NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 10

Perjalanan menuju perusahaan milik Aragon De Hartmann terasa begitu panjang bagi Aurora. Sejak pagi buta, ia sudah duduk di dalam bus kota dengan kegelisahan yang terus menghantui pikiran.

Tangannya berkali-kali meremas erat tali tas kecil di pangkuan, sementara netranya terpaku menatap keluar jendela, menyaksikan Kota S yang mulai menggeliat ramai.

Gedung-gedung tinggi menjulang memadati pusat kota, bersanding dengan lalu lalang kendaraan mewah yang seketika membuat Aurora merasa asing.

Ketika bus akhirnya berhenti di kawasan bisnis paling elit di kota tersebut, Aurora turun dengan langkah ragu. Angin pagi langsung menyapu lembut rambut hitamnya.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, langkah kaki Aurora mendadak terkunci.

Di hadapannya, berdiri megah gedung utama De Hartmann Group.

Napas Aurora seketika tercekat. Gedung pencakar langit itu menjulang begitu tinggi, seolah hendak menembus langit kelabu pagi itu. Seluruh dindingnya dilapisi kaca hitam mengilap yang memantulkan lanskap kota dengan begitu superior.

Di bagian atas bangunan, logo De Hartmann berwarna perak berdiri kokoh, sebuah simbol kekuasaan mutlak yang tak tersentuh oleh siapa pun.

Aurora benar-benar kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa berdiri terpaku di atas trotoar, menatap arsitektur luar biasa itu dengan mata membelalak kagum.

Di sekitarnya, orang-orang bersetelan mahal keluar masuk gedung dengan langkah cepat dan profesional. Deretan mobil mewah berbaris rapi di depan lobby, sementara petugas keamanan bersiaga di setiap sudut. Pemandangan itu seketika menghantam Aurora dengan rasa minder yang hebat.

Aurora merasa dirinya begitu kerdil. Sangat kecil jika dibandingkan dengan megahnya dunia Aragon De Hartmann.

Ia hanyalah wanita biasa. Fakta bahwa ia harus menaiki bus kota demi sampai ke tempat ini sudah cukup menjadi bukti betapa ia tidak pantas berada di sana. Sementara Aragon, pria itu hidup di kasta yang terlalu jauh untuk digapai oleh orang-orang sepertinya.

Aurora sempat menunduk, menatap pakaian sederhananya sejenak, sebelum kembali mendongak menatap gedung tinggi di hadapannya. Jantungnya bertalu semakin kencang. Namun, setelah menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa keberanian, Aurora akhirnya memaksa kakinya untuk melangkah maju.

Satu langkah. Dua langkah. Hingga akhirnya, ia melewati pintu kaca otomatis menuju lobby utama De Hartmann Group.

Begitu menapakkan kaki di dalam, Aurora kembali dibuat terpaku. Lobby perusahaan itu jauh lebih mewah dari apa yang pernah berkeliaran dalam imajinasinya.

Lampu kristal raksasa menggantung megah di langit-langit yang tinggi, memantulkan cahaya pada lantai marmer putih mengilap yang membentang luas. Aroma parfum mahal yang elegan langsung menyergap indra penciumannya.

Suasana di dalam sana terasa begitu megah, dingin, dan berkelas. Aurora bahkan sempat didera ketakutan jika alas sepatunya yang kotor akan menodai lantai berkilau tersebut.

Namun, di tengah rasa gugup yang nyaris melumpuhkan itu, Aurora kembali mengeratkan genggamannya. Ia mengingat satu alasan mutlak yang membawanya sejauh ini: ia datang demi menyelamatkan panti asuhan mereka.

Aurora berdiri canggung di tengah lobby megah itu. Netranya bergerak ke sana kemari dengan gugup, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang dengan kesibukan tinggi sembari membawa gawai tablet dan dokumen penting. Semua tampak begitu profesional dan berkelas, menjadikan pukulan yang kian menyudutkan Aurora dalam rasa tidak pantas.

Jantungnya bertalu semakin cepat. Kebingungan mulai melanda, ia bahkan tidak tahu harus memulainya dari mana.

Bagaimana cara menemui pria sekelas Aragon De Hartmann? Apakah ia harus membuat janji temu berminggu-minggu sebelumnya? Atau setidaknya memiliki kartu identitas khusus untuk mengakses lift?

Aurora meremas tali tasnya kencang, berusaha keras menepis gemuruh di dadanya. Ia hampir kehilangan semangatnya tadi malam. Bamun tiba-tiba, tatapannya terpaku pada sebuah meja konter panjang dari marmer putih mengilap di sisi lain lobby.

RECEPTIONIST.

Tulisan perak di dinding belakang meja itu seketika menerbitkan secercah kelegaan di mata Aurora.

“Benar... Aku harus bertanya di sana,” gumamnya lirih pada diri sendiri.

Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Aurora mulai melangkahkan kaki menuju meja resepsionis. Namun, baru beberapa langkah ia mengayunkan kaki.

“Maaf, Nona.”

Sebuah bariton berat tiba-tiba menginterupsi, membuat Aurora tersentak kaget.

Dua petugas keamanan berbadan tegap dan besar tahu-tahu sudah menghadang jalannya. Mereka mengenakan setelan jas hitam rapi dengan earpiece kecil di telinga.

Tatapan mereka tajam, waspada, namun tetap menjaga profesionalitas.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu petugas dengan nada sopan, meski sorot matanya yang jeli tidak bisa menyembunyikan penilaian dari atas hingga bawah pada penampilan sederhana Aurora.

Seketika itu juga, lidah Aurora terasa kelu.

“Sa-saya...”

Untuk beberapa detik, ia benar-benar kehilangan pasokan udara. Ditambah lagi, beberapa pegawai yang kebetulan lewat mulai melirik ke arahnya dengan tatapan penuh selidik, membuat Aurora merasa sekecil debu di ruangan itu.

Belum lagi pakaian yang Aurora kenakan jauh dari kata pakaian standar yang orang-orang kenakan.

“Apakah Anda sudah membuat janji temu, Nona? Dan dengan siapa?” petugas itu kembali bertanya, kali ini dengan intonasi yang menuntut kejelasan.

Aurora menelan ludah dengan susah payah. Di tengah kepungan rasa takut yang nyaris membuatnya ingin berbalik arah dan melarikan diri, wajah anak-anak panti asuhan berkelebat di benaknya.

Dengan sisa keberanian terakhir yang ia miliki, ia mendongak dan menyuarakan tujuannya dengan lirih namun tegas.

“Saya... ingin bertemu dengan Tuan Aragon De Hartmann!!” Kata Aurora gugup sehingga suaranya nyaris teriak.

Semua orang langsung melirik. Membuat Aurora menciut.

“Apa sudah ada janji temu sebelumnya dengan Tuan Aragon?”

Aurora langsung menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan rona merah yang menjalar di wajahnya akibat rasa cemas.

“Sa-saya... tidak punya janji temu,” jawabnya nyaris berbisik.

Kedua petugas keamanan itu saling berpandangan sesaat, seolah sudah menebak jawaban tersebut, sebelum salah satunya kembali menatap Aurora dengan raut formal yang kaku.

“Maaf, Nona. Tuan Aragon tidak bisa ditemui oleh siapa pun tanpa adanya janji yang terjadwal sebelumnya.”

Aurora meremas tali tasnya kian erat, mengabaikan rasa perih di jemarinya.

“Saya hanya ingin berbicara sebentar saja... ini mengenai urusan yang sangat penting,” pintanya dengan nada memohon yang kentara.

Namun, petugas itu tetap menggeleng tanpa kompromi. “Semua orang yang datang ke sini tanpa janji juga mengatakan hal yang sama, Nona. Bahkan mereka yang jelas-jelas memiliki janji temu karena urusan bisnis pun terkadang tidak dapat bertemu dengan Tuan Aragon.” Kalimat telak itu seketika membungkam Aurora.

“Silakan membuat janji terlebih dahulu melalui sekretaris perusahaan,” lanjut petugas itu, sopan namun sarat akan penolakan yang tegas.

”Sekarang, kami harus meminta Anda untuk meninggalkan area lobby.”

“Tolong... saya benar-benar harus bertemu dengannya sekali saja...” Aurora masih mencoba bertahan, menaruh seluruh harapan terakhirnya di sana.

Melihat keras kepalanya gadis itu, petugas satunya mulai melangkah maju setapak, memperikis jarak defensif mereka.

“Maaf, Nona. Tolong kerja samanya.”

Kehilangan pilihan, Aurora akhirnya hanya bisa menunduk kecewa. Dengan bahu yang merosot lesu, ia perlahan berbalik dan melangkah gontai meninggalkan lobby megah tersebut.

Beberapa pegawai yang melintas sempat meliriknya dengan tatapan sinis dan penasaran, membuat harga diri Aurora serasa dihempaskan ke lantai.

Bersambung

1
Rainn G.
Calon istri ga tuh 🗿
Rainn G.
Mau kasian tapi lebih kasian diriku 😭
Rainn G.
What? Sakit banget
Rainn G.
Psikotes banget tapi suka 🔥💅🏻
Rainn G.
Manly guys
Rainn G.
Asikk ributtt 🔥
Rainn G.
Merajuk ke? 😂
Rainn G.
Marahin aja marahin 😏
Rainn G.
Iyalah orang jodohnya wkwk
Rainn G.
Makanya jaga jarak 😑
Rainn G.
Padahal omongin aja langsung ra siapa tau bisa sampein
Anggitadama
Aku tungguin lho kok blm up kak?
Anggitadama
belum up ua kak
Anggitadama
keren sekali up lagi
Anggitadama
up lagi
Arumi Hanza
seru lanjut lagi novelnya
Arumi Hanza
lanjutkan update
Luna.aluna
aku sudah tebar koin untuk kakak semoga kakak senang jadi kakak semangat untuk update selanjutnya karena novel kakak bagus sekali
Luna.aluna
Kak apakah kakak tahu novel kakak sangat aku tunggu-tunggu sekali
Bangun Hanjaya
tolong jangan lama-lama up again
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!