Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.
Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.
Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.
Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.
Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.
"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"
follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Ibu Dan Anak
*
*
Sofia menerobos pintu ruang perawatan begitu dia tiba di rumah sakit. Mendapati sang putri yang terbaring di tempat tidur setelah mendapatkan penanganan dari dokter.
"Mama!" Dygta setengah berteriak.
"Oh, sayang... kamu bikin mama khawatir!" Sofia menghambur untuk memeluk putri semata wayangnya. Dengan plester besar dan tebal menutupi sebagian keningnya, juga beberapa luka dan lebam di tangan akibat benturan.
Dygta kembali menangis di dalam pelukan sang ibu. Gadis itu semakin menyesal ketika ingat hari-hari dimana dirinya selalu merasa sebal ketika ibunya yang cerewet ini selalu berbicara akan banyak hal.
"Kamu sudah aman. Lain kali jangan pergi sendirian." Sofia mengusap punggung Dygta dengan lembut.
Gadis itu tak menjawab, dia hanya terus saja menangis.
Pintu terbuka, tampak Arfan yang masuk membawa bungkusan berisi makanan yang dia beli dari luar.
"Ah, ... Kamu sudah datang?" pria itu meletakan bungkusan tersebut di nakas di samping tempat tidur Dygta.
"Ya, ...terimakasih sudah menyelamatkan Dygta." ucap Sofia, tanpa melepaskan anak perempuannya dari pelukan.
"Hmm ... dia menyelamatkan dirinya sendiri. Aku hanya datang untuk menjemput." Arfan mengalihkan pandangan kepada gadis dalam pelukan Sofia. Kemudian bibirnya membentuk senyuman bangga.
"Pak Satria belum sampai?" tanya Arfan kemudian, seraya menatap jam di pergelangan tangannya.
"Dia masih di perjalanan. Mungkin sebentar lagi." jawab Sofia.
"Baiklah. Nah, sekarang makanlah, om sudah membeli makanan yang kamu mau." Arfan menggeser bungkusan yang tadi dia bawa.
"Bukankan rumah sakit juga menyediakan makanan? kenapa malah beli dari luar?" Sofia dengan heran.
"Dia tidak mau memakannya." jawab Arfan.
"Nggak enak, mama. Ngga ada rasanya." Dygta menyela.
"Hmmm ..." Sofia menggumam.
Arfan masih berdiri disana ketika Dygta mulai melahap makanan yang dia bawa. Menatapnya tanpa berkedip untuk memastikan gadis itu tak melewatkan satu suapan sekali pun.
"Ehm ..." suara Sofia memecah keheningan, namun suasana malah berubah canggung ketika Arfan menjadi salah tingkah. Menyadari dirinya tengah di perhatikan.
"Mm ... mungkin sebaiknya kamu pulang," Sofia berbicara setelah beberapa saat. "Sudah sore." katanya.
"Mm ... mungkin sebentar lagi. Sambil menunggu pak Satria." Arfan mengelak, kembali menatap jam tangannya yang menunjukkam pukul 6 petang.
"Keluarga kamu juga menunggu dirumah. Mereka juga butuh kamu. Ara, juga Mytha membutuhkan kehadiran kamu." Sofia mengingatkan.
Tubuh Arfan menegang, mengapa ucapan perempuan di depannya ini terdengar seperti sebuah sindiran?
"Tugas kamu hari ini selesai, terimakasih. Pulanglang, Arfan." ucap Sofia lagi.
Namun Arfan malah tertegun di tempatnya berdiri. Dia merasa berat untuk meninggalkan tempat itu. Sebagian hatinya tak rela untuk meninggalkan Dygta disana. Walaupun sekarang dia bersama ibunya, tapi dirinya merasa masih ingin tetap berada disana. Tapi pikirannya juga kini tertuju kepada keluarganya di rumah.
"Arfan?" panggil Sofia yang melihat gelagat aneh pada asisten suaminya itu.
"Ah. ... iya? apa?" Arfan tergagap.
"Pulang lah, kasihan Ara." Sofia kembali mengingatkan.
"Mmm ... baiklah. Aku pulang. Tapi ..." dia menatap dua perempuan berbeda generasi itu secara bergantian. "Telfon aku kalau ada apa-apa." katanya kemudian.
Sofia mengerutkan dahi.
Arfan pun segera berjalan ke arah luar, namun langkah kakinya terhenti ketika suara Dygta memanggil.
"Om...?" gadis itu dengan suara serak.
Arfan menoleh.
"Makasih." ucap Dygta, dengan senyum samar di bibirnya.
Arfan hanya mengangguk pelan, lalu kembali melangkahkan kakinya keluar, dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
*
*
Satria merebahkan tubuh lelahnya di sofa. Perjalanan dari area perkemahan ke Jakarta memang cukup menyita waktu dan tenaganya. Namun dia memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit untuk memastikan keadaan anak gadisnya.
"Pulanglah sana, istirahatlah di rumah." Sofia menepuk bahu Satria. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat suaminya itu hampir memejamkan mata.
"Tidak apa-apa, aku juga mau menemani Dygta." jawab Satria yang bangkit lalu membenahi posisi duduknya.
"Tidur di sofa tidak baik untuk kesehatan, sayang. Apalagi besok kamu harus bekerja, bukan? nanti badanmu bisa sakit semua." Sofia mengingatkan.
"Hmm ... kalau aku pulang, pasti akan merasa kesepian di rumah." Satria seraya meneguk teh hangat yang disodorkan Sofia.
"Ada anak-anak di rumah." sergah Sofia.
Satria menatap perempuan itu dengan pandangan tak suka.
"Eee... maksudku Dimitri pasti merasa kesepian karena kedua orang tuanya tidak ada. Begitu juga si kembar." Sofia beralasan.
Satria berpikir sebentar. "Benar juga." lalu dia bangkit. "Baiklah, kalau kamu tidak mau aku temani. Lebih bak aku pulang, daripada mendengar omelanmu yang membuatku sakit kepala." dia menggerutu.
"Bukan begitu. Maksudku ..." Sofia menggantung kata-katanya.
"Nah, kak ...tidak apa-apa kan kalau papi tinggal? ada mamamu disini." pria itu berpamitan kepada putri sambungnya yang hampir saja terlelap.
Sementara Dygta hanya menganggukan kepala.
***
"Sekarang, tidurlah. Kita pulang besok siang." Sofia membenahi selimut yang menutupi tubuh Dygta. Lalu diapun bersiap untuk merebahkan dirinya di sofa tak jauh dari tempat tidur anak gadisnya itu.
"Mama?" Dygta memanggil.
"Ya?" Sofia menoleh.
"Umur mama sama papi bedanya jauh nggak?" Dygta tiba-tiba bertanya.
"Lumayan. Apa 12 tahun kelihatannya cukup jauh?" jawab Sofia, sambil mengingat-ingat.
"Tapi mama sama papi kayak seumuran." Dygta memiringkan tubuhnya.
"Hmm... benarkah? kadang papimu sedikit keras, juga kolot. Mungkin karena didikan dari ayahnya dulu." jelqs Sofia.
Dygta terkekeh, "Tapi papi selalu bersikap manis."
"Iya, memang. Asal kita menurut, papi pasti akan selalu bersikap manis." Sofia kembali bangkit. "Evan beruntung papimu sedang dalam keadaan tenang, sehingga dia tidak menjadi sasaran kemarahannya. Jika tidak, mama tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadanya. Tahu keadaanmu hingga separah ini." dia menggelengkan kepala.
"Jangan, ma. Evan nggak salah. Aku yang lambat ngikutin dia."
"Biasanya papimu dam om Arfan tidak akan mentolelir pembelaan apapun ketika mereka melihat kesalahan sefatal ini. Mereka pasti akan segera melakukan tindakan." Sofia mengingat saat-saat dimana dua pria itu selalu bertindak diluar batas ketika sesuatu hal tidak sesuai dengan keinginan mereka. Apalagi ketika seseorang berani melakukan kesalahan fatal, maka sudah dipastikan orang tersebut tidak akan lolos dengan mudah.
Sofia bergidik.
"Jangan mama! kasihan Evan." ulang Dygta.
"Ya, ... makanya mama bilang Evan beruntung. Apalagi orang tuanya yang langsung menemui papimu. Dia bisa selamat."
Kemudian Dygta terdiam.
"Sekarang jelaskan, bagaimana kamu bisa ada di tempat yang tidak seharusnya? Apa dia yang mengajakmu kesana?" Sofia melipat kedua tangannya di dada.
"Ya, ..."Dygta mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa kalian melakukan sesuatu? apa dia melakukan sesuatu kepadamu?" perempuan itu menyelidik.
"Maksud mama?" Dygta menjengit.
"Kamu tahu, remaja seumuran kamu biasanya suka melakukan hal-hal yang aneh. Laki-laki, ...dan perempuan berada di satu tempat yang sama berduaan, ...kamu tahu... mama mulai khawatir kalau misalnya kalian melakukan...
"Nggak! nggak mungkin! pikiran mama terlalu jauh. Aku dan Evan cuma temenan, nggak lebih." sergah Dygta, yang mengerti kemana arah pembicaraan mereka ini.
"Kamu nggak bohong?"
Dygta mengangguk.
"Kamu yakin?"
"Iya mama. Sumpah, aku nggak ada apa-apa sama Evan."
"Hmm ...terus apa yang kalian lakukan disana?" tanya Sofia lagi.
"Cuma lihat pemandangan. Dan aku suka tempat itu." jawab Dygta.
"Hanya itu? kamu pergi berdua dengan anak laki-laki hanya untuk melihat pemandangan dari atas bukit yang lantas membahayakan diri kamu sendiri?"
Dygta mengangguk lagi.
"Tidak bisa di percaya." Sofia menggelengkan kepala. "Semua orang hampir gila karena mengkhawatirkanmu. Arfan bahkan bersikap seolah dia yang kehilangan anak gadisnya." dia kembali menggerutu.
"Masa?" Dygta tertawa.
"Hmmm... papimu bilang dia hampir menghajar Evan dan pengawal yang dia tugaskan untuk mengawasi kamu di perkemahan sana."
"Apa? beneran?" gadis itu terus tertawa. "Pantesan aku lihat ada yang aneh sama penjaga hutannya, beda dari biasanya."
"Cih, senang sekali kamu diperhatikan seperti itu?"
"Padahal om Arfan udah janji nggak akan kirim orang untuk mengawasi aku, tapi taunnya... "
"Jangan percaya hal semacam itu, kita dibiarkan pergi bebas itu merupakan suatu kemustahilan. Tidak mungkin Arfan dan papi melepaskan kita tanpa pengawasan."
"Ah, ... iya benar juga." Dygta mengangguk.
"Dan yang mama khawatirkan sekarang adalah keadaan pengawal itu." Sofia menempelkan punggungnya pada sofa.
"Memangnya kenapa?" Dygta menjengit.
"Dia pasti akan mendapatkan masalah besar karena sudah gagal mengawasi kamu."
"Masa?" Dygta sedikit terperangah.
"Hmm..." Sofia menggumam.
Lalu mereka berdua kembali terdiam.
"Tidurlah, agar besok kita bisa pulang. tidak enak berlama-lama di rumah sakit." Sofia kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Berusaha untuk menjadikan tempat itu senyamam mungkin bagi dirinya.
Dygta menurut, dia juga berusaha memejamkan mata, meski ternyata malah muncul bayangan lain dalam kepalanya.
Wajah pria itu yang menemukannya pertama kali ketika dirinya dalam keadaan lemah dan terluka. Raut khawatir dan sedikit ketakutan, yang kemudian merangkulnya dalam pelukan hangatnya. Membuatnya merasa aman.
Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, lalu tak lama setelah itu, diapun tenggelam dalam mimpi indah.
Mimpi yang mungkin hanya ada dalam pikirannya sendiri.
Mungkin.
*
*
*
Bersambung...
Hai kesayangan emak yang paling amazing sejagat Noveltoon, maaf belum belum bisa memenuhi keinginan kalian untuk up lebih banyak seperti biasanya. Emak baru bisa up satu eps aja per hari. Maklum, lagi ada kerjaan di dunia nyata yang nggak bisa ditinggal.
Doain aja semuanya lancar biar bisa tetep up.
Makasih karena kalian selalu setia nunggu cerita ini dengan sabar. Bikin emak makin cinta deh sama kalian semua. Jangan lupa untuk selalu meninggalkn jejak, karena jejak kalian bikin emak semangat untuk selalu bikin cerita setiap harinya.
I Love toh full😘😘😘😘