Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 setelah semua selesai
Pintu rumah tertutup pelan di belakang Wulan.
Suara kecil itu langsung memutus semua kebisingan dari hari yang panjang.
Tidak ada suara vendor.
Tidak ada langkah cepat.
Tidak ada panggilan panitia.
Hanya rumah.
Dan sunyi.
Wulan berdiri sebentar di dekat pintu, masih memegang tasnya.
Seperti tubuhnya belum sepenuhnya yakin kalau hari itu benar-benar sudah selesai.
Lalu perlahan dia melepas sepatu dan menaruhnya di rak.
“Capek…” gumamnya pelan.
Dia berjalan ke dalam rumah,
Lampu ruang tamu masih redup,
Tidak ada siapa-siapa yang menyambut.
Tapi Wulan sudah terbiasa dengan itu Di dapur, dia mengambil segelas air, Minum pelan.
Dingin airnya turun perlahan, sedikit meredakan rasa berat di tubuhnya.
Dia bersandar sebentar di meja, menatap ruangan yang kosong.
HP di sakunya bergetar.
Sawi busyuk
Udah nyampe blumm?
Wulan langsung berjalan sambil membalas.
uudah
Sama siapa sii?
Wulan berhenti di depan pintu kamar Mengetik pelan.
ada deh pokoknya
HP langsung bergetar lagi.
tuh kan curang
Wulan masuk kamar, duduk di kasur.
bodo amat wlee
Beberapa detik kemudian…
hahaha i know babang saka kann
aduh abus dari mana aja tuh
Ups ups
Wulan langsung ketawa kecil.
“ anajy langsung tau tuh anak
Dia rebahan di kasur, masih memegang HP Tubuhnya benar-benar mulai lepas dari mode kerja.
hpnya kini berdering siwi menelpon
" Heh kamprett dari mana aja lu? mampir kemana aja hayolohh"
“besok aja” jawab eulan menjahil i siwi
Siwi: “ENGGAK. SEKARANG. GUA GAK BISA TIDUR KALO GAK TAU”
" gue capek banget sumpah besok deh nanti tak kasih tau ” ucap wulan
Lalu Siwi membalas " oke besok yaa, tapi kamu aman kan?”
Wulan menjawab " aman”
Percakapan berhenti di sana. Wulan mematikan telepon nya lalu menaruh HP di samping bantal.
Menatap langit-langit kamar, Sunyi kembali Tapi kali ini tidak terasa kosong seperti biasanya, Lebih seperti ruang yang berhenti sebentar.
Di sisi lain kota, Saka sudah berada di rumahnya Dia duduk di ruang tamu.
Jaket kerja masih terlipat di kursi HP di meja kecil bergetar sekali, Tapi dia tidak langsung mengambilnya.
Dia bersandar, Menatap langit-langit.
Hari itu terasa panjang, bukan karena pekerjaan semata, tapi karena ritmenya tidak berhenti dari pagi sampai malam.
Beberapa menit kemudian, barulah dia mengambil HP Tidak ada pesan penting.
Hanya grup kerja Dia membaca sekilas, lalu meletakkannya kembali.
Saka diam, Tidak ada yang perlu diselesaikan malam ini Tapi ada sisa kecil di kepalanya, Sesuatu yang tidak butuh nama.
Kembali ke Wulan Dia bangun sebentar, mengambil baju ganti.
Pergi ke kamar mandi Air mengalir pelan Menghapus sisa hari yang menempel di tubuhnya.
Setelah itu, dia kembali ke kamar Lebih ringan, Tapi tetap tenang.
Dia duduk lagi di kasur HP di tangan Dia membuka chat, Scroll sebentar.
lalu wulan merebahkan diri, Menarik selimut, Mata mulai berat.
Di luar kamar, rumah tetap sunyi Tapi kali ini, sunyi itu tidak mengganggu, Hanya ada.
wulan bangun tanpa alarm
Tubuhnya masih sedikit berat, tapi jauh lebih ringan dibanding kemarin.
Tidak ada jadwal pagi yang padat, Sarah memberi setengah hari libur.
Di kamar, Wulan duduk sebentar di kasur Membuka HP.
Tidak ada pesan baru selain chat lama dari Siwi.
sawi busyuk
gue masih nungguin loh
Wulan langsung senyum kecil.
“ pasti penasaran tuh anak”
Wulan akhirnya keluar rumah, Langkahnya santai Tidak terburu-buru.
Hanya hoodie, rambut diikat sederhana Tujuannya jelas sejak awal, Seblak.
Di jalan, dia berjalan pelan sambil melihat sekitar Tidak ada Siwi di sampingnya hari ini.
Tidak ada suara ribut di telinga Hanya dirinya sendiri Sambil berjalan, dia membuka chat.
sawi busyuk
mao beli seblak akohh
curang, beliin gue juga kalo lo baik
Dih hello kerja karyawan
lu juga ya anjim
Wulan langsung ketawa kecil.
lalu menyimpan HP.
Langkahnya berhenti di depan warung seblak langganan Aroma pedas langsung menyambut.
karna seblaknya prasmanan wulan memilih isian seblak lalu mengisi note rasa dan level pedas yang fiingin kannya lalu menyerahkan pada penjual.
dan wulan duduk menunggu di kursi plastik pinggir jalan.
Sendiri Tapi tidak sepi, Ada suara motor, orang lewat, dan aktivitas kecil di sekitarnya.
Sambil menunggu, Wulan membuka HP lagi, Scroll sebentar.
Sampai seblaknya datang, Uap panas naik pelan.
Wulan mulai makan perlahan Pedasnya menyebar, membuat pikirannya sedikit lebih ringan.
HP bergetar telpon dari siwi
"gue nangis nihh gue laper dikantin kantor ga ada seblak"
"ya lo lagi mana ada dikantor seblak ppea"
"yakan pengen yaudah lah kamu jahat bay" siwi menutup telponnya, Wulan tertawa kecil sendiri.
Untuk pertama kalinya hari itu tidak ada yang berat, Hanya seblak, jalanan, dan hari yang berjalan pelan.
Setelah makan seblak di pinggir jalan, Wulan menghela napas pelan,
Pedasnya masih tertinggal di lidah, tapi tubuhnya terasa lebih ringan.
Dia langsung berdiri, membayar, lalu pulang dulu sebentar kerumah, terus pergi menuju Ibusya Flower Studio tanpa menunda lagi.
Pintu kaca terbuka.
Wulan masuk dan langsung menuju meja kerja tanpa banyak bicara, Sarah sudah ada di depan, tablet di tangan. “ kamu udah mendingan bes"
" ga mendingan lagi kak, ini udah siap kerja" jawab wulan dengan nada sombongnya
" yaudah hari ini fokus stok ya ” kata Sarah singkat.
Wulan mengangguk. “Siap, Kak.”
Wulan langsung mulai bekerja, Bunga baru dari supplier sudah datang. Dia merapikan, menyusun ulang, dan mengecek stok satu per satu.
Gerakannya stabil. Tenang Beberapa pelanggan kecil datang dan pergi Semua masih normal, bukan event besar Toko berjalan seperti biasanya.
Siang hari Pintu kembali terbuka.
Ting.
Dua orang masuk, Wulan menoleh.
Nara dan Rafi masuk dengan langkah santai.
“Selamat siang,” kata Wulan.
“Siang,” jawab Nara.
Rafi mengangguk kecil. “Kita mau pesan buket.”
Sarah hanya melirik sekilas dari meja depan.
“Silakan.” Wulan mendekat.
Nara “ aku mau kasih buat temen, temen deket sihh dia menikah”
Wulan mengangguk pelan.Mengerti arahannya Bukan sekadar bunga Tapi sesuatu yang punya makna.
“Kalau buat kasih orng menikah, biasanya lebih enak pakai bunga yang punya pesan, simple tapi tetep terasa" kata Wulan.
Nara mengangguk. “Yang kayak gimana?”
Wulan mulai mengambil beberapa bunga dari rak.
Putih, hijau lembut, dengan sedikit aksen hangat.
Gerakannya pelan tapi pasti.
“Ini bisa dipakai, bukan yang terlalu mencolok, tapi tetap ada kesan hangat.” kata wulan
Rafi memperhatikan. “Ini cukup bagus.”
Nara mengangguk. “ ini mah ngga cukup lagi ini mah pasti bagus banget ”
" hehe bisa aja kakak" Wulan mulai merangkai buket di meja kerja. Tangannya sudah terbiasa.
rafi pergi keruang tunggu sedangkan nara melihat wulan Dia masih berdiri di dekat meja.
Melihat prosesnya sebentar.
“Lan,” kata Nara pelan.
Wulan menoleh sedikit. “Iya?”
Nara diam sebentar, lalu bertanya santai. “ hari ini ngga ketemu saka?”
Wulan berhenti sebentar, lalu menjawab tenang. “ ngga kan ngga ada kerjaan juga”
Nara mengangguk kecil. “ loh emngnya harus pas kerja kalian ketemunya”
" apa sih kak " ucap wulan malu
pengennya sih gitu kali kakk
" aku harus bimbing saka deh " ucap nara tersenyum jahil lalu pergi keruang tunggu dengan rafi.
" iya jir kak bimbing cepetan biar gua ma babang saka jadian ahayy" ucap wulan pelan takut nara denger lalu Wulan melanjutkan kerjanya.
Transaksi selesai Buket selesai tidak lama setelah itu Nara dan Rafi menerima hasilnya.
Nara menatap buket itu sebentar. “kann jadinya bagus banget”
ucap nara senang “ pasti suka den suka deh bestie aku.”
Rafi mengangguk. “Terima kasih ya.”
Wulan menjawab singkat.“Sama-sama.”
Ting.
Pintu tertutup kembali.
Sore hari, Toko kembali tenang. Sarah berdiri dari meja depan “Stock aman?”
Wulan mengangguk. “Aman, Kak.”
Sarah menjawab singkat. “Bagus.”
Tidak ada event besar hari ini, Tidak ada koordinasi rumit.Hanya pekerjaan toko yang berjalan normal.
Wulan duduk sebentar di kursi kerja Menatap rak bunga Aroma ruangan terasa familiar Stabil.
Sarah kembali ke tablet. “Besok checklist kecil.”
“Siap.”
Sore berubah jadi malam. Lampu toko dinyalakan satu per satu Wulan merapikan bunga terakhir.
Sarah mengecek catatan akhir. “Cukup hari ini,” kata Sarah.
Wulan mengangguk. “ okeh okeyyy”
Mereka mulai menutup toko Pintu kaca dikunci, Wulan berdiri sebentar di depan toko.
Menarik napas pelan Hari ini tidak berat Tidak chaos Tapi terasa stabil, seperti ritme yang kembali ke tempatnya.
Mereka pulang seperti biasa Tanpa terburu-buru Tanpa percakapan panjang Dan hari itu selesai begitu saja Normal, Tenang Tapi tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.
Setelah toko benar-benar ditutup, Wulan berdiri di depan pintu kaca seperti biasa.
Belum jauh dia melangkah, suara motor berhenti di depan toko, Wulan bahkan belum perlu menoleh terlalu lama ,Siwi sudah ada Seperti biasa.
“LAN!” panggil Siwi dari motor.
Wulan langsung jalan mendekat. “Lama.”
“Enggak, lu aja yang cepet banget keluar,” jawab Siwi.
Wulan naik ke motor tanpa banyak kata Sudah jadi kebiasaan Setiap hari Tidak perlu janjian lagi, Tidak perlu nunggu lama.
Motor mulai jalan meninggalkan area toko Angin sore mengenai wajah mereka pelan.
“gimana bes hari ini” tanya Siwi.
“ya gitu tok biasa aja ” jawab Wulan singkat.
Siwi ketawa kecil. “ ahh masa sihh”
Di tengah jalan, Siwi tetap seperti biasa. Nggak bisa diam. “Nanti mampir nggak sih? ”
“Ke mana?”
“Minum. Laper juga gue.”
Wulan menghela napas pelan. “ ayo ajah
Mereka berhenti di minimarket seperti biasa,Bukan hal baru. Lebih seperti ritual kecil sebelum pulang.
Siwi masuk duluan, Wulan menyusul.
Mereka ambil minum masing-masing tanpa banyak mikir.
Setelah keluar, mereka duduk sebentar di bangku depan, Tidak lama. Cuma beberapa menit.
“Kerja hari ini gimana?” tanya Siwi sambil minum.
“Normal.”
“ tumben isinya normal mulu ya akhir-akhir ini.”
Wulan diam sebentar. “ ya gitulah.”
Siwi mengangguk kecil. “Bagus lah. bes"
“Udah, pulang yuk, gue kangen ma kasur gue" kata Siwi akhirnya.
“ aayo ayo gue juga dah pegel pengen rebahan”
Motor kembali jalan. Melanjutkan perjalanan ke rumah wulan lalu siwi pulang kerumahnya.