Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 4
" mommy" teriak Chessy ketika melihat ibunya dari arah samping kanan Nina.
Tubuh Nina mendadak menjadi kaku, jujur ia belom siap ketemu anggota keluarganya, siapa pun itu termasuk kakak iparnya.
Nina menurunkan tubuh Chessy perlahan tanpa menoleh ke arah kakak iparnya berjalan, setelah turun dari gendongan Nina, Chessy berlari ke arah mommynya yang dimana jarak mereka sekarang tidak terlalu jauh.
Nina hendak pergi namun tangannya di cekal oleh Icha, Icha tersenyum penuh kemenangan kala melihat Nina ketakutan, karena istri dari tuan Haris datang.
" mau kemana kamu? kalau kamu benar- benar adik mereka kenapa harus takut jika bertemu dengan Tuan Haris dan Nyona Anin?" ujar Icha penuh dengan kemenangan.
" bukan urusan mb Icha ya..., kalau mb icha enggak percaya ya sudah" jawab Nina hendak pergi, namun suara Kakak iparnya menghentikan langkahnya.
" Adek" panggil Anin melihat ke arah Nina.
Silmi dan Della masih tak percaya jika memang Nina adalah adik dari pengusaha properti yang cukup besar, pasalnya yang ia tahu Nina adalah anak pedagang warung kelontong, yang merantau dan hidupnya super hemat.
Nina mau tak mau memutar badanya menghadap ke arah sang kakak ipar , yang kini tepat di belakangnya.
" adek" panggil Anin sekali lagi.
Nina hanya tersenyum kecil dan menyalami sang kakak ipar, Anin kemudian memeluk adik iparnya, Anin begitu menyayangi sang adik ipar seperti adiknya sendiri,karena memang ia juga tidak punya adik ipar.
Icha terbungkam, ia tidak percaya jika apa yang di katakan Nina adalah benar .
Della dan Silmi melihat ke arah Icha yang masih tidak percaya, sebenarnya mereka juga awalnya ragu, namun setelah melihat adegan ini mereka akhirnya percaya.
" Ya Allah dek, kemana aja? kenapa ke jakarta enggak ke rumah?kamu tau kita semua nyariin kamu loh" beribu pertanyaan yang di lontarkan Anin.
" Maaf kak, Nina hanya ingin belajar mandiri, Nina enggak mau terus menerus hidup di bayang- bayang Kakak dan abang" jawab Nina.
" Kamu kerja disini sudah berapa lama? kenapa kakak enggak pernah ketemu kamu?" tanya Anin kembali.
" baru enam bulan kak" jawab Nina.
" kenapa enggak pernah ke rumah? Chessy selalu menanyakan Nana nya " ujar Anin menggendong Chessy.
Nina mengusap kepala Chessy, dan Chessy kembali meminta gendong pada Nina, Nina pun menggendong Chessy, Chessy terlihat begitu nyaman di gendongan sang aunty.
" kenapa enggak ke rumah?" tanya Anin kembali.
" aku malu sama abang sama Kak Anin, pasti nanti abang ngeremehin aku lagi, dan nyuruh aku pulang, aku enggak mau pulang sebelum aku sukses kak, dan tanpa di bawah bayang- bayang abang, aku capek selalu di bandingkan dengan Kak Wira dan Bang Haris kak" ujar Nina mengungkapkan segala unek- uneknya.
" Sayang " teriak seseorang dari belakang Nina, suara yang begitu familiar baginya.
Nina buru- buru memberikan Chessy kepada kakak iparnya, namun Chessy tidak mau lepas dari Nina.
" Kak Anin pliss kak, aku belom siap ketemu abang" ujar Nina memohon pada sang kakak ipar.
Namun belom sempat menjawab Haris sudah berada di belakang Nina bersama dengan Raynar, yah Hariis dan Raynar sudah saling mengenal, mereka berteman sudah sejak lama, karena memiliki hobi yang sama yaitu memancing, mereka bertemu di salah satu lomba pancing, karena mereka sefrekuensi akhirnya mereka berteman hingga sekarang, walau berbedaan umur yang lumayan jauh, tapi mereka nyambung ketika membahas apapun.
Nina memejamkan matanya kala ada tangan yang mengambil paksa sang ponakan, Haris tidak sadar yang di depannya adalah adiknya.
" Sayang kenapa kamu biarin Chessy di gendong sembarangan orang?" tanya Haris mengambil alih Chessy.
Nina hendak pergi,kala Chessy sudah tidak dalam gendongannya, namun bertanya dari Icha membuat Nina menghentikan langkahnya.
" bukannya dia adik Tuan Haris?" tanya Icha, yang mendapat teguran dari Raynar.
" adik?" tanya Haris kemudian mencekal Pergelangan tangan Nina, dan memaksa Nina untuk menoleh ke belakang.
Saat Nina menoleh ke belakang dan membuka matanya yang ia dapati adalah wajah seram abangnya yang sedang menggendong Chessy dan Bos nya di samping sang Abang.
Nina tersenyum ke arah Haris, sebelum haris menarik telinga Nina di depan umum.
" Bagus.... kabur berbulan- bulan,engga kasih kabar, bikin orang rumah khawati, kemana saja kamu?" ujar Haris menjewer telinga sang adik.
" Aduh bang, sakit bang,malu bang" pekik Nina.
Silmi dan Della tersenyum melihat itu,bisa di bilang Icha kalah telak dari Nina, memang mereka berdua juga tidak terlalu suka dengan Icha,karena Icha selalu saja berlaku seenaknya.
" Biar, biar semua orang tau, ada orang kabur dari rumah berbulan- bulan enggak ngasih kabar" sahut Haris semakin memutar telinga sang adik yang tertutup hijab.
" Bang mana ada orang kabur ngasih kabar, lagian juga, aku selalu uptudate kehidupan ku disini sama Kak Wira dan kak Malihah" jawab Nina yang berusaha melepaskan tangan abangnya.
" Sayang lepasin sayang" pinta Anin pada sang suami.
Sedangkan Chessy memberontak ingin ikut dengan Nina, mau tak mau Haris memberikan sang buah hati pada sang adik.
" tuh liat, apa kamu enggak mikir? Chessy aja seperti itu kangennya, padahal kalian jarang ketemu apalagi ibu sama bapak" ujar Hariis kala melihat putrinya langsung memeluk sang adik.
Sedangkan Raynar masih tidak percaya wanita yang baru ia temui tadi, dan langsung membuatnya tertarik adalah bukan orang sembarangan.
" emm Mas Haris sepertinya ini maslah internal, lebih baik kita selesaikan di ruang gue aja mas" ujar Raynar yang menggunakan bahasa santai pada Haris.
" ikut abang kamu" pinta Haris menarik tangan sang adik.
" apasih bang, Nina lagi kerja " Sahut Nina melepas cengkraman abangnya.
" Nina selesaikan masalah kalian dulu, saya kasih ijin, tapi lebih baik di ruangan saya, karena ini masalah internal" ujar Raynar.
" baik pak" sahut Nina yang langsung nurut pada Raynar.
" Ayo mas, Kak Anin, ke ruang gue aja " ajak Raynar, yang sudah cukup akrab dengan Haris dan juga Anin.
" kalian bisa kembali bekerja, dan jangan menyebarkan gosip yang tidak- tidak " peringat Raynar, seakan tau isi otak Icha.
" baik tuan" jawab Silmi, Della dan Icha.
Nina dan Anin berjalan berdampingan dan di ikuti oleh Raynar dan juga Haris di belakang Nina.
" wah gue enggak nyangka,Nina ternyata adiknya pengusaha terkenal, padahal gue sudah kasihini dia, ternyata kita yang perlu di kasihani" Ujar Silmi, setelah Nina dan yang lainnya masuk kedalam lift.
" Iya ya.. mb, pantesan barang- barang Nina tuh bermerk semua, ternyata dia orang kaya, tapi kenapa dia milih tinggal di kos yang kecil yaa mb, dia juga mau loh bantu- bantu ibu kos kita, cuci piring sebelum berangkat kerja, emang orang kaya sama yang sok- sok kaya keliatan ya mb" sindir Della.
Icha mendengus kesal, karena ia kalah lagi dengan Nina, si anak baru yang mencuri perhatian.
" Awas saja kamu Nina"