Hay gaes, penasaran kan sama cerita Dave dan Vera yang tiba-tiba menikah.
Sebelum kalian membaca cerita ini, ada kalanya kalian membaca ceritaku yang judulnya "Partner Ranjang Om Duda"
Dave William Pratama, Putra tunggal dari keluarga Pratama, nasib percintaan tidak semulus seperti wajahnya.
Mencintai sahabatnya yang bernama Zena, membuat Dave harus menikahi Vera, adik tiri dari Zena.
Kecelakaan yang menimpa ibunya, telah merengut nyawa keluarga Vera, membuat Vera terpaksa menikah dengan Dave.
Verania Putriani, wanita cantik yang usianya baru menginjak 20 tahun. Sebagai mahasiswa yang terpopuler di kampusnya, banyak yang mengagumi kecantikannya, dia merupakan kekasih dari Putra Cort Wilson.
Di saat malam pertamanya dengan Dave, Vera justru pingsan dan dinyatakan keguguran.
Amarah, kebencian, sangat jelas tercetak di raut wajah Dave.
Yuk, simak ceritanya. Cerita ini khusus aku buat di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustikhafida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Melihat ekspresi Steven, Dave justru terkekeh. Apalagi saat mendengar ucapan Steven yang membuatnya bahagia, "Dia anakku, bukan anakmu," ujar Steven mendelik tajam.
"Jangan dengarkan Om itu ya nak, kamu anak Daddy. Besok jika kamu sudah lahir. Janji sama Daddy, kamu harus mirip Daddy," ucap Dave mengusap perut wanita yang dicintainya.
"Ya sudah, aku pamit pergi. Sekali lagi... jika kalian ingin datang ke pesta pernikahanku, datanglah,"
"Pintu rumahku terbuka lebar," ujar Dave.
"Bagaimana keadaan ibu? Apa ibu baik-baik saja?" Tanya Zena tak ingin Dave pergi, dia mengulur waktu dengan beberapa pertanyaan.
"Ibu baik-baik saja. Hanya sedikit luka kecil di kepalanya, akibat benturan keras di stir mobil," ujar Dave, "Dan Ibu juga sempat menanyakanmu, dia rindu dengan calon cucunya," sambung Dave memancing emosi Steven.
"Aku dan anakku juga merindukan omahnya,"
"Iya kan sayang, anak Mommy rindu dengan omah?" ujar Zena yang mengusap perutnya.
"Sudah pergi! dari tadi bicara mau pergi, tapi kenapa masih disini," gerutu Steven.
Dave tersenyum lalu menganggukan kepalanya "Baiklah, rupanya suamimu tidak menginginkan kehadiranku di sini. Lebih baik aku pergi, lagipula ini sudah malam. Aku takut mengganggu moment romantis kalian," ujar Dave yang mendapatkan tatapan tajam dari Zena
"Moment romantis apa? Aku dan Mas Steven tidak mempunyai moment romantis di malam hari, yang ada moment mengerikan" Zena bergidik ngeri, bulu kuduknya merinding saat mengingat kejadian setiap malam bersama suaminya.
Melihat ekspresi Zena yang menggemaskan, ingin rasanya Dave mencubit gemas pipi wanita yang dicintainya.
'Ahh rasanya aku benar-benar tidak kuat berdekatan denganmu Zen. Jantung hatiku berdetak sangat cepat,' batin Dave yang perlahan melangkah menjauhi Zena. Dia berjalan keluar ruangan dengan perasaan campur aduk.
Angin malam memang tidak baik untuk kesehatan, tapi bagi Dave, hanya angin malam dengan situasi hening yang mampu menenangkan hatinya.
Argggkkhhh ...
"Kenapa! Kenapa aku harus menikah dengan adik dari wanita yang aku cintai! Kenapa!" pekik Dave saat berada di dalam mobilnya, "Aku tidak sanggup. Walaupun tujuanku menerima pernikahan ini hanya untuk membalaskan setiap perlakuan mereka pada Zena, tapi tetap saja aku tidak sanggup. Aku takut jika setelah menikah nanti, Zena akan hilang respect padaku," gumam Dave mengusap wajahnya kasar.
"Lihat saja kamu! Akan aku balas semua perbuatan jahatmu pada Zena. Karena keluargamu yang mengusir Zena, dia harus menikah dengan Steven,
"Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka dunia Vera, adik tersayang dari wanita yang aku cintai, hahaha ...," sambung Dave meremas erat stir mobilnya.
Di saat Dave sedang menyusun rencananya, tiba-tiba ponselnya berdering. Segera Dave mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau.
"Hallo Bu, ada apa menelfonku?" tanya Dave.
"Cepatlah pulang Dave, Vera sudah mengetahui semuanya dan dia berniat kabur lalu memenjarakan Ibu. Beruntung salah satu anak buahmu memergoki Vera," jawab Mika membuat Dave menyalakan mesin mobilnya.
"Aku akan pulang!" titah Dave mematikan telfonnya.
"Berani-beraninya dia kabur dan berniat memenjarakan Ibuku. Awas saja ... akan aku siksa dia," ujar Dave menancapkan gasnya dan mobilpun keluar dari area parkir rumah sakit.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Dave sampai di rumahnya.
"Di mana wanita itu Bu, aku harus memberinya pelajaran," seru Dave emosi.
"Jangan Dave, kamu bisa membuatnya takut." Cegah Mika.
"Biarkan saja, dia pantas Bu. Karena dia, Zena menikah dengan Steven dan aku gagal mendapatkannya Bu!" geram Dave.
"Tenang Dave, jangan seperti ini. Jika kamu ingin menyiksanya, lebih baik setelah kalian menikah. Karena jika kalian belum menikah, dia bisa saja kabur dan melaporkan Ibu pada polisi," jawab Mika meyakinkan putranya.
Dave menimang ucapan Ibunya sesaat, "Baiklah Bu, tapi aku ingin bertemu dengannya. Aku harus memperingatkan dia agar tidak macam-macam terhadap kita," ujar Dave.
Mika mengangguk patuh. Dia menunjukkan kamar Vera, karena sebelumnya dia sudah memindahkan Vera ketempat yang lebih aman agar tidak bisa kabur darinya.
"Ruangannya di dekat kamarmu. Ibu sengaja memberikan kamar dekat denganmu," tunjuk Mika membuat Dave menganggukkan kepalanya. Dia berjalan sesuai perintah Ibunya menaiki tangga menuju lantai dua.
Setelah sampai di lantai dua, Dave membuka pintu dekat kamarnya. Pintu yang tidak terkunci tetapi di jaga oleh beberapa orang suruhannya.
"Minggirlah, aku ingin menemui calon istriku," titah Dave pada dua bodyguardnya.
"Baik Tuan," jawab dua bodyguard itu menjauh dari pintu kamar Vera.
Dave mulai membuka pintu dan berjalan masuk. Dia melihat wanita yang sedang meringkuk dengan tubuh bergetar.
"Jangan takut, aku adalah calon suamimu," ujar Dave saat melihat Vera beringsut menjauhi Dave.
"Aku tidak mau menikah dengan anak pembunuh!" pekik Vera, "Lepaskan aku, kalian harus aku laporkan pada polisi. Lepaskan aku!" sambungnya lagi.
"Melepaskanmu?" ucap Dave berjalan menuju Vera, tangannya di masukan kedalam saku celananya, "Apa jaminannya jika aku melepaskanmu?" sambungnya lagi mencengkram dagu Vera.
"Sa-sakit," ringis Vera.
"Sakit? Kau bilang sakit hem?"
"Asal kau tahu, rasa sakitmu ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang Zena alami selama ini," ujar Dave melepas cengkramannya dengan kasar.
"Aww .... " Wajah Vera terpental membentur ujung ranjang, "Apa maksudmu? Kenapa kamu membawa nama kakaku hah!" pekik Vera mengusap dagu dan keningnya.
"Sudahlah, lebih baik persiapkan dirimu untuk besok. Karena mulai besok kau akan menjadi istriku. Lebih tepatnya Istri Di atas Ranjang!" ujar Dave berjalan menuju pintu kamar Vera.
"Aku sudah mempunyai kekasih, tolong lepaskan aku. Aku berjanji, aku tidak akan melaporkan Ibumu ke polisi, tapi lepaskan aku," lirih Vera sambil diiringi isak tangis.
Mendengar ucapan Vera salah satu sudut bibir Dave terangkat, "Tidurlah dengan nyenyak. Karena mulai besok malam, tidurmu tidak akan nyenyak," titah Dave melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Brengseeekk!" pekik Vera melempar semua barang di sekitarnya.
"Dasar pria jahat! Ibuku pasti menangis saat melihat anaknya diperlakukan seperti ini oleh keluarga yang dianggapnya baik," teriak Vera keras.
Bersambung😘
ya bagus sih ceritanya. walaupun berkutat di peran utama nya aja. 👍