NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Di Kamar Tante Feronica

Ruang Rahasia Di Kamar Tante Feronica

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yan duwei

Mahen selalu membenci Tante Feronica, bibinya yang menghilang 10 tahun silam. Ayahnya selalu mengatakan bahwa Tante Feronica adalah orang jahat yang telah membuatnya mendekam dipenjara selama 12 tahun.

Namun, ketika Mahen mencoba mencari petunjuk atas apa yang terjadi 10 tahun lalu, dia tidak menyangka bahwa dia akan menemukan sebuah ruang rahasia di kamar Tante Feronica. Di dalam ruang itu, Mahen menemukan petunjuk-petunjuk yang membuatnya mulai mempertanyakan apa yang selama ini dia percayai.

Mahen mulai menyelidiki tentang apa yang terjadi di masa lalu dan mengapa ayahnya dipenjara. Namun, semakin dia menyelidiki, semakin banyak rahasia yang terungkap. Mahen harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak seperti yang dia pikirkan.

Tante Feronica, yang selama ini dia anggap sebagai orang jahat, ternyata memiliki alasan yang kuat untuk melakukan apa yang dilakukannya. apakah Mahen akan bisa menemukan kebenaran dan memperbaiki kesalahan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan duwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SARAN HERDI

"Weh... petunjuk apaan nih?" sahut Adis yang tiba-tiba masuk kedalam kelas di ikuti satu teman laki-laki Mahen yang lainnya, Ethan. "Kunti bogel dilarang kepo" sahut Ethan yang langsung duduk di kursi belakang Aidan.

"apasih ketan hitam, nyaut aja lo" ketus Adis sambil duduk belakang Herdi. mereka berlima memang duduk berdekatan.

mereka melanjutkan obrolan random hingga kelas mulai ramai dan akhirnya dosen pun datang.

**

Mahen menghabiskan waktunya hingga sore di cafe bersama ketiga temannya. Adis, sikunti bogel yang biasa mengikuti mereka sudah pulang lebih dulu karena memiliki acara lain.

sebenarnya Adis tidak terlalu bogel, tetapi karena ia yang paling pendek diantara lima serangkai itu sehingga diberi panggilan Kunti bogel yang berawal dari Ethan.

"sepi juga kaga ada Kunti bogel" celetuk Ethan. "Yee lu mah, klo dia ada juga ribut mulu" sahut Herdi.

"Nape lu hen? ngelamun mulu dari tadi" ucap Aidan yang sedari tadi memperhatikan Mahen. "ck.. lagi pusing dia, mikirin cicilan" bukan Mahen yang menjawab melainkan Herdi.

"Tan, main yuk" ucap Aidan pada Ethan yang sedang sibuk memainkan game di hpnya. "ya ini lagi main" jawab Ethan tanpa menoleh. "ck.. billiard bego" Aidan berdecak kesal. Ethan jika sudah bermain game seakan lupa segalanya.

"ooh.. ayok ayok" Ethan dan Aidan pun meninggalkan Mahen dan Herdi yang masih duduk sambil menikmati kopi dan beberapa makanan ringan.

"gimana hen? udah dapet petunjuk?" tanya Herdi. "belum, gue belum coba nyari. nyari celah waktu rumah itu kosong tuh sulit." jawab Mahen

"kakek Lo pengusaha, pasti sering ada pertemuan. Lo kan bisa manfaatin itu" Herdi sedikit greget melihat pergerakan Mahen yang menurutnya sangat lambat.

"rumah itu kan banyak cctv-nya, ada satpam juga, ada tukang kebun, ada tukang bersih-bersih." Mahen masih belum memiliki keberanian untuk menggeledah rumah sang kakek.

"ya lo hapus lah rekaman bagian pas lo geledah rumah itu. atau lo perlu bantuan gue?" tawar Herdi. Mahen menatap Herdi tidak yakin. "gue nggak mau ngerepotin lo, apalagi ini misi balas dendam." jawabnya.

"gue bantuin lo nyari petunjuk bukan bantuin lo bales dendam" tegas Herdi. sepertinya gara-gara misi balas dendam membuat otak Mahen sedikit lemot. "Lo bisa emangnya? Lo mau?" tanya Mahen.

"kalau gue nggak mau ngapain gue nawarin bantuan? bisa tidaknya ya dicoba dulu" jawab Herdi. "kalau kita nggak nemuin petunjuk gimana?" tanya Mahen sedikit ragu dengan misi mereka. "kita coba aja dulu, kalau nggak dapet petunjuk dari situ ya kita cari petunjuk lain. kalau perlu kita sewa detektif" Herdi memang tidak pernah kehabisan akal.

Mahen tersenyum mendengar perkataan Herdi. mengapa ide itu tidak pernah terpikirkan olehnya selama ini? ah, ia terlalu fokus pada rasa benci dan misi balas dendamnya pada Tante Feronica sehingga otaknya buntu.

"Lo punya kenalan detektif?" tanya Mahen pada Herdi dengan bersemangat. "gue nggak punya. tapi kita bisa nyari kan?" jawaban Herdi membuat Mahen kembali lesu. ia pikir Herdi punya kenalan atau teman seorang detektif sehingga membuatnya semakin mudah, apalagi ini adalah masalah pribadi keluarga besarnya. ia tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain meskipun itu seorang detektif.

"tuh, dua kunyuk siapa tau punya, atau Adis. Lo bisa tanya mereka, gue yakin mereka mau bantu" saran Herdi. "tapi mereka belum tau tentang hal ini" jawab Mahen. Mahen memang tidak pernah menceritakan masalah keluarganya pada siapapun kecuali Herdi. teman-temannya yang lain hanya tau papahnya dipenjara karena melakukan kesalahan besar terhadap keluarganya sendiri.

"ceritain aja lah, mereka kan temen kita. Lo nggak percaya sama mereka?" tanya Herdi. Mahen terdiam, "gue.. gue nggak tau" jawab Mahen lirih. "Lo bayangin gimana perasaan mereka kalau tau sahabat yang udah mereka anggap keluarga ternyata nggak percaya sama mereka. saran gue lo ceritain ke mereka masalah lo ini. gue yakin mereka pasti pada semangat bantuin lo, termasuk nyari detektif ini" saran Herdi.

lagi-lagi Mahen terdiam, ia merasa apa yang dikatakan Herdi ada benarnya. mereka sudah lama bersahabat dan sudah sepakat saling terbuka satu sama lain.

Mahen mengangguk, "bener kata lo, besok kalau pada kumpul semua gue bakal ceritain masalah gue ke mereka" ucapnya.

Herdi tersenyum mendengar jawaban Mahen. "ini baru sohib gue" ucap Herdi sambil merangkul Mahen.

**

malam ini Mahen sedang berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. mamahnya baru saja mengabarinya akan pulang terlambat karena sedang pergi menghadiri acara pernikahan salah satu temannya yang merupakan anak dari teman kakek Hardjo. mamahnya juga mengatakan jika kakek dan neneknya juga pergi bersama menghadiri pernikahan tersebut.

"gue bisa manfaatin malam ini buat coba geledah rumah kakek. apapun hasilnya tetap harus di coba" ucap Mahen meyakinkan dirinya sendiri.

Mahen pun bergegas bersiap pergi kerumah sang kakek.

..

sesampainya dirumah kakek hardjo, Mahen di sambut oleh satpam yang berjaga di depan pintu gerbang rumah kakeknya itu. "den, tuan rumah lagi pergi semua" ucap sang satpam memberi tahu. "saya mau ambil barang pak" jawab Mahen berusaha bersikap tenang.

"ohh ya silahkan silahkan" ucap satpam itu mempersilahkan Mahen.

sesampainya di depan pintu rumah, Mahen menghirup nafas dalam-dalam. tekadnya sudah bulat, ia harus mencobanya. dengan langkah pasti Mahen membuka pintu dan berjalan memasuki rumah besar itu.

Mahen melirik jam tangannya, ia harus bertindak dengan cepat, jangan sampai keburu kakeknya pulang dan dia akan ketahuan. Mahen merasa beruntung, malam ini para pekerja dirumah ini sedang mengadakan acara kecil dihalaman belakang rumah. salah satu pekerja ada yang sedang berulang tahun sehingga mereka mengadakan bakar-bakar dan makan bersama. hanya si satpam yang harus ikut merayakan sambil tetap menjaga gerbang.

Mahen terus berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. tujuan utamanya adalah kamar kakek Hardjo. Mahen menatap pintu kamar Yang ada dihadapannya. tangannya bergerak memutar kenop pintu itu dengan perlahan.

sesampainya didalam Mahen mengedarkan pandangannya. tatapannya tertuju pada lemari besar yang berdiri disamping ranjang. Mahen bergegas membuka lemari itu, matanya menatap tumpukan kertas yang tersusun rapih. Mahen pun dengan cepat membukanya, membolak-balikkan setiap sisi kertas. namun hingga kertas itu habis ia tidak menemukan apapun.

Mahen menaruh kembali tumpukan kertas itu ditempat semula. tengannya terus menyusuri setiap sisi lemari bahkan ada beberapa tumpukan baju yang ia turunkan. namun hasilnya nihil, ia tidak menemukan apapun di lemari itu.

Mahen menutup lemari itu dan beralih pada laci nakas. Mahen membuka semua laci yang ada di nakas itu namun hasilnya tetap sama, ia tidak menemukan apapun. Mahen terus menyusuri setiap sudut kamar itu, vas bunga pun diangkatnya, siapa tau ada sesuatu dibawah vas itu, pikir Mahen.

karena tidak menemukan apapun, Mahen bergegas keluar kamar dan membawa langkahnya menuju ruang cctv. ia akan menghapus rekaman yang menunjukkan dirinya memasuki kamar kakek Hardjo.

setelah menghapus rekaman itu, Mahen pergi ke kamar yang yang biasa ia tempati ketika menginap dirumah itu. Mahen keluar sambil membawa sesuatu ditangannya.

"sudah den?" tanya satpam saat Mahen melewati gerbang. "sudah pak" jawab Mahen sambil mengacungkan earphone bluetooth di tangannya. sang satpam pun mengangguk dan menutup gerbang. sedangkan Mahen menghela nafas lega. meskipun ia tidak berhasil menemukan apapun malam ini, setidaknya dia sudah mencoba.

masih ada dua tempat yang ada dipikiran Mahen, ruang kerja kakek dan ruang baca neneknya. ia ingat ruang baca nenek Astrid dulunya adalah perpustakaan pribadi milik Tante Feronica.

1
Rahma Amma
aku suka ceritanya,, ngak muter2
lanjut....
D_wiwied
saingan cinta.. 😂
D_wiwied: mahennya masih bingung tu, antara nao apa oca.. tp menurutku keknya cenderung ke nao ya
Dwi Ade: waduh😱 saingannya detektif handal nih😄
total 2 replies
Celty Sturluson
ceritanya keren abis! Thor, kamu hebat!
Dwi Ade: hallo, terimakasih sudah membaca karya tulis saya. maaf jika karya saya masih banyak kekurangannya 🙏
kritik dan saran saya terima dengan hati😊🙏
total 1 replies
Takahashi HitomiLửa
Lanjutin dong, penasaran banget!
Dwi Ade: hallo, terimakasih sudah membaca karya tulis saya. maaf jika karya saya masih banyak kekurangannya 🙏
kritik dan saran saya terima dengan senang hati 😊🙏
total 1 replies
Kelestine Santoso
Aku bisa merasakan perasaan tokoh utama, sangat hidup dan berkesan sekali!👏
Dwi Ade: hallo, terimakasih sudah membaca karya tulis saya. maaf jika karya saya masih banyak kekurangannya 🙏
kritik dan saran saya terima dengan senang hati 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!