Follow IG @rr_maesa
Dilamar pria tampan super tajir, dengan rumah mewah dan perhiasan satu koper, mau? Mau dong! Tapi bagaimana kalau prianya ternyata memiliki gangguan kejiwaan? Masih mau?
Jack Delmar adalah pria tampan kaya raya keturunan bangsawan Perancis, yang mengalami hal buruk di masa kecil yang membuatnya depresi dan terpaksa dirawat di RSJ.
Arasi Mayang, seorang gadis yang menerima lamarannya Jack karena dikejar target menikah tanpa tahu kalau Jack dalam masa pengobatan. Apa yang terjadi ketika Ara baru mengetahui kondisi Jack setelah menikah?
Yuk ikutin kisah cintanya Jack dan Ara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-30 Rapat Umum Pemegang Saham ( Part 3 )
Semua yang hadir sangat terkejut dengan perkataannya Tn.Ferdi. Ara dan Pak Beni juga apalagi, tidak menyangka Tn.Ferdi akan tega mengatakan itu semua didepan orang banyak.
“Apa maksudmu Rumah sakit jiwa anak-anak?” tanya salah seorang.
“Hentikan Tn. Ferdi!” terdengar suara Pak Beni dengan keras.
Tn.Ferdi menatap Pak Beni.
“Kenapa? Aku mengatakan jujur! Semua orang diruangan ini adalah orang penting, mereka ikut menanam saham diperusahaan Delmar! Mereka bergabung dengan perusahaan ini demi sebuah keuntungan bukan kerugian! Mereka wajib tahu siapa yang memimpin perusahaan ini!” ucap Tn.Ferdi dengan lantang.
Terdengar lagi suara kasak kusuk dari yang hadir, membenarkan perkataannya Tn.Ferdi.
“Tn.Ferdi benar! Kita harus tahu tentang keadaan Tn.Jack Delmar!” terdengar sebuah suara lagi. Suasana semakin terlihat kacau, semua orang menyerukan pendapatnya masing-masing.
Jack terlihat duduk dikursi dengan menutup telinganya, tubuhnya gemetaran, dia mendengar suara-suara diruangan itu terdengar seperti deburan ombak yang memekakkan telinganya.
“Tn.Jack Delmar telah menyebabkan kematian ayahnya dan seorang anak kecil, mereka terbawa arus laut dan sampai sekarang Tn.Constantine dan Arum tidak ditemukan jasadnya, semua karena kesalahannya Tn.Jack makanya dia depresi,” ucap Tn.Ferdi semakin membuat orang-orang terperangah kaget. Cemoohan dan menyalahkan Jack mulai terdengar diruangan ini.
“Kalian lihat kan? Tuan Jack Delmar itu masih sakit, dia dipaksa keluar dari rumah sakit jiwa oleh asistennya yang entah motif apa dia melakukan itu!” lanjut Tn.Ferdi menatap Pak Beni, membuat semua orang menatap pria berambut putih itu.
“Kalian lihat kondisi Tn.Jack dengan jelas, dia masih tergantung pada obat-obatan. Apa kalian mau bekerjasama dengan perusahaan yang dipimpin oleh orang dengan gangguan jiwa?” tanya Tn.Ferdi dengan lantang memprovokasi yang hadir.
Suasana kembali riuh.
“Tidak tidak! Kami akan menarik saham kami dari perusahaan ini. Kami tidak mau bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin orang gila! Kami tidak mau bangkrut!” kata seorang lagi, yang disetujui para pemegang saham itu.
“Apa dia sedang sakaw? Dia seperti pecandu Narkoba!” terdengar ada yang bertanya, melihat Jack masih terus menutup telinganya, kini menunduk dengan kedua siku ditempelkan keatas meja. Tangannya terlihat gemetaran.
Tn.Ferdi menoleh pada tim penasihat perusahaan juga bagian keuangan.
“Bagaimana pendapat kalian?” tanya Tn.Ferdi.
“Tuan Ferdi benar, kita akan bangkrut kalau dipimpin oleh pemimpin yang sakit,” kata penasihat diangguki oleh kepala bagian keuangan, membuat Tn.Ferdi tersenyum.
“Kami akan menarik saham kami dan membatalkan kerjasama dengan perusahaan ini!” seru suara-suara.
“Benar, kami juga!”
“Iya kami juga!”
Suasana begitu ramai beropini.
“Tuan Delmar tidak sakit, dia sudah dinyatakan sehat! Ini pasti ada yang salah. Mohon Bapak-bapak tenang,” kata Pak Beni.
“Kau jangan mengada-ada lagi Pak Beni! Lihat kenyataannya!” kata Tn.Ferdi membuat semua orang melihat kearah Jack.
Pria itu masih seperti itu duduk menunduk dengan menutup kedua telinganya dan menempelkan sikunya diatas meja, dia juga menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tuan Delmar, anda baik-baik saja?” tanya Pak Beni mendekati Jack.
Jack menggelengkan kepalanya, mengangkat wajahnya dan menatap Pak Beni. Dia terlihat begitu bersikeras untuk bisa memahami apa yang dia tangkap dari suara-suara itu.
Diapun menurunkan kedua tanganya lalu berdiri.
“Aku baik-baik saja, kita lanjutkan,” ucap Jack, membuat semua orang menatapnya.
Tangan Jack mencoba mengambil kertas di meja itu dengan tangan yang kentara gemetaran. Tapi bukannya kertas yang diambilnya tapi dia menyenggol gelas yang ada didepannya. Tentu saja gelas itu jatuh dan airnya tumpah keatas meja, kemudian gelas itu mengelinding lalu jatuh kelantai, pecah berserakan.
Ara terkejut melihat itu, diapun berlari menghampiri Jack, matanya sudah memerah saja ingin menangis.
“Jack, cukup Jack! Jangan memaksakan diri!” ucap Ara, sambil memegang tangannya Jack.
Dia merasa tidak tega melihat Jack begitu bersikeras memahami keadaan di sekelilingnya dengan kondisi memorynya yang tidak stabil.
Rasa sesak terasa begitu penuh menemenuhi dadanya, dia prihatin melihat Jack seperti itu.
“Jack, tenanglah Jack!” ucap Ara dengan suara tersekat, menahan tangisnya tumpah. Tangannya menyentuh pipinya Jack dan mengusap keringat dingin di kening Jack.
Tn.Ferdi tersenyum sinis. Ny.Inez tampak pucat, dia bingung harus berbuat apa.
“Kalian lihat sendiri kan? Dia seperti itu, bahkan biasanya kalau dirumah dia mengamuk dan memecahkan barang-barang!” kata Tn.Ferdi, semakin membuat orang-orang tidak percaya pada Jack.
“Jadi sekarang siapa yang akan bertanggung jawab memimpin perusahaan? Kalau pimpinannya tidak jelas, kami terpaksa mundur beramai-ramai dari perusahaan ini,” kata salah seorang yang disetujui oleh suara-suara yang lainnya.
“Tenang Tuan Tuan! Tenang! Karena aku masih ayahnya Tuan Jack Delmar, jadi aku yang akan kembali memimpin perusahaan ini, bagaimana istriku?” tanya Tn.Ferdi menoleh pada Ny.Inez.
“I iya,” jawab Ny.Inez tergagap.
Ny.Inez tidak menyangka Jack akan seperti itu didepan orang banyak, dia benar- benar merasa malu memilki anak yang depresi.
Tn.Ferdi menoleh pada Para penasehat dan tim managerial perusahaannya Jack.
“Kalian dengar kan apa kata Ny.Inez. Dia ibu kandungnya Tn.Jack yang selama ini diberi kekuasaan mengurus perusahaan ini karena Tn.Jack Delmar depresi dan dirawat di rumah sakit jiwa,” kata Tn.Ferdi.
“Baiklah kalau Tuan Ferdi masih yang memimpin, jadi kami tidak akan mencabut saham kami, kerjasama kita lanjutkan seperti biasa,” kata salah seorang. Diangguki oleh yang lainnya.
Ara melihat Jack yang terduduk dikursi dengan wajah yang pucat menunduk, kembali menutup kedua telinganya. Arapun berjongkok didekat kaki Jack, memegang kedua lutut suaminya.
“Jack!”Panggil Ara, menatap wajah suaminya yang menunduk. Kini butiran airmata menetes di pipinya.
Jack tidak menjawab, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ingin menghilangkan suara ombak yang terus terdengar di telinganya.
“Jack!” panggil Ara lagi, kedua tangannya beralih menyentuh pipinya Jack.
“Sebaiknya kalian pulang saja! Kedatangan kalian sangat tidak berguna disini! Lebih baik bawa Jack ke rumah sakit jiwa sekarang!” kata Tuan Ferdi.
“Jack tidak sanggup memimpin perusahaan sebesar ini,” kata Tn.Ferdi lagi.
“Ara, bawa Jack pulang! Rapat akan diteruskan oleh ayah mertuamu,” kata Ny.Inez.
“Tuan-Tuan! Aku minta maaf karena putraku memaksakan diri untuk memimpin perusahaan ini padahal masih sakit. Perusahaan akan kembali aku ambil alih, tidak ada yang berubah,” kata Tn.Ferdi pada para hadirin, berbasa basi.
Ara menghapus airmata yang sudah jatuh kepipinya. Ara menghela nafas panjang lalu berdiri tegak dan membalikkan badannya menghadap semua orang.
“Tunggu! Aku ingin mengatakan sesuatu!” kata Ara, membuat semua orang menoleh kearahnya.
Hati Ara sebenarnya takut dan jantungnya berdebar kencang, tangannya gemetaran saking gugupnya, dia bingung dan tidak pernah mengambil keputusan sebesar ini. Tapi dia harus membela Jack, karena dia adalah istrinya Jack jadi dia harus memberanikan diri mengambil keputusan besar demi Jack.
“Perkenalkan, namaku Arasi Mayang, aku adalah istrinya Tn.Jack Delmar," ucap Ara dengan sedikit gugup dan mengambil nafas sebentar supaya lebih tenang.
"Sebagai istrinya Tn.Jack Delmar, aku punya kuasa atas semua yang dimiliki suamiku,” ucapnya dengan lantang dan menguatkan diri.
Tn.Ferdi dan Ny.Inez terkejut melihat Ara bicara di depan umum.
“Seperti yang kalian lihat, suamiku sedang sakit. Tapi kalian tidak perlu cemas dengan pucuk pimpinan disini,” kata Ara, lalu menoleh pada Tn.Ferdi.
“Suamiku adalah pemilik perusahaan ini dan aku adalah istrinya, jadi otomatis pucuk pimpinan akan beralih padaku selaku pemilik. Jadi selanjutnya pimpinan perusahaan aku ambil alih,” lanjut Ara, dengan tangannya yang mengepal dibawah meja, mencoba untuk setenang mungkin dan percaya diri.
Tentu saja perkataannya Ara membuat para hadirin kembali riuh. Wajah Tn.Ferdi langsung memerah dan menatap tajam pada Ara.
“Ny.Jack Delmar! Sebaiknya kau fikirkan apa yang kau katakan itu!” kata Tn.Ferdi.
“Ada masalah apa lagi Tn.Ferdi? Sudah jelas aku adalah istrinya Tn.Jack Delmar, jadi aku juga adalah pemilik perusahaan yang sah,” kata Ara, balas menatap Tn. Ferdi.
Lalu Ara menoleh kearah semua orang.
“Aku ingatkan kembali! Tn.Ferdi adalah ayah tirinya Tn.Jack Delmar! Bukan anggota keluarga Delmar, jadi bukan pemilik perusahaan ini!” seru Ara.
Tn.Ferdi semakin marah karena merasa dipermalukan, gigi-giginya menggeretuk menahan marah.
“Kau masih anak ingusan , kau tidak tahu apa-apa tentang perusahaan besar ini!” bentak Tn.Ferdi dengan nada tinggi.
Suasana semakin riuh saja, para hadirin mulai beropini siapa yang pantas memegang pucuk pimpinan perusahaan.
************
mana ada cowo gila romantis.. ada d tempat yang sama, sempet sempetnya kirim bunga
ibarat kalau pilih kiri (dikejar pria beristri)
pilih kanan dikejar pria autis (gangguan jiwa)
tp setidaknya jack itu ganteng, kaya raa.. pilih dia aja.. minus ny cuma atu, dia gila raa.. gapapa lah.. ketutup ama ketajiran ny.. anak semata golek kolongmerat..
dr pada pilih laki beristri..
mending setia.. bisa bisa nambah pasukan.. belum lagi anaknya banyak.. di unyeng2 istri tua.. haih...ibarat udah jatoh nyusruk ke selokan comberan itu mah.. dibahagiain kaga.. sengsara udah pasti
seneng bgt 🥰