NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - Rayna dan Vando: Awal dari Segalanya

"Lucu ya… dulu aku nggak pernah mikir kalau jarak bisa sejauh ini."

Malam sudah larut, tapi Rayna belum juga bisa tidur. Matanya bengkak, pikirannya penuh. Di meja kecil di samping tempat tidur, ponselnya tergeletak diam, layarnya gelap.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap langit-langit kamar.

"Vando…" bisiknya pelan.

Satu nama yang selalu muncul setiap kali hatinya terasa kosong.

Ia menutup mata. Dan seketika, kenangan itu datang, terlalu jelas, seolah baru kemarin.

Suara mobil di tengah malam. Tangisan Mama. Dingin yang menggigit.

Semua kembali.

** FLASHBACK **

Mobil itu melaju di tengah malam yang sunyi…

Di dalamnya, Rayna kecil yang baru berusia enam tahun hanya bisa duduk diam sambil memeluk erat lengan mamanya. Di sampingnya, Mama Wina terisak tanpa henti. Matanya bengkak, pipinya basah oleh air mata. Suara tangisnya nyaris tak terdengar, tapi terasa menyesakkan udara di dalam mobil.

Saat itu, Rayna tak mengerti kenapa Mama begitu sedih. Yang ia tahu, Mama dan Papa sudah terlalu sering bertengkar. Namun sebagai anak kecil, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk Mama lebih erat, berharap pelukannya cukup untuk menghentikan air mata itu.

Setibanya di bandara, mereka langsung naik pesawat. Perjalanan itu terasa sangat panjang. Setelah mendarat, seorang supir menjemput mereka dan membawa ke sebuah rumah besar di lingkungan yang tenang, rumah asing yang akan menjadi tempat tinggal mereka selanjutnya.

Malam itu, pukul sudah menunjukkan jam sembilan malam ketika mereka tiba. Kelelahan, mereka langsung beristirahat.

Keesokan paginya, sinar matahari mengintip dari sela jendela ketika Wina dan Rayna sedang menyiram tanaman di halaman depan. Udara masih sejuk saat seorang wanita dari rumah seberang mendekat.

"Hello, you just moved here last night, right?" sapa seorang wanita dengan logat Ceko yang terdengar kental.

"Yes, we just came last night," jawab Wina sopan.

Wanita itu tersenyum ramah. "Nice to meet you. Where are you from?"

"I’m from Indonesia."

Matanya langsung berbinar. "Oh! I’m also from Indonesia! Kenalin, saya Rosa," katanya kali ini dalam bahasa Indonesia, sambil mengulurkan tangannya.

"Ah Rosa. Nama saya Wina. Ini anak saya, Rayna. Dia berumur enam tahun sekarang."

"Enam tahun? Wah kebetulan sekali. Saya juga punya anak laki-laki yang seumuran.

Rayna yang mendengar itu hanya menatap penuh rasa ingin tahu. Wina tersenyum, lalu menoleh ke putrinya.

"Rayna, kamu punya teman, nih."

"Sekarang anaknya di mana? Biar kenalan sama Rayna," tanya Wina.

"Van! Come here, boy!" teriak Bu Rosa memanggil anaknya.

Dari balik pintu rumah seberang, munculah seorang anak laki-laki berwajah manis dengan rambut sedikit acak-acakan. Ia tampak sebaya dengan Rayna, tapi sorot matanya memancarkan keberanian yang berbeda.

"Hi there, what’s your name?" tanya Wina lembut sambil tersenyum.

"Evando," jawab anak itu dengan malu-malu.

"Boy, yuk kenalan sama anak Bu Wina," ujar Bu Rosa.

Anak itu mendekat dan mengulurkan tangan kecilnya ke Rayna.

"Hi, my name is Vando. What is your name?"

"Nama aku Rayna," jawab Rayna, menyambut uluran tangan itu dengan ragu-ragu.

"Ikut aku yuk, kita main ke taman," ajak Vando sambil tersenyum.

Sejak perkenalan pertama itu, Evando atau Vando, begitu biasa ia dipanggil, berubah menjadi cahaya kecil dalam hidup Rayna. Dalam peluk duka karena kehilangan sosok ayah, kehadiran Vando perlahan menghapus rasa sepi yang selama ini menjerat hati kecilnya.

Sore itu, di taman yang sering mereka kunjungi, Rayna dan Vando duduk bersebelahan di bangku kayu, ditemani semilir angin dan kicauan burung.

"Vando... aku pengen deh ke Jakarta. Aku pengen lihat Monas secara langsung," ucap Rayna, menatap langit senja.

"Monas? Aku juga pengen! Apalagi kalau kita ke sana bareng, pasti seru," sahut Vando bersemangat.

Rayna tersenyum.

"Kata Mama, Monas itu indah banget. Itu simbol Jakarta. Aku pengen deh cepet-cepet ke sana, sama kamu."

Vando menoleh, matanya serius.

"Ya udah, aku janji... nanti kalau kita sudah besar, aku bakal ajak kamu ke Jakarta, ke Monas. Kamu mau kan?"

Rayna mengangguk cepat. "Iya, aku mau banget!"

"Janji ya, kita bakal ke sana bareng?" tanya Vando sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Dengan wajah malu-malu, Rayna pun mengaitkan jari kelingkingnya ke milik Vando. Mereka saling mengikat janji polos itu, janji kecil dua anak manusia yang belum tahu betapa rumitnya dunia saat mereka tumbuh nanti.

Tiba-tiba, Vando mencubit pipi Rayna.

"Aduh!" serunya sambil menepuk pipinya sendiri. Vando langsung tertawa dan lari menjauh.

"Bleeee..." ejeknya sambil menjulurkan lidah.

"Ih Vando nyebelin!" Rayna berdiri dan mulai mengejar bocah itu.

Mereka berlarian di tengah taman, tertawa lepas tanpa beban. Dan seolah ikut bermain, hujan turun deras begitu saja dari langit yang tadinya cerah. Tapi mereka tak peduli. Mereka tetap berlari, menari dalam hujan, seolah dunia hanyalah milik mereka berdua.

Mereka tidak tahu bahwa hari-hari seperti itu... kelak hanya akan menjadi kenangan yang terus mereka genggam dalam hati.

Tak lama setelah hujan reda, langit mulai gelap. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Rayna merasa tubuhnya sangat dingin. Dengan langkah lemah, ia berjalan menuju kamar sang ibu.

TOK TOK TOK

"Ma...?" panggil Rayna lirih dari balik pintu.

Sang ibu segera membuka pintu dan terkejut melihat wajah putrinya yang tampak pucat dan menggigil.

"Kamu kenapa, Sayang? Kamu hujan-hujanan, ya?" tanya sang ibu dengan nada cemas.

"Iya, Ma... Aku main hujan bareng Vando tadi. Seru banget, aku seneng banget... Tapi sekarang badan aku dingin banget," jawab Rayna sambil memeluk dirinya sendiri.

Wajah sang ibu seketika berubah khawatir. "Aduh, sayang... Lain kali jangan main hujan lagi ya. Meskipun menyenangkan, tapi lihat sekarang, kamu kedinginan sampai pucat begini. Yuk, kita ke dokter."

Mereka pun segera menuju rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa, dokter mengatakan Rayna mengalami serangan asma cukup berat akibat cuaca dingin. Ia harus dirawat beberapa hari dan menggunakan alat bantu pernapasan sementara.

Di usianya yang baru enam tahun, Rayna mulai mempertanyakan semuanya dalam diam.

"Aku cuma pengen main sama Vando... kenapa aku harus sakit?"

Empat hari berlalu. Setelah kondisinya membaik, dokter mengizinkannya pulang. Tapi Rayna tetap harus memakai alat bantu inhalasi dan tidak boleh terlalu lelah.

Sesampainya di rumah, Vando menyambutnya di ruang tamu. Begitu melihat Rayna, ia langsung memeluknya erat, penuh rasa bersalah.

"Rey... Maafin aku, ya. Gara-gara kita main hujan, kamu jadi sakit kayak gini," ucapnya lirih sambil menahan tangis.

Rayna membalas pelukannya. " Jangan sedih, Vando. Aku cuma sakit sedikit. Nanti kita bisa main lagi."

"Aku bener-bener takut kamu kenapa-kenapa..." ucap Vando, matanya tak sanggup berpaling dari selang pernapasan di wajah sahabatnya.

Melihat Rayna dalam kondisi seperti itu membuat semua yang hadir di ruangan tak kuasa menahan tangis. Vando menangis sejadi-jadinya, membuat suasana ruangan terasa begitu berat.

Rayna pun tak mampu menahan air mata. Pipinya basah, dan tubuhnya bergetar.

Sang ibu segera menghampiri, mencoba menenangkannya. "Sayang... dokter bilang kamu gak boleh banyak menangis, nanti napasmu bisa terganggu," ucapnya sambil menahan tangisnya sendiri.

Rayna memeluk ibunya, mencoba menenangkan diri, walau hatinya tetap berat. Vando yang melihat itu pun berusaha menahan tangisnya agar Rayna ikut tenang.

"Sekarang Rayna istirahat ya, sayang. Mama bantu ke kamar, yuk," ujar sang ibu lembut.

Namun Vando segera menyela, "Biar aku aja, Tante. Aku yang bantu Rayna."

Dengan perlahan, Vando membantu Rayna menuju kamar. Ia membaringkannya dengan penuh hati-hati. Meski terlihat tenang, wajah Vando menyimpan kesedihan yang dalam.

"Rayna... aku janji bakal nemenin kamu sampai kamu sembuh," ucap Vando sambil menggenggam tangan sahabatnya.

Rayna tersenyum kecil. "Makasih ya, Vando."

Tak lama, Bu Rosa datang menghampiri mereka. "Vando, sekarang udah malam. Ayo pulang dulu, besok kamu sekolah, kan?"

"Tapi, Ma... Aku mau nemenin Rayna," jawab Vando lirih.

"Iya sayang, besok kamu bisa datang lagi, ya," ujar Bu Rosa sambil membelai kepalanya.

Dengan berat hati, Vando akhirnya mengangguk. Ia berpaling pada Rayna dan berkata pelan, "Maafin aku ya, Rayna. Aku pulang dulu. Tapi besok pagi aku janji datang lagi buat nemenin kamu."

Rayna hanya mengangguk pelan, menahan kecewa yang membuncah. Setelah Vando pulang, sang ibu membantunya makan dan minum obat. Malam itu Rayna tidur dalam pelukan ibunya, meski tidurnya tak pernah benar-benar lelap.

Bersambung...

Catatan:

Halo teman-teman, maaf ya kalau dialog bahasa inggrisnya keliatan aneh. Soalnya aku emang nggak jago hehehe.

Mohon dimaklumi ya, hehehe 🙏🏻

1
kim elly
horang kaya dia
kim elly
terus kalo jadian kenapa masalah buat lo
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
🦋RosseRoo🦋
julid amat jadi temen, tp terlalu kepo juga bikin kesel tau. 😅
Nuri_cha
jangan seterluka itu Rayna. karena di sana, belum tentu Vando menjaga cinta kalian
Nuri_cha
elah... inget Vando Mulu. dia aja gak inget sama kamu. kalau inget mah, dia pasti ngehub kamu. ini udh berbulan2 kan, gak ada effort sama sekali dari si vando. lupain aja lah
Nuri_cha
Rayna masih merasa kurang nyaman sama kamu, Ben. kasih dia waktu dulu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!