Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Gumam Wulan sembari mencium aroma yang bentuknya mirip seperti jubah itu. Beberapa saat dirinya menatap baju itu seperti merasa heran dan tak sekalipun pernah melihat kedua orang tuanya mengenakan pakai itu.
Meski bukan baju seperti itu yang dirinya cari, namun ketika itu seperti ada dorongan kuat yang memaksa dirinya untuk mencoba memakai baju yang lebih di pantas jubah itu. potongan kain itu berbentuk panjang dan terdapat kupluk di sekitar kerahnya. Dengan sepasang lengan panjang tanpa kancing ataupun pengunci baju pada umunya.
Bahkan setelah di amati dengan saksama, jahitan pada baju itu begitu sederhana seperti di jahit dengan sulaman tangan terampil.
pikirnya, apa mungkin baju bekas itu sengaja di simpan ibunya untuk di jadikan orang orangan sawah atau bahan untuk kain lap. Entahlah.
Yang jelas ketika itu Wulan tiba tiba ingin mencoba baju itu sebelum kembali memilih pakaian di lemari ibunya itu.
sembari duduk di pinggiran ranjang, Wulan pun perlahan mencoba baju itu sembari sedikit menahan nafas karena tak suka pada aroma kembang melati yang begitu menyengat itu. Dan anehnya setelah baju itu ia pakai bahkan kupluk/topi itu ia sangkutkan di kepalanya, tiba tiba Wulan merasa sedikit pusing di sertai sekujur tubuhnya seperti ada sesuatu yang merayap perlahan.
Rasa itu seperti getaran halus yang terus saja merayap dari hujung kaki sampai ubun ubunnya. tentu saja Wulan pun yang merasa heran pada keanehan itu, dirinya berniat melepas baju itu. Namu ke anehan lainpun lagi lagi ia rasakan. Di mana tiba tiba pandangannya gelap di sertai suara gemuruh di sekitar tubuhnya.
"ambuuu ...!!!!"
Teriak Wulan sasambat pada ibunya. Detik itu juga dirinya berusaha lari dari kamar itu tanpa menghiraukan baju yang masih belum sempat di lepasnya itu. Namun malang, baru saja beberapa langkah dirinya berlari, tiba tiba tubuhnya terasa membentur sesuatu yang keras. Taksiran benda itu adalah pinggiran lemari yang tak sengaja di tabraknya karena ke adaan yang gelap gulita.
Yang alhasil tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan lalu ambruk tak sadarkan diri tanpa ada yang mengetahui apalagi menolong dirinya.
Hingga pada akhirnya dirinya tersadar dengan sendirinya. Lantas segera berlari keluar kamar itu. bahkan dirinya baru menyadari satu hal setelahnya. Jika jubah yang nyaris membutnya mati ketakutan itu tiba tiba lenyap dari tubuhnya. Seperti ada seseorang yang sengaja menanggalkan.
Beberapa saat Wulan tampak termenung diam seribu bahasa. seakan tak habis pikir siapa yang melepaskan baju itu dari tubuhnya. Bahkan demi memastikan tak ada orang lain di rumah selain dirinya, Wulan dengan sengaja berkeliling memeriksa setiap ruangan.
Beberapa kamar, ruang dapur, kamar mandi, bahkan gudang sekalipun ia periksa dengan teliti. Tak lupa kedua tangannya mengepal erat gagang sapu sebagai bentuk perlindungan diri. Mana tau ada orang jahat atau maling yang masuk ke rumahnya dan menyempatkan membukakan baju itu dari tubuhnya. Namun ketika Wulan menyadari beberapa pintu dan jendela masih terkunci dengan sempurna, dirinya yakin tak ada orang lain selain dirinya sendiri di rumah itu.
Dan untuk menghilangkan rasa penasarannya, Wulan perlahan melangkah menuju kamar ibunya dan berniat memastikan kamar itu juga kosong. Meski rasa takut itu tetap ada bahkan semakin menjadi, Wulan tetap melanjutkan niatnya sampai sebagian tubuhnya benar benar masuk melihat suasana kamar ibunya itu.
Sampai pada akhirnya Wulan di buat menjerit untuk kedua kalinya. Persis di bawah ranjang yang tengah di tatapnya itu, Wulan melihat hujung sesuatu yang begitu di kenalinya. dirinya yakin jika itu adalah sepasang kaki yang sudah terbungkus dengan kain putih dan di ikat dengan sobekan kain lusuh.
"akhhhh...!!!"
Detik itu juga Wulan menjerit histeris sembari membalikan tubuhnya berusaha kabur dari rumah itu. Dalam ke adaan panik dirinya membuka kunci pintu lalu segera berlari tanpa sempat menutup kembali pintu itu.
Tujuannya kali ini meminta pertolongan pada warga sekitar dan lebih dulu menemui Asih. Karena pikirnya, Asih lah tetangga terdekat dan di rumah asih tentunya ada ayahnya yang tentu saja tak akan tinggal diam.
Namun lagi lagi dirinya di buat bingung dan baru menyadari sesuatu. Jika ke adaan di luar rumah sudah lumayan gelap. Seperti tak lama lagi akan memasuki waktu maghrib.
Kendati demikian, Wulan tak menghiraukan semua itu. Baginya bertemu dengan seseorang dan meminta perlindungan itu sudah lebih baik ketimbang menahan rasa takut seorang diri.
sampai pada akhirnya tak lama setelahnya Wulan sampai ke rumah Asih lalu menggedor keras pintu di hadapanya itu.
"asalamualaikum !!! Asih!!! Asih!!! Wa !!! Wa!! Buka pintunya cepat wa!!!"
Teriak Wulan sembari mempercepat gedoran pada pintu itu. dan tentu saja suara pintu yang di ketuk tak wajar itu, membuat pemilik rumah merasa ikut terkejut dan dengan segera melangkah menuju pintu.
"astaghfirullah... Siapasih itu. Namu kok sampai sebegitunya. Gak tau orang mau sholat magrib apa?"
Gerutu pemilik rumah yang tak lain adalah Asih. di tengah rumah tampak seorang lelaki yang mengenakan sarung dan pakaian sederhana. Di sampingnya terlihat wanita setengah baya yang tampak sudah memakai mukena dan tampak menggelangkan kepala sembari menatap pintu.
yang tak lain itu adalah kedua orang tua Asih yang hendak melakukan sholat maghrib berjamaah.
"siapasih itu pak. ngetuk pintu kok kaya mukul bedug saja. Gak sopan banget"
Umpat kesal ibu Asih sembari melihat anaknya yang sedang menarik gagang pintu. Namun tak lama setelahnya...
"walahhh...!!! Setan !!! Tolongggg...!!!"
Ya. Seketika keadaan kacau kalangkabut. Di mana setelah pintu itu setengah terbuka, Asih menjerit karena melihat sosok pocong yang berdiri sembari melompat ke arahnya. Sehingga pantas saja asih yang ketakutan dan tiba tiba seperti setengah gila, detik itu berlari sampai menambrak kedua orang tuanya yang juga berdiri kaku dengan mulut terbuka dan mata terbelalak lebar.
"se... se... se... Setannn...!!! Tolonggg...!!!!"
Jedak !!! Geblug !!!
Seketika jeritan ketakutan silih berganti. Asih dan kedua orang tuanya saling menabrak dan terjungkal beberapa kali. Belum lagi suara beberapa perabotan rumah yang berjatuhan dari atas tempatnya dan terinjak, membuat suasana semakin gaduh ketika itu.
Berbeda halnya dengan Wulan yang menatap bingung pada ketiganya.
"wa!! Asih!! Ini saya Wulan. Kenapa kalian ketakutan seperti itu!!!"
Ujar Wulan dengan suara yang sengaja di tinggikan. Pikirnya, sosok putih yang menyerupai pocong yang ada di bawah ranjang itu, ikut mengejarnya sampai ke rumah itu. dan terlihat juga oleh Asih dan kedua orang tuanya.
Menyadari hal itu, tentu saja Wulan pun lagi lagi merasa takut. Karena sosok itu tentu ada tepat di belakangnya. Sehingga detik itupun Wulan segera berlari dan ikut bertumpang tindih bersama Asih yang sedang menyusup ke balik sarung bapaknya.
"walahhh...!!! Ampunnn !!! Tolonggg ...!!!!"
Kali ini ayah Asih yang di kenal dengan sebutan wa Atang, seketika berteriak sejadi jadinya. Niat hati ingin berlari, namun sarungnya di himpit oleh istri dan anaknya yang juga menjerit ketakutan.
apalagi ketika Wulan yang tampak berwujud pocong itu malah ikut ikutan berguling guling dan menyusup ke dalam sarungnya.
Hingga pada akhrinya ketiganya tak sanggup menahan rasa takut itu tanpa mampu berbuat apa apa. Sebelum pada akhirnya ketiganya pingsan tak ingat di bumi alam.