Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : CEMBURU YANG TAK MAMPU DISEMBUNYIKAN
...BAB 35...
...CEMBURU YANG TAK MAMPU DISEMBUNYIKAN...
Malam turun membawa sunyi yang terasa begitu asing di rumah kecil yang selama ini selalu dipenuhi tawa.
Selepas peristiwa sore tadi, ketika Farhan merobek lalu membakar foto lama Alina bersama Raka hingga menjadi abu, tak ada lagi percakapan hangat yang biasanya memenuhi ruang makan.
Yang terdengar hanyalah denting sendok beradu pelan dengan piring.
Alina beberapa kali mencuri pandang ke arah suaminya. Farhan makan seperti biasa, tetapi wajahnya datar. Tatapannya kosong. Sesekali ia menarik napas panjang sebelum kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
Sikap itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Karena Alina tahu... Farhan sedang terluka.
"Mas..." panggil Alina pelan.
"Hm."
"Sayurnya kurang asin ya?"
"Sudah pas."
Hanya itu. Jawaban singkat. Tak ada senyum.
Tak ada candaan seperti biasanya.
Alina menundukkan kepala. Dadanya sesak sekali.
Selama lebih dari setahun menikah, ini pertama kalinya rumah mereka terasa sedingin ini.
Biasanya Farhan selalu bercerita tentang pekerjaannya. Tentang pelanggan yang lucu. Tentang teman kantornya yang usil. Bahkan hal-hal kecil pun selalu mereka obrolkan sambil makan.
Namun malam ini... Mereka seperti dua orang yang asing.
Setelah selesai makan, Farhan mengangkat piringnya sendiri menuju dapur.
"Mas... biar aku saja." Alina menghampiri.
"Aku bisa." jawabnya. Kalimat itu kembali pendek.
Alina menggigit bibirnya. Air matanya hampir jatuh.
Begitu Farhan selesai mencuci piringnya sendiri, ia langsung menuju ruang tamu. Duduk sambil membuka mushaf Al-Qur'an.
Ia membaca dengan suara lirih. Alina memandang dari balik pintu dapur. Hatinya semakin bersalah.
Ia tahu suaminya sedang berusaha menenangkan dirinya dengan ayat-ayat Allah.
Namun justru itu membuat Alina semakin merasa menjadi penyebab semua ini.
Malam semakin larut.
Setelah salat Isya berjamaah, Farhan langsung masuk kamar. Biasanya setelah salat mereka masih berbincang, membaca buku agama bersama, atau sekadar duduk menikmati teh hangat.
Kini tidak. Farhan hanya berbaring menghadap dinding.
Alina mematikan lampu utama. Ia ikut naik ke atas ranjang.
Beberapa menit berlalu.
Tak ada suara.
Tak ada percakapan.
Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.
Alina akhirnya memberanikan diri bergeser mendekat.
"Mas..."
Farhan membuka mata.
"Iya?"
"Masih marah ya?"
Farhan diam beberapa detik.
"Aku nggak marah."
Jawaban itu justru membuat Alina semakin sedih.
Karena ia tahu...
Orang yang berkata "aku nggak marah" belum tentu benar-benar sudah baik-baik saja.
"Kalau nggak marah... kenapa jadi diam?"
Farhan menarik napas panjang.
"Aku cuma lagi banyak mikir."
"Mikir apa?"
Farhan menoleh.
Tatapan matanya begitu dalam.
"Lin..."
"Iya?"
"Aku memang sudah tahu laki-laki di foto itu Raka. Berarti dulu kalian pernah sedekat itu. Seberapa lama kalian menjalin hubungan." alis Farhan bertaut, tatapan matanya tajam.
Alina meneguk ludahnya kasar. "Itu, itu sudah lama sekali Mas, sebelum aku mengenalmu waktu itu. Semasa SMA Raka memang pernah, jadi pacarku tapi setelah keadaan merubah hidup keluargaku. Dia memperlihatkan wajah aslinya. Saat itu juga." Alina menggeleng keras. "Kau, apa kau tidak ingat, Mas?! Waktu itu kaulah yang menolongku. Ketika Raka ingin melakukan hal bejat padaku di gang itu!"
Farhan kembali menoleh menatap istrinya. Mengingat.
"Setelah kejadian itu aku muak padanya, dan aku sudah tidak lagi menyukainya." lirih Alina. "Dia sudah mempermainkan hidupku, dia mendekatiku hanya ingin mencari tahu soal Papa, perusahaan Papa. Demi misinya menjatuhkan keluarga kami" terang Alina.
"Itulah yang nggak bisa hilang dari pikiranku..." Farhan menghela napasnya kasar.
"Yang jadi pertanyaan...kenapa foto itu masih kamu simpan?"
Pertanyaan itu kembali menghantam hati Alina. Padahal Ia sudah menjelaskan berkali-kali tadi sore. Tetapi rupanya luka Farhan belum sembuh.
"Aku benar-benar lupa kalau foto itu masih ada, Mas..."
Farhan tersenyum tipis. Senyum yang hambar.
"Kalau aku nggak nemuin... mungkin foto itu masih tetap kau simpan." tuduhnya.
"Mas..."
"Ya. Aku tahu kamu bilang, lupa." Farhan terdiam sejenak. Alina tetap memperhatikan suaminya.
"Tapi sebagai suami..." Suara Farhan mulai melemah. "...hatiku tetap sakit."
Alina langsung memegang tangan suaminya. Erat. "Maaf..."
Farhan tidak menarik tangannya. Namun ia juga tidak menggenggam balik.
"Aku nggak pernah membandingkan kamu dengan masa laluku, Lin." sahutnya. "Aku juga nggak pernah ingin tahu bagaimana dulu kalian."
"Tapi waktu lihat foto itu..." Farhan menunduk.
"...rasanya seperti ada laki-laki lain yang masih punya tempat di hatimu itu."
Air mata Alina akhirnya jatuh. Menggeleng keras kepalanya.
"Tidak, Mas..."
"Demi Allah tidak."
"Aku bahkan sudah lama melupakan semuanya."
Farhan memejamkan mata.
"Aku percaya."
"Tapi hati laki-laki..."
Ia tersenyum pahit.
"...kadang lebih cemburuan daripada yang perempuan bayangkan."
Alina terdiam. Selama ini Farhan memang tidak pernah menunjukkan rasa cemburunya.
Ia selalu tenang.
Selalu dewasa.
Selalu percaya.
Baru malam ini Alina melihat sisi lain dari suaminya.
Sisi yang rapuh.
Sisi yang takut kehilangan.
Beberapa saat kemudian...
Alina perlahan memeluk pinggang Farhan.
"Mas..."
"Hm."
"Boleh aku manja sebentar, ya?"
Farhan tidak menjawab.
Alina lalu menyandarkan kepalanya di dada lebar suaminya.
"Aku kangen Mas Farhan yang cerewet."
Tak ada jawaban.
"Aku kangen Mas Farhan yang suka ganggu aku waktu masak."
Masih diam.
"Aku juga kangen Mas Farhan yang tiap malam bilang kalau aku cantik."
Sudut bibir Farhan bergerak sedikit.
Nyaris tak terlihat.
Alina menangkap perubahan kecil itu. Ia semakin mendekat.
"Lihat..."
"Akhirnya senyum juga, kan."
"Aku nggak senyum."
"Bohong."
"Nggak." Farhan menggeleng.
Alina mengangkat wajahnya. Menatap lekat wajah suaminya yang masih datar dan kaku.
"Loh... ini bibirnya tadi naik sedikit." goda Alina, menyentuh sudut bibir suaminya dengan jari telunjuk
Farhan menggeleng lagi.
"Kamu lagi ngehalu."
Alina tertawa kecil. Untuk pertama kalinya malam itu, Alina menggoda suaminya yang sedang ngambek.
"Mas..."
"Apa?"
"Kalau aku peluk terus... marahnya hilang nggak?"
Farhan menghela napas. "Nggak tahu." ketusnya. Lalu menyenderkan punggungnya di dipan kasur.
"Kalau aku cium pipinya?" Alina tetap gigih.
Farhan melirik. "Lin..."
Alina mengecup pipi suaminya dengan cepat tanpa diminta.
Cup.
"Lho."
Farhan menatap istrinya.
Alina tersenyum malu.
"Belum hilang juga?"
Farhan menggeleng. "Emmh, emh"
Alina tak puas, lalu kembali mencium dahi Farhan.
Cup.
"Kalau sekarang?"
"Belum."
Alina tertawa geli.
"Mas ini cemburunya lama banget sih."
Alina mengerucutkan bibirnya. Kesal. Lantas ia menangkup kedua pipi Farhan. "Baiklah kalau begitu!" Kali itu Alina memberanikan diri mengecup bibir suaminya duluan, lama sekali.
Farhan sampai melotot. Menahan napas. Beberapa detik kemudian. Alina pun melepasnya.
"Naaah, kalau sekarang ..." cengirnya. Pipi Farhan memerah.
"Iya! Aku memang lagi cemburu, Lin." tegasnya. Farhan memalingkan wajahnya menahan kesal.
Alina membeku. Itu pertama kalinya Farhan mengakuinya secara langsung.
"Bahkan aku cemburu sama foto yang usianya bertahun-tahun." Suara Farhan terdengar lirih. "Aneh ya?"
Alina menggeleng cepat. "Nggak aneh. Malah aku senang."
Farhan mengernyit. "Senang?"
"Iya. Berarti Mas benar-benar sayang sama aku."
Farhan memandang wajah istrinya lama. Lalu tanpa sadar... Tangannya akhirnya mengusap kepala Alina.
"Aku terlalu sayang kamu. Itulah masalahnya."
Kalimat sederhana itu membuat air mata Alina meleleh. Ia langsung memeluk Farhan seerat mungkin.
"Aku juga sayang sama kamu, Mas. Nggak ada siapa-siapa lagi di hati aku. Ku mohon percayalah..."
Farhan membalas pelukan itu. Pelan. Hangat.
Namun masih tersisa beban yang belum sepenuhnya hilang.
Menjelang tengah malam. Alina sudah terlelap di dalam pelukan Farhan. Sementara Farhan masih belum bisa memejamkan mata. Tangannya yang besar masih betah mengusap punggung Alina. Merapikan helaian rambut Alina yang tergerai panjang menutupi sebagian wajahnya.
Farhan menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang. Peristiwa sore tadi terus berputar di kepalanya.
Bukan karena ia masih memikirkan Raka. Laki-laki itu sudah mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di balik jeruji besi. Masa lalu itu seharusnya telah berakhir.
Yang membuat hati Farhan gelisah adalah kenyataan bahwa ia sempat membiarkan rasa cemburu menguasai dirinya.
"Astagfirullah..."
Ia beristighfar lirih.
"Ya Allah... jangan biarkan aku menjadi suami yang mudah berprasangka kepada istriku."
Farhan menoleh ke arah Alina yang tertidur dengan mata sembab. Di atas dadanya.
Jejak air mata masih terlihat di pipinya.
Hati Farhan langsung terasa perih.
Perlahan ia mengusap lembut rambut istrinya. Lalu menghapus jejak air di pipi putih Alina.
"Maafkan Mas..."
"Aku hanya terlalu takut kehilanganmu."
Lalu ia mengecup kening Alina dengan penuh kasih sayang.
Malam itu akhirnya berlalu.
Keesokan paginya...
Hari Minggu.
Biasanya hari libur selalu menjadi hari favorit mereka.
Namun suasana canggung masih terasa meski tidak sedingin semalam.
Seusai sarapan, Alina berjalan menghampiri Farhan yang sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh.
Ia duduk di samping suaminya.
"Mas..."
"Iya?"
"Temenin aku jalan-jalan, yuk."
Farhan menoleh.
"Jalan ke mana?"
"Terserah."
"Keliling kota juga boleh."
"Ke mall juga boleh."
"Aku cuma pengen seharian sama Mas."
Farhan tersenyum tipis.
"Kamu nggak capek?"
"Kalau sama Mas, nggak pernah capek."
Kalimat itu akhirnya berhasil meluluhkan hati Farhan.
"Ya sudah."
"Habis Dzuhur kita berangkat."
Wajah Alina langsung berbinar.
"Serius?"
Farhan mengangguk pelan.
"Iya."
Alina spontan memeluk suaminya.
"Nah... gini dong Mas Farhan."
"Aku kangen Mas yang ini."
Farhan terkekeh kecil.
"Dasar." Farhan menyentil pelan dahi Alina.
Siang harinya mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup ramai.
Alina tampak begitu bersemangat.
Sesekali ia menggandeng lengan Farhan, sesekali menunjuk etalase toko yang menarik perhatiannya.
Melihat senyum istrinya kembali merekah, hati Farhan perlahan ikut menghangat.
"Mas, nanti kita makan bakso ya."
"Boleh."
"Terus beli es krim."
"Boleh."
"Terus foto berdua."
Farhan mengangguk sambil tersenyum.
"Semuanya boleh."
Alina tertawa bahagia.
Namun... Baru beberapa langkah mereka berjalan...
Terdengar suara seorang wanita dari arah belakang.
"Mas Farhan?"
Keduanya spontan menoleh.
Seorang wanita bercadar berwarna krem berdiri beberapa meter dari mereka.
Matanya tampak berbinar penuh kejutan.
"Mas Farhan... benar ini Mas Farhan, kan?"
Farhan tampak berpikir sejenak. Lalu matanya sedikit membesar.
"...Laila?"
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum.
"Masya Allah... akhirnya ketemu juga."
Alina menatap suaminya bergantian dengan wanita itu.
"Mas... ini siapa?"
Farhan menjawab tenang.
"Tetangga lama waktu aku masih tinggal di kampung."
Laila mengangguk membenarkan.
"Iya, kami rumahnya cuma beda beberapa deret."
Tatapan mata Laila kemudian beralih kepada Alina.
"Ini istrinya ya, Mas?"
"Iya."
"Perkenalkan, ini Alina."
Alina membalas dengan senyum ramah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Keduanya berjabat tangan.
Meski wajah Laila tertutup cadar, sorot matanya tampak hangat.
Namun entah mengapa... Alina menangkap sesuatu yang sulit dijelaskan.
Tatapan itu... Seolah menyimpan cerita lama yang belum pernah ia dengar.
Dan Farhan...
Tiba-tiba terlihat sedikit canggung.
Belum sempat Alina bertanya lebih jauh...
Laila kembali membuka suara.
"Mas... ternyata Allah benar-benar sudah memberikan pendamping hidup yang baik untuk Mas."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi entah mengapa...
Jantung Alina berdegup sedikit lebih cepat. Ia mulai bertanya-tanya...
Siapakah sebenarnya Laila?
Dan...
Mengapa Farhan tampak begitu kikuk di hadapannya?
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏