Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 ( Surat )
Kedekatan Benazir dengan Maher membawa semangat tersendiri untuk Benazir. Ia kembali ceria dan sering mengumbar senyum. Sang ibu pun senang melihat rona kebahagiaan di wajah putri kesayangannya itu.
" Jadi kapan nih Ibu dikenalin sama orang yang udah bikin Kamu selalu tersenyum Ben...?" tanya Suci.
" Ibu apaan sih...," sahut Benazir malu.
" Ayolah Nak. Jangan sembunyiin sesuatu dari Ibu. Atau Ibu akan suruh Kakakmu yang cari informasi tentang dia...?" tanya Suci setengah mengancam.
Benazir terbatuk-batuk karena terkejut mendengar ucapan Suci.
" Iya Bu. Aku lagi deket sama Kakak kelasku waktu SMA dulu. Namanya Maher. Tapi please dong Bu, jangan suruh Kakak buat nyelidikin Maher. Aku sama dia lagi penjajagan aja kok. Nanti kalo Aku mau nikah, pasti Aku sendiri yang bakal minta tolong Kakak buat nyari informasi detail tentang dia...," sahut Benazir.
Mendengar jawaban Benazir, Suci pun tersenyum bahagia. Setelah setahun lebih menjanda akhirnya Benazir bersedia membuka hatinya untuk pria lain.
" Ok, tapi janji temuin Ibu sama dia...," pinta Suci.
" Iya Bu...," sahut Benazir sambil tersenyum.
Dan Benazir akhirnya menepati janjinya memperkenalkan Maher pada sang ibu. Sepulang kerja Benazir membawa Maher ke rumah. Pertama kali melihat Maher, Suci menangkap sesuatu yang tak beres pada diri pria itu. Meski pun begitu Suci tetap menyambut ramah kedatangan Maher hari itu.
" Kenalin Saya Maher Tante, Senior Benaz di SMA dulu...," sapa Maher ramah.
" Senang mengenalmu Nak. Silakan duduk...," sahut Suci ramah.
Maher, Benazir dan Suci berbincang akrab. Sesekali Maher menatap Benazir dengan hangat dan penuh cinta. Dan itu tak lepas dari pengamatan Suci. Saat Benazir pamit ke belakang sebentar, kesempatan itu tak disia-siakan oleh Suci.
" Saya bahagia melihat Benaz bahagia...," kata Suci sambil menatap punggung Benazir yang menghilang di balik dinding.
" Saya juga Tante. Saya janji bakal bikin Benazir bahagia selamanya...," janji Maher pada Suci.
" Begitu, tapi apa Kamu tau kalo Benaz itu pernah gagal dalam pernikahan. Dia janda dan Kamu...?" tanya Suci dengan tatapan menyelidik.
" Mmm, Saya tau itu. Saya single Tante. Tapi Saya mencintai Benazir dengan tulus. Dan Saya ga peduli masa lalunya. Saya cuma mau masa depan Benazir ada sama Saya...," sahut Maher berusaha meyakinkan Suci.
Suci hanya tersenyum. Ia teringat janji Arjuna padanya dulu. Sama seperti Maher yang yakin akan mampu membuat Benazir bahagia di sepanjang sisa hidupnya. Tapi semua tak terbukti. Benazir sakit dan terluka hidup bersama Arjuna. Dan Suci tak ingin Benazir mengalami hal serupa lagi nanti.
\=\=\=\=\=
Setelah pertemuan dengan Maher, Suci tak lagi bertanya tentang Maher pada Benazir. Ia memilih memberitahu ketiga kakak tiri Benazir dan meminta mereka mencari informasi tentang Maher.
Awan, Darma dan Gama dengan sigap mencari tahu tentang siapa sebenarnya Maher dan bagaimana kehidupan pribadi pria yang digadang-gadang akan menjadi ipar mereka itu. Mereka sengaja bekerja di belakang layar alias tanpa sepengetahuan Benazir. Mereka tak ingin melukai Benazir dengan sikap over protektif mereka.
Hingga suatu hari Awan mengundang Suci dan kedua adiknya datang ke suatu tempat. Setelah mereka berkumpul tanpa Benazir, Awan pun mengeluarkan semua informasi yang dimilikinya tentang Maher.
Suci, Darma dan Gama terkejut melihat foto yang disodorkan Awan ke hadapan mereka. Foto itu memperlihatkan kegiatan Maher beserta kedua anak dan istrinya. Mata Suci membulat tak percaya.
" Jadi dia membohongi Benaz...?!" tanya Suci terkejut.
" Keliatannya begitu Bu...," sahut Awan sambil mengetuk meja dengan gusar.
" Ini foto terbaru kan Kak...?" tanya Gama.
" Iya. Tuh tanggalnya aja jelas tertulis di situ...," sahut Awan lagi.
" Aku juga punya info kalo Maher itu menikahi Istrinya karena dijodohkan. Mungkin pernikahan tanpa cinta awalnya. Tapi apa pun alasannya toh sekarang dia udah punya dua Anak dari pernikahannya itu. Dan itu artinya dia enjoy sama pernikahannya. Iya ga...," kata Darma.
" Yah cowok mana yang ga terpikat sama Benaz Kita. Tapi jangan harap bisa mempermainkan perasaan Benaz. Udah cukup Kita kecolongan waktu itu...," kata Gama sambil mengepalkan tangannya.
" Terus gimana cara bikin Benaz tau tentang semua ini. Aku khawatir Kita malah bikin dia patah hati lagi nanti...," kata Awan bingung.
" Serahin semua sama Ibu. Biar Ibu yang bilang sama dia nanti. Benaz janji ga akan melangkah tanpa restu Kita kali ini...," kata Suci dengan tenang.
Awan, Darma dan Gama mengangguk setuju. Mereka menyerahkan masalah itu kepada Suci dan berharap Benazir mengerti tentang kekhawatiran dan rasa sayang mereka padanya.
\=\=\=\=\=
Benazir mendapat kiriman paket dari seseorang yang tak dikenal. Saat Benazir membuka isi paket itu, jantungnya berdetak dengan cepat. Tubuhnya mendadak lemas dan ia terduduk di atas tempat tidurnya.
Paket yang baru saja dibuka itu menampilkan beberapa lembar foto Maher yang sedang tertawa bahagia bersama anak dan istrinya. Ada tulisan 'My Happy Family' di bawah foto itu. Ada selembar surat juga yang menyertai paket itu dan jelas ditujukan kepada Benazir.
Benazir membuka surat itu perlahan dengan tangan gemetar. Ia membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di surat itu dengan teliti.
Assalamualaikum Kak Benazir...
Ini foto keluarga kecil Kami, terlihat bahagia bukan ?. Saya berharap kebahagiaan ini ga akan terenggut oleh siapa pun.
Meski pun awalnya pernikahan Kami tak seindah yang terlihat. Tapi pada akhirnya perjuangan Kami sampai pada titik ini. Dan Saya harap Kak Benazir mengerti maksud Saya.
Wassalam
Mutia.
Jantung Benazir bertalu kian cepat usai membaca surat yang dikirim oleh wanita yang ia yakini sebagai istri Maher itu. Benazir memejamkan matanya sesaat lalu tersenyum.
Benazir bangkit dan menyimpan foto itu ke dalam laci. Setelahnya Benazir bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat Isya. Setelah selesai sholat, Benazir menadahkan tangannya untuk berdoa.
" Ya Allah. Terima kasih Engkau telah kirimkan bukti ini untukku. Terima kasih karena Aku tak harus menjadi pelakor dalam rumah tangga orang lain. Aku akan melepasnya dengan ikhlas. Aku yakin bahwa Engkau akan memberi imam terbaik untukku kelak. Amiin...," doa Benazir sambil tersenyum.
Setelahnya Benazir melipat sajadah dan mukenanya lalu meletakkannya di rak di samping meja. Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan yang dikirimkannya kepada Maher. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh Suci, Benazir bergegas membuka pintu lalu menghambur memeluk Suci.
" Ibu, maafin Aku ya. Aku gagal memberi calon menantu buat Ibu. Ternyata Maher ga sebaik yang keliatannya Bu. Dia udah punya keluarga dan Aku ga mau jadi pelakor yang menghancurkan kebahagiann Anak dan Istrinya...," kata Benazir sambil memeluk Suci dengan erat.
" Sabar ya Nak. Jangan pikirin Ibu, yang penting perasaan Kamu. Ibu gapapa kok. Bagus kalo Kamu tau semuanya lebih awal sebelum terlambat. Semangat ya...," bisik Suci sambil mengelus punggung Benazir dengan lembut.
Benazir mengurai pelukannya sambil mencium pipi sang ibu.
" Makasih ya Bu. Aku lebih kuat sekarang...," kata Benazir sambil tersenyum.
" Sama-sama Sayang...," sahut Suci sambil mengusap wajah Benazir yang basah karena air mata.
Dalam hati Suci bersyukur karena Benazir cukup tegar menerima kenyataan ini. Ia berharap ke depannya Benazir akan mendapatkan pendamping yang baik dan benar-benar tulus mencintainya.
" Maafin Ibu ya Nak. Ibu cuma tak ingin Kamu terluka lagi. Ibu janji akan mencari yang terbaik untukmu Sayang, bersabarlah sedikit lagi...," kata Suci dalam hati.
Lalu Suci dan Benazir keluar dari kamar. Senyum nampak tercetak jelas di wajah keduanya saat mereka berbincang membahas rencana yang akan mereka lakukan untuk menghadapi Maher. Benazir tahu ia tak akan sendiri karena keluarganya akan selalu berdiri di belakangnya dan mendukungnya.
bersambung