksi agar tetap terjaga. Ia adalah orang yang teliti dan memiliki pengetahuan luas mengenai hal-hal teknis.

Jaylon adalah anak laki-laki bungsu. Sifatnya sangat mencerminkan posisinya tersebut. Setelah usaha keluarga berkembang pesat, jabatan untuk Jaylon dibuat khusus sebagai hadiah kelulusan kuliahnya.

Tugasnya adalah menjadi duta merek usaha tersebut. Ia suka menjadi pusat perhatian, dan hal ini kerap membuat saudara-saudaranya merasa kesal. Meski demikian, keluarga ini tidak akan lengkap tanpa kehadirannya.

Adik perempuan mereka, Astrid, tidak mau terlibat sama sekali dalam usaha keluarga. Ia baru saja mulai bekerja sebagai guru di sekolah dasar setempat.

Astrid mungkin orang paling cerdas di antara mereka. Dia memilih pergi, sehingga tak perlu bekerja setiap hari bersama orang-orang yang sulit diajak bekerja sama.

Vito melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul tujuh malam.

Ia sadar sudah terlalu lama berada di kantor, lalu merapikan barang-barangnya dan segera pulang agar bisa menikmati malam dengan tenang. Saat menerima jabatan ini, ia memang siap bekerja sampai larut malam. Lagi pula tak ada orang yang menunggunya di rumah, sehingga hal itu bukan masalah baginya. Ia sibuk, dan sangat menyukai pekerjaannya.

Vito membelokkan truknya masuk ke garasi rumah dan memarkirkannya di samping sepeda motor. Truk itu adalah Carry Pick Up putih tahun 1998 yang telah ia kendarai sejak remaja.

Kendaraan itu diwariskan kakeknya tepat di hari ia mendapatkan surat izin mengemudi. Bagian tepi kabinnya sudah mulai berkarat, dan ada penyok kecil di sisi kanan bak belakang akibat menabrak kotak surat saat usianya enam belas tahun. Dengan penghasilannya sekarang sebagai pengelola penyulingan, membeli kendaraan baru bukanlah hal sulit. Namun, ia terlalu sayang untuk melepaskan kendaraan tua itu.

Ia menutup pintu garasi lalu berjalan melewati jalan setapak menuju rumah dengan langkah santai.

Setelah melepas sepatu di ruang depan, ia langsung ke dapur mengambil sebotol bir lalu duduk di teras belakang. Meskipun tumbuh di lingkungan penyulingan dan terbiasa dengan hasil produksinya, Vito lebih suka minum bir. Minuman keras lain hanya dinikmatinya saat harinya benar-benar buruk.

Ia duduk di kursi santai dan meneguk bir dingin itu sekaligus. Vito menikmati ketenangan di sekitar. Tanah luas di belakang rumah menjadi alasan utama ia membeli tempat ini. Bahkan teras melingkar itu dibangunnya sendiri agar bisa menghabiskan banyak waktu di luar ruangan. Pemandangan pegunungan dan hutan cangar yang terlihat dari sini sangat lah indah.

Malam di sini sunyi dan gelap, tetapi pagi adalah bagian yang paling disukainya. Biasanya kabut tebal menyelimuti seluruh pemandangan, dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah desiran angin di antara pepohonan serta bunyi hewan-hewan hutan.

Saat pertama kali melihat rumah yang berdiri di atas lahan seluas lima hektar ini, ia langsung tahu tempat ini sangat cocok untuknya. Ini adalah rumah pertama yang berhasil dibelinya dengan usahanya sendiri. Namun, saat melihat sekeliling, ia merasa kecewa karena tak ada orang yang berdiri di sampingnya untuk berbagi kebahagiaan itu.

Dulu, Vito pernah berharap pada seseorang untuk menemaninya seumur hidup. Namun, wanita itu sudah pergi meninggalkannya sejak lama. Vito menyadari bahwa Nowi adalah satu-satunya alasan mengapa sampai sekarang ia masih hidup sendirian.

Memang benar ia pernah dekat dengan beberapa wanita setelah Nowi pergi, namun tak ada satu pun yang membuatnya ingin menjalin hubungan serius. Baginya, tak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi Nowi. Mereka sudah saling kenal sejak kecil, namun baru benar-benar dekat saat duduk di kelas enam.

...(Flash Back On)...

Hari pertama masuk sekolah, Nowi datang terlambat. Ia berdiri di dekat pintu dengan wajah gugup, menggosok-gosokkan kedua tangannya di dasi kupu-kupunya dan tak tahu harus duduk di mana. Guru pun mengarahkannya ke satu-satunya kursi kosong yang tersisa, tepat di sebelah tempat duduk Vito.

Nowi duduk di sana lalu sibuk mengatur tas, buku tulis, dan alat tulisnya di atas meja.

“Halo, Kupu-kupu,” sapa Vito.

Wajah Nowi langsung memerah karena malu. “Hai… Namaku bukan begitu, namaku Nowi. Nowi Pramesti,” jawabnya terbata-bata.

Vito tertawa kecil melihat tingkahnya. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan. Matanya tertuju pada jepitan-jepitan di rambut Nowi. Entah kenapa, aksesori itu terlihat sangat pas menempel di rambutnya.

“Terserah, aku lebih suka manggil kamu Kupu-kupu. Omong-omong, nama aku Vito Anggoro,” ujarnya santai.

Saat lulus SMA, Vito sempat bertemu lagi dengan guru mereka itu dan mengucapkan terima kasih karena telah mendudukkan calon istrinya di sebelahnya hari itu. Tentu saja, gurunya bahkan tak ingat kejadian tersebut. Namun, Vito tak akan pernah melupakannya. Pertemuan itu telah mengubah seluruh hidupnya menjadi lebih indah, atau setidaknya itulah yang dipikirkannya saat itu.

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak terakhir kali melihat wajah wanita itu, namun ia tak pernah bisa melupakannya. Bayangan Nowi selalu muncul di benaknya, dalam situasi apa pun.

Sebulan setelah acara kelulusan sekolah, Vito mencoba menghubungi Nowi namun nomor teleponnya sudah tak aktif. ia merasa ada sesuatu yang tak beres.

Vito langsung mengajak Zaki pergi ke rumah Nowi. Ibunya yang membukakan pintu.

“Halo, Bu Rosse. Nowi ada di dalam? Nomornya nggak bisa dihubungi, aku jadi khawatir,” tanya Vito dengan nada cemas.

Wanita itu menatapnya dengan wajah datar. “Vito, Zaki. Nowi sudah pergi semalam.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!