Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapisnya legit banget..
Emmuaah
Emmuaah
Emmuaah
Wajah Sifa sudah diabsen, tanpa ada yang tersisa.
"Bapak, geli" Sifa sudah seperti ulat yang kesiram minyak petrolion
"Karena Sayang banyak salahnya, papa tetap akan menghukum sayang, siang ini juga"
Sifa sudah didudukkan diatas perut Ilham, tidak memakan waktu lama, baju Sifa sudah tertanggalkan, dan menyisakan bungkus menutupi dada ratanya
Ilham tidak lupa dengan pelajaran cara membuka bungkus tersebut, meskipun bertahun tahun tidak membuka tutup gelas, namun masih ingat bukan??
Ilham memainkan tutup gelas, memilinnya dan ingin membuka gelasnya
Yang disentuh tambah mengangah apalagi caranya membuka dengan mulut dan giginya
"Ssssssssst" Sifa seperti jelmaan ular yang mengokos karena ketrampilan pak dokternya
Pasangan ini sudah berlayar menuju nirwana, penyatuan mereka membuat semuanya menjadi hilang kendali, hingga akhirnya
Basah basah basah lagi
Tisue tisue tisue lagi
Pak dokter tumbang disamping Sifa, rasa riang membuncah ketika melihat istrinya terkapar tak bertenaga.
"Terimakasih sayang, sayang membuat papa seperti kembali kejaman masih muda, lupa dengan usia"
Dokter mencium kening, dan langsung turun keperut Sifa
"Tumbuhlah anakku, temani papa dan mamamu sebagai penerus kami" Ilham meneteskan airmata
Mata Sifa terbuka, Ilham tersenyum
"Istirahatlah sayang, sayang pasti capek"
Mereka tidur entah berapa jam
-
Ilham bangun, namun Sifa belum bangun.
Ilham memakai boxernya kembali, lalu mengambil jubah, dan memakainya
Ilham kebawah, dan melangkahkan kakinya hingga menuju taman belakang, yaitu kolam renang
Ilham melepas jubahnya, menceburkan diri kegreen canyon buatan manusia ini.
Ilham menyelam menyegarkan diri, setelah tenaga dalam dan tenaga luarnya keluar memporak porandakan dinding sang gadis belia, tenaganya otomatis membuncah dengan sendirinya, seakan besok itu sudah tidak bisa malakukan penyatuan lagi, makanya hari ini harus harus harus
Tak berapa lama, wanita berambut basah, yang sekarang sudah menggantikan Nancy, datang membawa camilan dan duduk di ayunan penjalin.
Ilham menghentikan aktifitasnya menyelam, ia menghampiri wanita mungil, dan mengambil jubahnya yang sudah berada ditangan Sifa
Ilham tidak tau malu, hanya menggunakan boxer basah saja, masih pamer didepan Sifa
"Sayang, apa ini?" Ilham sudah mengambil irisan kue berwarna blaster ini
"Kue lapis" Sifa mengangkat jubah yang ada didekapan Ilham "Jubahnya dipakai dulu"
"Nggak pa apa, biarin seperti ini, orang sayang yang lihat ini, pak Dar nggak bakalan lihat"
"Tapi rumput dan tumbuhan pada lihat"
"Baik, baik, baik, tubuh suamimu juga nggak boleh terekpose oleh siapapun. Bahkan tumbuhan saja, sayang tidak merelakan mereka melihat papa tak memakai baju"
Ilham sudah duduk disamping Sifa, sambil memakan lapis dengan lahapnya
"Bapak... "
Ilham langsung menghentikan aktifitas mengunyah, ia langsung menoleh pada wanita yang masih berambut basah.
Ilham tersenyum
"Ada apa?"
"Makan lapisnya jangan banyak banyak, takut perutnya melilit kalau tidak terbiasa"
"Tapi ini sangat enak, pas banget manisnya, kayak yang bikin kue ini" Ilham terus tersenyum dan menoleh kearah Sifa
Posisi Sifa duduk dengan kakinya terangkat semua, sedang Ilham, kakinya menjulur hingga lantai, karena dia terlalu tinggi dan besar.
"Tapi bapak belum makan siang? kalau tidak cocok dengan perut, bapak bisa sakit perut"
"Sayang juga belum makan siang dong?"
"Belum, orang bapak memakan Sifa melulu, ibarat masakan, Sifa di angetin terus menerus sampai capek pengangetnya"
"Hah?? ahahaha, pelajaran dapat darimana? sayang bisa protes masalah anget penganget humm?"
Sebelum Sifa menjawab, Ilham sudah menanyakan sesuatu lagi
"Oiya, kira kira sayang ingin melanjutkan kuliah atau gimana?"
Sifa mengerutkan dahi,
"Sifa sudah punya suami, takut tidak bisa membagi waktu"
"Memangnya kuliah itu memakan waktu sehari penuh? Enggak sayang, tergantung dosen yang mengisi. Kalau sayang pulang cepat, pulangnya langsung kerumah sakit temuin papa. Oiya, kira kira sayang mau ambil jurusan apa?"
"Bapak.., Sifa nggak tau urusan kuliah, Sifa takut pusing, Sifa ingin dagang aja" Sifa sambil cemberut
"Dagang apa?"
"Terserah, pokoknya Sifa jangan nganggur"
"Memangnya sayang mau dagang apa?" Tanyanya kembali
"Sifa pingin buka warung makan barangkali" Ucapnya dengan sumringah
"Buka warung?"
Ilham langsung membayangkan, buka warung itu identik dengan warung yang sudah menjamur dipinggir pinggir jalan, yaitu warteg.
"Apa sayang nggak capek? jangan ah, papa nggak ngijinin"
"Issh bapak" Wajah Sifa sudah ditekuk tekuk rapih kayak baju habis disetrika
"Oiya, papa jadi teringat sama Santi, Sinta dan Yanti"
"Kenapa dengan mereka?"
"Apa sayang yang selalu menaruh kue yang ada diatas meja papa tiap hari?" Tebak Ilham
Sifa tidak menjawab, Sifa sedikit malu, takut dikira mancing perhatian
"Kenapa sayang diam?"
Sifa langsung membenahi jubah yang sudah dipakai paksunya, agar dadanya tertutup dengan sempurna, lalu memeluk Ilham dari samping
"Sifa hanya melihat bapak kasihan, pagi pagi sekali bapak sudah sampai dirumah sakit. Apa kiranya, bapak sudah sarapan?"
Ilham menrentangkan tangan kirinya yang tadi kepeluk Sifa, dan sekarang gantian, Ilhamlah yang memeluk Sifa
"Kaitannya kasihan, sama kue dan sarapan, apa hmm?"
"Karena setahu Sifa, bapak belum sarapan, jadi Sifa taruh kue itu diatas meja"
"Tiap hari?"
Sifa mengeratkan pelukan
Sifa mendongak "Iya, maafkan Sifa, bukan bermaksud Sifa mencari muka, Demi Tuhan, Sifa tidak bermaksud riya"
Ilham langsung mengusap rambut panjang yang mulai mengering "Kakakku ternyata tidak salah memilihkan jodoh, untuk papa nikahi. gadis yang pintar dan pandai berbagi, seperti sayang Emmmmuuaaah"
Kening Sifa jadi sasaran bibir dokter cintanya
Iya, Sifa memang sudah pasrah menerima dokter duda tua itu menjadi suaminya.
-
Setelah Ilham membilas tubuhnya, iapun mengenakan pakaian santai namun sopan
Sifa duduk dikursi rias dengan baju lajuran panjang berwarna putih pilihan Ilham
"Sayang, hari ini kita keluar ya, mau?
Ilham berdiri dibelakang Sifa,
Sifa mendongak "Iya, Sifa mau?"
"Kalau begitu, mulai sekarang, sayang pakai hijab ya?"
Sifa bingung, dia tidak punya jilbab. Meskipun punya, hanya beberapa biji, itupun jilbab sudah ketinggalan kereta alias jadul
"Kenapa sayang diam? sayang bingung?"
Ilham mengambil kaca rias kecil, ia tarik dekat dengan wajah Sifa. Ilham mulai memperlihatkan leher Sifa yang beruba batik
"Hah?? leherku kenapa pak?" Sifa sudah membelokkan badannya agar bisa berhadapan dengan paksunya "Sifa tidak sakit parahkan pak? Sifa tidak merasa apapun" Lagi lagi Sifa mengaca bagian leher "Ini kenapa?"
Sifa memang jarang bercermin sesudah mandi, dan dia tidak tau kalau leher disesap drakula akan meninggalkan jejak
"Nah, maka dari itu, sayang tutupi pakai hijab. Sayang mau?" Ilham tersenyum
Sebenarnya Ilham tak tega meninggalkan lipstik dileher Sifa, tapi karena hilaf hihi lupa segalanya.
"Lagian enak sih hihi" Ilham terkekeh
Ilham merasa seperti berusia sepuluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya.
Mungkinkah karena istrinya berusia masih sangat belia, bahkan dengan putrinya, Sifa lebih muda 3 tahun dari mendiang Tulsi putrinya Ilham.
***Bersambung.....
Untuk sementara, panggilan untuk pak dokter masih kikuk kikuk gimana ya readers, jadi lidah Sifa belum bisa mengucapkan kata selain bapak...
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk othor.. Emmuuaaaah bibir Ilham mendarat untuk para readers***
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx