NovelToon NovelToon
Jiwa Ditubuh Maya

Jiwa Ditubuh Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Teen Angst
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.

Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"

Apa yang terjadi pada Maya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Jiwa Ditubuh Maya

Satu jam lalu, sebelum Maya pingsan...

JLEB!

JLEB!

JLEB!

Suara tusukan yang menghantam tubuh itu terdengar jelas di telinga Priska. Di ruangan sempit yang dipenuhi aroma besi bercampur darah, dia hanya mampu menatap nanar sosok yang berdiri di hadapannya. Tangannya sudah terlalu lemah untuk bergerak, tubuhnya terasa dingin, dan napasnya makin pendek setiap detik.

Sosok yang berdiri di depannya bukan orang asing. Itu Yasmin, sahabat yang selama ini selalu berada di sisinya.

Tatapan mata Yasmin membara penuh amarah. Tak ada lagi kelembutan atau rasa peduli seperti biasanya. Yang tersisa hanyalah kebencian yang begitu dalam. Dengan tangan gemetar namun penuh emosi, Yasmin terus menghujamkan pisau ke tubuh Priska tanpa ragu.

Priska ingin bertanya kenapa. Ingin berteriak. Ingin melawan. Namun semua terasa sia-sia. Tubuhnya sudah terlalu lemah akibat kehilangan banyak darah. Setiap luka membuat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya seperti api yang membakar dari dalam. Penglihatannya perlahan kabur, tetapi dia masih bisa melihat jelas ekspresi wajah Yasmin yang dipenuhi dendam.

Priska tahu. Siapa pun yang nanti menemukan jasadnya pasti akan mengerti kalau pembunuhan ini bukan terjadi karena kebetulan. Cara Yasmin menyerangnya menunjukkan satu hal yang jelas, ada kebencian besar yang dipendam sejak lama.

Darah menetes ke lantai satu demi satu. Suara napas Priska terdengar berat. Dia mencoba mengangkat tangan, tetapi gagal. Tenaganya habis. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi bagian dari dunia gelap mafia, Priska merasakan ketakutan yang benar-benar nyata. Bukan takut pada kematian. Melainkan takut karena dirinya dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Yasmin akhirnya berhenti. Dadanya naik turun menahan emosi. Pisau di tangannya berlumuran darah.

Priska menatapnya lemah. Bibirnya bergerak pelan, berusaha mengatakan sesuatu. Namun tidak ada suara yang keluar. Dunia di sekelilingnya mulai gelap. Pendengarannya perlahan menghilang. Rasa sakit yang tadi begitu kuat berubah menjadi kehampaan.

Pada akhirnya, Priska menutup mata. Kegelapan langsung menyelimuti semuanya. Tidak ada suara. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada apa pun. Anehnya, kegelapan itu tidak berlangsung lama.

Beberapa saat kemudian, Priska perlahan membuka mata. Hal pertama yang dia rasakan adalah dingin. Bukan dingin kematian. Melainkan dingin ruangan ber-AC. Dia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang rumah sakit.

Langit-langit putih menyambut pandangannya. Lampu ruangan menyala redup. Kesunyian terasa begitu aneh. Priska langsung duduk pelan sambil memegang kepalanya yang terasa berat. Dia masih mengingat jelas bagaimana Yasmin membunuhnya.

Kalau begitu, kenapa dia masih hidup? Napasnya memburu. Dia menoleh ke kanan dan kiri, mencoba memahami keadaan. Ruangan itu tampak biasa saja. Tidak ada siapa-siapa. Saat pandangannya berhenti pada jendela di sisi ruangan, tubuh Priska langsung membeku. Di sana ada pantulan wajah seseorang.

Seorang gadis remaja dengan wajah pucat dan tubuh kurus. Itu bukan dirinya. Priska langsung turun dari ranjang dengan langkah tergesa. Jantungnya berdetak begitu cepat. Dia berlari menuju kamar mandi kecil di dalam ruang rawat. Begitu sampai di depan cermin, napasnya tercekat.

Wajah itu kembali muncul. Wajah asing. Mata besar yang tampak lelah. Kulit pucat. Bibir kering. Tidak ada sedikit pun kemiripan dengan dirinya.

“AAAA!”

Priska refleks berteriak sambil melangkah mundur. Tubuhnya hampir jatuh karena syok melihat pantulan di depan cermin.

“Apa-apaan ini?” gumamnya panik. Tangannya langsung memegang wajah itu. Pipinya, rambutnya, semua terasa nyata.

“Ini bukan aku... ini bukan wajahku...” ucapnya lirih.

Priska menampar pipinya beberapa kali, berharap semua itu hanyalah mimpi buruk. Namun rasa sakit yang muncul justru membuatnya sadar. Ini nyata. Dia benar-benar hidup. Tetapi bukan sebagai dirinya sendiri.

Priska menatap pantulan itu lama sekali. Pikirannya kacau. Dia ingat dengan jelas bagaimana pisau Yasmin menembus tubuhnya berkali-kali. Dia seharusnya mati.

Lalu kenapa sekarang dia berada di tubuh orang lain?

Belum sempat dia menemukan jawaban, tiba-tiba kepalanya terasa nyeri. Priska memegang pelipis sambil meringis. Dalam sekejap, kilatan-kilatan ingatan asing mulai bermunculan di kepalanya. Begitu cepat dan jelas.

Priska melihat kehidupan seorang gadis bernama Maya. Semakin banyak ingatan itu muncul, semakin dalam pula rasa marah yang tumbuh di dalam dirinya. Maya ternyata memiliki kehidupan yang sangat berbeda dengannya. Jika Priska dikenal sebagai wanita kuat yang hidup di dunia mafia dan terbiasa menghadapi kekerasan, maka Maya adalah kebalikannya.

Maya terlalu lemah dan takut melawan. Ingatan demi ingatan terus mengalir. Priska melihat bagaimana Maya selalu diperlakukan buruk di rumah. Kakak tirinya sering bersikap kasar dan melewati batas terhadap dirinya. Maya berkali-kali diperlakukan dengan tidak pantas, sementara setiap penolakan hanya membuatnya menerima bentakan dan kekerasan.

Tidak ada yang melindunginya. Tidak ada yang peduli. Maya hanya diam. Menangis sendirian. Memendam semua rasa takutnya. Tetapi penderitaan Maya tidak berhenti di rumah.

Di sekolah, hidupnya bahkan lebih buruk. Priska bisa melihat jelas bagaimana Maya menjadi sasaran perundungan hampir setiap hari. Tasnya dibuang. Bukunya dirusak. Dia dihina di depan banyak orang. Bahkan tidak sedikit murid lain yang ikut menertawakan penderitaannya.

Yang paling membuat Priska marah adalah saat dia melihat salah satu kenangan ketika Maya disakiti dengan bara rokok. Maya hanya menahan sakit sambil menangis. Tidak melawan dan juga membalas.

“Sialan...” desis Priska pelan. Kilatan ingatan itu akhirnya berhenti. Napasnya memburu. Dia menatap pantulan tubuh Maya di depan cermin dengan mata tajam.

Tanpa sadar, tangannya bergerak membuka lengan baju rumah sakit yang dikenakannya. Benar saja, ada beberapa bekas luka kecil di lengannya. Bekas perlakuan buruk yang diterima Maya. Tatapan Priska langsung berubah dingin.

“Kenapa kau diam saja saat mendapatkan semua ini?” gumamnya lirih seolah berbicara kepada Maya. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat.

Sebagai seseorang yang tumbuh di dunia penuh kekerasan, Priska tahu satu hal. Kalau dunia tidak akan pernah berhenti menyakiti orang lemah.

Dan Maya terlalu lemah untuk bertahan sendirian. Priska mengedarkan pandangan ke seluruh kamar mandi.

“Maya... kalau sekarang aku yang ada di tubuhmu, lalu kau di mana?” tanyanya.

Tentu saja tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara pendingin ruangan dari luar. Priska memejamkan mata beberapa detik. Dia mencoba memahami situasi aneh yang sedang dialaminya.

Tubuh baru. Kehidupan baru. Kesempatan kedua. Perlahan, dia mulai menyadari sesuatu. Mungkin dirinya memang sudah mati. Entah bagaimana, dia kini hidup di tubuh Maya.

Bukan tanpa alasan. Priska membuka mata kembali. Tatapannya kini berubah tajam dan penuh tekad.

“Mungkin alasan aku ada di tubuh ini karena anak ini terlalu lemah,” ucapnya pelan.

Dia kembali menatap pantulan dirinya di cermin. “Atau mungkin... dunia sedang memberiku kesempatan kedua.”

Bibirnya membentuk senyum tipis. Senyum itu bukan senyum lembut. Melainkan senyum dingin yang mengandung ancaman.

“Kalau begitu, akan aku tunjukkan apa itu perlawanan.”

Aura yang keluar dari dirinya berubah. Meski tubuh yang dia tempati sekarang terlihat lemah dan rapuh, jiwa di dalamnya tetaplah Priska. Wanita yang selama ini hidup di dunia mafia. Wanita yang tidak pernah takut menghadapi kekerasan. Sekarang orang-orang yang dulu menyakiti Maya akan segera menyesali semuanya.

Priska menarik napas panjang lalu keluar dari kamar mandi. Baru beberapa langkah dia berjalan, terdengar suara dari luar ruangan.

“May? Kau di toilet?”

Priska langsung menghentikan langkah. Dia mengenali suara itu dari ingatan Maya.

Jamie, kakak tiri Maya. Orang yang selama ini sering membuat hidup Maya penuh ketakutan. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka pelan. Seorang pria masuk sambil membawa plastik berisi makanan.

Wajahnya terlihat santai seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Namun bagi Priska, sosok itu langsung membangkitkan rasa muak.

Dalam ingatan Maya, Jamie berkali-kali bersikap tidak pantas dan membuat gadis itu hidup dalam ketakutan. Maya menatap Jamie tanpa berkedip. Tatapan dingin yang sama sekali berbeda dari Maya biasanya.

Jamie tampak tidak menyadari perubahan itu. Dia tetap melangkah masuk sambil mengangkat plastik makanan.

Maya perlahan tersenyum. Namun senyum itu bukan senyum hangat. Melainkan senyum tipis penuh arti. Senyum sinis.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq benci dan trauma dengan nama norma. blh dng aq maki2 si norma ini.
Ass Yfa
woo yg dikasih obat pak Darto kiraib kasih ke Jamie
Rommy Wasini Khumaidi
pasti obatnya dikasih pak Darto,kirain mau dikasih ke Jamie tuh obat
Ass Yfa
Weh ..Rangga muncul gaesss....Polisi ganteng
W I 2 K
cicak masuk perangkap.. 🤣🤣🤣, g usah kasih ampun pedofil Darto
Auraliv
lanjutttt
Rommy Wasini Khumaidi
bukanya barang² Maya sudah dibakar habis thor,waktu Maya mau laporin Jamie ke polisi?
Desau: itu barang yg tersisa kak
total 1 replies
istianah istianah
selesaikan dulu masalah maya kak, author,. baru masalah friska di atur sebaik mungkin, 😍😍 semngattt kak
Rommy Wasini Khumaidi
waduh siapa lagi ini,main kroyokan
mery harwati
Priska bikin ramuan obat bwt siapa itu? Jomie kah? Angel kah? Atw Darto? 🤔
Atw ramuan bwt orang lain?
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq salfoo. disini pria muda, dibawah pria tua
Desau: maaf kak, harusnya pria muda. awalnya aku terlanjur nulis pria tua, tapi ngeditnya tergesa gesa jd gk ke edit semua. karna tiba2 dapat ide terkait tokoh sambudi ini 😅
total 1 replies
mery harwati
Rangga aq kasih kopi ya sebelum kau bantu selidiki kasus Maya 💪
mery harwati
Rangga The Hot Police Man muncul euy 🤣💪 Dita mana Rangga? Udah punya anak belum kau sama Dita?
Tiara Bella
wah Rangga polisi yg itu bukan ya...🤭
mery harwati
Lemah Priska !! Sudah disiram air pel, sudah ditampar, sudah dikunci di toilet sekolah & Priska sudah tau bahwa Maya asli tersiksa & diperkosa, tapi lembek aja penyelesaian akhirnya 😃
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Nadira ST
kebanyakan bacot,langsung hajar lah bikin darting saja
Tiara Bella
pd jahat bngt ya geng violet ini....
Rommy Wasini Khumaidi
ayok Maya segera beraksi...semangat May💪💪
Tiara Bella
oh no....ada guru yg begono ...
mery harwati
Sekolah favorit atw sekolah anak² pengusaha atw sekolah internasional atw sekolah biasa² yang untuk kalangan pada umumnya ya ini sekolah Maya?
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!