NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

“Turunkan tanganmu.”

Suaranya tenang.

Tidak keras.

Namun preman itu langsung menurunkan tangannya.

Bukan dengan rela.

Tubuhnya menurut sebelum pikirannya sempat menolak.

Bu Lestari menoleh.

Matanya melebar.

“Raka?”

Preman lain berbalik cepat. Wajahnya langsung berubah ketika mengenali Raka.

“Kau…”

Raka menatap mereka.

Mata Dewa bergerak.

Di tubuh dua preman itu, aura merah gelap tampak kotor, bercampur dengan jejak ketakutan yang belum hilang dari malam sebelumnya. Mereka mungkin tidak ikut menghajar Raka langsung, tetapi mereka pasti mendengar sesuatu dari Bram.

Sistem berbisik.

[Makhluk kecil ini membawa jejak perintah.]

[Sumber: Bram Gunawan.]

[Bayangan lebih tinggi: Keluarga Mahendra.]

Raka menarik napas pelan.

Jadi benar.

Semua ini terhubung.

Salah satu preman mencoba menguatkan diri.

“Raka, jangan ikut campur. Kau belum kapok?”

Raka menatapnya tanpa ekspresi.

“Kalian yang belum kapok.”

Preman itu marah. Ia mengambil pisau kecil dari pinggangnya.

Kerumunan langsung mundur panik.

Bu Lestari menutup mulut.

“Raka, hati-hati!”

Preman itu maju satu langkah.

Namun sebelum ia sempat menyerang, suara sistem terdengar dingin.

[Ancaman rendah terdeteksi.]

[Tuan tidak perlu mengangkat tangan.]

Raka berdiri diam.

Preman itu menusuk ke arah perutnya.

Semua orang menahan napas.

Tapi pisau itu berhenti beberapa senti dari tubuh Raka.

Bilahnya bergetar.

Tangan preman itu menggigil hebat.

Wajahnya berubah pucat.

“Apa… kenapa…”

Raka menatap pisau itu.

Di matanya, benda itu terlihat lambat, rapuh, dan tidak berarti.

Ia mengangkat satu jari dan menyentuh ujung bilahnya.

Krak.

Pisau itu retak.

Lalu patah menjadi dua.

Suara logam jatuh ke tanah terdengar sangat jelas di tengah keheningan pasar.

Kerumunan membeku.

Preman yang memegang pisau itu mundur dengan mata melebar.

“Monster…”

Raka menatapnya.

“Ulangi.”

Preman itu langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, seolah takut kata berikutnya akan membuatnya mati.

Sistem berbicara pelan.

[Ketakutan mulai mengenali Tuan.]

Raka tidak merasa senang mendengarnya.

Ia hanya merasa lelah.

Lelah melihat orang kecil selalu dipaksa menunduk.

Lelah melihat orang lemah selalu dianggap bisa diinjak.

Lelah melihat nama besar dipakai untuk merampas hidup orang lain.

Ia melangkah maju.

Dua preman itu mundur.

Namun tubuh mereka tiba-tiba berhenti.

Raka menatap mereka, lalu berkata dengan suara rendah.

“Ambil sayur yang kalian jatuhkan.”

Keduanya gemetar.

“A-apa?”

“Ambil.”

Tubuh mereka langsung membungkuk.

Di depan seluruh pasar, dua preman yang biasa memeras pedagang mulai memunguti sayuran yang tadi mereka tendang. Tangan mereka gemetar. Wajah mereka merah karena malu, tetapi tidak satu pun berani melawan.

Orang-orang pasar menatap kejadian itu dengan mata tidak percaya.

Beberapa berbisik.

“Itu Raka?”

“Bukannya dia semalam dihajar?”

“Kok bisa…”

“Preman itu nurut sama dia?”

Bu Lestari menatap Raka dengan mata berkaca-kaca.

“Ka…”

Raka tidak menoleh. Ia tetap menatap dua preman itu sampai semua barang Bu Lestari dikembalikan ke tempatnya.

Setelah selesai, Raka berkata, “Minta maaf.”

Kedua preman itu langsung menunduk kepada Bu Lestari.

“Maaf, Bu.”

Suara mereka gemetar.

Bu Lestari hanya bisa memegang dadanya, terlalu terkejut untuk menjawab.

Raka menatap mereka lagi.

“Katakan pada Bram. Kalau masih mau setoran, datang sendiri.”

Salah satu preman mengangkat wajah dengan takut.

“Bang Bram tidak akan diam.”

“Bagus.”

Raka menatapnya dingin.

“Biar aku tidak perlu mencarinya.”

Keduanya langsung lari meninggalkan pasar.

Kerumunan masih hening.

Beberapa orang menatap Raka dengan rasa kagum. Sebagian lain takut. Ada juga yang terlihat mulai berharap, tapi belum berani menunjukkannya.

Raka merasakan semua pandangan itu.

Rasanya tidak nyaman.

Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.

Bu Lestari mendekatinya perlahan.

“Raka, kamu tidak apa-apa? Semalam mereka bilang kamu…”

Raka menoleh.

Wajah Bu Lestari penuh cemas, bukan takut. Di sekitar tubuhnya, cahaya putih lembut bergerak seperti embun pagi.

Raka menjawab pelan, “Saya tidak apa-apa, Bu.”

Bu Lestari menatapnya dari kepala sampai kaki.

“Kamu berubah, Ka.”

Raka terdiam.

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Bu Lestari menggenggam tangan Raka sebentar. Tangannya kasar karena sering bekerja, tetapi hangat.

“Hati-hati. Orang-orang seperti mereka tidak suka dipermalukan.”

Raka mengangguk.

“Saya tahu.”

Namun dalam hati, ia tahu masalah ini lebih besar daripada preman pasar.

Di kejauhan, di ujung jalan dekat pasar, seorang pria duduk di atas motor sambil memperhatikan semuanya. Ia memakai jaket gelap dan helm setengah wajah. Setelah melihat dua anak buah Bram lari ketakutan, pria itu mengangkat ponsel.

Ia menelepon seseorang.

“Bang Bram,” ucapnya pelan. “Raka muncul di pasar.”

Dari seberang telepon, suara Bram terdengar berat.

“Dia ngapain?”

“Dua anak kita dipermalukan di depan semua orang.”

Hening sesaat.

Lalu suara Bram terdengar lebih pelan.

“Dia… pakai kekuatan aneh lagi?”

Pria itu melirik ke arah Raka.

Raka masih berdiri di depan lapak Bu Lestari. Dari jauh, ia terlihat seperti pemuda biasa. Tapi entah kenapa, pria itu merasa tidak berani menatap terlalu lama.

“Iya, Bang.”

Bram tidak langsung menjawab.

Di ujung telepon, napasnya terdengar berat.

Akhirnya ia berkata, “Jangan ganggu dia dulu. Awasi saja.”

“Tapi Bang Reza—”

“Aku bilang awasi!”

Pria itu langsung diam.

“Baik, Bang.”

Panggilan terputus.

Di tempat lain, Bram berdiri di sebuah gudang kosong dengan wajah tegang. Beberapa anak buahnya menatapnya bingung.

Ia menurunkan ponsel perlahan.

Semalam, Hei Yan menyuruhnya memancing Raka ke gudang lama.

Tapi semakin banyak ia mendengar tentang Raka, semakin kuat rasa takut yang mencengkeram dadanya.

Namun ia tidak punya pilihan.

Kalau ia menolak Mahendra, ia akan hancur.

Kalau ia menyentuh Raka, mungkin ia akan mati.

Bram mengusap wajahnya dengan tangan gemetar.

“Kenapa harus aku…”

Sementara itu, di pasar, Raka membantu Bu Lestari merapikan beberapa dagangan yang jatuh. Ia tidak banyak bicara. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, ia berpamitan.

Namun sebelum pergi, ia menatap ke arah ujung jalan.

Matanya menyipit.

Ia bisa merasakan seseorang mengawasinya.

Sistem berkata:

[Pengawasan terdeteksi.]

[Jejak: anak buah Bram Gunawan.]

Raka mengangguk pelan.

“Biarkan.”

[Tuan yakin?]

“Kalau mereka mengawasi, berarti mereka akan melapor.”

[Dan setelah itu?]

Raka berjalan meninggalkan pasar.

“Setelah itu, Bram akan datang.”

Sistem terdiam sebentar.

Lalu suaranya terdengar dingin, hampir puas.

[Pemikiran Tuan mulai menyesuaikan diri.]

Raka tidak menjawab.

Ia melewati kerumunan orang yang masih membicarakannya. Beberapa menyingkir tanpa sadar saat ia berjalan. Bukan karena Raka meminta. Bukan karena ia menunjukkan amarah. Tapi karena tubuh mereka seolah merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dalam langkahnya.

Di atas langit Pontianak, awan pagi bergerak pelan.

Tidak ada retakan.

Tidak ada cahaya emas.

Tapi jauh di balik lapisan dunia yang tidak terlihat manusia biasa, sebuah garis kecil terbuka perlahan.

Seperti luka di langit.

Dari balik garis itu, sepasang mata asing mengintip ke arah kota.

Pontianak.

Sebuah suara dari dunia jauh terdengar samar.

“Sumbernya semakin jelas.”

Lalu garis itu menutup kembali.

Raka berhenti sejenak di tepi jalan.

Ia tidak melihat mata itu.

Tapi tubuhnya merasakan sesuatu.

Seperti ada hawa dingin melewati punggungnya.

Sistem berbicara dalam jiwanya.

[Retakan kecil terdeteksi.]

[Makhluk asing mulai mencari arah.]

Raka menatap langit.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia benar-benar menyadari bahwa kehidupannya tidak akan kembali seperti dulu.

Bram hanyalah awal.

Mahendra hanyalah pintu pertama.

Dan di luar sana, ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak menuju Pontianak.

Raka mengepalkan tangan perlahan.

Di dalam dadanya, cahaya kecil berbentuk mahkota retak berdenyut satu kali.

Sistem berbisik.

[Tuan tidak perlu mencari dunia.]

[Dunia yang akan datang kepada Tuan.]

Raka menurunkan pandangannya dari langit.

Wajahnya tetap tenang.

Namun matanya kini lebih tajam.

“Kalau begitu,” gumamnya, “biarkan mereka datang.”

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!