Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tantangan Pangeran
Udara pagi yang segar tidak mampu mendinginkan ketegangan yang merambat di lapangan latihan keluarga Tian.
Tian Hao melangkah keluar dari kamarnya dengan tubuh yang terasa lebih ringan namun padat.
Ranah Pemurnian Tubuh Tahap 4 telah memperkuat serat ototnya hingga setangguh kulit badak, dan indranya kini mampu menangkap getaran sekecil apa pun di sekitarnya.
Ia sempat melirik telur Ular Putih terakhir yang tersisa di sudut gelap kamarnya.
"Kekuatan tanpa sekutu yang setia adalah beban," gumamnya pelan. "Aku akan menetaskanmu saat waktunya tepat."
Saat ia berjalan menuju lapangan, Tian Hao merasakan sepasang mata tajam mengikutinya dari kejauhan. Ia tahu siapa itu.
Pangeran Xiao Liu Xuan bukan sekadar pemuda berbakat; ia adalah ancaman berjalan.
Jika perhitungannya benar, sang pangeran setidaknya berada di Ranah Manifestasi Qi Tahap 1—sebuah tingkatan di mana seseorang mulai bisa mewujudkan energi Qi menjadi serangan fisik yang nyata.
Fei Lin berdiri di tengah lapangan yang kini telah berubah. Dengan satu hentakan kaki yang dialiri energi, tanah bergemuruh dan naik, membentuk sebuah arena batu yang luas dan kokoh.
"Hukum rimba berlaku hari ini," suara Fei Lin menggelegar. "Duel satu lawan satu. Yang kalah tidak akan mendapatkan jatah batu energi maupun ramuan untuk hari ini. Hanya pemenang yang layak diberi makan!"
Para murid mulai riuh. Di tengah kerumunan, Xiao Liu Xuan berdiri seperti matahari yang dikelilingi planet-planet.
Murid-murid wanita menatapnya dengan penuh kekaguman, sementara murid laki-laki berusaha mencari mukanya.
Namun, perhatian sang pangeran sama sekali tidak tertuju pada sanjungan itu. Matanya terkunci pada sosok pemuda di ujung barisan yang berdiri sendirian.
Xiao Liu Xuan melangkah maju, memecah kerumunan. "Guru, izinkan saya yang pertama. Saya ingin melihat sejauh mana standar murid di sini melalui sebuah duel."
"Tentu, Pangeran. Siapa yang ingin Anda tantang sebagai lawan pertama?" tanya Fei Lin dengan nada sangat sopan.
Xiao Liu Xuan tidak ragu. Telunjuknya mengarah lurus ke arah Tian Hao. "Dia."
Seluruh lapangan mendadak senyap. Ratusan pasang mata kini menatap Tian Hao dengan ekspresi antara kasihan dan ejekan. Bagi mereka, pangeran sedang memilih "karung pasir" untuk pemanasan.
Tian Hao tidak membiarkan wajah aslinya terlihat. Ia segera mengubah sorot matanya yang dingin menjadi kebingungan yang dibuat-buat. "S-saya? Tapi pangeran... saya hanya murid luar yang lemah," ucapnya dengan suara sedikit gemetar.
Melihat akting itu, sudut bibir Xiao Liu Xuan justru semakin naik. Ia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres. Mata itu... meski bibirnya berkata lemah, matanya tidak menunjukkan ketakutan.
"Jangan banyak bicara. Naiklah ke arena," Xiao Liu Xuan melompat ringan, mendarat di tengah arena tanpa suara. Ia menarik pedang panjangnya yang berwarna keperakan. Sring! Riak energi murni langsung menyebar, memotong udara di sekitarnya. "Hadapi aku dengan semua yang kau punya, Tian Hao. Jangan coba basa-basi."
Tian Hao naik ke arena dengan langkah yang sengaja dibuat berat. Ia mengambil sebuah pedang kayu standar yang disediakan di pinggir arena. Begitu ia berdiri di depan sang pangeran, atmosfer berubah.
Xiao Liu Xuan tidak menunggu. Ia melesat seperti kilat biru.
Duar!
Pedang logam sang pangeran menghantam pedang kayu Tian Hao. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu di bawah kaki mereka.
Tian Hao terdorong mundur tiga langkah, namun ia berhasil menahan serangan itu dengan sudut kemiringan pedang yang sempurna, mengalihkan sebagian besar kekuatan pangeran ke lantai arena.