Vian dan Putri terlibat pernikahan kontrak yang konyol. Keduanya saling cuek satu sama lain, bahkan memiliki pujaan hati masing-masing. Seiring berjalannya waktu, Sifat sombong Vian pun terkikis oleh sikap jutek tapi perhatian dari Putri.
Nah lo, jadi, apakah Putri juga punya perasaan yang sama pada Vian? Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Acara makan malam Vian dan Putri berjalan sukses. Ini adalah
acara makan malam pertama yang mereka lakukan setelah menikah. Vian merasa
makan malam dengan Putri sedikit berbeda di bandingkan makan malam dengan
kekasihnya, Vanessa. Gadis itu membuat acara makan malamnya menjadi lebih
berselera.
Selepas makan malam keduanya berjalan santai berkeliling di
area sekitar hotel. Suasana malam hari yang dingin tidak menyebabkan tempat itu
sepi. Dari ujung ke ujung, banyak sekali warga lokal ataupun pendatang yang mungkin
hanya sekedar jalan santai menikmati udara malam.
Mereka berpapasan dengan banyak pasangan, semuanya merangkul
kekasihnya, setidaknya saling bergandengan tangan. Vian memandangi Putri diam-diam saat gadis
itu tengah menikmati pemandangan sekitar dengan kedua tangannya saling
bertautan, seperti kedinginan.
“Putri...” panggil Vian perlahan, Putri spontan menoleh ke
arah empunya suara.
“Ada apa, Vian?” tatapan mata Vian membuat Putri sedikit
gugup. Sebelumnya ia biasa saja, tetapi kali ini, Putri seperti menemukan diri
Vian yang lain, terutama setelah mereka makan malam bersama.
“Boleh lihat tanganmu?” tanya Vian kemudian.
”Ada apa dengan tanganku?” Putri memperlihatkan tangan
kanannya pada Vian, saat itu posisi Putri ada di samping kiri Vian. Pria itu segera
menangkup tangan Putri, menggenggamnya, lalu memasukkan ke dalam saku baju
hangatnya.
“Aku tahu, kamu kedinginan. Sekarang, apakah lebih
baik?” Vian tidak tahu apa yang terjadi
pada dirinya hingga ia selembut ini pada Putri, bahkan ia peduli dengan keadaan
gadis itu yang tengah kedinginan. Ia bisa merasakan telapak tangan Putri yang
dingin perlahan menghangat.
“Iya, udah sedikit hangat, terima kasih Vian, kamu peka di
saat seperti ini. Bagaimana kalau Vanessa melihat kita sedekat ini?” Putri yang
kalah tinggi dengan Vian terpaksa mendongak saat berbicara dengan pria itu,
apalagi mereka berjalan sedekat sekarang, hampir tanpa jarak.
“Sama-sama, Put. Aku pikir kamu akan marah, aku perlakukan
seperti ini. Soal Vanessa, biar saja kalau dia tahu, aku tidak perduli. Biar
aku panas-panasin sekalian.” Vian tampak acuh tak acuh, hingga Putri dapat
menangkap ketidak beresan hubungan Vian dan juga Vanessa.
“Kamu sedang berantem dengan Vanessa? Kenapa kamu seolah
tidak perduli dengan dia?” Putri
penasaran, apa yang tersembunyi di balik sikap Vian yang sedikit misterius.
Sudah jelas sejak awal bahkan ia memberikan warning untuk jaga sikap di depan
Vanessa, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
“Begitulah, aku tidak bisa mengerti dia, tanpa sadar dia
sudah jauh berbeda di bandingkan beberapa tahun lalu. Meskipun bersamaku, aku
merasa sedikit asing dan tidak ada di hatinya.” Vian mencurahkan perasaan yang sebenarnya ia rasakan saat bersama
Vanessa, ia juga merasakan wanita itu
berubah, seakan-akan sikap Vanessa di hadapannya sekarang adalah sebuah kepalsuan.
“Aku belum pernah pacaran, jadi aku kurang paham. Tetapi,
menurutku, mungkin itu hanya perasaanmu saja, Vian. Kata temanku, ada kalanya
rasa bosan hadir di dalam sebuah hubungan, seiring waktu, semuanya akan baik-baik
saja. Maaf, kalau saranku terkesan sok tahu, atau kurang bermanfaat untukmu dan
dia.” Putri yang tidak berpengalaman,
takut di bilang lancang oleh Vian, bagaimanapun, dalam hal hubungan dengan lawan jenis, ia
masih bisa di bilang pemula.
“Kamu benar, Put. Tapi, entah mengapa kali ini terasa ada
yang janggal di hatiku, semoga hanya perasaanku saja.” Kenyataannya apa yang
Vian rasakan merupakan gambaran perasaan Vanessa yang sebenarnya kepadanya,
hanya saja, waktu belum mengizinkan Vian untuk mengetahui yang sebenarnya
terjadi.
“Kamu mungkin terlalu lelah Vian, butuh istirahat yang
cukup. Sepulang jalan-jalan, segeralah tidur. Jangan melakukan apapun lagi.”
Kalimat yang di ucapkan Vian mengingatkannya pada neneknya. Nada bicara Putri
yang lembut, begitu menyejukkan hati pria itu, meskipun hanya hal sederhana,
Vian merasakan perhatian Putri begitu bermakna untuknya.
“Put, bolehkah malam ini aku tidur di kamarmu? Jangan salah
sangka, aku tidak akan melakukan apapun, serius, janji. Aku hanya ingin ada teman
ngobrol sebelum tidur. Di saat seperti
ini, aku pasti akan sangat sulit memejamkan mata.” Vian coba menghiba, ia
berharap Putri mengizinkannya untuk tidur di ranjang yang sama dengan gadis
itu.
“Tapi, bagaimana kalau misalnya ada pemeriksaan kamar mendadak?”
Vian tersenyum geli mendengar kekhawatiran yang sedang menerpa Putri.
“Kita kan sudah menikah, di dompetku ada surat nikah kita,
kamu tidak perlu takut.” Putri sedikit malu, ia hampir melupakan status
pernikahan mereka. Meskipun ini sebenarnya bukan tindakan yang benar, tetapi,
Putri tidak bisa menolak permintaan Vian, ia takut bosnya itu akan memotong
gajinya bulan ini, jika ia menolak kemauannya.
“Oh, iya. Aku lupa kalau aku dan kamu sudah menikah,
meskipun hanya pura-pura.” Putri memelankan beberapa kata di ujung kalimatnya,
tetapi Vian dapat mendengarnya dengan baik.
“Jadi, maunya nikah beneran, nih?” ledek Vian, Putri membenturkan kepalanya dengan sengaja
ke bahu Vian sebagai bentuk protes atas perkataan pria itu barusan.
“Jangan sembarangan bicara, Vian. Lagipula, aku tahu diri,
kok. Aku tidak ada bandingannya dengan wanita berkelas yang selalu
mengelilingimu, aku hanya gadis desa biasa yang sedang mengabdi padamu untuk
sesuap nasi.” Selepas Putri bicara seperti itu, mereka berdua terdiam.
Vian memikirkan perkataannya di masa lalu yang selalu
merendahkan Putri. Seketika ia merasa jahat pada wanita yang sekarang berada di
sisinya itu. terbayang ketika tiap kali bertemu, mereka berdua hanya saling
ejek dan memperdebatkan hal yang tidak terlalu penting.
“Maafkan kesalahan aku, mungkin kemarin-kemarin aku sering mengatakan sesuatu yang tidak enak di
dengar. Aku juga tidak mengerti, mengapa tiap bersamamu aku selalu seperti itu.
jujur saja, itu bukan aku yang biasanya. Setiap bersamamu, aku selalu ingin
menindasmu, mengunggulkan kelebihanku, tanpa ku sadari, aku justru seperti pria
bodoh.” Vian tertawa kecil, ia menyadari kesalahannya. Sekarang ia ingin
berdamai dengan keadaan, setidaknya ia dan Putri bisa menjadi teman baik
sekarang.
“Tenang, Vian. Aku tidak pernah menganggap perkataanmu
serius, kok. Setiap bertemu denganmu, rasanya tidak cukup
seru kalau tanpa debat.” Meskipun ada rasa kesal, tetapi semua perdebatan
mereka menjadi hal yang menarik untuk
Putri, walaupun, perkataan Vian tidak semuanya enak di dengar.
“Terima kasih, jadi, mengulang yang tadi, bolehkah aku tidur
di kamarmu?” Vian benar-benar menginginkan momen kebersamaan mereka saat di
Indonesia terulang, ia merindukan momen itu.
“Silahkan saja, aku percaya padamu, kamu tidak akan mungkin
berbuat yang tidak-tidak. “ Putri berusaha memberikan kepercayaan pada Vian,
lagipula, selama ini suami kontraknya itu tidak pernah berbuat mesum kepadanya.
“Aku tidak akan merugikanmu, Putri. Seandainya itu terjadi,
aku pasti akan bertanggung jawab. Meskipun, bisa di bilang aku ini pria
brengsek, tetapi aku bukan tipe orang yang suka lepas tanggung jawab. Ayo, kita
percepat jalannya, udaranya semakin malam semakin menusuk.” Putri hanya mengiyakan
perkataan Vian, ia juga sependapat dengan lelaki itu, suhu udara kian merendah
seiring waktu.
mulai suka dan coment.
lanjut....