NovelToon NovelToon
Pengasuh Cantik Milik Sang Presdir

Pengasuh Cantik Milik Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Bagaimana jadinya jika seorang gadis manja harus menjadi pengasuh 3 anak CEO nakal yang tiba-tiba sangat lengket padanya?

Rosetta, seorang gadis cantik yang berusia 19 tahun, adalah putri seorang bupati yang memiliki keinginan untuk menjalani hidupnya sendiri. Namun ayahnya telah membuat keputusan sepihak untuk menjodohkan Rosetta dengan seorang pria tuatua bernama tuan Bramasta, yang memiliki usia dan penampilan yang tidak menarik. Rosetta sangat enggan dengan keputusan ini dan merasa bahwa ayahnya hanya menggunakan dia sebagai alat untuk meningkatkan karir politiknya.

Hingga puncaknya Rosetta memutuskan untuk kabur dari rumah. Di sisi lain ada Zein arga Mahatma, seorang bussiness man dan single parents yang memiliki tiga anak dengan kenakalan di atas rata-rata. Karena kebadungan anak- anaknya juga tak ada yang sanggup untuk menjadi pelayan di rumah nya.

Dalam pelarian nya, takdir mempertemukan Rosetta dan ketiga anak Zein yang nakal, bagaimana kah kelanjutannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 04

"Aku... jodoh mu, eh! " Rosetta segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, pipinya merona malu. Ucapan spontan itu keluar begitu saja tanpa bisa ia kendalikan.

"Aih, dasar Rosetta bodoh! " ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati, sambil menepuk jidatnya. Kebiasaan nya memang kalau sudah melihat yang bening- bening sedikit saja pasti tingkahnya langsung tak bisa di kontrol, beginilah Rosetta jika sudah di hadapkan dengan pria tampan paripurna, urat malunya seperti sudah tak ada.

Sementara Zein dengan tatapan tajamnya yang ia arahkan kepada anak-anak nya lalu berpindah lagi kepada Rosetta. Manik hitamnya mulai menelisik penampilan gadis itu dari atas sampai bawah membuat Rosetta menatap penuh bingung.

Zein melengos lelah, apa dia tak salah mendengar? Jodoh? dari mana anak-anak nya ini bertemu dengan gadis sengklek seperti ini? apa mereka salah bergaul?

Alvaro, Alaska dan Chiara saling memandang, kebingungan melanda wajah mereka. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi. "Papa... dia Sissy, dia teman kami, " jelas Alvaro, berusaha menenangkan situasi yang terasa tegang.

Zein menghela napas panjang,mencoba menahan emosi. "teman? " gumamnya, suaranya masih terdengar dingin. "Jadi kalian sudah merencanakan ini semua? kabur dari rumah bersama- sama, membuat papa khawatir setengah mati mencari kalian dan kalian dengan seenak jidat memperkenalkan gadis aneh ini sebagai teman? "

Rosetta tentu tak terima di panggil gadis aneh, bibirnya mengerucut karena sebal, di tatapnya Zein dengan gaya menantang. "Jangan panggil aku gadis aneh paman, namaku Rosetta, panggil saja aku Sissy. "

Alvaro, Alaska sama- sama tertawa cekikikan. "Udah kaya film Shiva aja. Jangan panggil aku anak kecil paman, nama ku Shiva, aku adalah Shiva. whahaha! " kedua nya sontak tertawa kencang begitu Alaska menirukan gaya bicara Rosetta yang mirip seperti kartun yang sering mereka nonton. Rosetta juga ikut tertawa, lalu ketiganya jadi sama- sama tertawa. Zein hanya bisa mengurut hidung melihat tingkah ajaib mereka.

"Whatever! apapun itu jangan ganggu anak-anak saya lagi." Zein kemudian melangkah maju mendekati anak-anak nya.

"Ayo Alvaro, Alaska, Chiara. Kita pergi sekarang! " dia menggamit lengan ketiga anaknya, mengajak mereka pergi. Namun Chiara dengan cepat melepaskan tangan nya balik, membuat Zein menatap heran anak perempuannya itu.

"Gak pah. Chiala gak mau pergi, chiala masih mau sama ate Sissy! " gadis kecil itu berteriak histeris lalu berlari lagi ke arah Rosetta dan bersembunyi di belakang kakinya.

"Kita juga gak mau pergi pah! " Alvaro dan Alaska juga berujar serempak.

Kedua alis Zein semakin menukik tajam. Tak pernah anak-anak nya bersikap seperti ini bahkan kepadanya sekali pun. Dia kemudian menatap berang ke arah Rosetta, menduga jika gadis muda itu telah membawa pengaruh buruk untuk ketiga anaknya.

"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan hingga membuat anak-anak ku seperti ini? " tuduh Zein padanya, ketika mereka berhadapan langsung dia harus menundukkan lehernya karena ternyata tinggi badan mereka yang sangat jomplang.

Sementara Rosetta mengangkat dagu, tampak tak gentar. Dia balik menatap sengit pada Zein sambil berkacak pinggang. "Hei paman, aku gak apa- apain anak-anak mu. Kita juga baru bertemu di sini, aku melihat mereka yang kebingungan jadi mengajak mereka bermain, " jelasnya meski tak di pungkiri dia merasa sedikit gugup karena Zein memiliki aura yang kuat.

Zein memijit pelipisnya, ia sudah pusing seharian ini karena pekerjaan kantor di tambah harus menyelesaikan permasalahan rumit ini. "Terserah.Apapun itu, jauhi anak-anak saya. "

Rosetta ingin memprotes lagi namun suara dering ponsel yang berasal dari saku celana Zein membuat ia terpaksa bungkam.

Zein melihat panggilan dari Denis, sekretaris nya, dia menduga itu masalah penting. Kemudian menatap ketiga anaknya secara bergantian. "Papa angkat telepon dulu, kalian tunggu di sini. Jangan berusaha kabur mengerti? "

Alvaro, Alaska, dan Chiara mengangguk serempak.

"Dan kau gadis aneh, sebaiknya kau segera pergi dari sini. Jauhi putra- putri ku. " Setelah nya Zein pun melipir pergi untuk mengangkat panggilan, Rosetta melengos sebal, sambil mengerutkan hidungnya menatap kepergian pria itu.

"Atee sissy tolong jangan pelgi! " Si kecil Chiara dengan histeris mengenggam erat gaun tidur nya.

Begitu pula dengan Alvaro dan Alaska yang mengangguk setuju dengan wajah mereka yang memelas. Rosetta tak tega melihat wajah murung mereka bertiga, dia berjongkok untuk menyamai tingginya dengan Chiara.

"Aku pun tak ingin pergi anak-anak." Rosetta berjongkok lesu, dia tempelkan dagunya di atas lengan.

"Aku sudah tak punya tempat tinggal... " lirih nya, dia memang tak berbohong. Setelah kabur diam- diam dari rumah ayahnya, ia anggap itu bukan rumah nya lagi. Dia merasa sudah tak ada tempat nya lagi di sana karena ayahnya yang selalu menghendaki keinginannya sendiri padanya.

"Aha, kalau begitu bagaimana kalau kak Sissy tinggal di rumah kita saja? " Cetus si tengah, Alaska memberikan usul.

Plak! Alvaro langsung menempeleng kepalanya begitu saja, si empunya langsung meringis sakit.

"Bodoh, bagaimana caranya? kau tidak lihat tadi papa semarah apa? "

Alaska cemberut. "Kenapa kak Alvaro jadi pengecut seperti ini sih? kita kan bisa menyembunyikan nya di bagasi mobil."

Tring! seolah ada lampu yang muncul di kepala mereka bertiga. "Benar, bagasi! " ketiganya kompak berseru.

"Ayo kak, kita bawa kak Sissy ke rumah kita, tanpa sepengetahuan papa. "

Rosetta yang juga sama- sama polos mengangguk setuju saja. "Baiklah aku ikuti rencana kalian. "

*

*

*

Mobil yang di gunakan Zein terparkir tak jauh dari tempat berdiri. Melihat peluang karena ayah mereka sedang mengangkat telepon penting, Alvaro, Alaska dan Chiara bekerja sama berusaha menyelundupkan Rosetta di bagasi mobil milik Zein.

"Kamu yakin ini akan aman? " mulanya Rosetta setuju tapi dia sedikit ragu.

Alaska mengacungkan jempol nya. "Kak Sissy tenang saja, selama ada kami semuanya akan tetap aman. "

Chiara ikut mengangguk. "Atee Sissy mau kan tinggal bersama kami? "

Rosetta menganggukkan kepalanya pelan. "Tentu saja, aku kan menyukai kalian. "

Chiara tersenyum cerah. "Kami juga menyukai atee Sissy."

Rosetta mengusap rambut anak perempuan manis itu. "Baiklah, aku tidak akan bergerak di sini. Kalau sudah sampai kalian beri kode ya. "

Ketiga nya mengacungkan jempol. "Okee! "

Tak lama setelah Rosetta menyamankan posisi nya, Alaska dan Alvaro menutup pintu mobil.

Dari kejauhan terlihat ayah mereka menghampiri, ketiganya buru- buru bersikap biasa- biasa saja.

"Tumben sekali kalian sudah ada di sini? " Zein menatap heran sekaligus takjub pada ketiga anaknya, biasanya mereka akan sangat sulit di atur.

"Tentu saja dong papa. Sekarang kami sudah sadar dan tidak akan nakal lagi, " kata Alvaro yang gegas di angguki oleh Alaska dan Chiara juga.

"Bagus, sekarang ayo kita pulang. " ajak Zein pada ketiganya.

"Horeee! " ketiganya berseru senang sambil berjingkrak- jingkrak, tanpa Zein sadari, ketiga anaknya tersebut saling melempar pandang sambil cekikikan tertawa.

*****

1
Dancingpoem
🥰🥰🥰🥰🥰
beybi T.Halim
awal yang memacu adrenalin ..,dengan anak2 yg luar biasa pintar 😊
Harwanti Jambi
Haha jodoh tak pernah salah jalan
Dancingpoem: betul 👍
total 1 replies
𝓖𝓒 ⃟👑Atdgies🦋
apa itu Zein, benih cinta kah/Shy/
Dancingpoem: hahahaha
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Dancingpoem: hahaha/Joyful/
total 1 replies
tutiana
Luar biasa
Dancingpoem: terimakasih untuk rating 5 nya/Determined/
total 1 replies
Moh Rifti
up
Nikma: Permisi kakak Author ..

Halo kak reader, kalau berkenan boleh mampir novel aku juga ya 'Kesayangan Tuan Sempurna' ..
Terima kasih😊🙏
total 1 replies
Helen@Ellen@Lenz
lanjut thor biar seru 💪💪
Helen@Ellen@Lenz: iya pasti dong
Dancingpoem: siappp, smoga tetap setia ya ngikutin cerita nya/Smile/
total 2 replies
Moh Rifti
next
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined/
Moh Rifti
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Helen@Ellen@Lenz
sy doakan moga jln cerita yg authur buat moga sukses ya dan dilimpahi rezeki bt ceritanya
Dancingpoem: Aamiin MasyaAllah terharu sekali komentar nya kak, semoga kk juga sehat selalu ya sekeluarga Aamiin 🥺😇🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!