NovelToon NovelToon
Bosku Cinta Pertamaku

Bosku Cinta Pertamaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan di Kantor / Dokter / Romantis / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

Leah merupakan seorang fresh graduate jurusan kedokteran. Ia pun langsung memutuskan untuk bekerja. Bukannya bekerja di instansi kesehatan seperti teman-temannya, ia memilih untuk bekerja di perusahaan. Ia bekerja sebagai dokter perusahaan.

Ia jatuh hati kepada sang atasan pada pertemuan pertama. Tak peduli jarak umur mereka. Leah menyukai atasannya tersebut tulus dari hati.

Tetapi, takdir tak berjalan sesuai harapan. Sang atasan memiliki garis takdir yang sudah ditentukan semenjak ia lahir. Hingga suatu hari, ada hal yang membuatnya begitu patah hati. Ia memutuskan untuk meninggalkan perusahaan itu dan melupakan sang atasan.

"Aku sakit, Dok."

Hingga pada suatu hari, Leah terkejut melihat sosok laki-laki yang begitu dikenalnya itu kini berdiri di hadapannya. Apalagi sikap seseorang tersebut yang sangat berbeda dari saat dulu mereka bertemu.

Jantungnya semakin berdegup kencang melihat lelaki itu menggenggam tangannya kemudian meletakkan di dadanya.

"Di sini."

"P-pak?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama bekerja: Gedung yang elit

Hari pertama selalu datang dengan caranya sendiri.

Pagi itu, Leah berdiri beberapa detik lebih lama di depan kaca. Menatap dirinya sendiri. Entah mengapa hari ini ia menjadi begitu peduli sesuatu. Padahal ia tak pernah seperti ini sebelumnya selama masa kuliah dulu.

"Hah.."

"Gimana nih..?"

Padahal sinar matahari pagi akan menembus gorden putihnya, tetapi gadis bernama Leah itu masih saja mondar-mandir tidak jelas seperti itu. Dengan pakaian tidurnya, ia berjalan ke depan kemudian berbalik lagi ke belakang sambil menggigit kuku-kuku nya.

Hey, ingatkan dia bahwa ia adalah seorang dokter! Perilaku nya itu sangat tidak sehat!

"Terserah..!"

Gadis itu akhirnya mulai menyiapkan set pakaiannya. Kini ia mulai membersihkan diri, kemudian menyiapkan roti untuk sarapan paginya. Setelah itu kini ia kembali ke kamarnya untuk merias dirinya.

"Hm, cocok gak ya..?"

Ia terus memadukan warna lipstik nya dengan set pakaian dan dirinya. Tak jarang ia bolak-balik mengganti tasnya sembari berdiri layaknya model di depan kaca yang besar itu.

"Tiba-tiba aku kenapa sih..?"

Ia pun sadar dengan sendiri nya. Leah sendiri bingung dengan sikapnya sendiri. Mengapa ia berusaha terlihat sempurna. Berusaha terlihat rapi. Dan berusaha untuk tampil maksimal seperti ini.

"Ya, ini kan hari pertama aku bekerja. Jadi wajar sih."

Bohong. Leah mengatakan sesuatu yang tak seperti isi hatinya. Padahal sedari tadi ia melakukan semua ini karena memikirkan seseorang di kepalanya. Terus terngiang-ngiang sosok itu. Sosok yang harus melihatnya tampil sempurna seperti saat ini.

Leah yang berdiri di depan cermin itu memandangi dirinya sendiri. Ia tiba-tiba termenung sesaat. Namun, tak lama dari itu kini ia kembali pada rutinitas nya.

"Oke, mari berangkat!"

Leah pun memutuskan untuk berangkat sebelum telat. Di hari pertamanya bekerja ini tentu saja ia tak mau telat kan?

Seperti biasa, Leah menaiki taksi untuk berangkat menuju perusahaan. Lama di perjalanan membuat Leah melihat-lihat sekitar dan menatap betapa sibuknya orang-orang. Menenteng tasnya di pundak, kemudian berjalan cepat entah ke mana. Ada yang naik motor bahkan bersepeda.

Leah jadi benar-benar sadar bahwa kini ia telah menginjak usia yang dewasa. Ia akan mulai bekerja hari ini. Ia pun akan menghasilkan uang sendiri dengan usahanya. Membayangkan semua itu, membuat hati Leah terenyuh. Akhirnya gadis kecil ini akan menjadi orang dewasa mulai hari ini.

Leah tersenyum kecil sembari menatap gedung perusahaan yang mulai terlihat di kedua matanya. Ia menatap penuh kagum pada gedung itu. Perusahaan yang begitu selektif memilih orang untuk bekerja di sana. Dan Leah diterima di posisinya yang masih fresh graduate. Sebenarnya ia sama sekali tak menyangka hal ini. Ia pun sudah menyiapkan plan lain jika dirinya tak diterima di perusahaan yang sangat bergengsi itu. Tapi, ternyata ia diterima.

Leah menantikan bekerja bersama orang-orang yang hebat di sana nanti. Saling bertukar pikiran, dan menambah wawasannya untuk terus berkembang. Leah benar-benar tidak sabar akan hal itu.

Yah, meskipun ada sedikit kejadian tidak mengenakkan dengan sang direktur. Tapi, itu bukan masalah besar kan? Ia harus bersikap profesional. Lagi pula, sang direktur pun tampaknya tak peduli dengan hal itu. Ia pun bisa menganggap nya sebagai kecelakaan kan? Itu lebih baik, dari pada terus memusatkan pikiran pada hal yang sudah berlalu dan sudah pasti tidak bisa diubah.

"Terimakasih, Pak." ucapnya sembari menyodorkan uang kepada sang sopir di depannya. Dengan segera ia keluar dari mobil berwarna biru itu.

Leah diam sejenak memandang kagum gedung yang berdiri dengan gagah itu. Senyumnya terangkat dengan mata yang bersemangat.

Ia mendongak, menatap bangunan yang menjulang tinggi dengan dinding kaca berkilau, memantulkan cahaya pagi yang dingin dan rapi. Gedung elit itu berdiri kokoh, tenang, seolah terbiasa menjadi tempat orang-orang hebat berlalu-lalang. Setiap lantainya tampak jauh, seakan semakin tinggi, semakin sulit dijangkau—dan Leah masih sulit percaya bahwa kini ia termasuk di dalamnya.

Leah menarik napas panjang, lalu melangkah masuk. Membiarkan gedung elit itu menelannya perlahan, bersama harapan dan tanggung jawab yang kini resmi menjadi miliknya.

Pintu kaca otomatis terbuka tanpa suara, dan seketika dunia di dalamnya menyambut dengan ritme yang tidak menunggu siapa pun. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat—jas hitam dan kemeja—semuanya bergerak dengan tujuan yang jelas, seolah telah hafal arah masing-masing.

Ia menatap sekeliling, mencoba menangkap setiap detail. Lantai mengilap yang memantulkan cahaya lampu putih. Papan penunjuk arah. Tidak ada yang memperhatikannya secara khusus, dan justru itulah yang membuat dadanya bergetar.

Ia bukan tamu.

Ia bukan pengamat.

Ia bagian dari tempat ini sekarang.

Leah mulai melangkah, mengikuti arus. Setiap orang yang ia lewati tampak sibuk dengan dunianya sendiri—wajah-wajah lelah, ekspresi fokus, percakapan singkat yang sarat tanggung jawab.

Semua nyata. Semua hidup.

“Ini bukan mimpi,” pikirnya.

Ada rasa takut yang menyusup pelan, tapi tidak sendirian. Di baliknya, ada rasa bangga yang tak berani ia ucapkan keras-keras. Semua malam panjang, semua keraguan, semua kelelahan—telah membawanya ke titik ini.

Ia benar-benar sadar sekarang.

Ia sudah bekerja.

Dan meski dadanya masih bergetar, Leah tahu—ia siap belajar berjalan di sini, satu hari demi satu hari.

Leah berhenti sejenak di depan pintu kaca bertuliskan Medical Unit.

Bukan ruang IGD. Bukan lorong panjang dengan bau antiseptik yang menyengat. Ini kantor—rapi, senyap, dengan pendingin ruangan yang terasa terlalu stabil. Leah menggeser name tag di dadanya, memastikan posisinya lurus, lalu mendorong pintu itu perlahan.

Ruangan itu menyambutnya dengan ketenangan yang kaku.

Meja kerja tersusun rapi, lemari arsip berjajar di satu sisi, dan satu ranjang periksa berdiri diam di sudut ruangan, seperti sesuatu yang jarang dipakai. Di atas meja, ada komputer, beberapa map karyawan, dan stempel dengan logo perusahaan—semuanya terlihat asing, namun sah.

Leah berdiri di tengah ruangan itu.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar—ini bukan tempat belajar lagi. Tidak ada dokter senior yang berdiri di belakangnya, tidak ada instruksi cepat yang datang bertubi-tubi. Di sini, ia adalah satu-satunya dokter. Keputusan medis kecil sekalipun, kini jatuh ke tangannya sendiri.

Ia menarik napas pelan.

Jas putihnya ia gantung rapi di sandaran kursi. Blazer dilepas, diganti ketenangan yang ia paksa hadir. Ia duduk di kursinya, menyentuh permukaan meja dengan ujung jari, seolah ingin memastikan bahwa semuanya nyata.

Di luar ruangan, terdengar langkah kaki karyawan yang berlalu-lalang. Suara percakapan formal, ketukan sepatu, dan nada telepon yang singkat. Dunia kerja yang berbeda—tidak dramatis, tidak riuh, tapi tetap menuntut.

1
Anonymous
Nyesek thor😭
Baca dari awal sampe sini yang meledaknya rasanya nyess banget😭😭
Azia_da: Novel memang dibuat menonjolkan emosi karakter. Tipe slow burn yang jalannya pelan tapi konfliknya masuk pelan-pelan ke hati🥹
Omong-omong, terima kasih ya atas dukungannya! 🥰🙏
total 1 replies
Anonymous
Nenek memang paling lembut💪
Azia_da: Terima kasih sudah membaca🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!