Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Foto yang Dibaliknya & Hati yang Memilih Ayah
Pagi itu, aku sedang menyeduh kopi di dapur ketika Balqis tiba-tiba muncul dari balik lemari buku, membawa sebuah bingkai foto kecil. Bingkai kayu usang yang dulu pernah kupajang di ruang tamu—foto ibu nya, tersenyum lebar dengan gaun putih, rambut panjang terurai, mata berbinar seperti belum pernah mengenal marah.
“Ayah… siapa ini?” tanyanya pelan, sambil menatap foto itu dengan alis bertaut.
Aku berhenti menuang air. Dadaku sesak sejenak. Ini pertama kalinya Balqis bertanya tentang ibunya sejak… sejak semua itu terjadi.
“Itu Ibu kamu, Dek,” jawabku lembut, duduk di lantai agar sejajar dengannya.
Balqis menatap foto itu lagi. Lalu, tanpa kata-kata, ia membalikkan bingkai itu hingga bagian belakangnya menghadap ke atas. Ia letakkan foto itu di lantai, lalu mendorongnya pelan ke bawah sofa.
“Aku nggak mau lihat,” bisiknya.
Aku terdiam. Tidak ada tangis, tidak ada teriakan, tidak ada pertanyaan lanjutan. Hanya diam. Diam yang lebih keras daripada seribu kata.
“Kenapa, Nak?” tanyaku akhirnya, suaraku hampir bergetar.
Balqis menatapku, matanya bulat, polos, tapi penuh sesuatu yang terlalu berat untuk anak seusianya. “Ibu marah. Ibu lempar HP. Ibu teriak. Aku takut.”
Aku menarik napas dalam-dalam. Rasanya seperti ada pisau yang menusuk dada. Bukan karena aku sedih pada diriku sendiri, tapi karena aku sadar—anakku, buah hatiku, telah belajar untuk melindungi dirinya sendiri dari orang yang seharusnya memberinya rasa aman.
Aku memeluknya erat. Sangat erat. Sampai dia bisa merasakan detak jantungku, sampai dia tahu bahwa pelukan ini tidak akan pernah melepaskan, tidak akan pernah melempar, tidak akan pernah berteriak.
“Iya, Dek. Ibu pernah marah. Pernah sakit hati. Pernah lelah. Tapi Ayah di sini. Ayah nggak akan pernah marah seperti itu. Ayah nggak akan pernah lempar apa pun. Ayah nggak akan pernah bikin Balqis takut.”
Balqis menempelkan pipinya ke dadaku. “Ayah selalu ada?”
“Selalu,” jawabku tegas. “Kalau hujan, Ayah jadi payung. Kalau gelap, Ayah jadi lampu. Kalau Balqis takut, Ayah jadi benteng. Kalau Balqis butuh cerita, Ayah jadi pendengar. Kalau Balqis butuh tertawa, Ayah jadi badut. Kalau Balqis butuh dipeluk, Ayah jadi bantal. Kalau Balqis butuh diantar tidur, Ayah jadi lagu pengantar. Kalau Balqis butuh temen main, Ayah jadi kawan. Kalau Balqis butuh makan, Ayah jadi koki. Kalau Balqis butuh obat, Ayah jadi dokter. Kalau Balqis butuh guru, Ayah jadi pengajar. Kalau Balqis butuh sahabat, Ayah jadi teman setia.”
Balqis tertawa kecil. “Ayah banyak banget job-nya!”
Aku ikut tertawa, meski mataku basah. “Iya, sayang. Karena Balqis cuma punya satu ayah. Dan Ayah cuma punya satu Balqis. Jadi kita harus saling jaga.”
Dia mengangguk, lalu mengambil tangan ku. “Kalau gitu, kita simpan fotonya di laci aja ya? Nanti kalau aku udah besar, baru aku lihat lagi.”
“Boleh,” jawabku. “Atau kalau Balqis nggak mau lihat sama sekali, juga boleh. Yang penting, Balqis tahu: Ayah nggak akan pernah pergi. Ayah nggak akan pernah marah-marah. Ayah nggak akan pernah bikin Balqis takut.”
Balqis tersenyum. Senyum yang jarang kulihat akhir-akhir ini. Senyum yang murni, tanpa beban, tanpa bayangan masa lalu.
Siang harinya, setelah Balqis tidur siang, aku kembali membuka laptop. Aku mengetik bab ini. Saya harus menulis bab ini. Saya harus abadikan hari di mana Balqis memilih untuk melupakan, dan Ayah memilih untuk mengingat—bahwa cinta bukan hanya tentang kehadiran, tapi tentang keamanan.
Satu bab lagi selesai.
Enam belas bab sudah terangkai.
Target 20 bab tinggal 4 langkah lagi! Kontrak semakin dekat!
Aku tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.
Tuhan kirimkan keajaiban melalui diamnya seorang anak, dan keteguhan seorang ayah yang rela menjadi segalanya.
Dan aku tahu—meski Balqis tidak pernah menyebut nama ibunya, dia tidak kehilangan apa-apa.
Karena dia punya Ayah.
Dan bagi Balqis, Ayah adalah dunia.