Judul : Ai to Shiawase (Cinta dan Kebahagiaan)
Genre : Romance, Teen, School
Original story by : Miku
Latar : Jepang
Cover pict : Pinterest
Edit : Me
----
"Aku tak tau apakah aku bisa tetap bertahan sampai akhir, tapi yang pasti adalah, aku tahu ... kebahagiaan pasti ada di akhir kisah hidupku. Aku yakin itu ...." -Ai Mizhunashi
Mengisahkan hidup Mizhunashi Ai, seorang gadis SMA yang memiliki kehidupan kelam. Ayahnya meninggal, ibunya bertindak tidak adil kepadanya, lalu dia juga dihadapkan kepada dua pilihan sulit. Antara cinta dan hidupnya, dia harus memilih salah satu atau ia akan kehilangan keduanya.
Bingung, sedih, dan tak tahu harus melakukan apa, itu adalah rasa yang dialami oleh Ai saat ini.
Lalu, mampukah Ai mendapat kebahagiaan yang dia inginkan? Mari simak bersama!
IG : @miku_nakano41
©Miku, 2021
Rules :
- Boleh kritik, Miku terima dengan dada datar!
- Follow, Like, dan Fav kalau suka, kalau nggak mau ya udah www.
- Slow Up
Arigathanks!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 : Guru Melukis
...Guru melukis telah tiba! Seorang pria ramah dan rendah hati akan membantu setiap murid di sini agar bisa berkembang....
...\=•\=•\=...
Aku dan Rin baru sampai di klub melukis. Yah, ternyata benar, klub sudah mulai ramai akan murid-murid. Namun, beruntungnya kami masih belum terlambat. Entah bagaimana nasibku nanti jika datang terlambat. Kak Haru bisa saja membentakku seperti saat itu lagi. Hm, tidak, bahkan mungkin akan lebih buruk lagi.
"Ai ...," panggil Rin lirih seraya menatapku.
Melihat hal itu, aku pun menengok ke wajah Rin dengan segera. "Hm? Ada apa, Rin?" Aku bertanya alasan kenapa dia memanggil.
"Eem ... kamu sudah membawa semua peralatan menggambarmu belum?" tanyanya.
Aku mengedipkan mataku dua kali dengan sengaja. "Tentu saja. Memang ada apa, Rin?" Aku berbalik tanya kepada gadis itu.
"He? Ah, i-itu. Ya, a-aku tidak membawa pensil hari ini. Sudah dari tadi pagi aku mencari, tetapi, aku tidak menemukannya. Mungkin, aku sudah menghilangkannya .... Ja-jadi, bolehkah aku meminjam satu pensilmu? Hehe ...," ungkap Rin seraya menggaruk-nggaruk bagian belakang kepalanya.
"Hmm ...? Oooh, tentu saja. Lagipula, aku membawa banyak pensil hari ini," ujarku mengiyakan Rin.
Rin tersenyum lebar dan lalu memelukku erat. "Terima kasih, Ai!" Gadis itu berterima kasih dengan posisi wajahnya menempel di wajahku.
Melihat dia tersenyum, aku pun ikut tersenyum. Entah kenapa aku merasa sangat senang tatkala melihat Rin tersenyum atau tertawa. Kurasa, dia memang sahabat yang baik. Satu, satu orang lagi telah membuatku tersenyum.
Aku melepas pelukannya dengan lembut. "Sama-sama hihi ... oh ya, omong-omong, kamu ingin meminjam pensil yang bermerk apa? Joyku atau New Kigdom?" Aku menanyakan merk pensil kepada Rin agar semua jelas tanpa ada kesalahan nantinya.
"Aigoo ... terserah kamu saja. Yang penting kau mau meminjamkan pensil menggambar kepadaku, itu sudah cukup," ujar Rin sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan dada.
"Aah ... ba-baiklah kalau begitu." Aku ingin menanggapi Rin, akan tetapi, aku tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ya sudah. Ayo cepat masuk! Sebelum Kak Haru marah-marah nanti!" ajak Rin seraya menarik tanganku dan berjalan masuk ke dalam ruang klub melukis.
"Ee-eeh ... ba-baiklah." Meski sempat terkejut karena Rin tiba-tiba menarik tanganku seperti itu, pada akhirnya, aku pun menuruti Rin tanpa memberhentikan langkah.
Ketika aku dan Rin sampai di dalam, kami melihat semua siswa dan siswi telah duduk berjejer dengan rapi di tempatnya masing-masing. Tinggal kami yang belum sampai. Hah ... untung saja Kak Hakuba, Kak Haru, dan guru melukisnya belum datang.
"Ai!" sapa Rin yang berhasil membuyarkan lamunanku.
"Ha ha? A-apa, Rin?" tanggapku dengan keadaan tubuh sedikit terkejut.
"Ayo cepat duduk, sebelum Kak Hakuba dan Kak Haru tiba ...," bisik Rin lirih.
"Aa-ah, ba-baiklah ...." Aku dan Rin berjalan bersama menuju tempat duduk kami sebelumnya.
Tap ... tap ... tap ...
Benar saja, saat aku dan Rin baru saja duduk, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia silih berganti. Pintu ruang klub melukis tergeser ke samping, tanda seseorang sedang masuk. Langkah demi langkah, orang itu berjalan memangkas jarak dengan titik pusat perhatian semua siswa yang adalah depan kelas.
Tap ... tap ... TAP!
Saat mereka telah sampai di depan kelas, mereka pun menghentikan langkahnya dengan segera. Namun, saat melihat mereka berhenti, aku malah mengernyitkan dahiku. Pasalnya, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang di sini. Setelah beberapa saat aku berpikir sambil menatap mereka, barulah aku sadar apa yang menggangguku saat ini.
Dua orang yang ada di depan adalah laki-laki. Seorang pria paruh baya dan pemuda tampan dengan model rambut sederhana tetapi menawan. Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Kak Haru, sementara pria tersebut ... entahlah. Aku belum pernah melihatnya. Emm ... mungkinkah dia adalah guru melukis kami? Yah, kurasa begitu.
Tunggu, lalu dimana Kak Hakuba? Kenapa dia tidak ikut kelas hari ini? Aku semakin bingung dan penasaran tentang hal ini. Apa Kak Hakuba sudah tidak mengajar di sini?
"Selamat siang semuanya!" sapa pria berbaju santai, akan tetapi tetap sopan–dengan lembut. Suaranya terdengar selembut sapaan Kak Hakuba.
"Selamat siang, Pak!" sapa semua murid di sini secara bersamaan. Pada saat yang bersamaan, atensiku tertarik kepada beberapa kuas dan sebuah pallet milik pria itu. Setelah melihat itu, aku pun semakin yakin, bahwa dia ini adalah guru melukis kami.
"Bagus, ternyata kalian masih semangat belajar, ya? Baiklah, mungkin saat melihat bapak, kalian pasti bingung, 'kan? Maka dari itu, hari ini bapak akan memperkenalkan diri terlebih dahulu," ucapnya menerangkan. "Nama bapak adalah Raito Adachi. Kalian bisa memanggil Bapak dengan sebutan 'Pak Rai'. Ah, iya, bapak adalah guru melukis di klub ini. Jadi, bapak akan memandu kalian agar bisa menjadi pelukis hebat! Semoga, kalian bisa bekerja sama dengan bapak, ya?" lanjutnya menjelaskan sekali lagi. Penjelasannya tersebut berhasil membuat rasa penasaranku seketika lenyap. Sesuai dugaanku, dia adalah guru melukis.
"Baik, Pak!" jawab semua siswa dan siswi bersaut-sautan.
"Bagus. Hm, hari ini Kak Haru juga akan memperkenalkan diri. Silakan, Haru!" Pak Rai mempersilahkan Kak Haru untuk memperkenalkan diri.
"Terima kasih, Pak." Kak Haru membungkuk dan kemudian berjalan menuju depan kelas, menggantikan Pak Rai. "Semuanya, aku adalah Nakajima Haru. Kalian bisa memanggilku apapun, terserah. Seperti yang kalian lihat pada pertemuan sebelumnya, aku ini adalah orang yang pemarah dan tidak suka berdebat dalam masalah. Jadi, jangan pernah sekalipun melakukan hal yang melanggar peraturan di sini! Atau aku akan membuat kalian menerima konsekuensinya.
"Ah, kalian pasti bingung di mana gadis menye–tidak. Maksudku, Kak Hakuba. Hari ini dia sedang sakit, makanya dia tidak masuk. Sebagai gantinya, aku akan mengawasi kalian semua!" jelas Kak Haru tegas. Satu penjelasan lagi berhasil memuaskan rasa penasaran ini. Ternyata, Kak Hakuba sedang sakit, ya .... Hah ... padahal, aku ingin bertanya sesuatu padanya. Tapi, apa boleh buat.
"Ehm ... Hakuba memang sedari kemarin telah mengeluh tidak enak badan. Ya sudah, silakan kembali ke tempatmu semula, Haru! Bapak akan mulai menerangkan," ungkap Pak Rai berjalan mendekati Kak Haru.
"Baik, Pak!" Laki-laki bermarga Nakajima itu membungkukan badan untuk memberi hormat dan lalu kembali ke tempatnya semula.
Saat ini, Pak Rai lah yang mengambil kendali kelas melukis. Kak Haru hanya duduk diam sambil mengawasi semua murid.
"Baiklah, semuanya, kita akan mulai pelajaran klub melukis pada pertemuan kali ini, ya? Umm ... bapak pikir, kita tidak perlu berkenalan satu per satu. Takut memakan waktu nanti," ujar Pak Rai seraya melirik jam tangannya. "Lihat, bapak sedang membawa pallet dan kuas. Oh iya, bapak juga membawa kanvas dari rumah. Jadi, hari ini, bapak akan mengajarkan kalian tentang bagaimana cara membuat sketsa gambaran yang baik dan benar. Perhatikan baik-baik, ya!" lanjutnya menjelaskan.
Ngeri deh, punya emak gitu🙃