“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Midnight Boardroom
Vane Center berdiri di jantung ibu kota seperti monolit hitam yang menantang langit. Di jam-jam seperti ini, ketika seluruh kota mulai terlelap dalam keremangan, gedung itu justru tampak hidup dengan denyut cahaya biru elektrik di puncaknya. Bagi Kael Arden, gedung ini adalah sarang naga, tempat di mana hukum negara tidak lebih dari sekadar saran yang bisa diabaikan.
Kael keluar dari mobilnya tanpa pengawalan. Suasana trotoar sangat sepi, hanya ada deru angin malam yang memainkan ujung jas mahalnya. Ia menatap ke atas, ke lantai tertinggi yang terbungkus kaca gelap. Rambutnya masih terpatri sempurna, klimis dan rapi, meski badai sedang berkecamuk di balik dadanya. Ia mengatur napasnya, memastikan bahwa saat ia melangkah masuk, ia tetaplah sang Perdana Menteri yang tak tergoyahkan, bukan seorang pria yang sedang mengejar obsesi.
Lift pribadi yang membawanya ke lantai teratas bergerak dalam keheningan yang menyesakkan. Kael menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap seperti cermin. Dasi yang ia kenakan kini adalah sutra hitam pekat, menggantikan dasi yang tadi direnggut Aurelia. Ia merapikan kerahnya, memastikan setiap inci penampilannya menunjukkan otoritas. Namun, aroma black rose dan amber seolah masih tertinggal di kemejanya, menyusup ke dalam paru-parunya, mengingatkannya pada setiap sentuhan Aurelia yang memprovokasi.
Ting.
Pintu lift terbuka, langsung menuju ke private boardroom sekaligus penthouse milik Aurelia Vane. Ruangan itu luas, minimalis, dan sangat dingin. Dinding-dindingnya adalah kaca dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan pemandangan lampu kota yang berkilauan seperti permata yang tumpah. Di tengah ruangan, sebuah meja rapat panjang terbuat dari obsidian hitam mengkilap tampak menanti.
Aurelia tidak ada di sana.
"Datang tepat waktu adalah sifat yang sangat membosankan bagi seorang politisi, Kael."
Suara itu datang dari arah balkon luas di ujung ruangan. Kael menoleh. Aurelia sedang berdiri memunggungi ruangan, menatap cakrawala kota. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna hitam yang sangat tipis, hanya ditopang oleh dua tali halus di bahunya. Gaun itu menjuntai hingga ke lantai, namun belahan di bagian belakangnya memperlihatkan lekukan punggungnya yang mulus seputih susu. Di tangan kanannya, ia memutar-mutar sebuah gelas kristal berisi wiski berwarna amber.
Kael melangkah maju, suara sepatunya bergema di lantai marmer yang sunyi. "Kau memintaku datang, untuk menyerahkan dokumen padaku, bukan untuk mendengarkan kuliah tentang etika waktu."
Aurelia berbalik dengan gerakan yang sangat lambat, sangat anggun. Cahaya bulan dan lampu neon biru dari luar membingkai tubuhnya, membuat siluetnya tampak seperti dewi kegelapan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang liar.
"Dokumen itu ada di sana," Aurelia menunjuk ke arah meja obsidian dengan dagunya. Di sana terletak sebuah map kulit berwarna merah darah. "Tapi kita berdua tahu, kau tidak ke sini hanya untuk kertas itu. Kau ke sini karena kau tidak bisa tidur setelah aku menyentuh lehermu tadi."
Kael berhenti tepat dua langkah di depan Aurelia. Jarak mereka kini cukup dekat untuk mencium aroma alkohol dari napas Aurelia dan wangi parfumnya yang memabukkan. "Kau meretas sistem keamanan nasional. Itu adalah hukuman mati jika aku ingin, Aurelia."
"Maka lakukanlah," tantang Aurelia. Ia meletakkan gelas wiskinya di pinggiran balkon dan melangkah mendekati Kael. Setiap langkahnya adalah ancaman. "Panggil pasukanmu. Borgol tanganku. Bawa aku ke sel yang paling gelap di negerimu. Bukankah itu fantasi yang kau pikirkan sepanjang jalan ke sini? Memilikiku dalam keadaan tidak berdaya?"
Tangan Aurelia merayap naik ke dada Kael, ujung kuku merahnya menelusuri tekstur jas abu-abu arang yang dikenakan pria itu. "Tapi kau tahu masalahnya, Kael. Kau tidak ingin aku dipenjara oleh negara. Kau ingin memenjarakanku dalam pelukanmu sendiri."
Rahang Kael mengeras. Ia mencengkeram pergelangan tangan Aurelia, menghentikan gerakan tangannya yang provokatif. Genggamannya kuat, menunjukkan dominasi fisik yang selama ini ia tekan di balik protokol jabatan. "Kau terlalu percaya diri, Miss Vane. Kau hanyalah duri dalam daging bagi pemerintahanku. Dan aku akan mencabut duri itu, apa pun taruhannya."
"Kalau begitu, cabutlah," bisik Aurelia, suaranya kini serak-serak basah, tepat di depan bibir Kael.
Aurelia menggunakan kekuatannya untuk menarik Kael masuk ke dalam ruangan, menuju meja rapat obsidian yang dingin. Dalam satu gerakan cepat yang tidak terduga, ia mendorong map dokumen merah itu hingga terjatuh ke lantai dan justru mendudukkan dirinya di atas meja tersebut, menyilangkan kakinya yang jenjang sehingga gaun sutranya tersingkap hingga ke pangkal paha.
Pemandangan itu menyerang kewarasan Kael. Kontras antara kulit pucat Aurelia dan meja hitam pekat itu adalah godaan visual yang mematikan. Kael mendekat, mengurung Aurelia di antara kedua tangannya yang menumpu di meja. Ia menunduk, matanya menatap tajam ke dalam mata gelap Aurelia yang penuh tantangan.
"Dokumen itu," Kael mendesis, mencoba mempertahankan fokusnya. "Katakan padaku siapa informanmu di dalam kabinetku."
Aurelia justru tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti musik gelap. Ia mengulurkan tangan, melepaskan satu kancing jas Kael, lalu beralih ke kancing berikutnya. "Informan? Kael, aku tidak butuh informan saat aku memiliki akses ke pikiranmu. Kau terlalu mudah dibaca. Kau membuat kebijakan energi itu hanya untuk menarikku keluar dari persembunyian, bukan? Kau ingin aku datang padamu."
Tangan Aurelia kini merayap masuk ke balik jas Kael, menyentuh kemeja putihnya yang masih rapi. Ia bisa merasakan jantung Kael yang berdegup kencang di bawah telapak tangannya. "Kau menginginkan konfrontasi ini. Kau haus akan persaingan ini. Karena hanya di depanku, kau merasa hidup. Bukan sebagai robot politik, tapi sebagai pria."
Kael kehilangan kesabarannya. Ia menarik Aurelia mendekat hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak lagi. Ia bisa merasakan lembutnya sutra gaun Aurelia dan panas tubuh wanita itu. Tangan Kael berpindah ke tengkuk Aurelia, jemarinya membenam di rambut hitam wanita itu yang harum, menariknya sedikit ke belakang agar ia bisa melihat ekspresi kesakitan atau kenikmatan di wajahnya.
"Kau pikir kau bisa mengendalikanku dengan permainan murah ini?" suara Kael kini terdengar sangat parau, penuh dengan adrenalin yang meledak. "Aku bisa menghancurkan kerajaanmu, membakar setiap sen yang kau miliki, dan memastikan namamu dihapus dari sejarah."
"Maka bakarlah," Aurelia membalas dengan tatapan yang sama tajamnya. Ia justru menarik dasi Kael, memaksa wajah pria itu semakin rendah hingga napas mereka bercampur. "Tapi kau harus ikut terbakar bersamaku. Aku tidak akan membiarkanmu tetap rapi di singgasanamu sementara aku hancur. Jika aku jatuh, aku akan menarikmu ke dalam neraka yang paling dalam, Tuan Perdana Menteri."
Suasana di dalam boardroom itu menjadi begitu berat, seolah oksigen di sana telah habis terbakar oleh ketegangan mereka. Kael menatap bibir merah Aurelia yang sedikit terbuka, menantangnya untuk melakukan sesuatu yang akan menghancurkan karier dan martabatnya selamanya.
Tangannya yang lain merayap ke pinggang Aurelia, menarik wanita itu lebih dalam ke dalam kekuasaannya. Kael bisa merasakan getaran di tubuh Aurelia, wanita ini juga tidak sebeku yang ia tunjukkan. Aurelia juga terbakar oleh intensitas yang sama.
"Kau adalah musuh negaraku, Aurelia," bisik Kael, bibirnya kini hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir Aurelia.
"Dan kau adalah penguasa yang paling mendambakan musuhmu," balas Aurelia dengan nada mengejek yang provokatif.
Tiba-tiba, ponsel Kael di saku jasnya bergetar hebat. Sebuah panggilan darurat dari kepala intelijen negara. Bunyi getaran itu terasa seperti alarm yang menarik Kael kembali ke realitas yang dingin. Ia membeku sejenak, matanya masih terkunci pada Aurelia.
Aurelia tersenyum kemenangan, melihat bagaimana tanggung jawab kembali menarik rantai di leher Kael. "Pekerjaan memanggil, Kael. Apakah kau akan menjadi anak baik dan menjawabnya? Atau kau akan tetap di sini dan melihat seberapa jauh aku bisa membuatmu melupakan tugasmu?"
Kael perlahan melepaskan cengkeramannya di tengkuk Aurelia. Ia mundur satu langkah, merapikan jasnya dengan gerakan mekanis yang kaku. Rambutnya masih rapi, namun matanya memancarkan kegelapan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Ia mengambil map merah di lantai tanpa mengalihkan pandangan dari Aurelia.
"Ini belum selesai," kata Kael, suaranya kembali dingin dan datar, topeng profesionalnya kembali terpasang sempurna. "Aku akan memeriksa dokumen ini. Jika ada satu saja manipulasi di dalamnya, aku sendiri yang akan memimpin penangkapanmu."
Aurelia tetap duduk di atas meja, meluruskan gaun sutranya dengan gerakan yang sangat sensual. "Aku menantikannya, Kael. Tapi ingat satu hal... saat kau mengirim pasukanmu nanti, pastikan kau yang memegang borgolnya. Karena aku tidak ingin disentuh oleh siapa pun kecuali pria yang sudah rela mengkhianati nuraninya demi menguntitku di tengah malam."
Kael berbalik tanpa kata, melangkah menuju lift dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa ia sedang melarikan diri dari keinginannya sendiri.
Saat pintu lift tertutup, Kael bersandar di dinding besi yang dingin. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak lagi mengendalikan permainan ini.
Di atas sana, di boardroom yang gelap, Aurelia Vane mengambil kembali gelas wiskinya. Ia menyesapnya perlahan, matanya menatap pintu lift yang tertutup. Sebuah rencana yang lebih besar sedang bergerak di kepalanya.
"Satu langkah lagi, Kael," bisiknya pada kegelapan. "Satu langkah lagi, dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya."
Malam itu, sang Perdana Menteri kembali ke kantornya dengan dokumen di tangan, namun ia tahu ia telah meninggalkan sebagian dari jiwanya di atas meja obsidian milik Aurelia Vane. Persaingan ini bukan lagi tentang siapa yang benar, tapi tentang siapa yang akan bertahan dalam obsesi yang mencekik ini.