Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Alina
Ikhlas itu memang sulit. Namun, akan lebih sakit jika terus mengingat hal menyakitkan sepanjang hidup.
💝💝💝
Ikatan batin Ayah dan Anak tak bisa diputus begitu saja. Di dalam diri seorang anak, tetaplah mengalir darah ayahnya. Senakal apa pun anak, dia tetaplah putra atau putri kebanggaan ayahnya. Begitupun seorang ayah. Sejahat apa pun ayah, ia tetaplah lelaki yang ikut andil dalam kehadiran seorang anak.
Alina masih enggan mengayunkan langkah ke dalam. Bahunya bergetar hebat menahan tangis yang mulai sulit terkendalikan. Pak Willy tampak berbalik badan, dan mendapati anak perempuannya di ujung pintu.
"Kamu pulang?" tanya Pak Willy sembari menghapus jejak kemalangan di netranya, lalu memasukkan kembali foto usang di laci meja.
Alina memberanikan diri melangkah, mendekat pada sang Papa sembari melempar senyum. "Iya. Apa kabar?"
"Baik." Pak Willy menatap lekat anak perempuannya. Wajahnya tidak bisa menutupi rasa bahagia tatkala melihat kehadiran Alina. "Kamu baik? Mana suamimu?"
Alina duduk di kursi yang berhadapan dengan papanya. Memperhatikan guratan halus di kening Pak Willy yang menjadi saksi, jika umurnya tak lagi muda. Kening yang dulu sering ia ciumi saat Papanya hendak pergi bekerja.
"Mas Adnan lembur," jawab Alina singkat.
"Sudah makan?"
Alina menggeleng. "Belum. Nanti bareng sama Mas Adnan di luar."
"Di sini aja. Ibumu sama Bibi udah masak."
Ibu. Ah, rasanya kata itu terasa menyesakkan dada. Saat disiksa dulu, papanya tidak tahu sama sekali. Ia pun tak berani mengadu, karena ancaman Rio. Saat menginjak bangku kuliah, barulah Alina mampu melawan meski sudah tidak lagi merasakan kesakitan di tubuhnya lagi.
Entah apa yang Ibu dan Kakak tirinya inginkan. Mungkinkah harta? Alina bahkan siap dicoret dari hak waris, jika itu bisa membuatnya mengembalikkan kebahagiaan yang dulu. Biarlah ia bukan keluarga orang tuanya lagi. Namun, tak pernah berurusan dengan dua orang gila tersebut.
"Kenapa?" Pak Willy menangkap sesuatu yang tak beres dari anak perempuannya.
"Papa udah jenguk lagi Bunda di rumah sakit belum? Bunda masih hidup," jawab Alina.
Pak Willy menarik napas kasar, lalu mengembuskannya perlahan. Baru saja kemarin ia melihat istrinya. Ia pun menangis di hadapan wanita yang telah ikhlas mengorbankan seluruh hidupnya untuk ia.
"Papa udah lupain Bunda?" Alina mengajukkan pertanyaan kembali.
"Kenapa bertanya begitu?" Mata Pak Willy menyorotkan ketidaksukaan.
Alina tersenyum. "Alina cuman pengen tau. Mungkin Papa udah lupa semua tentang Bunda setelah ada istri baru."
"Jangan berkata sembarangan," seru Pak Willy. "Bundamu tetap wanita nomer satu di hati Papa."
Alina menyunggingkan senyuman. Ia menoleh ke belakang sekilas, matanya menangkap sosok ibu tiri yang tengah menguping di dekat pintu. Alina bisa melihat dari sandal yang tadi ia lihat sekilas.
"Terus, kenapa Papa menikahi wanita ular itu?" Alina mulai memancing air keruh. Mengibarkan bendera perang pada ibu tirinya. "Bukan karena cinta, 'kan?"
Pak Willy diam. Pikirannya ingin berkata demikian, akan tetapi mulutnya sulit bergerakm Memang ada benarnya yang Alina katakan, ia tak lagi memiliki cinta untuk Sinta. Demi Rio, dan juga syaratlah yang membuatnya menikahi cinta pertamanya. Terlebih, Winda sudah di vonis tidak bisa melahirkan lagi, sedangkan ia menginginkan anak lelaki. Meski begitu, ia tetap menerima Alina sebagai darah dagingnya.
Tiba-tiba suara azan Maghrib berkumandang bersamaan dengan satu pesan masuk di ponsel Alina. Adnan mengiriminya pesan, bahwa lelaki itu akan menjemputnya sehabis salat Maghrib. Sebuah senyuman terukir di wajah manis Alina.
"Udah Maghrib, Alina pamit pulang. Sebentar lagi Mas Adnan jemput." Alina beringsut dari tempat duduk, mengangguk hormat seperti seorang anak yang sopan. "As-salamu'alaikum."
Alina berbalik, tak ada niatan lagi memanjangkan waktu bersama papanya. Cukup melihat Pak Willy sehat saja, itu lebih baik.
"Wa-alaikum salam." Pak Willy menatap nanar kepergian anaknya. Rasa canggung menyelimuti di antara keduanya. Tembok itu semakin tinggi, dan memisahkan mereka semakin jauh.
Di ruang tamu, Bu Sinta sedang menghentakkan kaki. Rasa kesal saat mendengarkan pembicaraan Alina dan suaminya. Bisa-bisanya gadis itu mengajukan pertanyaan yang gila.
"Anak itu!" Kedua tangannya mengepal.
Suara chat masuk dari grup arisan yang ia ikuti. Ada peringatan dari Admin, jika ia harus segera melunasi pembayaran karena waktu jatuh tempo telah habis. Nominalnya tak main-main. Sekali setor 10 juta per bulan. Bu Sinta telah mendapatkan giliran di awal. Uangnya tentu ia pakai untuk memenuhi gaya hidup di dunia sosialita yang megah.
Yang membuatnya bingung, bagaimana ia bisa membayar, jika uang bulanannya sudah menipis. Otaknya bekerja lebih keras. Memikirkan cara jitu, hingga sebuah ide ia dapati. Mengapa ia tak mengandalkan menantu lelakinya? Bukankah nominal itu akan sangat kecil, bagi seorang Direktur Utama?
💕💕💕💕
Di tempat lain, Adnan baru saja menyelesaikan salat Maghrib juga menyusun berkas untuk meeting besok pagi. Saat ini, ia segera keluar kantor. Hatinya resah ketika kaki Alina melangkah pergi darinya sekejap.
Mungkinkah ini rasa rindu? Cinta itu mungkin datang perlahan mengisi kekosongan hatinya. Menancapkan nama Alina sebagai penghuni tetap. Membuat perlindungan kuat dari wanita di luaran sana.
Saat sampai di parkiran, Adnan mendapati Riko tengah diam seperti sedang menunggu seseorang. Tak berapa lama seorang gadis berpakaian rapih mendatangi Riko dengan wajah ditekuk. Lalu, keduanya masuk mobil Riko dan mulai meninggalkan parkiran. Dahi Adnan berkerut. "Siapa gadis itu?"
Tidak ingin membuang waktu, ia juga segera menyusul meninggalkan parkiran menggunakan mobilnya. Jalanan malam tidak terlalu macet seperti sore hari. Sebagian pekerja telah sampai rumah masing-masing. Hatinya bergemuruh, jantungnya berdentam seolah akan bertemu kekasih yang sudah lama hilang.
Alina telah mengabarinya, jika ia akan mengendari motor besarnya untuk dibawa ke rumah. Adnan mengizinkan. Bagaimanapun istrinya berhak melakukan apa pun yang disukai selama itu tidak melanggar ajaran keyakinan keduanya.
15 menit selanjutnya, mobil Adnan baru saja sampai di belokkan menuju rumah orang tua Alina. Namun, ia berhenti mendadak saat melihat istrinya sedang beradu argumen dengan Rio.
Adnan keluar, tak lupa ia membawa gawai. Menghampiri mereka yang berada di sisi kanan. Langkahnya cepat, tangannya seketika menahan tangan Rio yang hendak memegang tubuh Alina. "Berani Anda menyentuh istri saya. Maka, saya akan pastikan video ini bocor ke orang tua Anda."
Rio menoleh ke samping, di mana Adnan memegang tangannya. Sedangkan tangannya satu lagi memegang ponsel yang sedang memutar sebuah video dirinya.
"Sialan!" bentak Rio sembari mengempaskan tangan Adnan darinya. Mencengkram kerah kemeja Adnan. "Mau Lo apa?"
"Bukankah Anda akan langsung di depak dari kartu keluarga, jika video ini saya tunjukkan." Adnan melepaskan cengkraman Rio, menarik tangan Alina dan membiarkan wanita itu bersembunyi di balik punggung lebarnya. "Saya bisa saja menghancurkan Anda dalam sekejap. Tapi ... saya masih menghargai Pak Willy sebagai Mertua. Jadi, hati-hati dengan langkah Anda selanjutnya. Jangan harap, saya hanya diam. Anda berjalan selangkah ke depan, saya justru sudah seribu langkah di depan Anda."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa like, coment, dan vote🥰🥰🥰