ini cerita gue...
Dimana gue harus di jodohkan sama pria yang usianya jauh banget dari gue, dan dia juga seorang duda. It's a nightmare!
Tapi pada akhirnya gue juga mulai suka sama si duda ganteng ini. Tapi gue harus menempuh perjalanan sulit untuk memperjuangkan cinta gue. this is my story, I am the eldest Lady Master of my family.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eldest Lady Master 30
.
"Bibi tua! Loe bisa nyetir apa enggak sih?!" Lilo menekankan pistolnya semakin keras ke kepala Andara.
Andara mengemudikan mobilnya dengan gemetaran, dia benar-benar ketakutan saat ini.
"Lilo... Turunkan senjatamu dulu... Aku tidak bisa fokus mengemudikan mobil ku." jawab Andara yang masih terlihat begitu ketakutan.
"cih! Orang tua memang mudah ketakutan!" Lilo memasukkan kembali pistolnya ke dalam tasnya. Tapi dia mengambil pisau lipat kecil dari saku seragam sekolahnya.
Dia meletakkannya di leher Andara.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Lilo dengan senyuman menyeringainya.
"Ugh!" Andara menghentikan mobilnya.
Keringat dinginnya sudah keluar begitu banyak membasahi sekujur tubuhnya.
"Ap gadis SMA di perbolehkan membawa begitu banyak senjata tajam? dan bahkan senjata api?"
Lilo menganggukan kepalanya.
"Kalau itu gue .. jelas boleh... Loe lupa siapa gue? Apa loe juga lupa sekolah itu milik siapa? Itu masih milik sari keluarga Darma. Gue punya hak buat hidup bebas dan melakukan sesuatu yang gue mau!" jawab Lilo dengan nada sombongnya.
Walaupun yang sebenarnya adalah itu tidak di perbolehkan sama sekali.
Senjata api yang dia bawa hanyalah mainan anak-anak milk keponakannya. Dan pisau lipat kecil yang dia bawa adalah pisau yang dia gunakan untuk praktikum kemarin di sekolahnya. Dan ternyata dia lupa menyimpannya di tempat lainnya.
"Mendingan loe jalan sekarang, atau tangan gue yang licin ini bakalan goresin pisau gue ke leher loe!" ancam Lilo lagi.
"Bukan berarti aku kalah karena menuruti mu saat ini!" ucap Andara dengan marah.
"Loe itu ada di posisi yang enggak cocok sama sekali buat bernegosiasi sama gue. Mendingan elo berdoa aja... biar tangan gue ini enggak gerak kemana-mana! dasar idiot! Mikirin nyawa loe aja masih di tangan gue, tapi loe justru masih ngomong sombong kayak tadi... Loe pikir gue cuman ngancem loe doang gitu..." Lilo tersenyum menyeringai.
Dengan cepat dia menggoreskan pisau tajamnya ke lengan Andara.
"Aaahhh..." teriak Andara kesakitan.
"Ini baru peringatan! Kalau elo masih bersikap sombong dan sok pinter lagi di depan gue... Maka jangan salahin gue kalau gue nekad potong leher loe pakai pisau kecil gue! Loe paham bibi tua!!!" Andara dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Dia mengusap darah yang keluar dari lengannya. Walaupun sayatan yang di berikan Lilo tidak dalam, tapi itu cukup untuk mengeluarkan banyak darah.
"Jalan!!!" Perintah Lilo yang tidak bisa di hentikan oleh siapapun.
"I-i-iya." jawab Andara seraya mulai mengemudikan mobilnya.
Dengan menahan rasa perih di tangannya, Andara terus mengemudikan mobilnya sampai mobilnya terparkir di area parkir kantor Jarvis.
"Turun loe!" Andara menggelangkan kepalanya.
Jika Sampai Jarvis tahu dia hampir saja mencelakai Lilo, dia yakin jika Jarvis tidak akan pernah memaafkannya. dan nantinya hubungan mereka akan semakin jauh.
'Damn! Lilo benar-benar harus segera di singkirkan!' batin Andara marah.
"Lilo..."
Suara Jarvis terdengar saat Lilo dan Andara baru saja keluar dari mobil
Andara membelalakkan matanya saat dia melihat Jarvis yang sedang berada di depannya saat ini bersama dengan Barry.
"Kalian bersama?" tanya Barry penuh tanda tanya.
"Dia berinisiatif untuk menjemput ku... Siapa yang tahu tujuan utamanya..." jawab Lilo sarkis. Dia melirik tajam ke arah Andara yang terus menundukkan kepalanya ketakutan.
'Lilo jal*ng! Aku tidak akan membiarkan mu sukses mengatakan semuanya pada kak Jarvis!"
"Kenapa kamu menjemput Lilo?" Jarvis menatap tajam pada Andara
"Aku... Aku hanya..."
"Dia hanya ingin memberikan pelajaran padaku... Agar aku tahu diri dan tidak lagi mendekatimu." jawab Lilo dengan cepat.
"Tidak! Tidak kak Jarvis... Aku sama sekali tidak pernah berfikir seperti itu. Aku benar-benar hanya ingin menjemput Lilo kemari. sungguh! Aku berani bersumpah!" ucap Andara seesya berjalan mendekati Jarvis. Andara memegangi lengan Jarvis untuk meyakinkannya.
'Aku benar-benar ingin menjemput Lilo menemui kak Jarvis, Walaupun aku ingin memberikan dia pelajaran dulu. Bukankah itu sama saja...' batin Andara
Lilo menghela nafasnya
Dia tidak habis pikir kenapa Andara bisa melakukan hal semacam itu. Itu membuatnya benar-benar semakin jijik.
"Kak Jarvis... Lilo bahkan melukai ku dengan pisau. Dia menyauat tangan ku..." Andra menunjukkan lengannya pada Jarvis, dimana darah yang keluar dari sana sudah mulai mengering.
"Cih! Ratu drama... Gue beneran pengen muntah!" Lilo berjalan pergi dari sana.
Dia tidak tahan melihat akting Andara yang semakin membuatnya jijik
"Lilo..." Jarvis menepis tangan Andara, dia berjalan mendekati Lilo yang terlihat begitu jengah berada di sana.
"Jangan pergi. Ayo makan siang bersama." ajak Jarvis
"Enggak perlu! Loe urusin aja adek kesayangan loe itu . Kasian... mna tahu bentar lagi dia mati!" tolak Lilo, dia kembali berjalan untuk kembali ke rumahnya, namun dengan cepat Jarvis menahan tangannya
"Jangan pergi... Aku tidak peduli dengannya!" jawab Jarvis, "aku percaya padamu." tambahnya
"Huh?" Lilo masih kebingungan dengan apa yang baru saja Jarvis ucapkan padanya.
"kak Jarvis... Aku tidak berbohong... Sungguh aku hanya ingin menjemput Lilo untuk menemui mu di sini sebagai ucapan masfku padamu. Aku benar-benar serius dengan ini. aku tidak berbohong." ucap Andara seraya menggenggam tangan Jarvis untuk mempercayai ucapan nya.
"Minggir!" Jarvis menepis tangan Andara dengan keras.
"Jangan menyentuh ku!" Jarvis menatap tajam pada Andara yang kini terduduk di lantai.
Barry yang ada di sana hanya tersenyum puas.
'akhirnya Andara mendapatkan hukumannya perlahan-lahan... Hukum karma akan terbayar LUNAS! entah itu perlahan-lahan ataupun sekaligus! Nikmati saja perlahan-lahan Andara... Di mana hari indah mu akan segera berakhir.' ucap Barry dalam hatinya.
"Loe enggak kasian sama adek loe? Dia terluka tuh! Gue robek pakai ini!" Lilo memperlihatkan belati pemberian dari ayahnya, dan itu merupakan belati khusus, dan itu sangat tajam, dan jelas sangat berbeda dengan pisau lipat kecil yang Lilo perlihatkan tadi saat ada di dalam mobil Andara.
"Bagaimana anak sekolah seperti mu bisa menbawa senjata tajam yang begitu banyak! Dia bahkan membawa pistol dan pisau lipat... Kak Jarvis... Dia sangat berbahaya..." ucap Andara dengan keras.
Dia yakin jika Jarvis akan memarahi Lilo saat ini. Jarvis tipe orang yang tidak suka dengan sikap kasar seseorang.
"So what! Papa gue juga enggak pernah komentar! Dia justru nge-dukung gue! Loe siapa?! Loe pikir loe siapaa huh?!" Lilo mengusap wajah dengan kesal.
"Paman!!! Lain kali, buanglah sampah pada tempatnya!!! Jangan di bawa kemana-mana kayak gini!" ucap Lilo dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Barry terkikik geli mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Lilo
'astaga gadis ini luar biasa...'
"Kamu anggap aku sampah?!! Beraninya!!!" teriak Andara.
"Lihat?! Entah di perlakukan seperti apapun, seindah apapun... Kalau itu sampah, tetap aja sampah!!!" jawab Lilo.
"Gue balik!" Lilo berjalan dengan cepat pergi dari sana, dia benar-benar muak pada semuanya yang ada di sana.
"Lilo tunggu..." Jarvis berlari mengejar Lilo.
"Kak Jarvis...." Andara berteriak dengan keras sengaja untuk menghentikan Jarvis.
Jarvis menatap tajam kearah Andara, itu membuat Andara ketakutan setengah mati.
"Barry!! Aku tidak suka tempat yang kotor!!! bersihkan semua sampah yang ada! Dan buang sejauh mungkin, aku benci sampah yang membuat semuanya bau busuk!" Andara membelalakkan matanya mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Jarvis.
"Kak Jarvis..."
Jarvis tidak lagi peduli dengan Andara ataupun Barry, dia memilih untuk segera pergi mengejar Lilo yang sudah sangat jelas marah padanya.
'Haishhh... Perasaan gadis ABG memang sangat sensitif... Tapi dia super owesome... '
.
piiisssss
yg bener aja Jarvis mau nyari pngacara buat Andara.
kaya Dika tegas,GK mudah dibohongi bisa baca pikiran org kalo ada yg mau nrbuat jahat
Jarvis gak ada tegas tegasnya ciihhh lemah