Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Badai di Ruang Direksi
Senin pagi pukul sembilan, Menara Thamrin tampak berkilau di bawah terik matahari Jakarta.
Namun, di dalam ruang rapat utama lantai lima belas PT Santoso Karya, atmosfer berubah mencekam bagai ruang sidang pengadilan.
Meja oval bermaterial marmer hitam yang biasanya menjadi saksi perdebatan proyek triliunan rupiah, kini dikelilingi oleh ketegangan yang pekat.
Andreas duduk di salah satu kursi kulit dengan tubuh yang bergetar samar.
Wajah klimis yang biasanya memancarkan arogansi kelas atas itu kini pucat pasi, seperti mayat hidup.
Dasinya sedikit longgar, dan matanya merah akibat tidak bisa tidur setelah mendengar kabar dari jaringan pelabuhan bahwa Suryo alias si Jago bersama seluruh anak buahnya ditangkap massal oleh Brimob pada subuh dini hari tadi.
Di ujung meja, Devan Santoso duduk dengan rahang yang mengeras.
Asap dari cerutu mahalnya membubung ke langit-langit ruangan, tetapi tidak mampu mencairkan keheningan yang dingin.
Amanda Santoso juga hadir, duduk di samping ayahnya dengan melipat tangan di dada.
Sepasang matanya yang tajam menatap Andreas dengan tatapan penuh kejengkelan dan kekecewaan yang mendalam.
"Kamu bilang semuanya akan rapi, Andreas,"
suara Amanda mendesis, rendah namun penuh dengan racun yang menusuk telinga.
"Kamu bilang tikus pelabuhan itu akan patah tangannya dan menangis di rawa sepi."
"Tapi apa yang terjadi sekarang?"
"Seluruh armada truk semen mereka sampai ke lokasi Marunda tepat pukul lima pagi! Zero-delay tidak tersentuh!"
"Aku... aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, Amanda,"
jawab Andreas, suaranya parau dan terputus-putus.
"Suryo adalah preman paling licik di wilayah barat."
"Membawa tiga puluh orang bersenjata. Seharusnya... seharusnya jalur itu lumpuh!"
TOK! TOK! TOK!
Pintu ruang rapat diketuk tiga kali dengan ketukan yang mantap dan berwibawa.
Sebelum Devan sempat memberikan izin, pintu itu terbuka lebar.
Doni Salman melangkah masuk ke dalam ruangan.
Ia tidak lagi mengenakan kemeja batik bekas yang basah kuyup oleh hujan subuh tadi.
Hari ini, ia mengenakan kemeja flanel biru tua yang pas di tubuh tegapnya, celana kain hitam rapi, dan sepatu pantofel kulit lokal yang bersih.
Penampilannya sederhana, namun pembawaan energinya begitu dominan, memancarkan otoritas seorang penguasa lini masa yang sedang berjalan masuk ke daerah taklukannya.
Di belakang Doni, Kombes Pol Wahyu bersama dua orang penyidik kepolisian berseragam reserse melangkah masuk dengan langkah tegap.
Kehadiran para penegak hukum itu seketika membuat Andreas tersentak berdiri dari kursinya hingga kursi tersebut bergeser kasar ke belakang.
"Doni Salman... apa-apaan ini?!
"Kenapa kamu membawa polisi ke dalam ruang rapat direksi perusahaan?!"
bentak Andreas, mencoba menutupi ketakutan gila di dalam dadanya dengan arogansi kosong.
Doni tidak langsung menjawab.
Ia berjalan perlahan menuju ujung meja oval, tepat berhadapan dengan Devan Santoso.
Ia meletakkan sebuah map transparan berisi salinan laporan pengiriman logistik hari ketujuh yang berstempel SUCCESS di atas meja marmer, lalu mengalihkan pandangannya yang sedingin es kepada Andreas.
"Saya ke sini hanya untuk menyerahkan laporan performa mingguan Sektor Utara kepada Pak Devan, Andreas,"
kata Doni, suaranya tenang, berat, dan bergema di setiap sudut ruangan.
"Dan mengenai kehadiran Pak Kombes Wahyu... mereka ke sini bukan urusan saya."
"Mereka ke sini untuk menjemput seorang buronan kasus konspirasi kriminal."
Kombes Pol Wahyu melangkah maju, mengeluarkan selembar kertas resmi berlogo kepolisian dari dalam map kulitnya.
Ia menatap Andreas dengan pandangan dingin.
"Saudara Andreas, Asisten Manajer Senior PT Santoso Karya,"
suara Kombes Wahyu terdengar menggelegar di ruang tertutup itu.
"Berdasarkan bukti permulaan yang cukup, termasuk penangkapan tersangka Suryo alias si Jago di tempat kejadian perkara subuh tadi,"
"serta alat bukti digital berupa rekaman suara asli transaksi pendanaan sabotase sebesar lima puluh juta rupiah,"
"Anda resmi kami tetapkan sebagai tersangka atas kasus konspirasi kriminal, perusakan aset strategis nasional, dan percobaan penganiayaan berat."
"Apa?! Rekaman suara?!"
wajah Andreas seketika kehilangan seluruh aliran darahnya.
Tubuhnya lemas, nyaris tumbang jika ia tidak berpegangan pada tepi meja marmer.
"Itu... itu tidak mungkin! Itu fitnah! Saya tidak pernah merekam apa pun!"
"Anda memang tidak merekamnya, Andreas,"
Doni Salman menyela, seulas senyuman kemenangan yang sangat kejam terukir di wajah tirusnya.
"Tapi sayalah yang merekam seluruh suara busuk Anda di kafe pelabuhan malam itu."
"Anda mengira rawa sepi adalah kuburan untuk proyek saya?"
"Ternyata, keserakahan dan kebodohan Anda sendirilah yang menggali kuburan untuk karier Anda di tempat ini."
Devan Santoso terbelalak.
Pria tua yang licik itu menatap Andreas dengan tatapan maut.
Ia tahu, jika skandal ini sampai tercium oleh media massa atau bursa saham bahwa seorang pejabat senior PT Santoso Karya mendanai preman untuk mensabotase proyek tol pemerintah milik perusahaannya sendiri maka nilai saham perusahaan keluarga Santoso akan terjun bebas ke titik nadir dalam hitungan jam.
"Petugas, bawa dia keluar dari ruangan saya,"
kata Devan Santoso, suaranya terdengar sangat lelah dan dingin.
Ia bahkan tidak sudi lagi menatap wajah calon menantunya itu.
"Perusahaan tidak akan memberikan bantuan hukum apa pun kepada seorang kriminal yang mencoba merusak jalannya proyek konstruksi."
"Pak Devan! Amanda! Tolong aku!
"Aku melakukan ini semua demi melindungi saham keluarga kita! Amanda!!"
teriak Andreas histeris saat kedua petugas Reserse mencengkeram lengan kanan dan kirinya,
memasang borgol besi dengan bunyi KLIK yang mematikan, lalu menyeretnya keluar dari ruang rapat.
Amanda Santoso memalingkan wajahnya dengan jijik, menganggap Andreas tak lebih dari sekadar barang rongsokan yang gagal menjalankan tugas.
Namun, saat pintu ruang rapat kembali tertutup rapat, suasana di dalam ruangan tidak menjadi lebih baik.
Amanda dan Devan kini harus berhadapan langsung dengan ancaman yang jauh lebih besar: Doni Salman.
Doni menarik sebuah kursi kosong di hadapan Devan, lalu duduk dengan santai sambil menyilangkan kakinya.
Ia menatap dua orang penguasa korporat itu dengan manik mata sumur tuanya yang tajam dan tidak memiliki rasa takut sedikit pun.
"Sekarang, mari kita bicara bisnis yang sesungguhnya, Pak Devan,"
kata Doni, mengetukkan jari tangannya ke atas dokumen laporan efisiensi.
"Hari ini adalah hari ketujuh."
"Efisiensi anggaran Sektor Utara stabil di angka dua puluh empat koma delapan persen, dan status pengiriman mutlak zero-delay."
"Dengan ditangkapnya Andreas dan hancurnya jaringan preman pelabuhan miliknya, saya pastikan angka penghematan ini akan terus bertahan hingga hari ke-sembilan puluh."
Doni memajukan tubuhnya, memberikan tekanan psikologis yang masif kepada pria paruh baya di depannya.
"Sesuai dengan kontrak tertulis di atas kertas segel yang kita tanda tangani seminggu lalu...
"saya rasa, klausul pengaktifan awal untuk hak opsi saham kosong sebesar dua persen sudah bisa kita proses secara legal di depan notaris sore ini."
"Bagaimana, Pak Direktur Utama?"
Devan Santoso mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Di kehidupan pertamanya, ia adalah singa yang mendikte hidup Doni.
Namun hari ini, di ruangan megah miliknya sendiri, Devan menyadari dengan kengerian yang mendalam bahwa pemuda di hadapannya ini bukanlah pion murah yang bisa ia hancurkan.
Doni Salman adalah seorang arsitek takdir yang telah mengunci setiap langkahnya, memaksa keluarga Santoso menyerahkan potongan pertama dari takhta kekuasaan mereka tanpa ada celah untuk melawan.