Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11•Ada Yang Peduli
Hampir satu bulan sudah Arkan pergi.
Jarang telepon. Pesan dibalas seadanya. Naya sudah beberapa kali bertanya, “Mas pulang tanggal berapa?” Tapi jawabannya selalu ngambang "belum tau, kerjaan numpuk".
Perasaan Naya makin hari makin kusut. Bukan cuma karena Arkan yang menjauh. Tapi karena rumah ini juga makin dingin buatnya.
Ibu Desy sekarang memperlakukannya seperti pembantu. Bibi yang biasanya bantu masak dan bersih-bersih katanya libur, tapi setiap hari. Jadi Naya yang bangun paling pagi buat masak sarapan, Naya yang cuci baju, Naya yang pel lantai. Awalnya protes dalam hati. Lama-lama ia terbiasa. Seperti air yang dipaksa ngalir ke selokan.
Sore itu, ia lagi tiduran di kamar. Punggungnya nempel kasur, menghilangkan rasa lelahnya, matanya kosong menatap kipas angin. Pintu diketuk tiga kali.
Tok. Tok. Tok.
“Iya Bu,” jawab Naya pelan.
Ibu Desy membuka pintu kamar Naya tanpa senyum. “Nay, kamu beliin cemilan sama minuman ya. Jeslyn mau main ke sini bentar lagi.”
Naya bangun. Tenggorokannya kering. “Sekarang, Bu?”
“Iya, sekarang. Jangan lama-lama. Masa tamu dateng nggak ada hidangan.”
Pintu tertutup lagi. Naya duduk di pinggir ranjang. Tangannya genggam ujung daster. Di luar jendela, matahari mulai turun. Sama seperti harga dirinya, yang tiap hari diturunin sedikit demi sedikit.
Setelah membeli apa yang diperlukan, Naya pulang dari minimarket membawa dua kresek penuh. Tangan kanannya pegal, keringat nempel di pelipis.
Setelah masuk dan berjalan hendak melewati ruang tengah, ia kaget. Di ruang tengah itu, ada Bara. Duduk di sofa, pake kaos rumahan abu-abu, rambut masih agak basah. Kaki selonjor, memainkan ponselnya, matanya terlalu fokus sampai tak sadar Naya lewat dibelakangnya.
Tak heran Ibu Desy tiba-tiba menyuruh membeli cemilan banyak. Ternyata Jeslyn mau datang karena calon suaminya udah pulang.
Dalam hati, Naya mengucap itu. Bukan protes. Cuma fakta. Ia tarik napas, pasang wajah biasa. Seperti yang selalu ia lakukan kalau ketemu Bara di rumah ini. Seolah mereka cuma adik ipar dan kakak ipar. Bukan dua orang yang dulu duduk sebangku pas SMA.
Ia masuk dapur, mulai tata cemilan ke piring. Tapi rasanya ada sesuatu yang mengawasinya. Punggungnya gatal. Seperti ada yang terus menatapnya dari ruang tengah. Naya nengok sekilas. Bener. Bara masih nengok ke arahnya. Bukan lihat ponsel didepannya. Lihat dia. Lalu saat mata mereka bertemu, Bara kembali melihat ponselnya.
Ganggu. Tapi entah kenapa, Naya jadi penasaran. Ada apa sih sama Bara?
Di ruang tengah, Jeslyn sudah datang duduk disebelah Bara. Ngobrol sama Ibu Desy. Tapi Bara tidak ngelirik Jeslyn sama sekali.
Naya selesai menata cemilan di piring. Tangannya masih bau sabun pencuci. Ia angkat nampan, bawa ke ruang tengah, letakkan tepat di depan Bara.
Lelaki itu menatapnya sekilas. Sekilas banget. Matanya kosong, tapi Naya sempet nangkep ada sesuatu di sana. Bukan hangat. Bukan juga benci. Lebih kayak nahan.
Belum sempat Naya mundur, Jeslyn tiba-tiba bersuara.
“Mbak, kok rajin banget sih. Aku jadi pengen deh serajin Mbak,” ujar Jeslyn, polos. Tanpa ragu. Tanpa mikir kalau kalimat itu bisa menyakiti.
Naya cuma senyum. Tipis. Sambil mendorong gelas minuman ke depan Jeslyn. “Minum dulu, Jes.”
“Harus dong Jes,” sahut Ibu Desy cepat, kayak nunggu giliran ngomong. “Jadi istri harus rajin dan multi talenta.”
Jeslyn langsung ngangkat tangan, pamerin kuku panjang yang baru manicure. “Jadi aku pun harus begitu ya, Tan? Nanti kuku aku rusak gara-gara cuci piring gimana?”
Ibu Desy nggak jawab. Cuma ketawa pelan. Lalu ngalihin obrolan ke drama Korea yang lagi Jeslyn tonton. Akrab. Lebih akrab daripada sama Naya, yang statusnya jelas menantu kandung.
Suasana jadi riuh antara mereka berdua. Naya duduk di kursi paling ujung. Punggungnya kaku.
Sampai suara Bara memecah.
“Bukannya Mbak Naya udah waktunya istirahat?” katanya pelan. Ponselnya ia taruh di meja. Matanya lurus ke Ibu Desy. “Dari tadi kerjaannya nggak selesai-selesai, Ma.”
“Bar...” Ucapan Ibu Desy tercekat. Ia nengok ke Naya. Wajah Naya pucat. Bukan karena capek. Tapi karena malu.
Ibu Desy diam sebentar. Lalu menghela napas. “Yaudah, kamu boleh balik ke kamar.”
Naya bangun. Tanpa bilang apa-apa. Langkahnya pelan waktu balik ke kamar. Di belakangnya, suara Jeslyn sudah tidak terdengar.
Dikepalanya, kalimat Bara tadi muter terus. Satu-satunya kalimat yang hari itu membela dia, dan satu-satunya orang yang peduli dengannya hari ini.
......................
Malam itu ponsel Naya tetap sepi. Tidak ada chat. Tidak ada panggilan. Arkan seperti menghilang di balik kata “masih kerja”.
Akhirnya Naya yang menekan tombol panggil lebih dulu.
Telepon diangkat setelah tiga kali dering. Suara Arkan terdengar, tapi di latar belakang ada tawa perempuan. Tawa Dewi. Pendek. Cerah. Seperti pisau kecil yang menyayat tanpa suara.
“Nay?” panggil Arkan.
Naya menelan. “Kapan pulang Mas?”
“Seminggu lagi,” jawab Arkan cepat. “Tadi klien minta revisi, jadi mundur dikit.”
Kemarin Arkan bilang cuma sebulan. Sekarang seminggu lagi. Kalimatnya ringan, tapi bagi Naya rasanya seperti pintu yang terus digeser makin jauh.
Naya diam. Tidak komentar. Tidak bertanya. Ia cuma mematikan panggilan pelan-pelan. Di sudut matanya air sudah berkumpul, tapi ia tahan. Tangannya meremas ujung sprei sampai buku jarinya memucat.
Jam satu malam, tenggorokannya kering seperti kertas. Ia tidak bisa tidur setelah mendengar Arkan menunda pulang. Naya bangun, keluar kamar.
Lantai bawah gelap. Semua lampu sudah mati. Hanya ada cahaya redup dari ruang tengah, cukup untuk menuntun langkahnya ke pantry.
Ia jalan sambil bengong. Pikiran masih penuh dengan kata “seminggu lagi” dan tawa Dewi.
Duk.
Kepalanya menabrak sesuatu yang keras dan hangat. Dada bidang.
Naya terhuyung mundur. Napasnya tercekat.
Bara berdiri di depannya, masih memegang gelas air dari kulkas. Kaos abu-abu, celana rumah, rambut sedikit berantakan. Wajahnya terkejut, tapi cepat kembali datar.
Naya menunduk. “Maaf. Aku nggak lihat.”
Suaranya pecah sedikit. Matanya merah, walau ia berusaha menutupinya.
Bara tidak langsung menjawab. Ia menatap Naya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu berhenti di tangan naya yang masih menggenggam seolah sedang menahan emosinya.
“Mau minum..?” tanya Bara singkat, menyodorkan gelasnya.
Naya terdiam. Jam satu malam dan Bara tiba-tiba berdiri di jalur yang sama dengannya. Canggung. Salah tempat. Tapi keduanya sama-sama tidak berani mundur duluan.