NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Foto yang Dibaliknya & Hati yang Memilih Ayah

Pagi itu, aku sedang menyeduh kopi di dapur ketika Balqis tiba-tiba muncul dari balik lemari buku, membawa sebuah bingkai foto kecil. Bingkai kayu usang yang dulu pernah kupajang di ruang tamu—foto ibu nya, tersenyum lebar dengan gaun putih, rambut panjang terurai, mata berbinar seperti belum pernah mengenal marah.

“Ayah… siapa ini?” tanyanya pelan, sambil menatap foto itu dengan alis bertaut.

Aku berhenti menuang air. Dadaku sesak sejenak. Ini pertama kalinya Balqis bertanya tentang ibunya sejak… sejak semua itu terjadi.

“Itu Ibu kamu, Dek,” jawabku lembut, duduk di lantai agar sejajar dengannya.

Balqis menatap foto itu lagi. Lalu, tanpa kata-kata, ia membalikkan bingkai itu hingga bagian belakangnya menghadap ke atas. Ia letakkan foto itu di lantai, lalu mendorongnya pelan ke bawah sofa.

“Aku nggak mau lihat,” bisiknya.

Aku terdiam. Tidak ada tangis, tidak ada teriakan, tidak ada pertanyaan lanjutan. Hanya diam. Diam yang lebih keras daripada seribu kata.

“Kenapa, Nak?” tanyaku akhirnya, suaraku hampir bergetar.

Balqis menatapku, matanya bulat, polos, tapi penuh sesuatu yang terlalu berat untuk anak seusianya. “Ibu marah. Ibu lempar HP. Ibu teriak. Aku takut.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Rasanya seperti ada pisau yang menusuk dada. Bukan karena aku sedih pada diriku sendiri, tapi karena aku sadar—anakku, buah hatiku, telah belajar untuk melindungi dirinya sendiri dari orang yang seharusnya memberinya rasa aman.

Aku memeluknya erat. Sangat erat. Sampai dia bisa merasakan detak jantungku, sampai dia tahu bahwa pelukan ini tidak akan pernah melepaskan, tidak akan pernah melempar, tidak akan pernah berteriak.

“Iya, Dek. Ibu pernah marah. Pernah sakit hati. Pernah lelah. Tapi Ayah di sini. Ayah nggak akan pernah marah seperti itu. Ayah nggak akan pernah lempar apa pun. Ayah nggak akan pernah bikin Balqis takut.”

Balqis menempelkan pipinya ke dadaku. “Ayah selalu ada?”

“Selalu,” jawabku tegas. “Kalau hujan, Ayah jadi payung. Kalau gelap, Ayah jadi lampu. Kalau Balqis takut, Ayah jadi benteng. Kalau Balqis butuh cerita, Ayah jadi pendengar. Kalau Balqis butuh tertawa, Ayah jadi badut. Kalau Balqis butuh dipeluk, Ayah jadi bantal. Kalau Balqis butuh diantar tidur, Ayah jadi lagu pengantar. Kalau Balqis butuh temen main, Ayah jadi kawan. Kalau Balqis butuh makan, Ayah jadi koki. Kalau Balqis butuh obat, Ayah jadi dokter. Kalau Balqis butuh guru, Ayah jadi pengajar. Kalau Balqis butuh sahabat, Ayah jadi teman setia.”

Balqis tertawa kecil. “Ayah banyak banget job-nya!”

Aku ikut tertawa, meski mataku basah. “Iya, sayang. Karena Balqis cuma punya satu ayah. Dan Ayah cuma punya satu Balqis. Jadi kita harus saling jaga.”

Dia mengangguk, lalu mengambil tangan ku. “Kalau gitu, kita simpan fotonya di laci aja ya? Nanti kalau aku udah besar, baru aku lihat lagi.”

“Boleh,” jawabku. “Atau kalau Balqis nggak mau lihat sama sekali, juga boleh. Yang penting, Balqis tahu: Ayah nggak akan pernah pergi. Ayah nggak akan pernah marah-marah. Ayah nggak akan pernah bikin Balqis takut.”

Balqis tersenyum. Senyum yang jarang kulihat akhir-akhir ini. Senyum yang murni, tanpa beban, tanpa bayangan masa lalu.

Siang harinya, setelah Balqis tidur siang, aku kembali membuka laptop. Aku mengetik bab ini. Saya harus menulis bab ini. Saya harus abadikan hari di mana Balqis memilih untuk melupakan, dan Ayah memilih untuk mengingat—bahwa cinta bukan hanya tentang kehadiran, tapi tentang keamanan.

Satu bab lagi selesai.

Enam belas bab sudah terangkai.

Target 20 bab tinggal 4 langkah lagi! Kontrak semakin dekat!

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

Tuhan kirimkan keajaiban melalui diamnya seorang anak, dan keteguhan seorang ayah yang rela menjadi segalanya.

Dan aku tahu—meski Balqis tidak pernah menyebut nama ibunya, dia tidak kehilangan apa-apa.

Karena dia punya Ayah.

Dan bagi Balqis, Ayah adalah dunia.

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!